
Happy reading ๐๐๐
Allohumma, bagaimana ini? Cantika meraup udara dalam-dalam dan sekejap memejamkan netra. Ia berusaha menenangkan diri dan menormalkan degup jantungnya yang bertalu saat terbayang apa yang akan terjadi.
Setibanya di kamar, Andrea mendaratkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Ia meminta Cantika untuk menutup dan mengunci pintu kamar.
Cantika pun menuruti permintaan Andrea. Dengan tangan gemetar, ia menutup dan mengunci pintu kamar, lalu berjalan menghampiri suaminya.
"Duduk sini, Yang!" Andrea mengulas senyum dan menggamit tangan Cantika.
"I-iya, Mas." Perlahan Cantika mendaratkan bobot tubuhnya di samping Andrea dan berusaha menormalkan degup jantung yang masih saja bertalu dengan menghela nafas dalam.
"Ayo Yang, kita mulai belajar! Belajar menunaikan kewajiban selayaknya pasangan suami istri," ucap Andrea tanpa memudar senyum. Ditatapnya lekat manik mata Cantika dan digenggamnya erat tangan Cantika yang bergetar.
Cantika menelan saliva dan terlihat sangat gugup saat Andrea kembali mengucapkan kata-kata bermakna ambigu. Terbayang olehnya ritual wajib yang mungkin akan mereka tunaikan. Penyatuan raga bernilai ibadah--mereguk kenikmatan surga dunia, membuat adonan kue Boboho ataupun kue Susan.
"Yang --"
"Eng, ya Mas --"
"Rileks saja! Jangan grogi menatap wajahku yang tampannya sebelas dua belas dengan wajah artis Korea, Song Joong-ki!" Andrea melontarkan candaan untuk mencairkan suasana.
"I-iya, aku rileks kok." Cantika berkilah.
"Sebelum belajar menunaikan kewajiban selayaknya pasangan suami istri, aku harus tahu apa saja kewajibanku sebagai seorang suami dan kewajibanmu sebagai seorang istri. Tolong jelaskan, Yang!" pinta Andrea--mode serius.
Cantika meraup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian ia mulai menjelaskan apa saja kewajiban seorang suami terhadap istri dan sebaliknya, kewajiban seorang istri terhadap suaminya.
"Kewajiban pertama seorang suami adalah memberi mahar dan nafkah. Mahar merupakan mas kawin yang patut laki-laki berikan saat menikahi perempuan. Mas Andrea sudah memberikannya padaku sewaktu akad nikah. Sedangkan nafkah, bukan hanya sebatas uang dapur, melainkan dalam bentuk sandang, pangan dan papan. Memberi pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Yang kedua adalah meng-gauli istri secara baik. Yang dimaksud meng-gauli adalah berseng-gama atau ber-cinta dengan istri --"
"Meng-gauli istri secara baik maksudnya bagaimana, Yang?" Andrea memangkas ucapan Cantika dengan melontarkan tanya.
"Maksudnya, meng-gauli istri dengan cara yang lembut, tidak boleh kasar dan sampai menyakiti."
"Lalu, kewajiban yang ketiga?"
"Kewajiban seorang suami yang ketiga adalah menjaga istri. Suami wajib menjaga istrinya dengan baik, menjaga harga dirinya, menjunjung tinggi kehormatannya, dan melindunginya dari segala sesuatu yang dapat meno-dai kehor-matannya. Suami pun wajib menjaga rahasia istrinya." Cantika menjeda ucapannya dan menerbitkan senyum.
"Kewajiban seorang suami yang keempat adalah membimbing istri. Yaitu memberikan bimbingan agama pada istrinya dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Suami juga wajib menjaga istrinya dari perbuatan dosa yang dapat mendatangkan keburukan pada keluarga --"
"Bagaimana, aku bisa membimbing istriku jika pengetahuanku tentang agama sangat minim dan tingkahku masih bedugalan seperti preman?" keluh Andrea.
Cantika kembali menerbitkan senyum dan mengusap punggung tangan Andrea dengan lembut.
"Mas Andrea bisa belajar pelan-pelan. Aku yakin, kelak Mas Andrea pasti bisa membimbingku," tutur Cantika seraya menenangkan suaminya
"Iya, Yang. Aku akan belajar supaya bisa membimbing kamu."
"Terima kasih, Mas."
"Heem." Andrea menanggapi ucapan Cantika dengan mengerjapkan netra dan mengulas senyum.
"Kewajiban seorang suami selanjutnya adalah memberikan rasa cinta serta kasih sayang. Dalam ajaran agama kita, suami wajib memberikan rasa cinta dan kasih sayang pada istri. Artinya, suami wajib bertutur kata lembut, memberikan rasa tenang, mengekspresikan rasa cintanya, dan menunjukkan kasih sayang. Kewajiban ini tertera dalam al-Quran surat Ar-Rum ayat 21, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." Itu tadi lima kewajiban seorang suami terhadap istri, Mas."
"Insya Allah, aku akan berusaha menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami dengan baik, Yang. Lalu, apa saja kewajiban seorang istri terhadap suami?"
"Kewajiban seorang istri terhadap suami yang pertama adalah taat pada suami. Contoh taat misalnya, istri patuh ketika suami menyuruhnya untuk beribadah dan menutup aurat. Namun, istri wajib taat kecuali dalam hal-hal yang melanggar aturan agama dan/atau kesu-silaan. Kewajiban yang kedua adalah menjaga harta, rumah, kehor-matan suami. Ketika suami wajib memberikan nafkah berupa penghasilannya pada istri, maka istri wajib menjaganya. Artinya, istri wajib merawat dan menjaga harta yang suaminya berikan. Bahkan jika memungkinkan, istri mampu mengembangkan hartanya. Lantas yang dimaksud dengan menjaga rumah adalah seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin dari suaminya dan tidak boleh membawa laki-laki lain masuk ke dalam rumah saat suami sedang tidak ada. Sedangkan menjaga kehor-matan suami adalah dengan tidak menyebarkan aib suaminya. Sama seperti suami yang wajib menjaga rahasia istri, maka istri tidak boleh menyebarkan rahasia suaminya. Baik itu secara langsung, maupun tidak langsung."
Andrea mengangguk-anggukkan kepala, sebagai pertanda bahwa ia mengerti semua penjelasan yang dituturkan oleh Cantika.
"Kewajiban seorang istri yang ketiga adalah mencari kerelaan atauย ridhaย dari suami. Sebab dalam Islam, kerelaan suami merupakan tiket seorang istri mendapatkan surga dan kebahagiaan di akhirat. Karena itu, istri harus berusaha mendapatkan kerelaan suami."
"Kewajiban seorang istri yang keempat apa, Yang?"
"Kewajiban yang keempat adalah memahami urusan ber-cinta. Jika suami memiliki kewajiban meng-gauli istrinya, di sisi lain istri wajib memahami urusan ber-cinta. Istri tidak boleh menolak ketika suami mengajaknya ber-cinta --"
"Berarti, kalau aku ingin mengajak ber-cinta sekarang, Sayang nggak boleh menolak donk?"
"I-iya, Mas. A-aku tidak boleh menolak."
"Pfftt ... just kidding, Yang. Yok, lanjut! Apalagi kewajiban seorang istri yang kelima?"
"Ehem, iya Mas. Kewajiban seorang istri selanjutnya adalah menunjukkan wajah yang manis dan menyenangkan suami. Rasulullah pernah bersabda, โSebaik-baik perempuan ialah seorang perempuan yang apabila engkau melihatnya, engkau merasa gembira. Jika engkau perintah, dia akan mentaatimu. Dan jika engkau tidak ada di sisinya, dia akan menjaga hartamu dan dirinya." Itu semua kewajiban suami dan istri yang aku ketahui, Mas. Jika Mas Andrea kurang faham, Mas Andrea bisa membaca buku-buku yang diberikan oleh Abah."
"Iya, Yang. Insya Allah, aku sudah faham mengenai kewajiban suami dan istri setelah mendengar penjelasan dari Bu Guru Cantika. Guruku sekaligus istriku."
"Alhamdulillah jika Mas Andrea sudah faham mengenai kewajiban suami dan istri. Semoga tidak hanya faham, tetapi kita bisa mengamalkannya, Mas."
"Aamiin, semoga, Yang. Oya, ada kata-kata ambigu yang ingin aku tanyakan padamu."
"Kata-kata ambigu?" Cantika melontarkan tanya dan mengerutkan dahi.
"Iya. Tadi, bunda berpesan supaya kita sering-sering membuat adonan dan segera memberikan beliau cucu. Maksud bunda adonan apa ya, Yang? Lalu, apa hubungannya adonan dengan cucu?"
Bola mata Cantika seketika berotasi sempurna kala mendengar deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Andrea. Ia benar-benar tidak menyangka, ternyata suami brondongnya itu masih teramat sangat polos.
Ya Allah, ternyata suamiku benar-benar masih bocah--batin Cantika berbisik.
๐น๐น๐น๐น
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like ๐
tabok โค untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang โญ
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih ๐๐๐