
Jam sudah menunjukkan pukul 3 siang saat Friska tiba di Apartemen. Setelah menempelkan access card, pintu apartemen pun terbuka dan Friska berjalan memasuki apartemen yang terlihat sunyi tersebut, karena memang hanya mereka bertiga yang menghuninya. Ardigo masih berada di kantor, sedangkan Vano sudah berada di rumah Oma dan Opa nya menunggu kedatangan kedua orangtuanya. Tadi Friska memang tidak sempat menjemputnya dan meminta Pak Danang untuk menjemput dan mengantarkan Vano ke rumah sang mertua.
Setelah mengganti pakaian dengan pakaian rumahan, Friska langsung menuju dapur untuk membuat brownis, yang rencananya akan dia bawa ke rumah sang mertua. Setelah memutar musik dari ponselnya, gadis itu pun langsung disibukkan dengan berbagai bahan bahan yang dibutuhkan, dia terlihat cekatan mengerjakan semuanya sambil sesekali bernyanyi mengikuti lagu
Wangi harum telah tercium dari arah dapur, aroma menggoda brownis yang baru saja dikeluarkan dari oven membuat Friska memejamkan matanya sambil tersenyum
Semoga saja nanti mereka suka. Batin Friska penuh harap, dia sangat berharap kedua mertuanya menyukai hasil masakannya. Dan nanti juga akan menjadi pertemuan pertamanya dengan adik Ardigo, seperti yang dikatakan Rini beberapa hari yang lalu bahwa adik dari suaminya itu juga akan pulang hari ini.
Friska melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Dia pun memutuskan untuk mandi dan bersiap siap. Setelah selesai mandi, Friska mengenakan dress selutut berwarna cream. Dia kemudian menyisir rambut panjangnya dan memakai bando agar lebih terlihat rapi. Memoles wajahnya sedikit agar terlihat lebih fresh namun tetap natural.
Setelah selesai, Friska kembali ke dapur dan mengemasi brownis yang tadi dibuatnya. Ardigo sudah mengiriminya pesan setengah jam lalu yang isinya menyuruh Friska menunggu di apartemen dan mereka akan berangkat bersama
Kini sudah setengah jam Friska menunggu Ardigo, namun pria itu belum juga terlihat batang hidungnya
"Kenapa dia lama sekali?" gumam Friska mulai kesal.
Waktu kini sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan tak lama kemudian ponsel Friska berdering menunjukkan panggilan dari Ardigo.
"Halo! Mas dimana? jadi menjemputku tidak?" sungut Friska cepat
Ardigo menyadari nada kesal dari suara istrinya, namun dia memilih tidak peduli
"Saya sudah di basement. Sekarang kamu turun, saya tunggu disini" ucap Digo datar lalu mematikan telfonnya
Dengan sedikit kekesalan di hatinya, Friska meraih tas dan paper bag yang berisi brownis lalu keluar dari apartemen
Setelah melihat mobil Digo, Friska langsung mendekat dan membuka pintu bagian depan, dan duduk dengan wajah yang sedikit ditekuk
Wusssss...
Angin yang masuk bersamaan dengan Friska yang menutup pintu menghantarkan aroma parfum yang dipakainya sampai ke hidung Ardigo. Bahkan pria itu sampai memejamkan matanya menikmati aroma menenangkan dari tubuh istrinya. Melirik ke samping melihat sosok cantik itu membuat rasa penatnya sedikit berkurang. Ternyata benar, lelahnya seorang suami bisa menghilang ketika melihat penampilan teduh dari sang istri. Namun tidak untuk Ardigo, dia menyangkal hal tersebut dan langsung menggelengkan kepalanya
"Kita tidak akan jalan?" celetuk Friska menyadarkan Ardigo
"Iya, ini mau jalan"
Tidak ada yang berbicara selama perjalanan, mereka sama sama diam sehingga suasana di dalam mobil menjadi hening
"Kamu terlihat marah" ucap Digo membuka suara. Dia masih merasakan aura tidak enak dari Friska
"Aku tidak marah. Aku hanya sedikit kesal padamu" balas Friska tanpa menoleh
"Kenapa?"
"Kamu tadi menyuruhku untuk menunggumu karena kamu akan segera pulang. Tapi kamu membuatku menunggu selama hampir satu jam tanpa mengatakan apa apa. Harusnya tadi kamu tidak menyuruhku menunggumu, aku bisa meminta tolong pak Danang untuk mengantarku" ujar Friska pelan masih menatap jendela di sampingnya
Ardigo sangat terkejut dengan kejujuran Friska, gadis itu dengan tanpa beban menyuarakan kekesalannya. Tadinya Ardigo pikir Friska akan menjawab "tidak kenapa-kenapa" dan dia berniat akan mengabaikan gadis itu setelahnya. Tapi ternyata dia langsung menyuarakan isi hatinya. Ardigo tidak bisa menahan senyum tipis di bibirnya, kejujuran Friska membuatnya terhibur hingga tanpa sadar mengembangkan senyumnya
"Tadi saya memang akan pulang, tapi tiba tiba saya punya urusan mendadak dan tidak sempat menghubungimu" balas Ardigo santai. Tidak merasa bersalah sama sekali
Friska tidak lagi menanggapi alasan suaminya itu. Saat suasana kembali hening, ponsel Digo berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Friska awalnya tidak peduli, namun ketika menyadari siapa yang menelfon suaminya, gadis itu langsung menegakkan tubuhnya dan menghadap Ardigo
"Kami masih di jalan, Ma. Ada apa?"
"Sekarang? tapi biasanya di jam seperti ini antriannya lumayan panjang Ma"
"Baiklah. Aku usahakan. Iya, sampai jumpa"
"Ada apa? Apa yang dikatakan Mama?" tanya Friska sesaat setelah panggilan telfon Digo terputus
"Mama berpesan ingin dibelikan bebek goreng di tempat langganannya. Tapi biasanya di jam sekarang antriannya cukup panjang" ujar Digo mengela napas kasar. Friska bisa melihat bahwa suaminya ini sangat lelah. Tiba tiba perasaan iba dan bersalah meliputi hatinya
Iba melihat Ardigo yang kelelahan, dan merasa bersalah sudah meluapkan kekesalannya tadi kepada pria itu
"Kita lihat dulu kesana. Mungkin hari ini tidak ramai sepertinya biasanya" hibur Friska
Saat tiba di tempat yang dituju, mata Friska langsung membelalak melihat panjangnya antrian di depan kedai bebek goreng tersebut
Sepertinya bebek goreng disini benar benar enak. Lihat saja antriannya yang sangan panjang. Batin Friska
Sedangkan Digo hanya menatap datar pemandangan yang ada di depannya saat ini. Bahkan antriannya lebih padat dari ekspektasinya
Friska mulai memutar otaknya berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa cepat mendapatkan bebek goreng tersebut dan bisa pulang secepatnya
Dia mendapatkan sebuah ide cemerlang dan berharap rencananya kali ini bisa berjalan dengan baik.
"Aku tau bagaimana caranya, Mas!" ucap Friska antusias. Membuat Ardigo mengerutkan keningnya
Friska lalu menoleh ke jok belakang dan tersenyum mendapati bantal kecil berbentuk lingkaran. Sepertinya itu bantal yang biasa digunakan Vano ketika berada di mobil sang ayah. Dengan gerakan cepat Friska lalu mengambilnya. Ardigo dibuat bingung dengan apa yang dilakukan Friska
Gadis itu sedikit menyamping menghadap jendela di sebelahnya lalu memasukkan bantal tersebut ke dalam dress nya.
"Masih kurang besar" gumamnya pelan lalu beralih menatap Digo
"Mas, buka jas mu sekarang. Ayo!" ucap Friska
Ardigo langsung mengerutkan keningnya tidak mengerti
"Kenapa? Apa yang mau kamu lakukan? saya tidak mau!"
"Ayolah, ini cara supaya kita bisa dapat membeli pesanan mama dan juga pulang dengan cepat"
"Tapi saya tidak tau apa yang sedang kamu lakukan. Saya tidak mau ikut dalam rencana konyol kamu itu"
"Ayolah cepat, kita tidak punya banyak waktu" kini Friska bahkan sudah menarik narik jas suaminya
Dengan terpaksa Ardigo pun melepas jas mahalnya dan menatap Friska dengan wajah kesal sekaligus bingung. Friska terlihat menggulung asal jas Ardigo sehingga membentuk bulatan lalu kembali memasukkannya ke dalam dress
"Sempurna! sekarang sudah lebih besar" ucap Friska pelan menatap perutnya yang kini sudah sangat besar, layaknya ibu hamil pada usia 9 bulan
"Mas, pokoknya kamu harus mengikuti permainanku. Kamu harus mengikuti apapun yang aku katakan. Kamu paham, 'kan?"
"Sebenarnya apa rencanamu?" tanya Ardigo mulai frustasi dengan tingkah istrinya yang sedikit... gila?
"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya. Sekarang ayo turun"
Ardigo langsung menyambar masker. Dia tidak mau orang orang mengenalinya ketika berbuat hal konyol bersama Friska. Bisa jatuh nama baiknya
Setelah sampai di depan kedai yang tidak terlalu besar itu, Friska langsung menggandeng tangan Ardigo dan berdiri di antrian paling belakang. Sontak saja pria itu menatapnya sinis
"Kamu sedang mengambil kesempatan ya?" bisiknya pelan
"Jangan kepedean dulu tuan Ardigo" balas Friska juga berbisik
Mereka berdiri sekitar 5 menit lalu Friska mulai melancarkan aksinya
"Aduhh.. Mas perutku sakit! awww sepertinya anak kita menendang dengan keras" ujar Friska sedikit berteriak, sengaja agar semua orang mendengarnya. Ardigo menatap Friska yang saat ini sedang mengedip mengedipkan matanya seolah memberi kode kepada Ardigo untuk membantu acting nya.
"Aduhh sakit sekali mas. Perutku sakit, tapi sepertinya anak kita sangat menginginkan bebek goreng ini." Friska mengerahkan semua kemampuannya untuk bisa meyakinkan semua orang
Kini banyak mata yang menatap ke arah mereka berdua, Ardigo pun terpaksa mengikuti permainan Friska
"Sabar sebentar lagi ya Sa-sayang. Antriannya masih panjang" Digo bersumpah sangat membenci apa yang dilakukannya saat ini. Selama 30 tahun hidupnya dia tidak pernah melakukan hal konyol seperti ini di hadapan banyak orang
"Tapi perutku sakit sekali Mas. Huhu"
"Maaf tuan, nyonya, apakah kami bisa duluan? istri saya sangat menginginkan bebek goreng ini, tapi perutnya terasa sangat sakit. Saya juga tidak tenang meninggalkannya sendiri di mobil"
"Saya mohon tuan, nyonya. Perut saya sakit sekali" tambah Friska
"Yasudah silakan maju ke depan Mas dan Mbak. Ibu ibu dan bapak bapak yang di depan, tolong mengalah sebentar. Disini ada ibu yang sedang hamil tua" ucap seorang laki laki berbadan gemuk, dia sedikit berteriak agar dapat di dengar oleh semua orang
"Terimakasih Mas, tuan, dan nyonya semua. Maaf merepotkan kalian semua" ucap Ardigo saat akan berjalan ke dalam kedai setelah diberi jalan oleh orang yang paling depan
Terimakasih orang orang baik, semoga kebaikan kalian bisa dibalas ratusan kali lipat. Maaf sudah membohongi kalian. Batin Friska sambil berjalan melewati antrian tersebut
Kini bebek goreng pesanan Rini sudah berada di tangan Ardigo. Dia sengaja membeli banyak mengingat betapa sulit pengorbanannya mendapatkan pesanan sang ibu. Dia meletakkan dua buah plastik yang penuh dengan bebek goreng ke jok belakang. Lalu membuka pintu dan duduk di balik kemudi
Dia melirik Friska yang tersenyum senang
"Rencana kita berhasil!!" ucap Friska antusias
Dia terlihat sangat bahagia. Ardigo sepertinya selalu dikejutkan dengan hal hal baru yang ditunjukkan oleh istrinya ini. Dia tidak menyangka Friska bisa memikirkan rencana seperti ini. Ardigo mengakui bahwa istrinya ini memang luar biasa. Haruskah dia memuji kepintaran Friska?
To be Continued.