My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Kembali


Ardigo terdiam dengan buku-buku jari yang memutih. Amarah terlihat jelas menguasainya setelah mendengar laporan dari Andre mengenai pelaku percobaan pembunuhan Friska. Dia tidak menyangka bahwa Felicya berani bertindak sejauh ini dan melanggar ucapannya untuk pergi menjauh


Rivan dan Tasya sudah pergi beberapa saat yang lalu


"Kau sendiri yang memilih nerakamu" desis Ardigo tajam sarat akan emosi dan dendam


"Sebaiknya saat ini anda fokus saja dulu dengan nona Friska, pak. Untuk urusan mereka biar saya yang akan menanganinya" ujar Andre


"Baiklah, saya percayakan kepada kamu. Nanti saat Friska sudah sadar saya sendiri yang akan memberikan pelajaran kepada mereka. Jangan sampai mereka lolos"


"Saat ini mereka sudah di kantor polisi, jadi mereka tidak akan bisa kemana-mana lagi"


Setelah obrolan mereka, Andre pamit untuk pergi ke kantor dan meninggalkan Ardigo sendirian menjaga Friska


"Cepat bangun, sayang. Aku akan mengusahakan keadilan untukmu" ujar Ardigo sambil menggenggam jemari Friska


Di siang hari Rini datang bersama Vano. Mereka membawakan makanan untuk Ardigo


"Makan dulu, Dig. Ini ayamnya sudah mama goreng" ujar Rini


Sebelum datang ke rumah sakit, Rini terlebih dahulu mendatangi apartemen mewah milik Ardigo untuk memasak makanan yang sudah disediakan oleh Friska atas permintaan pria itu. Dia hanya ingin makan makanan yang sudah disediakan oleh sang istri


"Iya ma, sebentar lagi"


Vano mendekat ke arah Friska dan menatap wajah gadis itu dalam. Wajah yang selalu memberikan senyuman manis kepadanya kini terlihat pucat dengan mata tertutup


"Cepat sembuh ya, ma. Vano sayang mama" mata bocah itu sudah berkaca-kaca


Ardigo mengusap pelan punggung sang anak. Nyatanya bukan hanya dirinya yang merasa kehilangan, Vano juga merasakan hal yang sama


Mereka menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menjaga dan menunggu Friska untuk bangun dari tidurnya


Tak terasa seminggu sudah Friska berada di rumah sakit


Malam telah tiba, Vano sudah tertidur pulas di sofa bed yang tersedia. Meskipun di rumah sakit, ruangan yang ditempati oleh Friska memberikan fasilitas dan suasana yang nyaman.


Ardigo baru saja memejamkan matanya dengan posisi duduk dan meletakkan kepalanya di samping tangan Friska. Selama seminggu ini dia tidak pernah merasakan kenyamanan dalam tidurnya. Tidur dengan posisi duduk adalah keinginannya sendiri, meskipun Rini melarangnya tapi bukan Ardigo namanya jika tidak keras kepala


Sementara itu Friska masih betah berada di alam mimpinya. Dia tengah duduk di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga indah dengan kupu-kupu yang hinggap kesana kemari. Friska terlihat senang dan menghirup aroma bunga tersebut satu-persatu.


Di taman tersebut terdapat sebuah kursi besi berwarna putih yang sedang diduduki oleh seorang wanita cantik. Dia tersenyum melihat Friska yang bermain dengan bunga-bunga di taman itu. Senyuman Friska seolah menjadi hal yang sangat membahagiakan untuknya


"Ibuuu" Friska lalu berlari dan memeluknya erat


"Friska suka disini bu, tempatnya indah" ujar Friska riang


Wanita itu hanya tersenyum menanggapi keceriaan sang anak


"Tempat ini memang indah, sayang. Makanya ibu betah berada disini. Meskipun sendiri tapi ibu tidak pernah merasakan kesepian" balas wanita yang dipanggil ibu oleh Friska. Dia membelai lembut rambut halus Friska dengan penuh kasih sayang


"Friska disini saja ya, bu. Kita akan berdua disini dan pasti akan sangat menyenangkan"


"Belum saatnya, sayang. Ibu akan menunggumu disini jika waktunya sudah tiba" ujar wanita itu tenang


"Kenapa begitu, bu? Apa ibu tidak ingin bersama Friska? ibu tidak sayang lagi kepada Friska?" tanya Friska dengan mata berkaca-kaca


"Ibu sangat-sangat menyayangimu. Tapi cinta mereka juga tak kalah besarnya untukmu. Kembalilah nak, mereka sangat merindukanmu"


"Kamu salah, nak. Kamu sudah memiliki semuanya sekarang. Kamu tidak sendirian lagi, karena mereka akan selalu ada untukmu. Kembalilah, mereka sudah menunggumu" ujar wanita itu sambil menunjuk ke arah depan


Friska mengikuti arah pandang ibunya. Disana dia melihat siluet seorang pria gagah dan seorang anak kecil, mereka saling bergandengan. Yang membuat Friska bingung adalah mereka terus saja memanggilnya, padahal Friska tidak mengenal mereka


"Kembalilah, mereka menunggumu" ujar wanita itu sambil tersenyum hangat


Kedua orang yang berdiri di depan Friska itu pun terus saja memanggilnya dan berjalan ke arahnya. Saat semakin dekat, Friska merasakan semuanya silau dan dia tidak bisa melihat apapun


Mata Friska terbuka ketika cahaya yang menyilaukan itu hilang. Dia melihat ke sekitarnya dan mendapati dirinya tengah berada di sebuah ruangan


Kenapa aku berbaring disini? tanya Friska di dalam hatinya


Tubuhnya terasa sangat sulit untuk digerakkan. Friska lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu


Dia sedikit terkejut ketika mendapati seseorang yang tidur dalam posisi duduk di samping ranjangnya


Seketika ingatannya mulai terhubung satu sama lain. Friska teringat bahwa dirinya mengalami kecelakaan dan setelah itu dia tidak sadarkan diri


Lalu ini siapa? apa dia mas Ardigo? batin Friska karena tidak melihat dengan jelas wajah seseorang tersebut


Dengan perlahan Friska menggerakkan tangannya dan menyentuh kepala seseorang yang dia yakini pria itu


Friska merasa familiar dengan tekstur rambut tersebut, dan entah mengapa dia yakin bahwa itu adalah Ardigo


Sentuhan pelan di kepalanya membuat tidur Ardigo terusik. Dia mengangkat kepalanya dan mendapati Friska tengah menatap ke arahnya


Ardigo terkejut begitu melihat mata Friska yang berkedip tepat di hadapannya. Rasa senang, terharu, dan tidak percaya bercampur aduk menjadi satu


"Friska? kamu sudah sadar? aku tidak sedang bermimpi, kan?" tanya Ardigo sambil memperjelas penglihatannya


Mendengar pertanyaan Ardigo membuat Friska yakin bahwa pria itu sedang menunggunya


Apa mas Digo adalah orang yang dimaksud oleh ibu? batin Friska. Kini dia sudah sadar sepenuhnya


Friska lalu berkedip dan mencobakan sedikit tersenyum, berharap Ardigo percaya bahwa ini bukanlah mimpi


Ardigo tertegun melihat Friska yang tersenyum ke arahnya. Senyuman yang masih sama seperti dulu. Kini dia percaya bahwa ini nyata


"Syukurlah kamu sudah sadar. Terimakasih tuhan" tanpa sadar air mata Ardigo menetes karena perasaan haru yang teramat sangat


Friska terus saja menatap sang suami. Lalu dengan gerakan perlahan tangannya bergerak menuju pipi Ardigo dan mengusap air mata pria itu yang bahkan tidak disadarinya telah menetes membasahi pipinya


Sentuhan Friska terasa sangat nyata dan nyaman. Sentuhan yang sudah lama dia rindukan


"Jangan menangis" ujar Friska terdengar sangat pelan


Hal itu justru membuat Ardigo tidak bisa menahan air mata harunya. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaan bahagianya saat ini


"Aku tidak menangis. Aku hanya merasa terlalu bahagia" ujar Ardigo sambil menggenggam tangan Friska di pipinya


Setelah itu tidak ada lagi obrolan diantara keduanya. Hanya mata yang saling bertatapan mengisyaratkan sebuah rindu yang begitu dalam.


To be continued.