
Happy reading 😘😘😘
Satu jam telah terlewati. Namun Nasari dan Akbar belum kembali ke taman untuk berbaur dengan keluarga mereka. Andrea berpikir, mungkin kakak dan kakak iparnya itu masih berikhtiyar membuat adonan kue Susan.
Ali dan Alwi mulai merengek. Mereka sudah tidak sabar menunggu sang abi dan ummi.
Kedua balita itu pun lantas meminta diantar ke kamar Andrea yang berada di lantai dua untuk menemui kedua orang tua mereka--Akbar dan Nasari.
"Om. Yuk, anter Ali ke kamar Om Andrea! Ali sudah bosan menunggu abi dan ummi di sini. Ali ingin menemui abi dan ummi sekarang, Om," ujar Ali sambil menarik-narik ujung kemeja yang dikenakan oleh Andrea.
"Alwi juga ingin menyusul abi dan ummi, Om. Yuk, antel Alwi sama Kakak Ali!" Alwi menimpali ucapan Ali dan turut menarik kemeja yang dikenakan oleh Andrea.
"Kita tunggu abi dan ummi di sini aja ya! Sebentar lagi mereka pasti datang," tutur Andrea diiringi sebaris senyum dan usapan lembut yang ia labuhkan di pucuk kepala kedua ponakannya.
"Dari tadi Om Andrea bilang seperti itu terus. Tapi, abi dan ummi belum juga kembali ke taman. Orang dewasa memang suka bikin anak kecil kesel! Huh!" Ali mengerucutkan bibir dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sabar ya, jagoan! Biar Om Andrea saja yang menyusul abi dan ummi. Kita tunggu mereka sambil bermain ayunan, okey?" Cantika turut bersuara seraya merayu Ali dan Alwi.
Ali menanggapi ucapan Cantika dengan menggeleng kepala. "Ali nggak mau, Tante. Ali bosan main ayunan."
"Iya, Tante. Alwi juga bosan," sahut Alwi yang juga menggeleng kepala--menirukan sang kakak.
"Mmm, bagaimana kalau kita makan kue dorayaki? Kuenya Doraemon. Ali dan Alwi mau 'kan?"
"Ali nggak mau makan kue dorayaki, Te. Maunya kue Susan bikinan abi dan ummi."
"Kue Susan?" Cantika bertanya heran diikuti kerutan yang tercetak jelas di dahinya.
"Iya, Tante. Kata abi, kue Susan itu kue yang bentuknya menyerupai boneka Susan dan bikinnya di kamar," jawab Ali polos.
Bola mata Cantika berotasi sempurna kala mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Ali. Otak cerdasnya seketika mampu menelaah kata 'kue Susan' yang diucapkan oleh balita berumur empat tahun itu.
Sementara Andrea, ia berusaha menahan tawa dengan melipat bibir.
"Eng, kue Susan bukan kue --" Cantika urung melanjutkan ucapannya. Ia ragu untuk menerangkan definisi kue Susan menurut kamus sang penulis skenario pada Ali dan Alwi, sebab kedua balita itu masih teramat kecil. Dan tentu saja belum bisa menelaah kata-kata bermakna ambigu.
Jangankan mereka, Andrea yang sudah berusia 18 tahun pun terkadang belum bisa menelaah kata-kata bermakna ambigu.
"Kue Susan bukan kue apa, Te?" tanya Ali penasaran.
"Ku-e Susan bukan kue sem-barang kue, Sayang." Cantika menjawab asal dan sedikit terbata.
"Maksud Tante apa?"
"Maksud Tante --"
"Ali, Alwi, tuch lihat siapa yang datang!?" Andrea memangkas ucapan Cantika dan menunjuk ke arah dua orang yang tengah berjalan mendekat. Siapa lagi jika bukan Akbar dan Nasari.
"Dua jagoan Abi," seru Akbar sambil merentangkan tangan--menyambut Ali dan Alwi. Sama seperti Akbar, Nasari pun menyambut kedua buah hati mereka dengan merentangkan tangan.
Ali menghambur ke pelukan abi-nya. Sementara Alwi menghambur ke pelukan sang ummi.
"Abi, kenapa lama sekali?" Ali sedikit merenggangkan pelukan dan menatap lekat wajah Akbar.
"Maaf, Sayang. Tadi, Abi dan Ummi berikhtiyar membuat kue Susan untuk Kak Ali dan Dedek Alwi."
"Terus, mana kue Susan-nya, Bi?"
"Kue Susan-nya --" Akbar tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia bingung memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh putra sulungnya.
"Bi, mana kue Susan-nya?" Ali kembali bertanya seraya menagih sang abi.
"Kue Susan-nya baru diproses. Jadi, Kakak Ali dan Dedek Alwi harus sabar menunggu!"
"Ali dan Alwi sudah menunggu lama lho, Abi. Masa kue Susan-nya baru diproses? Pasti Abi cuma beralasan. Ali yakin, sebenarnya Abi dan Ummi gagal bikin adonan kue Susan-nya. Ya, 'kan?"
"Eng, itu --"
"Kalau Abi dan Ummi gagal bikin adonan kue Susan-nya, nggak pa-pa kok. Lain kali, Abi dan Ummi masih bisa bikin lagi. Ali dan Alwi siap membantu. Kita bikin yang banyak, sekalian untuk persiapan lebaran."
Akbar dan Nasari saling melempar pandang tatkala mendengar ucapan Ali. Keduanya tampak bingung bagaimana menanggapinya.
Berbeda dengan Akbar dan Nasari. Andrea dan Cantika seketika mengudarakan tawa. Begitu juga dengan Najwa dan Ijah. Mereka teramat geli mendengar ucapan Ali yang sukses menggelitik indera pendengaran.
"Ya Allah, ada-ada gajah si Ali," ujar Najwa di sela-sela tawa.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
UP nya segini dulu ya Kakak-kakak ter love. Authornya sedang kurang enak body. Insya Allah, besok author lanjut lagi. Dan untuk Kakak-kakak yang meminta crazy UP, author menghaturkan maaf beribu maaf, karena author belum bisa mengabulkan permintaan Kakak semua. Doakan saja, semoga jari dan otak author semakin bisa diajak kerjasama, sehingga author bisa memberikan crazy UP. 😊🙏
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏