My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Tragedi


Friska sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus menemui dosen pembimbingnya. Dia sudah membuat janji untuk bertemu jam 1 siang ini. Tadi dia meminta tolong kepada pak Danang untuk menjemput Vano dan mengantar Vano ke rumah mama Rini. Friska juga sudah menghubungi sang mertua untuk menitipkan Vano.


Setelah selesai, Friska lalu memasukkan barang-barang yang dibutuhkannya ke dalam tas dan bergegas untuk pergi. Sebelum menutup pintu apartemen, Friska menatap lama ruangan mewah dengan perabotan super mahal itu. Tempat yang sudah dia tinggali selama beberapa bulan ini.


Setelah tersadar dari lamunannya, Friska lalu menutup pintu dan bergegas turun ke bawah karena pak Danang sudah menunggunya.


Saat ini Friska sedang dalam perjalanan menuju kampusnya. Dia hanya melamun sepanjang perjalanan, entah kenapa dia tiba-tiba merindukan Vano dan Ardigo padahal baru tadi pagi mereka bertemu


Friska menggelengkan kepalanya kuat


"Tidak!" gumamnya pelan


"Ada apa denganku sebenarnya? kalau merindukan Vano itu masih sesuatu yang wajar, tapi kenapa aku malah ikut merindukan bapaknya? jangan gila Friska" monolog Friska pelan


Ponselnya berbunyi dan ternyata panggilan itu dari Ardigo. Friska kaget karena orang yang baru saja dia pikirkan tiba-tiba menelponnya


"Halo"


"Kamu sudah di kampus?"


"Belum, ini masih di jalan"


"Hoo baiklah, hati-hati"


"Iya, mas"


"Saya tutup telponnya"


dan sambungan pun terputus


Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi oleh Friska tiba di depan gerbang kampus


"Bapak bisa pergi sekarang. Saya tidak tau nanti selesainya jam berapa. Saya akan menghubungi bapak lagi nanti, atau naik taksi juga tidak apa-apa" ujar Friska sebelum turun


"Jangan naik taksi mbak Friska, nanti hubungi saya saja kalau urusan mbak sudah selesai"


"Baiklah. Saya masuk dulu ya pak, bapak hati-hati di jalan" pamit Friska


"Iya mbak"


Friska lalu keluar dari mobil dan berjalan memasuki gerbang kampus


Sepanjang perjalanan Friska menyapa beberapa teman yang dia kenal


Kini Friska sudah berada di depan ruangan pembimbingnya. Dia menghirup napas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dengan percaya diri Friska memasuki ruangan tersebut


Proses bimbingan skripsinya berjalan dengan lancar. Terdapat beberapa bagian skripsinya yang dilingkari dan dicoret-coret oleh sang pembimbing dan menyuruh Friska untuk merevisi kembali di bagian tersebut.


****


Di Fabiyan's Corp


Ardigo tidak berhenti tersenyum mengingat hubungannya dan Friska sudah ada kemajuan.


"Aish kenapa waktu lama sekali berjalan?" ujar Ardigo kembali melihat jam untuk kesekian kalinya


Ketukan pintu menghentikan kegiatan mendumelnya. Setelah dipersilakan masuk, Andre langsung menghampiri meja Ardigo


"Kau sudah mempersiapkan segalanya? aku ingin yang terbaik untuk malam ini" ujar Ardigo


"Sudah pak, bahkan pihak restorannya juga sudah memulai dekorasi siang ini."


"Bagus"


"Kenapa waktu lambat sekali berjalan?" gerutu Ardigo yang mengundang senyum geli Andre


Dia tidak pernah melihat bosnya seperti ini sebelumnya


"Anda sepertinya sudah tidak sabar, pak" kekeh Andre


"Tentu saja. Entah kenapa aku merasa sangat ingin cepat bertemu dengan Friska"


"Anda merindukan nona Friska ya pak" canda Andre


"Kamu tidak tau rasanya karena kamu tidak memiliki kekasih. Carilah gadis untuk kau kencani, jangan hanya memikirkan pekerjaan saja" nasihat Ardigo sok bijak


Lihatlah siapa yang berbicara. Batin Andre


"Sebaiknya kamu jemput Friska sekarang, Ndre. Bawa dia belanja dan ke salon. Ah tidak, istriku sudah sangat cantik jadi dia tidak perlu ke salon. Bawa saja dia belanja dan suruh pilih semua baju yang dia inginkan"


Apakah ini benar anda, pak?


Andre bahkan sampai terheran-heran dengan sikap Ardigo


"Kamu tidak mendengar saya?"


"Eh iya pak, baik. Saya akan menjemput nona Friska" jawab Andre cepat


"Hmm pergilah"


Setelah itu Andre pergi dari ruangan Ardigo


****


Tak terasa cukup lama Friska berada di ruangan itu, setelah selesai dia langsung pamit kepada dosen pembimbingnya


Kini jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dan Friska sudah menyelesaikan semua urusannya.


"Kenapa aku tiba-tiba ingin makan cheese cake, ya?" gumam Friska sambil berjalan menuju gerbang


"Sebaiknya aku beli cheese cake dulu" Friska teringat ada sebuah toko kue di dekat sini yang menjual berbagai makanan enak


Friska harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke toko kue itu. Dia tersenyum cerah karena urusannya hari ini telah selesai. Revisiannya juga tidak terlalu banyak. Dia sudah hampir sampai di toko kue, hanya tinggal menyebrang dan cheese cake lezat itu akan menjadi miliknya. Tanpa dia sadari ada dua pasang mata yang terus memperhatikannya sedari tadi


"Kau yakin akan melakukan ini?" tanya sang pria kepada si wanita yang berada di balik kemudi


"Aku sangat yakin. Berpeganganlah, kita harus cepat menghilang dari sini"


"Selamat tinggal gadis malang" ucapnya sambil tersenyum iblis


Tanpa menunggu waktu lama, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Friska melihat ada mobil yang melaju ke arahnya, dan dia tidak bisa lagi menghindar. Teriakan orang-orang di sekitar mengiringi suara benturan keras antara mobil dan tubuh Friska


BRUKK!


tubuh Friska melambung ke atas lalu terpelanting dengan sangat kuat. Dia tergeletak dengan darah segar yang mengaliri dari kepala dan bagian tubuh lainnya. Friska mengingat wajah Vano dan juga Ardigo sebelum matanya benar-benar tertutup. Kejadian itu terjadi sangat cepat, dan mobil yang dikendarai oleh Felicya langsung melaju kencang meninggalkan tempat itu


"Hati-hati Felicya!" Jerry ketakutan karena wanita itu membawa mobil seperti orang kesetanan


"Diam kamu. Kita harus segera pergi dari sini" ujar Felicya dengan nada khawatir dan ketakutan


Mereka terus melaju kencang tanpa menyadari ada sebuah mobil yang mengikuti mereka


"Aku akan menangkapmu dan kau harus membayar mahal, baj*ngan!" umpat Andre. Dia terlihat sangat emosi dan juga sedih disaat bersamaan


Tadi dia tiba bertepatan dengan Friska yang ditabrak oleh sebuah mobil. Andre sempat melihat sekilas wajah Friska yang bersimbah darah. Namun dia tidak bisa langsung turun, dia harus mengejar keparat yang sudah berani mencelakai Friska.


"Maafkan saya nona, saya janji akan mengejarnya ke ujung dunia sekalipun" janji Andre


Di dalam mobil, Andre mencoba menghubungi orang-orangnya untuk ikut melakukan pengejaran. Dia sudah membagikan lokasinya agar timnya bisa segera menyusul


Aksi pengejaran itu sudah semakin jauh, dan di saat jalanan mulai lengang Andre menancap gasnya dengan kecepatan paling tinggi untuk bisa menyalip mobil yang sudah menabrak Friska


CITTTT!!!!


Mobil yang dikendarai oleh Felicya mendadak berhenti untuk menghindari mobil yang sudah melintang di hadapannya.


"Sial! kenapa dia ada disini?" tanya Felicya ketakutan saat melihat Andre keluar dari mobil dengan tampang sangarnya. Dia tentu saja mengenali Andre yang merupakan sekretaris pribadi Ardigo


Dan tak lama kemudian mobil Felicya sudah dikerumuni oleh sekelompok pria berseragam hitam


"Apa ini? mereka siapa?" Felicya sangat panik dan ketakutan


Andre mulai mengetuk pintu mobil dengan keras dan tidak sabaran


Mau tidak mau Friska dan Jerry keluar dari mobil


Andre cukup terkejut mengetahui bahwa Felicya lah pelakunya


"Kau?!"


To be continued.