Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Rasa Bersalah



Happy reading 😘😘😘


Langit terlihat semakin muram seiring rintik gerimis yang mulai membasahi bumi disertai nafas alam yang berhembus kencang.


Andrea dan semua orang yang berada di taman, bergegas masuk ke dalam rumah lalu berkumpul di ruang keluarga.


"Bi Ijah, nitip anak-anak ya!" ucap Akbar pada Ijah--asisten rumah tangga yang bekerja pada Airlangga dan sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka.


"Iya, Tuan," balas Ijah dengan tutur katanya yang terdengar sopan.


"Tolong bawa Ali dan Alwi ke kamar Andrea! Ajak mereka bermain atau menonton film ya, Bi!"


"Baik, Tuan." Ijah mengangguk pelan lantas membujuk Ali dan Alwi agar kedua balita itu mau diajak ke kamar Andrea.


Selepas Ijah, Ali, dan Alwi meninggalkan ruang keluarga, Nasari meminta suaminya untuk menyampaikan kebenaran tentang Dafa pada keluarga mereka.


Dengan berat hati, Akbar pun menuruti permintaan istrinya itu.


Namun sebelum menyampaikan kebenaran tentang Dafa, Akbar meminta Airlangga, Vay, Cantika, Khabibah, Hafidz, dan Najwa untuk berbesar hati.


Akbar meraup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian ia menyampaikan semua kebenaran tentang Dafa yang ia ketahui dari Mita. Mulai dari gaya hidup Dafa yang sangat bebas hingga penyakit yang diderita oleh-nya (Dafa). Akbar juga menyampaikan kepada mereka bahwa Dafa menggagalkan pernikahannya dengan Cantika karena ancaman dari Mita.


Selain itu, Akbar juga menunjukkan bukti-bukti berupa foto dan rekaman yang memperkuat ucapannya, sehingga tidak ada satu pun yang bisa menyanggah.


"Saya harap, jangan ada yang salah faham ataupun menyalahkan Mita. Karena apa yang dilakukan oleh Mita semata-mata karena ingin menyelamatkan Cantika--sahabat terbaik yang sangat ia sayang. Sebagai seorang sahabat, Mita tidak ingin Cantika menderita karena tertular penyakit AI-DS, jika Cantika benar-benar menikah dengan Dafa," tutur Akbar kemudian.


Kata-kata yang mengalir dari bibir Akbar bagai ribuan anak panah yang menghujam jantung dan mengoyak segumpal daging yang bersemayam di dalam dada, sehingga menciptakan rasa perih yang tak bisa diungkap dengan rangkaian kata.


"Dafa --" lirih Vay sambil menekan dadanya seiring buliran bening yang lolos dari kedua sudut netra.


Sama seperti Vay. Airlangga, Cantika, dan semua orang yang berada di ruangan itu pun sangat terpukul dan berduka. Mereka sungguh tidak menyangka, Dafa menderita penyakit AI-DS, salah satu penyakit yang menjadi momok bagi semua insan di dunia ini.


"Yang sabar dan kuat ya, Bunda! Kita harus yakin, Dafa akan kembali bugar seperti dulu. Saat ini yang harus kita lakukan adalah mendampingi Dafa dan memberinya motivasi. Insya Allah, Dafa bisa melewati hari-hari tersulit-nya. Dafa juga akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik," tutur Nasari sembari memeluk dan mengusap lembut punggung sang bunda seraya mentransfer energi positif agar bundanya merasa tenang.


"Apa yang menimpa Dafa adalah teguran dari Allah kepada kita, Bun. Sebagai orang tua, semestinya kita tidak terlalu memanjakan Dafa dengan kemewahan dan membekalinya dengan ilmu agama. Ayah bersalah. Ayah teramat sangat menyesal --" Pita suara Airlangga tercekat, sehingga ia tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Yah, jangan menyalahkan diri Ayah sendiri! Ayah harus kuat. Begitu juga Bunda. Lebih baik, kita segera menyusul Dafa ke Jerman untuk mendampingi dan memberinya motivasi. Kita langitkan pinta pada Illahi, semoga Dafa bisa kembali bugar atas izin-Nya dan berubah menjadi insan yang ber-akhlakul karimah ataupun berkepribadian baik." Akbar mengulas senyum dan mengusap bahu Airlangga seraya membesarkan hati ayah mertuanya itu.


Cantika yang sudah tidak sanggup menahan diri untuk tidak meluapkan rasa yang berkecamuk di dalam jiwa setelah mengetahui kebenaran tentang Dafa, seketika beranjak dari posisi duduk dan berlalu pergi tanpa mengucap sepatah kata pun.


"Sayang!" Andrea bergegas membawa tubuhnya berdiri, lalu berlari mengejar Cantika.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan


Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏