
Ardigo terdiam mematung dengan pikiran kosong. Kakinya terasa lemas dan tubuhnya seketika mati rasa. Napasnya tercekat dengan detak jantung yang tidak karuan. Dia baru saja menerima panggilan dari Friska, namun yang terdengar bukanlah suara indah sang istri, melainkan seorang pria yang mengaku sebagai petugas polisi dan memberitahu bahwa Friska mengalami kecelakaan tabrak lari.
Ingin rasanya dia tidak percaya, namun ini benar terjadi adanya. Saat kesadarannya telah terkumpul, Ardigo dengan langkah cepat langsung berlari keluar dari kantor. Para karyawan terlihat kebingungan melihat Ardigo yang berlari kencang di sepanjang lorong kantor
Dengan berusaha tetap kuat, Ardigo menancap gas menuju rumah sakit.
"Aku mohon bertahanlah, Friska. Tunggu aku" gumam Ardigo sepanjang perjalanan
Rasa khawatir, takut, dan juga terkejut bercampur menjadi satu. Baru dua jam yang lalu dia masih mendengar suara Friska, dan sekarang gadis itu mengejutkannya dengan berita kecelakaan
Semua kendaraan terasa bergerak dengan lambat dan sungguh Ardigo sangat tidak sabar untuk segera sampai di rumah sakit. Suara klakson sudah puluhan kali dia bunyikan agar orang-orang dapat memberinya jalan. Seumur hidup Ardigo, dia tidak pernah menyetir dengan ugal-ugalan seperti itu
Setelah sampai di rumah sakit, Ardigo langsung berlari menuju meja informasi untuk menanyakan ruangan Friska. Lutut Ardigo semakin lemas ketika mengetahui bahwa Friska berada di ruangan ICU dan dalam keadaan koma
Ardigo langsung menuju ruangan tersebut dan di depan ruangan itu sudah berdiri beberapa orang pria berseragam polisi
"Pak Ardigo, anda sudah disini" sapa seorang polisi
"Bagaimana keadaan istri saya, pak?" tanya Ardigo langsung
"Istri anda mengalami kecelakaan yang lumayan parah, dan sekarang dokter sedang berusaha menyelamatkannya. Kita berdoa agar nyonya Friska bisa segera melewati masa komanya"
Ardigo terduduk lemah di kursi tunggu rumah sakit. Pikiran-pikiran buruk mulai melintasi pikirannya
Tak lama kemudian Andre datang dan langsung mendekati Ardigo. Dia juga sedikit membungkuk memberi hormat kepada para polisi tersebut
"Terimakasih banyak pak sudah membawa nona Friska kesini"
"Sama-sama pak, sudah tugas kami"
"Ini tas yang berisi barang-barang nona Friska" salah satu polisi itu menyerahkannya kepada Andre
"Kalau begitu kami akan kembali ke kantor untuk mengusut kasus ini"
"Bisa ikut saya sebentar, pak?" ajak Andre kepada salah satu dari mereka
Andre membawa polisi itu sedikit menjauh dari Ardigo
"Saya dan tim saya sudah mengejar dan menangkap pelaku penabrakannya, pak. Di depan rumah sakit sudah ada anggota saya yang akan mengurusnya ke kantor polisi. Untuk pelakunya sudah diantar kesana" ujar Andre pelan.
Dia sengaja menjauh dari Ardigo karena tidak ingin menambah pikiran pria itu. Bahkan saat ini dia terlihat sangat menyedihkan
"Baik pak, terimakasih untuk kerja samanya"
"Mohon diproses dan berikan hukuman yang setimpal kepada pelaku, pak"
"Akan segera kami tangani. Kami permisi dulu pak" Andre lalu menjabat tangan polisi itu
Setelah semua polisi itu pergi, Andre mendekati Ardigo lalu menyerahkan sebotol air mineral
"Minum dulu pak"
Ardigo menerimanya dan hanya meminum sedikit
"Kenapa mereka lama sekali? Friska baik-baik saja kan, Ndre?" mata Ardigo mulai berkaca-kaca. Andre dapat melihat dengan jelas ketakutan di mata pria gagah itu
"Tenangkan diri anda, pak. Nona Friska pasti akan baik-baik saja, dia wanita yang kuat. Dokter sedang melakukan yang terbaik untuknya" ujar Andre sambil menepuk pelan bahu Ardigo
"Bagaimana keadaan istri saya, dok? dia sudah melewati masa kritisnya, kan? apa dia menanyakan saya dan anak kami? dia baik-baik saja, kan?" tanya Ardigo menggebu-gebu
Dokter dengan pembawaan tenang itu tidak langsung menjawab
"Saya harap anda bisa sabar dan mengikhlaskannya. Kami sudah berusaha semampu kami untuk bisa menolong nona Friska, namun tuhan lebih menyayanginya. Kecelakaan yang dialaminya cukup parah dan dia juga kehilangan terlalu banyak darah. Kami minta maaf pak, tapi nona Friska telah meninggalkan kita semua"
Jederrr!!
Lantunan kalimat dokter itu bagaikan petir yang menyambar tubuhnya. Ardigo merasakan tubuhnya kaku dan tidak bertenaga. Dia bahkan hampir tumbang jika saja Andre tidak menahannya
Andre juga sama terkejutnya, dia tidak ingin mempercayai ini namun itulah kenyataannya
"Saya permisi dulu, pak. Anda bisa menemui jenazah istri anda sekarang" pamit dokter tersebut dengan wajah penuh keprihatinan
"I-ini tidak mungkin kan, Ndre? saya hanya bermimpi kan? saya tidak benar-benar mendengar itu kan tadi? Friska masih di kampus kan?" tanya Ardigo dengan wajah linglung
"Saya harap anda bisa kuat, pak" ujar Andre menepuk bahu Ardigo pelan. Dia tidak tahu harus berkata apa karena memang itulah kenyataannya
Ardigo langsung masuk ke dalam ruangan itu dan melihat tubuh Friska yang terbaring lemah di atas brangkar. Kepalanya dililit dengan perban dan terdapat luka-luka di tubuhnya. Dan alat-alat penunjang kehidupan masih terpasang di tubuhnya. Sepertinya perawat akan melepas alat itu sebentar lagi
"Friska ayo bangun!" ujar Ardigo
"Ayo bangun dan kita pulang. Sepertinya para dokter itu tidak sepintar yang saya pikir, mereka malah mengatakan bahwa kau telah tiada. Jadi ayo buka matamu dan katakan bahwa mereka salah"
"Ayo bangun Friska!" panggil Ardigo dengan suara meninggi
"Pak, jangan seperti ini" Andre sungguh tidak tega melihat Ardigo saat ini
"Kamu benar-benar pergi? bukankah saya sudah mengatakan kalau saya tidak akan mengizinkan kamu pergi kemana pun. Dan kamu sudah berjanji tidak akan pergi kemana-mana. Tapi kenapa sekarang kamu melanggarnya?" tangis Ardigo tidak bisa lagi dibendungnya
Dia tahu persis bahwa kematian telah diatur oleh tuhan, namun logikanya menolak hal itu. Dia tidak ingin mempercayai ini semua
Ardigo duduk di kursi dekat tempat tidur Friska. Melihat Ardigo yang sudah lebih tenang, Andre memutuskan untuk keluar dan memberikan Ardigo waktu untuk berbicara kepada Friska
"Kalau pada akhirnya kamu memang akan pergi dari hidup saya dan Vano, kenapa sejak awal kamu datang dan menyelamatkan saya? untuk apa kamu datang pada hari itu?"
"Kenapa kamu tega melakukan ini kepada saya? kamu datang ke dalam hidup saya dan membut saya terbiasa dengan kamu. Kamu juga sudah membuat saya jatuh cinta yang teramat dalam hingga rasanya cinta saya sendiri cukup untuk kita berdua. Setelah itu semua, kamu ingin pergi begitu saja?"
"Bagaimana saya akan melanjutkan hidup saya, Fris? kalau warna dalam hidup saya sudah kamu bawa pergi?"
"Saya bahkan belum mengucapkan maaf untuk semua kesalahan saya kepada kamu. Saya belum mengucapkan terimakasih untuk kebaikan kamu yang sudah menyelamatkan saya. Dan saya juga belum sempat mengungkapkan perasaan saya. Saya mencintai kamu, Friska Hallin Amanda. Saya sangat mencintai kamu"
"Apa saya begitu jahat kepada kamu sehingga kamu ingin cepat-cepat meninggalkan saya?"
Ardigo tiba-tiba teringat dengan sikap aneh Friska tadi malam
"Percuma kamu menjelaskan tentang bahan makanan di kulkas, Fris. Saya sudah tidak bisa lagi melakukan apapun sekarang, karena kamu sangat memanjakan saya. Saya bahkan tidak tau lagi caranya membuat kopi untuk diri saya sendiri"
"Kalau kamu tidak ingin bangun untuk saya, setidaknya bangunlah untuk Vano. Kamu tau dia begitu menyayangimu melebihi siapapun. Saya tidak tau harus bagaimana menjelaskannya kepada Vano. Jadi tolonglah bangun"
Air mata terus mengiringi tangisan pilu Ardigo. Andre yang masih bisa mendengar suara Ardigo pun tak kuasa menahan tangisnya
Mengapa secepat ini nona meninggalkan kami? batin Andre mengusap ujung matanya yang berair.
To be continued.