My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Reyhan dan Friska 2


"Kamu senang berada disini?" tanya Reyhan masih memandangi sekeliling taman yang dipenuhi oleh tumbuhan segar


"Tentu saja mas. Tapi yang lebih menyenangkan bukanlah taman ini, tapi berada di tengah keluarga ini" jawab Friska apa adanya


Reyhan tersenyum lebar sambil mengangguk pelan


"Ternyata kamu mengerti maksudku"


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan raut wajah serius, apalagi ketika melihat kedua orang tersebut saling melempar senyum. Dia berusaha menolak semua pikiran-pikiran buruk yang melintasi otaknya


"Apa yang sedang kamu lihat?" Dinda dikagetkan oleh Ardigo yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya


"Ishh kakak mengagetkanku saja!" kesal Dinda


"Kamu sedang melihat apa? wajahmu terlihat jelek karena terlalu serius"


"Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu" balas Dinda. Lalu dia memberikan isyarat kepada Ardigo untuk melihat ke arah depan, dimana Friska dan Reyhan masih duduk berdampingan


Wajah Ardigo seketika berubah melihat pemandangan itu


"Kita dengarkan saja dulu. Jangan langsung berpikir yang tidak-tidak" ujar Dinda. Padahal dirinya sendiri saat ini sedang berusaha mati-matian untuk tetap berpikiran positif


Kakak beradik itu kemudian maju dengan langkah pelan agar bisa mendengar obrolan Reyhan dan Friska


"Bagaimana perasaanmu menjadi bagian dari keluarga Fabiyan?" tanya Reyhan menatap Friska


Friska terdiam sesaat sebelum menjawab


"Aku rasa mas Reyhan dan mbak Dinda pasti tau alasan pernikahan kami. Saat itu aku benar-benar membenci mas Digo dengan seluruh hatiku, dan dia pun sama. Aku pikir aku akan dibenci oleh semua keluarganya juga. Namun disaat mama dan papa datang menghampiriku, aku bisa merasakan ketulusan dari pancaran mata mereka berdua. Dan itu benar-benar terlihat jelas. Apalagi disaat mama memelukku, aku benar-benar tidak bisa menahan rasa haruku. Dan sejak hari itu, aku merasa bahwa tuhan benar-benar menyayangiku dengan menghadirkan sosok orangtua seperti mama dan papa dalam hidupku. Dan sejak hari itu juga yang menjadi ketakutan terbesarku adalah berpisah dengan mereka berdua. Aku tidak punya kata yang tepat untuk menjelaskan bagaimana bersyukurnya aku menjadi bagian dari keluarga ini, meskipun di tengah pernikahan yang seperti ini" kekeh Friska pelan di akhir kalimatnya


Ardigo mencerna dengan baik setiap perkataan Friska


"Bagaimanapun awalnya, pernikahan tetaplah pernikahan, Fris. Ikatan sakral yang tidak bisa dipermainkan. Begitu juga dengan keluarga. Papa dan mama memanglah sosok hebat yang bisa menerima kita dengan baik di keluarga ini. Aku juga sama bersyukurnya sepertimu karena bisa menjadi bagian dari keluarga ini meskipun dulunya aku merasa tidak pantas"


Friska merasa heran dengan kalimat terakhir Reyhan


"Apa yang membuat mas Reyhan merasa tidak pantas? Kamu berasal dari keluarga yang jelas asal usulnya dan juga berada. Justru kamu sangat pantas menjadi suami mbak Dinda. Akulah yang kurang pantas berada di keluarga ini, mas. Aku bukan dari keluarga berada, bahkan keluargaku juga sudah tidak ada satupun"


"Kamu pikir keluargaku sebanding dengan keluarga Fabiyan?" kekeh Reyhan


Friska menatap dalam wajah Reyhan. Disana memang terpancar dengan jelas begitu besar cintanya terhadap Dinda


"Sepertinya mas Reyhan sangat mencintai mbak Dinda" ujar Friska tersenyum


"Sangat. Dinda adalah bukti nyata bahwa tuhan sangat menyayangiku. Seperti itulah rasa syukurku bisa memilikinya" ujar Reyhan mantap


Disisi lain, Dinda tidak bisa menahan air mata harunya. Matanya sudah basah sejak pertama kali mendengar ucapan Reyhan. Dia bisa merasakan betapa besarnya rasa cinta Reyhan untuknya. Ardigo mengelus pelan pundak sang adik. Dia juga merasa tenang mendengar ucapan Reyhan. Namun masih ada sesuatu yang mengganggu pikirannya


"Mbak Dinda juga sangat mencintaimu, mas. Aku bisa melihat dari matanya setiap kali memandangmu. Kalian sama-sama beruntung mendapatkan satu sama lain"


"Terimakasih Fris"


"Kalau boleh aku memberi saran sebagai sesama pendatang di keluarga ini, aku minta kau lupakan semua rasa tidak pantas mu itu. Karena semua yang kau takutkan tidak akan terjadi. Papa dan mama adalah orang yang sangat baik, tidak memandang latar belakang dan juga harta yang kita punya. Kau sangat pantas berada di keluarga ini. Dari awal aku memang sudah berniat untuk bisa berbicara empat mata denganmu. Aku bisa merasakan hal-hal yang kau rasakan saat masuk ke keluarga ini. Sebagai orang yang lebih dulu masuk kesini, aku rasa aku perlu membahas hal ini denganmu"


"Terimakasih banyak mas" ujar Friska tulus


"Aku ingin menganggapmu seperti adikku sendiri karena memang umurmu yang berada jauh dibawah umurku. Tapi kau malah berstatus sebagai kakak iparku" canda Reyhan yang membuat Friska ikut tertawa


"Nanti siang aku akan kembali ke Bandung bersama Dinda dan Clara. Aku harap hubunganmu dan kak Digo bisa semakin baik. Aku titip papa dan mama karena kalian yang tinggal dekat dengan mereka. Jangan sungkan menghubungi kami jika terjadi apapun disini"


"Siap mas" jawab Friska patuh


"Kau benar-benar seperti adikku, kakak ipar" canda Reyhan yang mengundang tawa Friska


"Baiklah, aku lega sudah berbicara denganmu. Aku masuk ke dalam dulu ya Fris. Mungkin Dinda membutuhkanku"


"Baik mas. Terimakasih banyak" Reyhan hanya mengangguk sambil tersenyum lalu bergegas masuk ke rumah


Sementara itu Ardigo dan Dinda sudah masuk ke rumah tepat sebelum Reyhan masuk. Dinda sudah kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Digo


Friska masih betah duduk di taman, lalu tiba-tiba dia teringat dengan Vano


"Astaga! Vano pasti sudah selesai mandi" Friska lalu berlari kecil masuk ke rumah.


Haiii maaf aku baru bisa balik sekarang. Semoga gak ada yg sempat nethink sama Reyhan dan Friska ya hehe