My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Adik Vano


"Hufttt" helaan napas kasar terus keluar dari mulut Friska sejak tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun dia masih terjaga dengan posisi duduk di atas ranjang dan memeluk kedua kakinya. Pikirannya masih saja melayang entah kemana, dan akar dari overthinking nya adalah status Ardigo yang baru dia ketahui


"Kenapa aku tidak mencari tau tentang identitasnya selama ini? walaupun aku tidak perduli padanya dan tidak ada untungnya juga untukku, setidaknya aku harus memperdulikan nasibku sendiri. Aishhh dasar Friska bodoh!" gumamnya pelan sambil memukul pelan kepalanya


Friska merasa kehidupannya akan berubah setelah ini, terutama ketika publik mengetahui bahwa dialah istri dari CEO ternama Fabiyan's Corp. Yang menjadi ketakutan utama Friska adalah ketika nanti mereka bercerai pada tahun depan, maka dia yang paling banyak dirugikan. Orang-orang akan menganggap bahwa dialah yang mendatangkan permasalahan dalam pernikahannya. Dia yakin orang akan lebih berpihak kepada Ardigo mengingat status pria itu. Bahkan bayang bayang status sebagai janda tuan Ardigo pun membuatnya merasa tidak nyaman sampai kapan pun


Meskipun waktu satu tahun terbilang waktu yang cukup lama, namun jika untuk pernikahan itu adalah waktu yang sangat singkat. Dia yang selama ini mengira perceraiannya dengan Ardigo akan berjalan mulus dan tentu saja dia sangat menantikan hari itu tiba. Namun kini gadis itu seakan gamang untuk menghadapi hari tersebut, dimana perceraian mereka pasti akan tetap terjadi


"Ibuu kenapa hidup Friska harus seperti ini? Kenapa harus pernikahan seorang CEO kaya yang Friska gagalkan waktu itu? kenapa bukan pernikahan orang yang biasa saja? jika orang biasa mungkin dia akan sangat berterimakasih kepada Friska tanpa meminta pertanggungjawaban untuk nama baik. Tapi sekarang lihatlah, Friska harus terikat dengan pria menyebalkan itu. Friska sangat menyesal bu!" dia membenamkan kepalanya diantara kedua lutut dan tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipi mulus yang belum pernah disentuh Ardigo tersebut


Mengangkat kepala, matanya langsung tertuju kepada makhluk kecil yang kini sedang tertidur pulas di sampingnya. Wajah damainya yang tampan membuat sedikit kegundahan Friska menguap. Seketika dia merasa bersalah dengan perkataannya barusan. Jika dia menyesal untuk bertemu dengan Ardigo, itu berarti dia juga menyesali pertemuannya dengan Vano. Bocah berumur 5 tahun yang sudah mencuri hatinya tersebut, yang membuat hari-harinya tambah berwarna dengan sikap dan segala hal yang ditunjukkan Vano. Friska bersumpah demi apapun dia sangat menyayangi Vano, sang anak sambung.


"Maafkan mama, Vano" Friska merebahkan tubuhnya di samping Vano lalu memeluk bocah tampan itu. Bahkan sang anak kini membalas pelukannya, sangat nyaman dan damai sekali.


Biarkan saja apa yang akan terjadi nanti, setidaknya hari itu masih lama dan aku bisa memikirkannya nanti saja. Lebih baik sekarang aku menikmati momen yang ada bersama Vano. Batin Friska sambil mengeratkan pelukannya namun tidak sampai membuat sang anak sesak. Tak lama kemudian dia pun menyusul Vano ke alam mimpi


*****


Keesokan harinya


Keluarga kecil Ardigo sudah berkumpul di meja makan dan sedang sarapan bersama


"Mama magangnya dimana, ma? siapa tau kantor itu punya temannya papa" ujar Vano membuka percakapan di meja makan, dia tiba tiba teringat dengan tempat magang sang mama.


Sementara itu Friska terlihat kaget sekaligus salah tingkah mendengar pertanyaan Vano


"Emm mama magang di.... kantornya papa" balas Friska semakin memelan di ujung kalimatnya


"Loh bukannya waktu itu mama bilang tidak mau di kantor papa?"


Mati aku! batin Friska


"Emm.. wa-waktu itu mama belum tau kalau itu perusahaan papa. Ternyata kantor yang mama pilih adalah kantornya papa hehe" Friska hanya nyengir sambil menahan malu. Sementara pria dewasa di depannya hanya menampilkan senyum meledek yang terlihat sangat menyebalkan di mata Friska


"Memangnya kenapa mama tidak mau di kantor papa? kan mama sama papa bisa berangkat bersama" celoteh bocah tersebut


"Itu... karena awalnya mama ingin mencoba di kantor orang lain, supaya bisa lebih mandiri saja" balas Friska senormal mungkin. Setelah itu Vano mengangguk pertanda mengerti dengan alasan Friska


Karena mama tidak ingin sering-sering bertemu dengan papa Vano. batin Friska menyuarakan alasan yang sebenarnya


Setelah selesai sarapan, mereka semua berangkat bersama dengan mobil Ardigo.


"Belajar yang rajin ya, sayang. Jadi anak yang baik selama di sekolah, okey?"


Seperti biasa, Friska akan berpesan hal yang sama saat mengantar Vano sampai ke gerbang sekolahnya


"Siap, ma!"


setelah berpelukan dan juga bersalaman, Vano pun mulai berlari kecil memasuki kawasan sekolah elit tersebut. Kedua orangtuanya masih menatap punggung sang anak hingga tak lagi terlihat barulah mereka kembali masuk ke mobil


Di dalam mobil keduanya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun


"Bolehkah nanti aku menjemput Vano, mas?" ujar Friska memecah keheningan


"Boleh. Nanti kabari saja pak Danang"


"Baiklah"


Kemudian suasana kembali hening sesaat


"Bagaimana magangmu? apa mereka memberikan kalian tugas yang banyak?" tanya Ardigo serius, bukan meledek seperti tadi malam


"Sejauh ini cukup baik. Mereka memberikan tugas sewajarnya kepada kami" balas Friska


"Baguslah"


Kini mobil Ardigo sudah semakin dekat dengan kantor


"Mas, aku turun disini saja"


"Kenapa? kamu mau kemana?"


Seakan mengerti kekhawatiran Friska, Ardigo pun menepikan mobilnya


"Terimakasih mas" ucap Friska saat sudah turun


"Hmm. Jangan pergi kemana mana lagi, langsung ke kantor" perintah Ardigo


"Iyaa. Kamu hati-hati" Ardigo sedikit tergelitik dengan ucapan Friska. Bahkan hanya 100 meter lagi dia akan sampai ke kantor, namun gadis itu masih saja mengucapkan 'hati-hati'. Tanpa sadar bibirnya melengkung menciptakan sebuah senyum tipis. Dia pun kembali menjalankan mobilnya


Friska sudah tiba di kantor dan mulai mengerjakan pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Hingga tak terasa jam istirahat pun tiba, Friska segera menghubungi pak Danang


"Halo pak"


"Halo mbak Friska"


"Bapak dimana? saya ikut menjemput Vano ya pak"


"Baik, Mbak. Kebetulan saya memang akan menjemput tuan muda"


"Baiklah, tunggu saya di tempat kemarin ya pak"


"Iya Mbak"


Setelah memasukkan semua barangnya ke dalam tas, Friska pun menghampiri kedua sahabatnya untuk berpamitan


"Tasya, Naura, aku keluar sebentar ya, mau menjemput Vano"


"Gak makan dulu Fris?" tanya Tasya


"Nanti saja, Sya. Takutnya Vano kelamaan menunggu"


"Baiklah, hati-hati ya Fris" ucap Tasya dan Naura bersamaan


"Iya, aku pergi dulu" setelah pamit Friska pun langsung berjalan keluar dari kantor dan menemui pak Danang yang sudah menunggunya


"Ayo pak, jalan"


"Baik mbak"


Setelah sampai di sekolah, terlihat para orangtua juga sedang menunggu anak mereka. Friska mengedarkan pandangannya mencari seseorang, lalu dari kejauhan dia melihat sosok yang dicarinya itu


"Mbak Melly!" panggil Friska saat sudah berada di belakang wanita tersebut. Sontak Melly membalikkan tubuhnya dan mendapati Friska yang sedang tersenyum menggemaskan


"Friska! apa kabar?" ujar Melly antusias


"Aku baik, Mbak. Mbak sendiri bagaimana? sudah sembuh? waktu itu kata Cecil mbak sedang sakit"


Melly hanya terkekeh mendengar ucapan Friska


"Ya begitulah gejala awal kehamilan, Fris. Syukurlah tuhan kembali memberikan kepercayaan kepadaku" senyum berseri menghiasi wajah Melly


"Wahhh syukurlah, aku sangat senang mendengarnya" Friska terlihat sangat antusias karena ikut senang


"Kamu sendiri bagaimana? sudah isi belum?" tanya Melly sambil meraba perut datar Friska


"Isi nasi sih sudah tadi pagi, Mbak" balas Friska tertawa


"Ish bukan itu. Apakah disini sudah ada adik Vano?" tanya Melly masih meraba perut Friska, membuat hati gadis itu seketika mencelos


"Belum, Mbak. Mungkin tuhan masih memberikan waktu untuk kami bisa pacaran dulu" kekeh Friska


"Semoga nular ya Fris" ucap Melly meraba perut Friska lagi lalu kembali menarik tangannya


Jangan sampai, mbak. Batin Friska, kembali mengingat kondisi pernikahannya


Tak lama kemudian anak anak pun terlihat berhamburan keluar dari gedung sekolah itu. Cecil dan Vano sangat senang begitu mendapati ibu mereka disana. Setelah berbincang sebentar, mereka pun memutuskan untuk pulang.


Hai readers ku tercinta, tolong dukung karyaku ini ya dengan cara like dan comment, dan juga memberikan vote. Semoga cerita ini bisa membuat kalian enjoy dan juga jatuh cinta hehe. Terimakasih 💜