
Happy reading πππ
Andrea menerbitkan senyum dan menatap lekat wajah Cantika yang terlihat lelah. Berulang kali ia labuhkan kecupan di pucuk kepala Cantika sambil membelai rikma hitam kekasih halalnya itu.
Ia sungguh tidak pernah menyangka, Illahi akan memberi anugerah yang teramat indah untuknya. Seorang istri saleha berparas cantik dan mendekati kata sempurna sebagai pengganti sang mantan yang telah pergi meninggalkannya.
Malam semakin larut. Namun netra Andrea masih enggan terpejam. Ia serasa ingin memandangi wajah cantik Cantika sampai pagi dan mengulangi ritual yang menjadi candu.
"Yang, aku ingin lagi." Andrea berbisik dan mengusap lembut pipi Cantika agar kekasih halalnya itu terbangun.
Namun bukannya terbangun, Cantika malah meringkuk dan semakin membenamkan kepalanya di dada bidang Andrea, sehingga Andrea tidak tega membangunkannya lagi.
"Have a nice dream, my wife," ucap Andrea lalu melabuhkan kecupan dalam di kening Cantika dan membawa kekasih halalnya itu ke dalam pelukan. Ia pejamkan sepasang jendela hatinya dan mulai berlabuh ke pulau mimpi, menyusul Cantika yang telah berlabuh terlebih dahulu.
Mesin waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa malam telah pergi berganti pagi.
Kelopak mata Cantika terbuka perlahan saat terdengar suara kerinduan Illahi menyapa seluruh penduduk bumi.
Ia lantas mengerjap-ngerjapkan netranya yang serasa lengket dan menggeser kepalanya.
Senyum terbit menghiasi wajah Cantika saat mendapati tangan kekar Andrea melingkar di tubuhnya. Ia baru menyadari, ternyata pelukan Andrea-lah yang membuat tidurnya nyaman dan lelap.
Cantika menengadahkan wajah dan menatap pahatan tampan yang memenuhi ruang pandang. Lalu diusapnya wajah tampan itu disertai kecupan yang berlabuh di bibir.
Tanpa ia duga, Andrea membalas kecupan Cantika, sehingga pagutan bibir pun tak terelakan.
Keduanya saling memagutkan bibir dan memperdalam ciu-man.
Tangan Cantika yang semula berlabuh di pipi kini berpindah di leher Andrea. Andrea pun mengimbangi dengan mendorong punggung Cantika hingga tubuh mereka tak berjarak sedikit pun.
"Aku ingin lagi, Yang," bisiknya dengan nafas memburu setelah mereka melepas pagutan bibir.
"Tapi Mas, sudah waktunya menunaikan ibadah sholat subuh."
"Sebentar saja, Yang. Setengah jam." Andrea bernegosiasi. Namun Cantika tetap menolak dengan menggelengkan kepala.
"Tidak, Mas."
"Please, Yang!" pinta Andrea mengiba.
"No! Nanti saja setelah kita menunaikan ibadah sholat subuh!" Cantika tetap keukeuh menolak keinginan suami brondongnya.
"Aku mau mandi dulu, Mas," imbuhnya sambil menjauhkan tubuhnya dari Andrea dan beranjak dari posisi berbaring.
Sembari menahan rasa sakit yang masih terasa di bagian in-timnya, Cantika membawa tubuhnya berdiri dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Wanita berparas cantik itu terkesiap saat tiba-tiba tubuhnya melayang. Refleks ia pun melingkarkan tangan di leher Andrea--suami badungnya.
"Mas, turunkan aku!" pinta Cantika. Namun tak diindahkan oleh Andrea.
"Mas, cepat turunkan aku!" Cantika kembali meminta dengan sedikit meninggikan intonasi suara.
"No." Andrea membalas singkat disertai lengkungan bibir.
"Mas, aku mau mandi. Please turunkan aku!"
"Ya sudah, kamu dulu yang mandi, Mas!"
"Nggak mau."
"Berarti aku dulu yang mandi?"
"No." Andrea menggeleng dan membawa ayunan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kita mandi bareng, Yang," sambungnya sambil menyungging seutas senyum dan menutup pintu kamar mandi dengan kakinya.
Manik hitam Cantika seketika berotasi sempurna kala mendengar ucapan Andrea.
Terbayang olehnya apa yang akan terjadi. Bisa dipastikan, mandinya kali ini akan berdurasi cukup lama.
"Aku mandiin ya, Yang?" Andrea tersenyum nakal, lalu menurunkan Cantika di bathup.
Cantika hanya bisa pasrah saat Andrea menyusulnya masuk ke dalam bathup dan mulai melancarkan aksi.
Selama hampir satu jam mereka berendam di dalam bathup dan melanjutkan ritual semalam.
Keduanya terlena sehingga terlupa dengan kewajiban mereka di waktu subuh. Namun Andrea dan Cantika seketika tersadar saat mendengar ketukan pintu diikuti ucapan salam yang berasal dari luar kamar.
Dengan berat hati Andrea mencabut bagian tubuhnya yang terbenam dan menyudahi ritual mereka.
"Kita lanjut nanti, Yang," ucapnya sembari melabuhkan kecupan di bibir ranum Cantika.
"Iya, Mas." Cantika mengangguk pelan dan beranjak dari posisi duduk, lalu membawa tubuhnya keluar dari bathup, disusul oleh Andrea. Kemudian mereka membasahi rikma dengan air yang memancar dari shower dan membersihkan tubuh dengan mandi ju-nub.
"Wah, kok tidak ada jawaban dari Mas Andrea dan Neng Cantika? Jangan-jangan mereka bermain cacing lagi sampai tidak mendengar azan subuh dan ucapan salamku. Ck, ck, ck, dasar penganten baru. Maunya ngadon terus." Asih bergumam dan menghela nafas panjang. Ia menyerah setelah berulang kali mengetuk pintu dan mengucap salam, tetapi tidak ada sahutan dari penghuni kamar--Andrea dan Cantika.
Sambil ngedumel, Asih membawa langkahnya menuruni anak tangga.
"Enaknya yang punya pasangan. Kepingin itu tinggal minta sama pasangannya. Lha kalau aku ya cuma bisa gigit jari. Sabar-sabar, orang sabar jidatnya lebar."
Sama seperti Asih. Para jomblo yang membaca kisah ini pun hanya bisa gigit jari dan mengusap dada sambil berdoa, semoga segera dipertemukan dengan jodoh yang terbaik, seorang kekasih impian yang bisa menjadi sahabat dalam urusan agama, urusan dunia, maupun akhirat.
"Aamiin," othor said--mengamini doa mereka.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar π
tabok β€ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang β
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih Kakak-kakak pembaca terkasihπππ