
Jangan lupa kasih dukungannya ya readers, luv ya!
Setelah menutup pintu kamar Vano, Friska menuruni anak tangga. Dia harus berbicara dengan Ardigo. Namun saat sampai di ruang tengah, Friska tidak lagi melihat keberadaan pria arogan itu.
Apa dia di kamar?
Friska kembali menaiki tangga dan membuka pintu kamar. Disana terlihat Ardigo sedang duduk di atas ranjang dengan bersandar pada headboard
"Mas" panggil Friska berjalan mendekat
Ardigo yang awalnya sibuk dengan ponsel langsung mengangkat kepalanya
"Iya?"
"Sekarang aku sudah baik-baik saja. Lukaku sudah sembuh total"
"Lalu? kau ingin kita membuat adik untuk Vano saat ini juga?" tanya Ardigo enteng
Sial! bukan begitu maksudku.
"Bukan itu maksudku. Karena sekarang aku sudah sembuh, jadi aku ingin kembali ke kamarku"
Ardigo menatap Friska sesaat
"Kamarmu disini, bersamaku"
"Aku ingin kembali ke kamar sebelumnya. Bukankah kita sudah sepakat sejak awal untuk tidur terpisah?"
"Itu dulu"
"Mas!"
"Lalu bagaimana dengan janjimu kepada Vano? dia bahkan sudah memutuskan untuk tidur sendiri mulai sekarang"
"Mas, jangan berpura-pura tidak tau!" Friska mulai terpancing emosi
"Kita sama-sama tau bahwa pernikahan ini tidak seperti pernikahan orang lain. Kenapa kamu malah bersikap seolah kita benar-benar sepasang suami istri? kenapa kamu malah menarikku sejauh ini?"
"Apakah kamu sadar kalau semakin hari sikap kamu itu semakin aneh? ini seperti bukan kamu yang dulu aku kenal. Jangan membuatku bingung dan berada di posisi sulit seperti sekarang mas!"
Ardigo hanya diam mendengarkan Friska mengeluarkan semua isi hatinya
"Kamu sadar tidak, sih? dengan menjanjikan adik kepada Vano, itu sama saja kamu memberikan harapan palsu dan bahkan membohonginya. Pernikahan kita berbeda dengan orang tua Cecil, mas. Harusnya kamu bisa memberikan pengertian kepada Vano. Bukan malah mendukung keinginannya dan memberikan harapan yang palsu kepadanya" Friska tidak perduli lagi, biarlah kali ini dia terlihat menggebu-gebu di hadapan Ardigo
"Saya tidak berbohong dengan ucapan saya. Apalagi itu berhubungan dengan Vano"
"Mas!! jangan bercanda!"
"Saya sudah bilang Friska, saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya. Dan saya bukan tipe laki-laki yang berbicara tanpa rencana"
"Rencana? lalu apa rencana kamu? kamu ingin aku melahirkan adik untuk Vano, lalu saat kontrak kita habis kamu akan mengambil anakku dan memisahkanku dengannya dan juga Vano? Setelah itu kamu akan menikah lagi dengan perempuan lain sementara aku akan berpisah selama-lamanya dengan anak-anakku? begitu?" muka Friska memerah menahan amarahnya. Bahkan air mata juga menetes saking emosinya
"Apa aku seburuk itu di mata kamu?"
"Lalu apa lagi? aku lebih tenang dengan sikap kamu di awal pernikahan dulu, setidaknya aku hanya perlu menunggu waktu satu tahun, lalu setelah itu aku akan pergi tanpa memikirkan apapun lagi. Tapi sekarang kamu malah bersikap aneh dan membuatku bingung dengan semua ini. Jangan membuatku terbiasa dengan sikap baik kamu, mas" Friska menatap wajah Ardigo dengan tatapan sayu
Ardigo bangkit lalu meraih jemari Friska
"Kemarilah, dengarkan saya dulu" Pria itu menuntun Friska untuk duduk di atas ranjang bersamanya
"Jangan membohongi Vano mas"
"Lihat saya! apa saya terlihat seperti seorang pembohong di mata kamu?"
Friska hanya diam
"Saya serius dengan ucapan saya, Friska. Saya ingin memiliki keluarga yang utuh bersama kamu, Vano, dan anak-anak kita nanti. Saya tidak pernah berpikir untuk melakukan hal seperti yang tadi kamu tuduhkan"
"Maksud kamu? kamu lupa kalau kita punya kesepakatan pernikahan? kamu lupa kalau kamu sendiri yang mengatakannya? kita tidak akan bersama untuk selamanya mas"
"Saya membatalkan kesepakatan itu. Mari anggap itu tidak pernah ada, dan kita lanjutkan pernikahan ini layaknya pernikahan pada umumnya"
Friska sangat terkejut mendengar ucapan Ardigo. Dia tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat
"Lagi? kamu membatalkannya secara sepihak? setelah dulu kamu membuat perjanjian itu secara sepihak dan membuatku merasa seperti gadis yang tidak diinginkan, dan sekarang kamu juga membuat keputusan secara sepihak? kamu sudah berencana seperti itu dan tidak menanyakan pendapatku?"
"Sebenarnya apa arti aku di mata kamu, mas?" Friska tidak bisa menahan air matanya
"Apa aku terlihat seperti gadis bodoh yang harus menuruti semua keputusan kamu? kamu bahkan mengatur kisah hidupku tanpa bertanya dulu kepadaku? i don't know what to say, kamu benar-benar membuatku tidak bisa berkata-kata"
Ardigo merasakan sakit di ulu hatinya melihat Friska yang berderai air mata. Sungguh, bukan itu maksudnya. Dia memang berencana untuk membahasnya dengan Friska, tapi dia belum mendapatkan waktu yang tepat. Hingga saat ini Friska harus tau dengan cara seperti ini
"Friska dengarkan saya dulu.." Ardigo mencoba untuk meraih tubuh Friska, namun gadis itu menepis tangannya
"Kita akan tetap melanjutkan kesepakatan di awal pernikahan" ujar Friska tegas
"Tidak! saya tidak mau. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu"
"Terserah" Friska lalu bangkit dan keluar dari kamar. Dia butuh sendiri saat ini, dan dia memilih untuk tidur di kamarnya
"Arghhhh! bukan begitu maksudku" Ardigo memukul kasar ranjangnya
Dia menyesali ucapannya yang memang terkesan enteng. Setelah diingat-ingat, dia bahkan tidak pernah mengucapkan kata maaf untuk semua perlakuan buruknya dulu
"Ardigo bodoh! mungkin jika aku berada di posisinya aku juga akan melakukan hal yang sama"
Sedangkan di dalam kamar, Friska juga menangis. Jujur dia merasa hatinya sedikit goyah dengan semua sikap Ardigo. Dia tidak bisa berbohong bahwa Ardigo sudah menempati sebagian sudut di hatinya. Namun di saat bersamaan, dia juga membenci sikap baik Ardigo yang membuatnya bingung dan berharap lebih untuk pernikahan mereka. Yang seharusnya itu tidak boleh dia lakukan.
Friska tidak tau pasti apa yang dirasakannya saat ini, yang dia tau dia marah karena Ardigo yang tidak pernah membahas ini kepadanya. Friska merasa hidupnya seperti dipermainkan oleh pria itu.
To be continued.