
Haiii everybody ada yang nungguin kelanjutan novel ini? semoga ada ya hehe. Aku mau ngucapin terimakasih untuk para pembaca yang udah mengikuti My Perfect Stranger sampai sejauh ini, baik yang meninggalkan jejak maupun yang tidak. Untuk yang udah memberi like, comment, dan vote aku ucapin terimakasih banyak, karena dukungan kalian sangat mempengaruhi mood aku dalam menulis. Dan untuk silent readers aku tetap bersyukur kalian menghargai karyaku dengan tetap membacanya walaupun gak meninggalkan jejak apapun, karena aku liat jumlah pembacanya alhamdulillah udah lumayan. Tapi kalau bisa tolong kasih like ya itung2 membantu karyaku ini :') udah ah itu aja, terimakasih buat yang membaca note author ini dari awal sampai akhir. Happy reading!
Setibanya di kantor, Friska langsung menuju meja kerjanya. Dia membuka kotak bekal yang tadi sudah dia siapkan. Karena tidak ingin melihat wajah Ardigo hari ini, jadi dia memutuskan untuk membawa bekal saja ke kantor.
Jam kerja sudah dimulai dan seluruh karyawan sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Andre berjalan menuju ruangan Ardigo karena baru saja atasannya itu memanggilnya. Setelah disuruh masuk, Andre langsung masuk dan berdiri di depan meja Ardigo
"Ada yang bisa saya bantu, pak?"
Ardigo hanya bergeming tanpa menjawab pertanyaan Andre. Pria itu terlihat termenung dengan raut muka sedikit aneh
"Pak!" panggil Andre sedikit lebih keras membuat Ardigo tersadar dan menatapnya
"Kenapa anda memanggil saya pak?" ulang Andre
"Apa semua anak magang sudah sarapan?" Andre mengernyitkan dahinya pertanda bingung dengan pertanyaan aneh Ardigo
"Maksud anda pak?"
"Saya bertanya apa semua anak magang disini sudah sarapan?"
Ya ampun pak Ardigo! mana saya tau pak. Bapak pikir saya ibu mereka?
"Kalau itu saya kurang tau pak" balas Andre seadanya
"Makanya cari tau. Belikan makanan untuk mereka yang belum sarapan" ujar Ardigo tanpa beban
"Jadi bapak memanggil saya untuk ini?"
"Iya, apa sekarang saya tidak boleh menyuruh-nyuruh kamu lagi?"
"Bukan begitu pak. Hanya saja ini sedikit aneh" ujar Andre jujur
"Dimana letak anehnya? kamu hanya saya tugaskan untuk memastikan apakah seluruh anak magang disini sudah sarapan atau belum. Bagaimanapun kita harus memastikan bahwa mereka bekerja dalam keadaan sehat dan kuat, walaupun mereka hanya magang disini"
Andre mulai menebak-nebak maksud Ardigo. Akhir-akhir ini sang bos sering bersikap agak aneh, dan biasanya itu berhubungan dengan nyonya Friska. Apa kali ini juga? tapi bukankah Ardigo yang harusnya paling tau tentang Friska.
Sepertinya ada yang sedang perang dingin. Batin Andre seolah menemukan benang merah dari permasalahan ini
Sepertinya aku hanya perlu bertanya pada nyonya Friska. Batin Andre lagi, karena dia tau bosnya ini hanya perlu mendengar jawaban dari satu orang itu. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengatakannya secara langsung
"Baiklah pak, saya akan menemui nyonya Friska sekarang" ucap Andre tersenyum
"Apa maksud kamu? kan saya suruh untuk menanyakan semuanya" elak Ardigo
"Saya tau jawaban dari nyonya Friska yang paling penting untuk anda"
Ardigo hanya diam tanpa menjawab lagi. Sepertinya Andre cukup peka untuk semua masalahnya, buktinya pria itu selalu tau apa maksud terselubungnya. Tunggu dulu, disini Andre yang terlalu pintar atau justru dia yang terlalu bodoh?
"Kalau begitu saya permisi dulu pak" ujar Andre yang hanya diangguki oleh Ardigo
"Kunci dari suatu hubungan itu komunikasi pak" ujar Andre pelan sebelum keluar dari ruangan Ardigo. Ardigo diam sambil mencerna ucapan Andre barusan
*****
Andre masuk ke ruangan karyawan tempat dimana Friska berada. Seluruh karyawan terkejut dan menunduk hormat melihat kedatangan Andre. Pasalnya pria tampan dengan aura cool itu sangat jarang turun langsung menemui karyawan sekelas mereka. Andre berjalan dengan pasti menuju meja Friska, semua mata menuju ke arah mereka seakan bertanya ada urusan apa Friska dengan orang nomor dua di kantor ini. Seakan menyadari banyak mata yang mengarah kepadanya, Andre membalikkan tubuhnya dan menatap mereka semua
"Apa yang kalian lihat? kembali fokus pada pekerjaan kalian" ujar Andre tegas
Dan seluruh karyawan menuruti perintahnya, namun tetap sesekali mencuri pandang
"Ada apa pak?" tanya Friska bingung
"Ekhm begini nyonya, apa anda sudah sarapan?" tanya Andre pelan dan hanya mampu di dengar oleh Friska
Gadis itu menatap bingung ke arah Andre
"Memangnya ada apa ya, pak?"
"Saya sudah sarapan, pak. Terimakasih tawarannya, bapak baik sekali" ujar Friska tersenyum. Kalau saja dia belum punya suami sepertinya dia akan jatuh cinta kepada Andre. Meskipun pembawaannya terlihat cool dan tegas, tapi dia orang yang baik dan juga lembut, bahkan sejak pertemuan pertama mereka, tidak seperti.... ah sudahlah mengingat namanya saja Friska malas
"Pak Ardigo yang memerintahkan saya nyonya"
Seketika senyum Friska memudar mendengar nama pria itu
"Oh. Kenapa dia menanyakan saya?" tanpa sadar suaranya terdengar sedikit kesal
"Sepertinya pak Ardigo khawatir kalau nyonya belum sarapan"
Kalau caraku ini berhasil anda harus berterimakasih kepadaku pak. Batin Andre
Friska hanya diam, dalam hatinya ada sedikit getaran aneh karena perhatian pria itu.
"Kalau nyonya sudah sarapan, apakah ada lagi sesuatu yang nyonya butuhkan?"
"Tidak ada, pak. Oh iya bisakah jangan memanggil saya nyonya? saya risih mendengarnya"
"Tapi nyonya adalah istrinya pak Ardigo, bos saya"
"Yang jadi bos bapak itu kan mas Ardigo, bukan saya" balas Friska
"Sama saja nyonya. Kedudukan anda sekarang sudah sama dengan pak Ardigo, karena anda istrinya. Apapun yang menjadi milik pak Ardigo sekarang juga menjadi milik anda" jelas Andre
"Hanya bapak yang berpikir begitu, tapi dia tidak" ekspresi kesal Friska tidak dapat ditutupinya
Kenapa aku harus terjebak diantara sepasang suami istri yang sedang perang dingin ini. Batin Andre kebingungan, dia tidak tau harus berkata apa lagi
Karyawan yang lain masih saja mencuri pandang sambil menajamkan indra pendengarannya, mencoba menerka-nerka apa yang sedang dibicarakan oleh Andre dan Friska. Tapi gelagat Andre terlihat berbeda, pria itu terlihat lebih lembut ketika berbicara kepada Friska. Sangat berbeda dengan biasanya
Begitu juga dengan Tasya dan Naura, mereka juga terlihat penasaran. Mereka juga tau bahwa pria yang sedang berbicara dengan sahabatnya itu adalah orang yang penting di perusahaan ini.
"Kira-kira ada masalah apa dengan Friska ya, Sya?" tanya Naura sambil berbisik
"Aku juga penasaran Nau. Tapi kelihatannya Friska santai saja berbicara dengan pak Andre"
"Iya juga ya Sya"
Sementara itu Andre masih kebingungan menghadapi istri dari bosnya itu
"Kalau begitu saya harus memanggil nyonya dengan sebutan apa?" tanya Andre akhirnya
"Nama saya Friska, jadi panggil sesuai nama saya saja pak"
"Baiklah saya panggil nona Friska saja ya" tawar Andre
"Yasudah, boleh"
"Tapi saya juga ingin meminta satu hal nona"
"Apa itu?"
"Tolong jangan panggil saya pak, nama saya Andre"
"Saya juga tau kalau nama bapak itu Andre, tapi kurang ajar sekali kalau saya memanggil nama bapak, sedangkan bapak lebih tua dari saya"
"Tidak apa-apa nona"
"Saya tidak mau. Saya panggil kakak saja ya, biar lebih akrab" ucap Friska
"Tapi nona.."
"Sudahlah kak, aku panggil kakak saja. Tapi kalau di kantor dan di depan umum aku akan memanggil bapak. Sebaiknya kakak kembali ke ruangan, nanti pak Ardigo marah lagi. Dia itu jelek dan sangat menyebalkan kalau sedang marah"
"Baiklah saya permisi dulu nona" ucap Andre lalu segera keluar dari ruangan itu.