My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Obrolan Menegangkan


Sambil menunggu pesanannya, Ardigo memainkan ponsel untuk melihat email yang masuk ke akunnya. Tak lama kemudian telinganya menangkap suara yang sangat familiar


"Papa!" seru Vano ketika melihat sang ayah berada di dalam kafe. Bocah itu berlari menghampiri sang ayah meninggalkan Rivan yang menyusulnya di belakang. Pria tampan itu hanya terkekeh melihat kelakuan Vano


Ardigo lantas tersenyum ke arah sang anak


"Vano dari mana saja?" tanya Ardigo saat sang anak sudah berdiri di dekatnya


"Tadi Vano melihat koleksi legonya uncle Rivan pa. Uncle Rivan punya lego yang sangat banyak, tadi uncle juga mengajak Vano bermain di ruangannya" bocah itu terlihat sangat antusias bercerita kepada sang ayah. Sementara itu Rivan hanya tersenyum dan menarik kursi di depan Ardigo lalu mendudukinya


"Benarkah? Vano senang?" tanya Ardigo


"Senang sekali pa!" balas bocah itu sambil mengangguk kencang


"Vano menemui mama dulu ya, pa, uncle" pamit Vano kepada kedua pria dewasa di depannya.


"Iyaa" balas mereka bersamaan


"Apa kabar tuan Ardigo? senang bertemu langsung denganmu. Aku benar-benar tidak menyangka kalau laki-laki yang dinikahi Friska itu adalah kau" sapa Rivan ramah. Senyum hangat tampak terpancar dari wajah teduhnya


Namun Ardigo hanya menunjukkan ekspresi datarnya dengan sedikit memaksakan senyum


"Seperti yang kamu lihat, saya baik. Saya merasa tersanjung karena kamu mengenal saya" balas Ardigo tidak sehangat Rivan


"Tentu saja aku mengenalmu. Siapa yang tidak mengenal CEO dari perusahaan besar Fabiyan's Corp. Aku juga merasa terhormat kau mau mendatangi kafeku ini. Haruskah aku memperkenalkan diriku? namaku Rivando Gillbert, aku biasa dipanggil Rivan" ujar Rivan masih tersenyum hangat


"Senang mengenalmu tuan Rivan. Saya tadi hanya mengantar anak dan istri saya kesini, jadi saya pikir saya ingin sekalian mampir sebentar" balas Ardigo dengan sedikit menekankan kata istri dan anak pada kalimatnya. Seolah menyatakan bahwa kedua orang itu adalah miliknya. Karena sepertinya pria di depannya ini akan menjadi ancaman untuknya


Diam-diam Rivan tersenyum dalam hati. Dia merasa sepertinya pria di hadapannya ini mulai mengibarkan bendera permusuhan. Hal itu cukup membuatnya terhibur


"Aku masih benar-benar tidak menyangka bahwa Friska menikah dengan orang sehebat kamu. Selama ini aku selalu bertanya-tanya seperti apakah sosok pria yang sudah menjadi suami Friska, dan hari ini aku sangat terkejut mengetahui fakta bahwa kamulah suaminya. "


"Terimakasih pujiannya tuan Rivan. Saya juga tidak menyangka bisa menikah dengannya" ujar Ardigo seadanya


"Tapi meskipun begitu, Friska adalah orang yang layak mendapatkan seseorang sepertimu. Jangan pernah meremehkan istrimu, aku harap kamu tidak berpikir bahwa dia yang beruntung mendapatkanmu. Tapi kamulah yang beruntung mendapatkannya, percayalah padaku!"


Dari ucapan Rivan, Ardigo yakin bahwa pria itu mengetahui keadaan pernikahaannya dengan Friska


Obrolan mereka terpaksa terhenti ketika Friska datang membawakan pesanan Ardigo. Dia cukup terkejut mendapati Rivan dan Ardigo sedang berbincang bersama


Kira-kira apa yang tadi mereka bicarakan? batin Friska penasaran


"Kalian sepertinya terlihat akrab, kak" celetuk Friska kepada Rivan yang langsung dibalas senyuman oleh Rivan


"Tentu saja, suamimu orang yang sangat seru diajak mengobrol" balas Rivan menatap wajah Friska. Tentu saja itu tidak luput dari sepasang mata elang Ardigo


"Benarkah?" Friska justru sangat terkejut dan sedikit tidak percaya jika Ardigo adalah orang yang seru diajak mengobrol.


"Iya, bukan begitu tuan Ardigo?" tanya Rivan kepada pria tampan yang hanya menampilkan wajah datar tersebut


"Hmm" balasnya singkat


Ini yang dikatakan seru? batin Friska mencibir


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Silahkan dinikmati mas"


"Kamu benar-benar memberi saya milkshake?" tanya Ardigo menatap minuman di depannya


"Iya, kan tadi aku sudah mengatakannya" Friska tidak merasa bersalah sedikitpun


"Yasudah lah"


"Okey, aku balik dulu kak"


"Iya Fris, jangan terlalu lelah" ujar Rivan yang dibalas anggukan oleh gadis itu


Sial! ada apa denganku? kenapa moodku sangat buruk pagi ini? tanya Ardigo kepada dirinya sendiri


"Memangnya tadi kamu memesan minuman apa?" tanya Rivan kepada Ardigo


"Americano"


"Kenapa Friska malah menggantinya?"


"Dia tidak mengizinkan karena tadi pagi saya sudah minum kopi"


"Dia memang gadis yang baik dan juga perhatian. Yah begitulah Friska, sangat sulit untuknya mengabaikan orang di sekitarnya" ucap Rivan yang disetujui oleh Ardigo


"Aku sudah mengenalnya sejak kecil dan sampai sekarang dia tidak berubah. Sebagai suami kamu juga pasti tau banyak hal tentangnya" Rivan mulai memancing pria tampan itu


Ardigo sedikit kesal dengan ekspresi kagum yang ditunjukkan Rivan


"Tentu saja. Dia banyak bercerita tentang hidupnya, dan juga tentangmu"


"Dia menceritakan tentangku?" Rivan tidak bisa menutupi raut bahagianya. Dan hal itu sukses membuat hati Digo semakin panas


"Iya, dia menceritakan bahwa kalian saling mengenal sejak kecil dan sampai sekarang. Dia sudah menganggapmu seperti kakaknya sendiri" pungkas Ardigo sambil tersenyum miring


"Begitukah?" Raut bahagia itu seketika berubah menjadi sedikit kecewa


"Iya. Dia menganggapmu sebagai kakaknya, tapi dari yang saya lihat kamu tidak menganggapnya sepertu adikmu. Saya melihat ada perasaan lain untuknya"


Rivan kembali menampilkan senyumnya


"Sejelas itu kah? ternyata memang benar, perasaan seseorang akan lebih mudah disadari oleh orang lain" ujar Rivan tersenyum getir


"Itu terlihat sangat jelas"


"Kalau begitu kenapa Friska tidak pernah menyadarinya?"


"Karena dia hanya menganggapmu sebatas kakaknya"


"Benar, hanya kakak" Rivan tetap tersenyum sambil berucap


"Kau menyukainya?" tanya Ardigo berbasa basi, padahal tanpa dijawab pun dia sudah tau jawabannya


"Sebagai sesama lelaki aku yakin kau tau jawabannya" pungkas Rivan cepat


"Kamu tidak merasa aneh mengakui perasaanmu terhadap seorang wanita di hadapan suaminya sendiri?" kini Ardigo menunjukkan ketidak sukaannya secara jelas


"Tidak, karena perasaan itu sudah ada jauh sebelum kau menikahinya. Lagipula aku tidak merasa bersalah karena aku langsung mengakuinya kepadamu, bukan sembunyi-sembunyi dan bermain belakang. Setidaknya kau tau bahwa ada orang lain yang menyayangi dan mengharapkan istrimu. Jadi kau bisa berpikir berkali kali sebelum menyakitinya. Karena ada orang lain yang tulus mencintai istrimu dan tidak akan pernah menyakitinya" jelas Rivan masih mempertahankan senyumnya. Dia tau Ardigo sangat muak melihatnya terus tersenyum


"Anda memang luar biasa tuan Rivando Gillbert" ujar Ardigo tersenyum mengejek


"Terimakasih, aku anggap itu pujian darimu tuan Ardigo Fabiyan. Tenang saja, aku tidak akan merebutnya darimu selama kau bersikap baik dan tidak menyakitinya. Aku akan berusaha bahagia melihatnya bahagia bersamamu. Munafik jika aku tidak merasa cemburu dan sakit hati, karena aku juga tidak sehebat itu. Saat ini aku masih terus belajar mengikhlaskan Friska dan ikut bahagia dengan melihatnya bahagia. Intinya selama kau bersikap baik kepadanya maka dia akan aman berada di sampingmu. Tapi jika aku tau dia terluka sedikit saja, aku tidak akan menunggu hari esok untuk membawanya pergi darimu. Kau tau kan, dia sangat mempercayaiku." kini Rivan terlihat serius dengan sorot mata tajam. Tidak ada lagi senyum hangat dan jenaka di wajahnya


"Kau percaya diri sekali tuan Rivan"


"Tentu saja! aku mengenalnya selama 17 tahun dan tidak pernah membuatnya kecewa sekalipun" keduanya saling menatap tajam dengan raut datar


Tak lama kemudian Rivan kembali menunjukkan senyumnya


"Jangan tegang begitu tuan Ardigo. Aku tidak sedang mengancammu, aku hanya memberi penjelasan padamu. Aku yakin kau tau apa yang harus kau lakukan. Makanlah, Friska sudah bersusah payah membuatnya" ujar Rivan ringan dengan senyum manisnya


"Aku mau menemui Vano dulu. Kau percaya padaku kan? ayolah, aku ini juga pamannya. Aku adalah kakak dari mamanya"


Ardigo tidak menjawab, namun Rivan yakin pria itu mengizinkan dan mempercayainya. Rivan langsung berdiri dari duduknya


"Sepertinya aku sudah jatuh cinta dengan anakmu, dia sangat lucu dan menggemaskan. Sama seperti mamanya" Rivan sengaja menggoda Ardigo sebelum berlalu dari hadapan pria itu


Sepeninggal Rivan, Ardigo langsung menggumamkan kalimat-kalimat umpatan untuk pria itu. Rivan mendengar sayup-sayup umpatan Ardigo, namun dia tidak peduli ataupun marah, dia justru melebarkan senyumnya. Dia tidak menyangka sosok Ardigo adalah orang yang cukup menghibur untuknya.


Hai readers ku tercinta, tolong dukung karyaku ini ya dengan cara like dan comment, dan juga memberikan vote. Semoga cerita ini bisa membuat kalian enjoy dan juga jatuh cinta hehe. Terimakasih 💜