Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Maaf



Happy reading 😘😘😘


Ayunan langkah terhenti ketika sepasang kaki menginjak lantai ruang tamu.


Dengan sebaris senyuman yang terlukis di wajah, Andrea menyapa kedua orang tuanya yang tengah duduk menunggu sembari berbincang.


"Ata." Vay membawa tubuhnya beranjak dari posisi duduk, lalu merengkuh tubuh Andrea dan membawanya ke dalam pelukan.


Tangan Andrea yang semula menjuntai, perlahan terangkat untuk membalas pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ata, maafkan Bunda, Nak! Bunda belum bisa menjadi seorang ibu yang baik untukmu. Dulu, bunda terlalu takut dengan keadaan Dafa. Kakakmu itu sering sakit-sakitan, sehingga perhatian bunda terlalu fokus padanya. Percayalah, bunda sangat menyayangimu, meski bunda tidak selalu berada di sisimu. Bunda sangat merindukanmu. Pulanglah ke rumah kita, Sayang! Bawalah istrimu untuk tinggal bersama kami!" Vay mengeratkan pelukannya dan memeras kelopak netra sehingga titik-titik embun yang bergelayut manja jatuh membasahi kedua pipinya.


Ia tumpahkan segala isi hati pada putranya setelah berusaha menahannya dari kemarin.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bunda. Lagi pula, Bunda sudah berulang kali meminta maaf pada saya. Saya tahu, Bunda sangat menyayangi saya. Sama seperti Bunda, saya pun merindukan Bunda. Tetapi maaf, saya tidak bisa membawa Cantika untuk tinggal bersama Ayah dan Bunda," ucap Andrea seraya membalas kata-kata yang terlisan dari bibir bundanya.


Vay mengurai pelukan dan menatap sepasang mutiara hitam putranya dengan sendu. "Kenapa, kamu tidak bisa membawa Cantika untuk tinggal bersama kami, Nak?"


Seutas senyum terbit membingkai wajah Andrea. Pemuda berparas rupawan itu mengulurkan tangan untuk menyeka jejak air mata sang bunda. "Bunda, saya hanya ingin hidup mandiri bersama Cantika tanpa membebani siapa pun. Saya ingin belajar menjadi seorang pria dewasa dan suami yang bertanggung jawab."


"Tapi, Nak --"


"Sayang, duduklah dulu! Jangan berbincang dengan putra kita sambil berdiri!" titah Airlangga seraya menginterupsi. Ia lantas membawa tubuhnya berdiri dan merengkuh tubuh Andrea untuk dibawanya ke dalam pelukan.


"Nak, sama seperti bundamu, ayah pun sangat merindukanmu. Meski kemarin kita sudah bertemu dan berpeluk, tetapi kita belum sempat berbincang lama."


"Iya, Yah." Andrea pun membalas pelukan ayahnya.


Rasa hangat bercampur haru menyelinap ke relung rasa bersamaan titik-titik embun yang mulai menganak di pelupuk mata Airlangga.


Ingin rasanya ia menebus kesalahan di masa lalu dengan meluangkan banyak waktu untuk mencurahi kasih sayang serta perhatian pada putra bungsunya setiap detik, setiap hari, setiap waktu.


Namun karena saat ini fokusnya terbagi pada pencarian Dafa dan anak cabang perusahaan yang ditinggalkan oleh putranya itu, Airlangga harus bisa memendam keinginannya.


Janji terlafaz di dalam hati. Setelah berhasil menemukan Dafa, ia akan segera meluangkan waktu untuk Andrea.


"Ata putraku, ayo kita duduk sambil berbincang!" Airlangga mengurai pelukan. Kemudian memandu Andrea untuk duduk di sampingnya.


"Tuan Airlangga, Nyonya Vay, Mas Andrea, silahkan diminum teh nasgitelnya!" Asih menginterupsi dengan mempersilahkan ketiga orang yang tengah duduk di hadapannya untuk meminum teh nasgitel yang ia sajikan.


"Iya, Bi. Terima kasih." Vay mengulas senyum dan meraih cangkir berisi teh nasgitel yang disajikan oleh Asih. Kemudian ia meneguk teh nasgitel itu.


Sama seperti Vay, Andrea dan Airlangga pun mulai meneguk teh nasgitel--teh yang disajikan panas, legi/ manis, dan kental.


"Teh nasgitelnya jos tenan, Bi." Kalimat pujian mengalir dari bibir Airlangga dan membuat Asih tersipu malu.


"Terima kasih banyak, Tuan. Teh nasgitel buatan saya memang tidak diragukan lagi. Banyak yang memuji. Apalagi kopi hitam buatan saya. Lebih jos, Tuan. Bikin mata nggak merem sampai pagi."


"Oya?"


"Iya, Tuan. Kapan-kapan saya buatkan kopi jos. Biar Tuan bisa kuat begadang semalaman."


"Boleh juga. Kapan-kapan saya tagih, Bi."


"Silahkan, Bi." Andrea dan kedua orang tuanya menanggapi ucapan Asih dengan mengangguk pelan diiringi seutas senyum.


Selepas Asih berlalu dari hadapan mereka bertiga, Airlangga kembali membuka suara.


"Ata, putraku. Selama ini, Ayah dan Bunda telah melakukan kesalahan yang teramat besar. Bertahun-tahun kami menitipkanmu pada Bi Ijah, sehingga kamu tumbuh tanpa belaian kasih sayang dari kami. Maaf. Maafkan kami yang belum bisa menjadi orang tua yang baik untukmu. Maafkan juga Dafa, gara-gara kakakmu itu, kamu terpaksa menikah di usia yang masih sangat belia."


"Ayah dan Bunda tidak perlu meminta maaf. Seharusnya saya malah berterima kasih pada Ayah dan Bunda, karena sudah menjadikan saya seorang anak yang mandiri dan terbiasa hidup tanpa bergantung pada orang tua. Seharusnya saya juga berterima kasih pada Mas Dafa, karena telah memberi saya kesempatan untuk menikahi calon istrinya, seorang wanita berparas cantik dan saleha. Bagi saya, Cantika adalah anugerah terindah yang Allah hadiahkan, sehingga saya tidak menyesal menikah di usia yang masih sangat belia. Kelak jika kami memiliki banyak anak, saya sebagai orang tua akan berusaha untuk bersikap adil dan tidak mengorbankan satu anak demi anak yang lain, agar mereka tidak merasa terbuang dan tumbuh menjadi anak-anak yang saleh ataupun saleha di bawah asuhan kami--kedua orang tuanya. Saya tidak ingin, anak-anak saya kelak tumbuh menjadi remaja yang ndugal seperti ayahnya."


Andrea berucap dengan merendahkan suara. Namun sukses menohok segumpal daging yang bersemayam di dalam dada Airlangga dan Vay, sehingga kedua paruh baya itu sesaat terbungkam dan berusaha menahan denyutan nyeri yang terasa di ulu hati.


Suasana sejenak hening. Hanya terdengar helaan nafas diiringi suara kicauan burung yang menyenandungkan lagu kerinduan pada Tuhan-Nya.


"Ata putraku, karena keberadaan Dafa belum diketahui sampai detik ini, Ayah sangat berharap ... kamu bersedia untuk menggantikannya--mengelola anak cabang perusahaan keluarga kita yang berada di Kalimantan untuk sementara waktu," tutur Airlangga seraya memecah hening.


Andrea menerbitkan senyum dan membalas ucapan ayahnya. "Terima kasih, Yah. Tetapi maaf, saya tidak bisa menggantikan Bang Dafa--mengelola anak cabang perusahaan di Kalimantan. Saya masih SMA dan belum berpengalaman di bidang bisnis, apalagi mengelola perusahaan."


"Asisten Dafa akan membantumu, Ta. Kamu bisa membagi waktu, menyelesaikan study dan bekerja sebagai CEO. Sekarang, kamu mempunyai tanggung jawab seorang istri yang mesti kamu nafkahi. Bukan hanya nafkah batin, tetapi juga nafkah lahir yang harus kamu berikan."


"Benar apa yang dituturkan oleh ayahmu, Sayang. Kamu mempunyai tanggung jawab seorang istri yang harus kamu nafkahi. Jika kamu bersedia, bunda juga akan tinggal di Kalimantan bersama kalian supaya bunda tidak lagi kesepian. Setiap ayahmu pergi ke LN ataupun ke luar kota, bunda hanya berteman sepi. Sari dan kedua putranya jarang menginap di rumah kita. Bi Salma dan Bi Rumi terkadang sibuk dengan pekerjaan mereka." Vay turut bersuara.


"Maaf, Ayah, Bunda. Saya benar-benar tidak bisa menggantikan Bang Dafa--mengelola anak cabang perusahaan. Saya juga tidak bisa tinggal di Kalimantan." Andrea tetap bersikukuh.


Airlangga dan Vay menghembus nafas berat. Keduanya kehabisan cara untuk membujuk Andrea.


Mungkin, hanya Cantika yang bisa membujuk putraku--bisik kalbu Vay.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan


Terima kasih 😘😘😘



Awal yang selalu menawarkan cerita


Memberikan banyak makna


Menunjukkan arah kemana kaki melangkah


Lalu siap memulai sebuah kisah