
Friska sedang mengemasi barang-barangnya dan juga Vano, karena sebentar lagi mereka juga akan pulang ke apartemen. Keluarga kecil Dinda sudah berangkat satu jam yang lalu. Dan kini giliran mereka
Vano duduk di tepi ranjang memperhatikan Friska yang sedang memasukkan barang-barang mereka ke dalam tas
"Vano kenapa? kok terlihat sedih?" tanya Friska memperhatikan wajah sang anak
"Tidak apa-apa ma. Vano hanya masih ingin tinggal bersama opa dan oma. Mereka pasti kesepian disini" balas Vano dengan wajah lesu
"Besok kan Vano harus sekolah, sayang. Bagaimana kalau pulang sekolah kita kesini lagi?" tawar Friska. Namun bocah itu hanya diam
Tak lama kemudian Ardigo masuk ke dalam kamar sambil membaca ulang pesan di ponselnya
"Barusan papa mendapat pesan di grup orangtua murid bahwa besok sekolah Vano diliburkan, karena para guru akan melaksanakan rapat penting"
"Benarkah pa?" ujar Vano sangat excited
"Iya" balas Ardigo sedikit bingung dengan raut wajah sang anak yang terlampau senang. Apalagi melihat Friska ikut tersenyum
Dia menatap Friska seolah bertanya 'ada apa?'
"Kalau begitu Vano bisa tinggal disini kan, ma?" tanya Vano kepada Friska
"Boleh sayang"
"Yeayyy" sorak Vano
"Ada apa ini? tadi memangnya kalian sedang membicarakan apa?" tanya Ardigo bingung
"Tadi Vano mengatakan bahwa dia sangat ingin tetap tinggal disini malam ini. Tapi karena besok harus sekolah jadi aku menawarkan untuk kesini lagi saat pulang sekolah besok. Sepertinya dia masih ingin tinggal bersama papa dan mama" jelas Friska
"Oh begitu. Jadi Vano tidak ikut mama dan papa pulang?"
"Tidak pa. Vano pulang besok saja"
"Baiklah kalau begitu. Jangan merepotkan opa dan oma ya, son. Jadilah anak yang baik, seperti biasanya" nasehat Ardigo
"Oke pa" balas Vano tersenyum manis
Kini Friska dan Ardigo sedang di dalam perjalanan pulang. Hanya mereka berdua yang ada di mobil tersebut, karena Vano menginap di rumah utama Fabiyan. Tentu saja Rini dan Reno sangat senang karena Vano masih tinggal disana malam ini. Setidaknya mereka tidak langsung merasakan kesepian
Di dalam perjalanan tidak ada percakapan diantara keduanya, hingga mobil mewah Ardigo memasuki basement apartemen
Setelah turun dari mobil, Ardigo menggenggam jemari Friska dan membawanya berjalan beriringan. Gadis itu tidak menolak sentuhan hangat Ardigo
"Kamu lelah?" tanya Ardigo saat mereka sudah sampai
"Tidak, mas"
Mereka lalu memasuki kamar untuk meletakkan barang dan juga mengganti baju
"Mas, kenapa ganti baju disini?" protes Friska saat Ardigo dengan entengnya berganti pakaian di hadapannya
"Memangnya kenapa? Kan yang melihat hanya kamu" balas Ardigo santai
"Kamu harus terbiasa melihat tubuhku, sayang" ujar Ardigo tersenyum nakal
"Jangan tersenyum begitu mas, kamu menakutiku" ucap Friska jujur
"Mana ada istri yang takut melihat suami yang setampan ini"
"Sudahlah, aku mau ganti baju dulu" Friska tidak ingin meladeni kenarsisan Ardigo dan memilih berlalu dari hadapan pria itu
Setelah mengenakan dress rumahan, Friska lalu mencari keberadaan laptopnya
"Mas, apa kau melihat laptopku?"
"Sebentar akan aku ambilkan"
"Ini"
"Terimakasih mas"
"Apa ini?" gumamnya pelan
"Ada apa?" tanya Ardigo yang sedang duduk di sofa bed. Dia langsung menghampiri Friska
"Mas, inii..."
"Oh, itu. Iya, aku sudah menyelesaikan skripsimu. Jadi kau hanya perlu memahami dan juga konsultasi dengan dosen pembimbing"
"B-bagaimana bisa?" tanya Friska masih tidak percaya
"Tentu saja bisa. Suamimu ini adalah orang yang bisa diandalkan" canda Ardigo
"Aku hanya ingin membantumu. Jadi aku mengerjakannya selama di rumah sakit sambil menjagamu. Kebetulan aku memahami tentang judulnya, dan tempat penelitianmu juga di kantor kita, jadi semua data yang diperlukan sangat mudah untuk didapatkan" jelas Ardigo
Friska menatap Ardigo dengan penuh haru
"Sekarang kamu pahami isinya, ya. Supaya kamu bisa menjawab semua pertanyaan ketika sidang nanti. Jangan sampai ketahuan kalau aku yang mengerjakannya" canda Ardigo sambil mengelus kepala Friska penuh sayang
"Terimakasih banyak mas" Friska langsung berhambur memeluk leher Ardigo
"Terimakasih untuk semuanya" ujar Friska tulus
Ardigo terpaku sesaat. Dia merasakan kebahagiaan yang tak terkira saat Friska memeluknya. Rasanya menyelesaikan sebuah skripsi tidak ada apa-apanya dibanding pelukan Friska
"Sama-sama, sayang" balas Ardigo sambil mendorong tubuh Friska agar semakin menempel padanya
Mereka berpelukan cukup lama sampai bibir nakal Ardigo mulai menjelajah kesana kemari. Friska mulai bergerak hendak melepaskan pelukan itu, namun tangan kokoh Ardigo menahannya
Dia menciumi kuping, pipi, hingga leher Friska. Dan yang terakhir dia meninggalkan jejak kepemilikan disana
"Ahh" ******* Friska lolos karena terkejut oleh tindakan Ardigo
Sial. Sepertinya aku salah telah memeluknya. rutuk Friska di dalam hati
Pria itu menghisap leher Friska dengan cukup kuat hingga meninggalkan tanda merah di leher putih gadisnya
Ardigo mulai terbakar gairah saat mendengar ******* spontan Friska, apalagi tubuh gadis itu yang terus bergerak
"Mas, apa yang kamu lakukan" protes Friska
"Menandai milikku" balas Ardigo enteng
"Kau selalu saja mencuri kesempatan. Dasar mesum" ujar Friska salah tingkah
Ardigo mulai berpikir jernih, lalu melepaskan Friska. Dia tidak ingin melewati batas dan membuat Friska merasa terpaksa melayaninya
"Aku mencium lehermu, tapi kenapa pipimu ikut merah?" kekeh Ardigo
"Mas!" Friska membalikkan tubuhnya menyembunyikan wajah yang sudah semerah tomat
Ardigo tertawa lalu memeluk gadisnya dari belakang
"Hei, tidak usah malu. Aku ini suamimu" bujuk Ardigo
"Itu masih belum apa-apa. Buang semua rasa malumu saat bersamaku, okey?"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menjawabnya" ancam Ardigo
"Iya mas iyaaa. Lepaskan aku dulu" ujar Friska sambil berusaha tenang
"Baiklah, istriku memang pintar" ujar Ardigo lalu melepaskan pelukannya. Tak lupa satu kecupan ia daratkan di pipi Friska.
Dasar suami mesum. batin Friska
To be continued.
Menuju unboxing kah? wkwk
See you in the next chapter.