
"Maaf ya bro, kalau aku jadi Friska aku juga akan melakukan hal yang sama" komentar Heri saat cerita Ardigo sudah selesai
"Aku juga berpikir begitu. Tapi sungguh bukan itu maksudku, dan mulut sialan ini malah mengatakan hal seperti itu" kesal Ardigo yang ditujukan kepada dirinya sendiri
"Wajar Friska bingung dengan sifatmu, kau bersikap baik seolah dia memang istri yang kau inginkan. Tapi nyatanya perjanjian itu masih terus menaungi kalian. Dan caramu menyampaikan juga sangat tidak etis"
"Aku tidak pandai dalam merangkai kata-kata romantis, kau tau aku lebih suka menunjukkannya dengan perbuatan. Aku sudah lama menunjukkan sikap bahwa aku menerimanya dalam hidupku. Jujur, aku juga menyesali perkataanku waktu itu. Aku hanya bingung harus bagaimana mengatakannya"
"Kau keliru jika berpikir seorang wanita akan paham dengan sikapmu. Memang benar wanita itu tidak butuh kata-kata, mereka hanya butuh bukti yang ditunjukkan melalui perbuatan. Tapi kau juga tidak bisa hanya diam dan berharap dia paham dengan maksudmu tanpa kau mengatakan apapun. Mereka hanya tidak mau salah memahami sikap baikmu. Begitu juga dengan Friska, kau harus memberikan penjelasan atau pernyataan yang memperjelas status kalian. Jika tidak, maka ya seperti sekarang ini. Dia akan bingung dengan sikapmu dan menganggap kau mempermainkannya" ujar Heri panjang lebar
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kau mencintainya?"
Ardigo tidak langsung menjawab, membuat Heri mencebikkan bibirnya
"Jika kau masih ragu dengan perasaanmu sebaiknya kembali ke peraturan awal. Ceraikan dia setelah satu tahun pernikahan"
"Aku tidak mau!"
"Jangan egois! kau tidak bisa..-"
"Aku mencintainya!" potong Ardigo
"Apa?"
"Aku mencintainya" ujar Ardigo mantap
"Kau yakin?"
"Iya!"
"Kalau begitu kau harus mengungkapkannya. Yakinkan dia bahwa kau benar-benar mencintainya. Sebelum itu kau harus meminta maaf kepadanya untuk semua sikap burukmu itu. Jelaskan dengan kalimat yang lebih enak untuk di dengar. Aku tidak harus mengajari CEO Fabiyan's Corp ini untuk hal seperti itu kan?"
"Haruskah aku mengatakannya?"
"Tentu saja"
"Bagaimana kalau dia menolakku dan tetap ingin bercerai dariku?"
"Kau bahkan sudah ingin menyerah saat belum memulai usaha sedikitpun"
"Baiklah, aku akan meminta maaf dan mengungkapkan perasaanku"
"Bagus. Aku sempat berencana berhenti menjadi sahabatmu jika hal seperti itu saja tidak bisa kau selesaikan" canda Heri
"Aku sangat malas mengucapkan terimakasih kepadamu. Tapi sepertinya itu harus" ujar Ardigo bercanda
"Aku bisa merasakan ketulusanmu sahabatku sayang" ujar Heri sambil mengedipkan matanya
"Sudah mau jam makan siang, ayo makan" ajak Ardigo saat melihat arloji mahal yang melingkari pergelangan tangannya
"Baiklah, ayo. Aku juga harus segera kembali ke kantorku. Aku bahkan sampai membatalkan rapat pentingku hanya untuk menemuimu"
"Aku sangat terharu mendengarnya" balas Ardigo
Mereka lalu meninggalkan ruangan itu dan memilih makan siang di kantin kantor saja.
****
Setelah selesai makan siang, Ardigo kembali ke ruangannya
"Ke ruangan saya sekarang" ujarnya kepada Andre yang berada di seberang telpon
Tak lama kemudian terdengar suara ketuka pintu
"Ada apa, pak?"
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu" Ardigo lalu bangkit dari kursi kebesarannya dan melangkah menuju sofa diikuti oleh Andre
"Kamu belum mendapatkan informasi terbaru tentang si pelaku itu?" tanya Ardigo
"Belum pak. Sepertinya ini sudah direncanakan, karena pelakunya sudah mempersiapkan diri dengan berbagai bentuk penyamaran. Rekaman cctv juga tidak menangkap wajahnya karena tertutupi dengan masker dan topi
"Sial! sebenarnya dia siapa?" Ardigo sungguh frustasi mengingat pelaku yang menyerang Friska masih berkeliaran
"Saya akan terus mencari informasinya, pak"
"Baiklah. Saya percayakan pada kamu"
"Baik pak"
"Oh iya tolong persiapkan makan malam romantis di tempat yang bagus untuk saya dan Friska"
Andre sedikit terkejut awalnya, namun dia kembali bersikap normal
"Untuk kapan, pak?"
"Besok malam. Nanti kabari saya dimana tempatnya"
"Baik pak. Anda terlihat sudah lebih baik sekarang" ujar Andre sambil tersenyum tipis
"Ini berkat sikap lancangmu yang diam-diam menghubungi Heri" balas Ardigo sarkatis. Namun Andre tau bahwa bosnya itu tidak benar-benar marah
"Hehe maaf pak. Semoga hubungan anda dengan nona Friska segera membaik"
"Kamu tau dari mana?" tanya Ardigo bingung
"Hanya nona Friska yang mampu membuat anda uring-uringan seperti ini" kekeh Andre
"Tck, sudahlah. Kembali ke ruanganmu sekarang" Ardigo lalu bangkit dan kembali ke kursi kebesarannya
"Saya permisi pak" Andre juga bangkit lalu hendak meninggalkan ruangan Ardigo
"Andre" panggil Ardigo saat Andre hampir mencapai gagang pintu
"Iya, pak?"
"Terimakasih"
Andre tersenyum mendengar ucapan Ardigo
"Sama-sama pak" Setelah itu dia keluar dari ruangan Ardigo
"Semoga kamu menerima maaf dan juga perasaanku, Fris. Hufh! aku tidak sabar untuk besok malam" gumam Ardigo lalu kembali menyelami pekerjaannya.
****
Sementara itu di apartemen, Friska masih sibuk dengan skripsinya
"Akhirnya selesai juga sampai disini. Besok aku akan ke kampus untuk melakukan bimbingan" monolog Friska
Matanya melihat jam yang menempel di dinding
"Sebentar lagi Vano akan pulang, sebaiknya aku pergi sekarang"
Friska membereskan laptop dan juga buku-buku yang berserakan di atas meja. Setelah itu dia mengganti bajunya dan menghubungi pak Danang untuk menejemput Vano.
To be continued.