Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Si Tompel Arya (Bab terkirim dobel. Bab yg ini sudah direvisi )



Happy reading 😘😘😘


"Woah, keren banget." Afri tercengang begitu ia masuk ke dalam Restoran Luxurious. Restoran yang dimiliki oleh orang tua Arya.


Restoran tersebut menyuguhkan dekorasi yang tampak elegan dan mewah, dengan menu makanan khas yang wah dan mahal.


Afri teramat heran pada Arya, sebab Arya terlampau berani merayakan ulang tahunnya di salah satu restoran ternama yang berada di kota ini, dan tentunya hanya dikunjungi oleh kaum berdompet tebal.


Ia mengira, Arya bukanlah anak orang kaya. Namun pada kenyataannya, Arya adalah anak seorang pengusaha kaya raya yang memiliki beberapa restoran mewah dan hotel berbintang.


"Welcome, Ayang Afri." Suara sapaan yang dilisankan oleh Arya mengalihkan atensi Afri, sehingga gadis berparas manis itu seketika menoleh ke belakang dan menyapu seluruh ruang dengan indera penglihatannya.


Senyum terbit menghiasi wajah Arya saat menyaksikan Afri yang tampak kebingungan mencari asal suara. Ia lantas membawa tubuhnya berdiri tepat di hadapan Afri--gadis yang mampu membuatnya jatuh hati.


"Selamat datang, Yang." Arya kembali memperdengarkan suara saat pandangan netra Afri membentur wajah rupawan-nya.


Afri terdiam. Bibirnya serasa kelu untuk berucap. Ia merasa, suara laki-laki yang saat ini berdiri tepat di hadapannya terdengar familier. Namun tidak dengan wajah si lelaki itu.


"Lu-lu, siapa? Berani-beraninya lu manggil gue 'Yang'?" Afri terbata dan terlihat sangat gugup karena Arya menatapnya dengan intens.


"Kamu nggak mengenalku, Yang?" Arya melontarkan tanya sambil memamerkan senyumnya yang menawan, hingga membuat para gadis yang melihatnya langsung klepek-klepek.


"Ka-kaga. Gu-gue kaga kenal ama lu." Afri semakin gugup. Jantungnya terdengar berdentum-dentum saat tersaji wajah rupawan Arya yang terhias senyuman.


"Tatap wajahku lekat-lekat, Yang! Aku yakin, kamu pasti bisa mengenaliku."


Kalimat perintah yang mengalir dari bibir Arya sukses menghipnotis Afri. Bahkan bukan hanya Afri saja yang terhipnotis, tetapi Shelly dan Raymon yang baru saja menjejakkan kaki mereka di lantai restoran pun turut terhipnotis.


Ketiga orang itu menatap Arya lekat-lekat tanpa mengalihkan pandangan netra sedetik pun.


"Arya --" Afri berucap lirih setelah beberapa menit menatap lekat wajah Arya. Ia ragu dengan tebakannya, sebab wajah yang tersuguh di hadapannya terlihat rupawan tanpa terhias tompel dan kaca mata tebal.


"Ya, aku Arya, Yang. Arya yang selalu mengejar dan memintamu untuk menjadi pacarku."


"Ka-kaga mungkin. Kaga mungkin kamu Arya si tompel." Afri menggeleng kepala dan melangkah mundur. Ia sungguh tidak percaya, Arya si tompel yang ia kenal bisa bermetamorfosa menjadi seorang laki-laki berparas rupawan dan tanpa cela. Bahkan parasnya yang rupawan mampu menyaingi wajah Andrea.


Sial! Tanpa sengaja kaki Afri menginjak sepatu yang dikenakan oleh Shelly hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Beruntung Arya dengan sigap menangkap tubuh Afri.


Sepersekian detik sepasang jendela hati Arya dan Afri saling bertaut diiringi degup jantung yang terdengar bertalu-talu laksana suara gendang yang ditabuh. Keduanya terdiam dan tenggelam dalam mode terpana. Di dalam benak, mereka mengagumi Maha Karya Illahi yang tampak sempurna dan seolah tanpa cela sedikit pun.


"Ehem, kapan nih makannya? Gue ama bini gue keburu laper," ujar Andrea seraya memecah suasana. Andrea sengaja memperdengarkan suaranya untuk menyadarkan Arya dan Afri dari mode terpana.


Dan benar saja. Arya dan Afri pun seketika tersadar.


Afri bergegas menegakkan badannya, lalu melepas tangan Arya yang masih melingkar di tubuhnya. Kemudian ia menjauh dari Arya dengan menggeser pijakan kakinya satu langkah.


"Masya Allah, Arya. Ibu benar-benar tidak menyangka, kamu Arya Pratama murid Ibu," ucap Cantika sembari berjalan mendekat ke arah Arya.


"Bu Cantika --"


"Ar, ternyata wajahmu tampan sekali. Sampai-sampai, banyak gadis di sana yang tidak bisa menafikan pesonamu." Cantika menunjuk ke arah sekumpulan para gadis yang tengah menatap Arya dengan tatapan mendamba.


Sontak, Arya mengalihkan pandangan netranya ke arah sekumpulan para gadis yang ditunjuk oleh Cantika. Refleks, Afri pun turut mengalihkan pandangan netranya.


Afri berdecak kesal saat mendapati para gadis yang tak lain adalah teman-teman sekelasnya tengah menatap Arya tanpa berkedip.


Ia sungguh tidak terima jika wajah rupawan Arya dinikmati oleh gadis lain, tak terkecuali Shelly--sahabatnya sendiri.


Sama seperti Afri, Andrea pun berdecak kesal. Ia tidak suka saat Cantika memuji Arya. Bagi Andrea, hanya dia saja yang patut dipuji oleh sang istri tercinta dan bukan lelaki lain.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Karena sis-tem sedang eror atau mungkin karena penyebab lain, bab yang author terbangkan hari ini terkirim dobel dan bab ini sudah direvisi. Sedangkan bab sebelumnya belum author revisi. 🙏


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak terkasih yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku'. 😘🙏