My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Perhatian itu


Tasya dan Naura bernafas lega melihat kepergian Friska dan Ardigo


"Ternyata suaminya berguna juga" ujar Tasya pelan


"Benar Sya. Ternyata pak Ardigo tidak seburuk yang kita pikir" timpal Naura


Mereka menatap Vania sejenak lalu kembali ke meja masing-masing


Suasana ruangan kembali tenang, para karyawan sudah kembali ke tempat mereka masing-masing dengan perasaan was-was


Sementara itu, di tempat lain Ardigo membawa Friska ke ruangannya. Dia menuntun sang istri untuk duduk di sofa. Friska terus saja menunduk sambil meremas kedua telapak tangannya, gadis itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih syok dengan kejadian yang baru saja dialaminya.


Ardigo berjongkok di hadapan Friska sambil memperhatikan penampilan istrinya itu. Dia berjanji akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada orang-orang yang sudah mengganggu Friska. Tangan Ardigo terulur untuk mengambil tisu di atas meja lalu mengelap lembut wajah Friska dan leher Friska yang masih basah.


"Kalau saja kamu tidak keberatan untuk diperkenalkan sebagai istri CEO, mereka pasti tidak akan berani berbuat seperti ini" omel Ardigo pelan sambil terus mengelap wajah Friska


Bukannya kesal Friska justru terharu dengan perhatian Ardigo. Ternyata pria itu tidak seburuk yang dia pikirkan selama ini. Air mata yang sejak tadi ditahan oleh Friska akhirnya tumpah juga. Ketulusan Ardigo membuatnya tidak bisa menahan rasa haru di hatinya


Menyadari Friska menangis, Ardigo seketika cemas dan langsung mengangkat wajah sang istri


"Kenapa menangis? apa ada yang sakit? mereka menyakitimu?" tanya Ardigo beralih memegang bahu Friska pelan dan memindai tubuh gadis itu


"Tidak" balas Friska singkat


"Lalu kamu kenapa? jangan membuat saya cemas Friska"


Friska menyeka air matanya


"Terimakasih mas" ucap Friska pelan


"Apa yang kamu bicarakan, kenapa berterimakasih? Kamu pikir saya akan diam saja melihat kamu diperlakukan seperti itu?"


Melihat Friska yang hanya diam membuat Ardigo kemudian menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Dia mengelus pelan punggung Friska untuk menenangkan gadisnya


"Sudah sudah. Sekarang mereka sudah tau kamu itu siapa, jadi mereka tidak akan berani lagi bersikap seenaknya"


Friska hanya mengangguk mendengar ucapan Ardigo. Setelah dirasa Friska cukup tenang, pria itu pun melepas pelukannya


"Mas tau dari mana kalau aku ingin menutupi statusku?" tanya Friska penasaran


"Tentu saja dari pak Danang" balas Ardigo


"Kenapa pak Danang memberitahu kepadamu?"


"Kamu lupa yang menggaji dia siapa?"


"Bagaimanapun kamu selalu dalam pantauan saya. Jadi jangan bertingkah yang aneh-aneh, karena saya pasti akan mengetahuinya" ujar Ardigo menasehati


"Siapa juga yang bertingkah aneh-aneh" gumam Friska yang masih di dengar Ardigo


Rambut gadis itu juga terkena air yang menyebabkan sebagian wajahnya tertutupi. Ardigo menyibak helaian-helaian rambut dari wajah Friska dan menyematkannya di balik telinga gadis itu. Baju bagian depan Friska juga tak luput dari siraman air terutama di bagian dadanya. Tanpa ragu Ardigo mengelap bagian dada Friska dengan tisu membuat gadis itu mengangkat sedikit wajahnya karena terkejut


"Saya suami kamu" ujar Ardigo seolah membela perbuatannya


Friska hanya diam tanpa melakukan apapun dan membiarkan Ardigo melanjutkan kegiatannya


Setelah selesai dengan kegiatannya, Ardigo masih bertahan dengan posisi tersebut sambil menatap Friska dalam


"Maafkan saya" ujar Ardigo pelan membuat Friska mengangkat wajahnya dan menatap pria itu


"Maafkan saya tidak bisa melindungi kamu. Harusnya kamu orang yang paling dihormati disini sama dengan saya, tapi justru kamu mendapatkan perlakuan seperti ini" tutur Ardigo merasa bersalah


Mendapati istrinya diperlakukan seperti itu entah mengapa ada bagian dari hatinya yang menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Friska. Terkadang Ardigo bingung dengan dirinya sendiri. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? kenapa semakin lama dia semakin memperlakukan Friska layaknya istri pada umumnya, seakan Friska benar-benar istri yang akan mendampinginya sampai ajal memisahkan


"Kamu tidak perlu meminta maaf mas. Setidaknya mereka tidak bersikap palsu kepadaku karena tau aku istrimu"


"Persetan dengan itu semua. Dengan begitu mereka tidak kurang ajar kepadamu"


"Aku baik-baik saja sejauh ini"


Ardigo membuang muka ke samping tidak lagi menjawab ucapan Friska. Berdebat tentu saja bukanlah hal yang tepat untuk saat ini


"Kamu ingin saya melakukan apa kepada mereka? Saya bisa memecat atau bahkan mem black list mereka dari dunia pekerjaan. Jadi beri tahu saya siapa saja yang menyakitimu selama disini"


Friska menatap Ardigo sejenak lalu mengalihkan pandangannya


"Tidak ada"


"Apanya yang tidak ada?"


"Kenapa? bukankah mereka memperlakukanmu tidak baik selama ini?"


"Mereka tidak melakukan apa-apa kepadaku. Mungkin mereka hanya termakan omongan bu Vania"


"Tetap saja. Saya tadi mendengar mereka menyalahkanmu"


"Sudahlah mas, kamu akan memutus rezeki orang namanya kalau sampai memecat mereka"


"Saya tidak perduli. Mereka bahkan tidak menghargai istri saya"


Nyesss


Ada perasaan aneh yang menelusup ke dalam hati Friska setiap kali mendengar kata 'istri saya' yang diucapkan oleh Ardigo. Semacam perasaan senang namun Friska tidak tau kenapa dia harus merasa senang


"Tetap saja aku tidak mau kamu memecat mereka hanya karena masalah ini"


"Hanya? Fris, kamu sudah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan di perusahaan suamimu sendiri. Apa ada yang lebih parah dari itu?" Ardigo tidak habis pikir dengan jalan pikiran Friska. Dia saja tidak terima Friska diperlakukan seperti itu, sedangkan gadis itu malah menolak untuk menghukum mereka


"Sudahlah mas, mereka begitu karena tidak tau. Kamu tidak bisa memecat mereka hanya karena satu kesalahan yang mereka lakukan, sedangkan selama ini mereka memiliki kinerja yang bagus untuk Fabiyan's Corp. Itu tidak adil untuk mereka" jelas Friska


Ardigo terdiam mendengar nasehat sang istri


"Jadi tolong jangan pecat mereka, ya?" mohon Friska


"Baiklah, tapi saya tetap akan memberi pelajaran kepada wanita itu"


"Yasudah, tapi hanya memecat dari Fabiyan's Corp. Jangan black list dia dari dunia pekerjaan"


"Kenapa kamu masih saja baik kepadanya?" kesal Ardigo


"Aku hanya tidak ingin ada orang yang menderita seumur hidupnya karena perbuatan suamiku" tutur Friska


Ini adalah kali pertama Friska menyebut kata 'suamiku' dan itu justru di hadapan Ardigo sendiri. Ardigo tidak bisa berbohong kalau dia merasakan getaran di hatinya mendengar ucapan Friska


Ardigo seketika kagum dengan Friska, ternyata istrinya itu bukanlah wanita sembarangan. Kedewasaan dan kebaikan gadis itu seperti daya tarik tersendiri untuknya


Kenapa ada orang sebaik kamu Fris? batin Ardigo


"Mas" panggil Friska


"Iya"


"Kenapa sekarang kamu sangat baik kepadaku?" itulah pertanyaan yang sering muncul di benaknya akhir-akhir ini


Ardigo terdiam mendengar pertanyaan Friska. Sebenarnya bukan hanya Friska yang menanyakan hal itu, tetapi dia juga. Tapi sayangnya dia belum menemukan jawabannya


"Saya tidak punya alasan untuk jahat kepada kamu"


Bukan itu maksudku. Sebenarnya apa yang membuat kamu berubah? batin Friska


Tok tok tok


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ardigo bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju pintu ruangannya


"Ini pakaian untuk nona Friska pak" ujar Andre sambil menyerahkan paper bag kepada sang atasan


"Terimakasih. Kamu bisa kembali"


"Baik pak. Saya permisi" Ardigo kembali menutup pintu dan berjalan ke arah Friska


"Gantilah bajumu supaya tidak masuk angin" suruh Ardigo


"Dimana?"


"Di ruangan itu" Ardigo menunjuk sebuah ruangan yang menyerupai kamar tempat dimana dia beristirahat biasanya


Friska langsung bangkit dari duduknya


"Terimakasih mas" ucapnya sebelum berlalu dari hadapan Ardigo


"Iyaa" jawab Ardigo


To be continued.


Hai readers ku tercinta, tolong dukung karyaku ini ya dengan cara like dan comment, dan juga memberikan vote. Semoga cerita ini bisa membuat kalian enjoy dan juga jatuh cinta hehe. Terimakasih 💜