
Malam hari di apartemen Ardigo
Sejak sore, Friska terlihat sibuk memasak kue dan berbagai makanan lainnya. Dia merasa sedang bersemangat mempersiapkan makanan untuk beberapa hari ke depan. Bu Siti sudah pulang beberapa saat yang lalu atas perintah Friska
"Ayam sudah selesai diungkep dan tinggal goreng, bumbu untuk daging juga sudah, hanya tinggal kue-kue ini saja dan pekerjaanku sudah akan selesai" gumam Friska pelan
"Kenapa kita memasak sebanyak ini, ma?" tanya Vano yang sejak tadi membantu Friska
Dia sangat antusias mencetak kue-kue kering itu dengan bentuk yang dia inginkan. Friska membiarkan saja sang anak bersenang-senang. Entahlah saat ini dia hanya ingin melihat Vano senang dan tersenyum
"Supaya Vano punya banyak stok makanan untuk beberapa hari ke depan" balas Friska
"Yeayyy kita punya banyak makanan" sorak Vano
"Sekarang Vano masukkan kue-kue ini ke dalam toples ya. Setelah itu kita akan makan malam" ujar Friska yang langsung diangguki Vano
"Oke ma"
Setelah membereskan semua peralatan memasak, Friska lalu menghidangkan makan malam. Dia belum mencuci semua peralatan memasaknya, dia berniat akan mencucinya sekalian bersama piring mereka nanti
"Sekarang tolong Vano panggilkan papa ya"
"Iya ma"
Vano lalu melangkah menuju kamar Ardigo
Tak lama kemudian Friska melihat Ardigo dan Vano berjalan berdampingan menuju dapur
Dia sudah meletakkan nasi ke piring Ardigo, jadi pria itu hanya tinggal mengambil lauknya saja. Sedangkan untuk Vano, Friska sudah mengambilkan lengkap dengan lauknya. Friska memang tidak banyak berbicara kepada Ardigo, namun tugasnya masih tetap dia lakukan.
Ardigo menatap wajah Friska sesaat, lalu tangannya terulur untuk membersihkan bekas tepung di dahi sang istri. Friska terkejut dan menatap Ardigo sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya
Mereka makan dalam diam dan dengan pikiran masing-masing, terutama Ardigo dan Friska
Setelah selesai makan, Friska lalu mencuci semua piring dan alat masak yang sudah memenuhi wastafel. Cukup lama dia berkutat dengan piring-piring kotor itu. Setelah selesai, dia membersihkan semuanya sampai benar-benar bersih. Friska mengumpulkan semua sampah-sampah plastik dan memasukkan ke dalam kantong besar. Dia membersihkan dapur, mulai dari menyapu dan membersihkan kotoran yang ada
"Ini sudah malam, kerjakan besok saja bersama bu siti" tiba-tiba suara bariton milik Ardigo menginterupsi kegiatan Friska
"Tidak apa-apa, aku bersihkan sekarang saja"
Setelah memastikan semuanya bersih, Friska lalu mengambil sisa-sisa bahan kue dan berniat menyimpannya kembali ke lemari atas dapur
Friska berjinjit karena lemari itu cukup tinggi, namun dia belum berhasil juga
"Jangan terlalu mandiri, kamu membuat orang di sekitarmu merasa tidak berguna" ujar Ardigo lalu meraih plastik itu dan memasukkan ke dalam lemari
"Terimakasih" setelah itu Friska melepas apronnya
"Mas, kesini sebentar" panggil Friska dengan nada kurang bersahabat. Dia berdiri di dekat lemari pendingin dan membukanya
"Ada apa?"
"Aku sudah menyiapkan bahan-bahan makanan disini. Ayam ini nanti tinggal di goreng saja, dagingnya juga nanti tinggal dicampur dengan bumbu dan masak sebentar, buah-buahannya aku simpan di bagian bawah. Di dalam tempat ini juga ada kue yang tadi sudah aku buat" jelas Friska sambil menunjuk benda-benda itu satu persatu. Ini adalah percakapan terpanjang mereka setelah pertengkaran malam itu
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Maksudmu?"
"Kamu menjelaskan semuanya seolah kamu ingin pergi. Apa karena kamu masih marah kepada saya? saya tidak mengizinkan kamu pergi, Friska"
"Apa yang kamu bicarakan? aku sedang tidak ingin membahas itu. Aku tidak akan pergi kemana-kemana, besok aku hanya akan pergi ke kampus untuk bimbingan skripsi. Aku tidak tau besok akan pulang jam berapa, karena itulah aku mengingatkanmu" balas Friska
Ardigo merasa ini sangatlah aneh, padahal setiap hari dia akan pulang di sore hari. Jadi untuk apa Friska menjelaskan itu semua kepadanya. Toh Ardigo tidak pernah menyentuh dapur lagi semenjak mereka menikah. Apa semarah itu Friska kepadanya? bahkan sampai menyuruhnya untuk memasak sendiri
Besok saja aku akan meminta maaf dan memberikan kejutan untuknya. Batin Ardigo
"Baiklah. Besok kamu akan pergi jam berapa?"
"Yasudah, minta pak Danang untuk mengantarmu. Ingat, saya tidak akan mengizinkan kamu untuk pergi kemana-mana tanpa sepengetahuan saya. Jadi jangan pergi tanpa seizin saya"
"Iya. Dasar tukang atur" ujar Friska pelan lalu pergi meninggalkan Ardigo
Ardigo memandangi punggung Friska tanpa mau melepaskan pandangannya
"Perasaan apa ini? kenapa aku seperti merasa sesak" gumam Ardigo sambil memegang dadanya
****
Keesokan harinya,
Friska bangun lebih awal pagi ini. Dia mulai membersihkan dan merapikan apartemen. Dia menyapu semua sudut ruangan dan tak lupa mengepelnya. Friska juga membersihkan debu-debu di semua perabotan.
"Fyuhh, akhirnya selesai juga. Kalau begini aku bisa pergi dengan tenang ke kampus siang ini" ujar Friska. Tak terasa hari mulai terang
Friska lalu menyiapkan sarapan dan tak lupa mandi karena tubuhnya sangat lengket setelah membersihkan satu apartemen.
Saat kembali ke dapur, Friska melihat Ardigo dan Vano sudah duduk di meja makan. Dia membuatkan kopi untuk Ardigo dan susu untuk Vano.
"Kalian makan duluan saja ya, mama akan menyiapkan bekal untuk Vano"
Friska sangat telaten dalam mengerjakan semua pekerjaan.
"Ini bekal Vano, jangan lupa dihabiskan ya, sayang."
"Dan ini untuk kamu mas" ujar Friska sambil meletakkan kotak bekal di dekat Ardigo. Dia bahkan tidak menatap pria itu
Sejujurnya dia masih marah dan enggan berbicara dengan Ardigo, namun hatinya justru ingin melakukan semua itu
Ardigo semakin bingung dengan sikap Friska, namun dia juga senang karena gadis itu memperhatikannya. Tidak seperti beberapa hari yang lalu
Setelah selesai sarapan, Ardigo dan Vano berpamitan untuk pergi
"Vano hati-hati di sekolah ya. Jadilah anak yang baik dan juga kuat, jangan lupakan waktu makan. Mama sangat menyayangi Vano sampai kapanpun" ujar Friska sambil meneluk erat tubuh kecil Vano
"Iya ma, I love you more" balas Vano tersenyum manis
"Kami berangkat dulu" ujar Ardigo
"Mas tunggu" panggil Friska
"Kenapa?"
Friska berjalan mendekat ke arah Ardigo
"Kamu itu seorang CEO, jagalah penampilanmu" ujar Friska cuek, namun tangannya bergerak membenarkan simpul dasi Ardigo
Ardigo merasa mood nya langsung naik ke level paling tinggi. Bibirnya otomatis tersenyum. Dia benar-benar tidak sabar menantikan momen nanti malam
"Terimakasih" ucap Ardigo
"Iya"
Ardigo tidak tau kenapa tubuhnya malah bergerak untuk memeluk Friska erat. Seolah mereka akan lama berpisah. Dia merasa hari ini waktu akan berjalan sangat lambat dan malam akan sangat lama tiba.
"Jagalah dirimu" ujar Friska pelan
"Kau juga" balas Ardigo setelah melepas pelukannya
"Kami pergi dulu"
"Hati-hati" setelah itu mereka benar-benar pergi dan tinggallah Friska sendiri di apartemen.
To be continued.