My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Kedatangan Heri


Friska sedang berkutat dengan mesin foto kopi setelah tadi ditugaskan untuk memfotokopi berkas tentang data produksi bulan ini. Setelah selesai, dia kemudian membawa kertas-kertas yang banyak itu keluar dari ruang foto kopi. Dia memeriksa kembali kelengkapan berkas tersebut karena takut ada yang tercecer. Dia terus berjalan sambil memeriksa berkas tersebut dan membuatnya tidak terlalu memperhatikan jalan. Tiba-tiba Friska merasakan ada sesuatu yang keras menabrak bahunya, sehingga kertas-kertas tersebut jatuh berserakan. Untung saja dia sudah menjepit ujung kertas tersebut dan membaginya dalam beberapa rangkap


"Aww" ringis Friska pelan lalu segera berjongkok mengambil kertas-kertas tadi lalu menyusunnya kembali. Sementara seseorang yang baru saja bertabrakan dengannya masih berdiri di tempatnya tanpa mengatakan apa-apa. Setelah kembali berdiri, Friska pun melihat wajah seseorang tersebut. Seorang pria tampan dengan kulit putih dan rahang tegas.


"Kau tidak mau meminta maaf kepadaku?" pria itu akhirnya bersuara karena Friska hanya diam. Tanpa dia ketahui bahwa Friska juga diam karena menunggunya untuk meminta maaf


"Saya akan meminta maaf kalau bapak juga meminta maaf kepada saya" balas Friska sopan


Pria itu terkejut mendengar ucapan Friska. Dia merasa sedikit tertantang dengan gadis manis di hadapannya ini


"Hei kau lucu juga nona. Kau yang menabrakku, kenapa aku harus meminta maaf padamu?"


"Tapi anda juga menabrak saya pak. Tadi anda juga sibuk dengan ponsel anda sepertinya" balas Friska sambil melirik layar ponsel yang masih menyala di genggaman pria tampan itu


Pria itu justru terhibur dengan sikap gadis muda di hadapannya itu. Dia terkekeh pelan karena merasa aneh, bagaimana bisa ada karyawan disini yang berani bersikap seperti itu kepadanya.


"Jadi maksudmu kita sama-sama salah?"


"Iya pak"


"Baiklah saya minta maaf karena sudah menabrak kamu"


"Saya maafkan. Saya juga minta maaf karena tidak sengaja menabrak bapak. Kalau begitu saya permisi" setelah itu Friska bergegas pergi meninggalkan pria itu yang saat ini masih menatap punggungnya


Pria itu tersenyum melihat kepergian Friska. Lalu dia melanjutkan langkahnya menuju ruangan sang sahabat. Setelah tiba di depan pintu yang berukuran lebar itu, Heri langsung masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu


"Hai dude!" sapa Heri lalu langsung duduk di sofa ruangan Ardigo yang sangat empuk


"Ada apa kau kesini?" tanya Ardigo tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer di atas meja


"Tentu saja karena aku merindukanmu. Memangnya kau tidak merindukanku?" canda Heri


"Tentu saja tidak. Aku tidak merindukan sembarang orang" ujar Ardigo santai


"Ya sifat kurang ajarmu memang tidak pernah berubah. Tapi itu menandakan kau sedang baik-baik saja"


"Hmm" gumam Ardigo singkat


"Bagaimana perjalanan bisnismu?" tanya Ardigo berbasa-basi


"Tentu saja menyenangkan. Aku menang tender dengan nominal fantastis" ujar Heri bangga


"Jadi kau kesini karena ingin menyombongkan itu?"


"Yaa sedikit, tapi aku serius merindukanmu. Sudah terlalu lama hidupku tenang tanpa menghadapi sikap kurang ajarmu, makanya aku kesini"


"Lihatlah siapa yang lebih kurang ajar" ujar Ardigo terkekeh pelan. Sedangkan Heri sudah tertawa kencang


"Hei tadi aku bertemu dengan salah satu karyawanmu, dia sangat lucu dan menarik. Sepertinya karyawan baru" celetuk Heri saat teringat dengan kejadian tadi


"Lucu?" tanya Ardigo bingung


Heri pun menceritakan kejadian yang tadi dialaminya dengan antusias


"Aku tidak pernah bertemu dengan karyawanmu yang seperti itu sebelumnya"


"Menurutku dia benar, lagipula kau juga menabraknya kan"


"Iya, tapi kalau diingat-ingat dia manis juga"


"Hei jangan mendekati karyawanku. Aku tidak ingin kinerjanya terganggu karena berurusan denganmu"


"Dasar posesif! aku hanya tertarik dengan karyawanmu, bukan istrimu" cebik Heri


"Tetap saja aku tidak menyetujuinya"


"Ck! dasar bos posesif"


Tak terasa waktu istirahat pun makan siang pun tiba.


"Tunggu dulu, sebentar lagi"


"Hei ayolah aku sudah lapar" rengek Heri


"Aishh dasar! kau datang untuk menggangguku saja" ujar Ardigo lalu mematikan komputernya


"Kita makan di kantin kantor saja" ucap Heri


"Kenapa tiba-tiba ingin disini?"


"Biar cepat, aku sudah lapar" alasan Heri, padahal niat pria itu adalah ingin melihat Friska lagi. Mungkin saja mereka akan bertemu lagi di kantin, pikirnya


Saat tiba di kantin, para karyawan memberikan hormat dan menyapa mereka berdua. Ardigo duduk dengan sesekali melihat ke penjuru kantin. Dia sedikit lega tadi saat Andre mengatakan kalau Friska sudah sarapan. Namun siang ini dia tidak terlihat di dalam kantin.


Apa dia menjemput Vano? batin Ardigo bertanya


Mereka berbincang-bincang santai sambil menunggu pesanan mereka. Tiba-tiba mata Heri menangkap sosok wanita yang tadi dicarinya. Gadis itu terlihat memasuki kantin sendirian dan tersenyum ke arah dua orang wanita yang sudah lebih dulu berada di kantin.


"Hei nona penabrak!" panggil Heri ketika Friska hampir melewati mereka. Tadinya Friska tidak terlalu memperhatikan kondisi kantin karena fokusnya hanya pada kedua temannya yang sedang menunggu di salah satu meja. Dia baru saja kembali dari menjemput Vano


Friska pun spontan menoleh ke sumber suara. Awalnya dia hanya melihat wajah pria yang tadi sempat ditabraknya, namun melihat ke sisi yang berlawanan dengan pria itu, dia melihat sosok Ardigo yang kini juga ikut menatapnya. Tak ingin melihat wajah Ardigo berlama-lama, Friska memilih melanjutkan langkahnya setelah membungkuk hormat dan sedikit tersenyum pertanda sopan kepada Heri yang sempat menyapanya.


Heri memperhatikan punggung Friska yang menjauh


"Kau pikir dia akan bergabung dengan kita?" tanya Ardigo yang membuat Heri kembali mengalihkan tatapannya


"Aku hanya ingin berkenalan dengannya"


"Dia bahkan tidak mau berada di dekat kita"


"Kenapa begitu?"


"Karena dia sedang marah kepada suaminya"


Heri terkejut mendengar ucapan Ardigo. Dia tidak percaya gadis muda itu sudah memiliki suami


"Suami?!" kaget Heri


"Iya. Dia sudah menikah" balas Ardigo datar


"Lalu apa hubungannya jika dia sedang marah kepada suaminya?" kebingungan tercetak jelas di wajah tampan Heri


"Karena suaminya ada disini, bersamamu" pungkas Ardigo


"APAA?!" Heri merasa lebih terkejut mengetahui fakta itu


"Yes, she is my wife" ucap Ardigo tegas


"Jadi dia itu Friska? istrimu?"


"Iya, itu dia. Kau bilang ingin melihatnya secara langsung, kan? sekarang kau sudah tau siapa istriku. Tapi dengan kurang ajarnya kau malah langsung menyukainya" ucap Ardigo sedikit kesal


"Hei aku tidak tau kalau dia istrimu" protes Heri


"Sekarang kau sudah tau. Jadi jangan macam-macam"


"Sayang sekali dia malah menjadi istrimu. Baru saja aku tertarik dengan gadis, tapi ternyata malah istri dari sahabatku sendiri" ucap Heri berpura-pura sedih


"Oh iya apa kalian sedang ada masalah?" tanya Heri teringat dengan perkataan Ardigo tadi


"Hanya salah paham"


"Bersikap baiklah kepadanya, sepertinya dia gadis yang hebat" nasehat Heri


Saat makanan mereka sudah sampai, mereka pun langsung menyantapnya lalu sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hai readers ku tercinta, tolong dukung karyaku ini ya dengan cara like dan comment, dan juga memberikan vote. Semoga cerita ini bisa membuat kalian enjoy dan juga jatuh cinta hehe. Terimakasih 💜