Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Cantika VS IWBB



Happy reading 😘😘😘


Pagi ini Andrea dan Cantika cek out dari Hotel Kenzie setelah mereka melewati tiga malam di hotel tersebut dengan memadu kasih.


Keduanya saling menautkan tangan dan mengayun langkah menuju lobi hotel untuk menemui Anggit yang sedari tadi sudah menunggu.


Sesampainya di lobi hotel, Andrea dan Cantika berpapasan dengan segerombol wanita berpakaian kurang bahan dan berdandan dengan make up tebal sehingga hampir menyerupai badut Ancol.


Para wanita itu menatap wajah Andrea tanpa berkedip. Bibir mereka pun tak henti-hentinya mengucap kalimat pujian.


"Woah, brondong handsome. Gue mau kalo doi yang jadi hadiah taruhan," ujar salah seorang dari mereka.


"Bukan cuma elu yang mau. Gue juga mau," sahut yang lain.


"Eh, tapi ... tapi, yang jalan ama ntu brondong kira-kira sapanya yak? Bininya atau tante meriang kek kita-kita?"


"Ih, mana mungkin brondong kek gitu udah punya bini."


"Hooh, juga yak."


"Apa kita samperin aja tuch si brondong? Kita tawarin doi bayaran yang lebih gede dari ntu cewe."


"Gue setuju. Gue rela bayar taruhan 1 M asal yang jadi hadiah taruhannya doi."


"Hilih, 1 M-ber maksud lu?"


"Yailah, 1 Miliar beneran. Laki gue pan pemilik hotel ini."


"Ya udah, sonoh lu samperin!"


"Yey, jan cuma gue doang yang nyamperin. Elu pada juga nyamperin."


"Hayuk lah! Gaskeun! Gue udah kaga sabar pingin kenalan ama ntu brondong."


"Iya, sama. Gue udah kaga sabar menang taruhan, biar bisa ngrasain jalan ama brondong handsome."


Obrolan para wanita itu sukses memancing kemarahan Cantika. Ia sungguh tidak terima jika Andrea menjadi bahan gibahan apalagi taruhan.


Cantika lantas melerai tautan tangan, lalu berjalan menghampiri mereka dengan langkah lebar disertai tatapan nyalang.


Ingin rasanya ia meluapkan amarah dan menyumpal mulut para wanita meriang (merindukan kasih sayang) itu dengan flat shoes yang dikenakannya.


"Sttt, si cewe berjalan ke sini," bisik salah seorang dari mereka.


"Iya. Kek nya ntu cewe denger obrolan kita," sahut yang lain dengan melirihkan suara agar tak terdengar oleh Cantika.


"Ya pasti denger lah. Suara kita pan kek toa."


"Jangan-jangan, ntu cewe mo nyerang kita."


"Gue rasa juga gitu."


"Beuh, kalo beneran ntu cewe mo nyerang kita, sama aja dia cari mati --"


"Siapa yang cari mati?" Cantika melontarkan tanya dengan meninggikan intonasi suara seraya memangkas obrolan mereka. Lalu ia melipat kedua tangannya di depan dada dan melayangkan tatapan menghunus.


Cantika tampak tak gentar sedikit pun menghadapi gerombolan wanita itu.


"Lu yang cari mati," jawab Rukmini--mewakili kawan-kawannya yang tergabung dalam IWBB--Ikatan Wanita Butuh Bela-ian.


Cantika tersenyum smirk dan membawa tubuhnya berdiri tepat di hadapan Rukmini.


"Kalian bilang, saya cari mati?" Cantika kembali melontarkan tanya.


"Iya, lu cari mati. Mana sanggup lu melawan kami berlima. Apalagi ampe ngalahin kita-kita."


"Kalau saya sanggup, bagaimana?"


"Kalo lu sanggup ngalahin kami berlima, gue ama temen-temen bakal niru gaya pakaian elu. Tapi kalo lu kalah, lu harus nyerahin ntu brondong handsome."


"Yang, ayo kita pergi! Nggak usah meladeni mereka!" pinta Andrea sembari menggamit lengan Cantika. Ia sungguh tidak ingin jika istrinya bertaruh dengan para wanita itu.


Cantika menanggapi ucapan Andrea dengan mengerjapkan netra dan mengusap lembut bahu suaminya itu. Kemudian ia bersiap menghadapi Rukmini dan keempat kawannya.


"Silahkan maju!" titah Cantika.


Rukmini dan kawan-kawannya pun maju, lalu bergantian menyerang Cantika.


Dengan sikap tenang, Cantika menangkis pukulan tanpa melayangkan serangan balasan, hingga membuat kelima lawannya kelelahan dan menyerah.


"Gue nyerah," ucap Rukmini sambil terengah-engah.


"Gue juga nyerah," sahut kawan Rukmini yang bernama Jenar.


"Beuh, berarti mulai sekarang kita berpakaian kek ntu cewe?" timpal yang lainnya.


"Iya. Kita kaga boleh ingkar," jawab Rukmini.


"Tapi, gue kaga terbiasa pake' pakaian kek gitu."


"Kita coba dulu," tutur Rukmini pada kawan-kawannya.


"Iya, lebih baik kalian mencobanya dulu! Lagi pula kalian akan terlihat anggun dan lebih bermartabat jika berpakaian seperti saya. Insya Allah, pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan, melainkan cara Allah untuk memberikan hidayah-Nya pada kalian." Cantika turut bersuara diiringi sebaris senyum yang membingkai wajah cantiknya.


"Saya Cantika dan brondong yang kalian gibahkan tadi adalah suami saya, Andrea," imbuh Cantika seraya memperkenalkan dirinya dan Andrea.


Ucapan Cantika sukses membuat Rukmini dan keempat kawannya melongo. Kelima wanita itu tidak menyangka jika si brondong handsome pujaan mereka sudah mempunyai seorang istri. Dan istrinya itu adalah Cantika--wanita yang berhasil mengalahkan mereka.


Tepuk tangan meriah terdengar memenuhi ruang. Para karyawan dan pengunjung hotel bersorak saat Cantika mengayun langkah--meninggalkan lobi hotel bersama Andrea dan Anggit.


"Nyonya Rukmini, anda diminta oleh Tuan Adam untuk menemui beliau di ruangannya," ucap seorang security dan sukses membuat tubuh Rukmini bergetar hebat.


"A-apa? Bukannya Mas Adam sedang berada di LN?"


Security itu menanggapi pertanyaan Rukmini dengan menggeleng lemah. "Sebenarnya Tuan Adam membatalkan keberangkatannya ke LN, Nyonya. Beliau ingin membuktikan sendiri laporan para karyawan --"


"Maksud kamu, para karyawan melaporkan saya pada Mas Adam?"


"Iya, Nyonya."


Rukmini menghembus nafas kasar, lalu mengayun langkah menuju ruangan suaminya.


Kita tinggalkan Rukmini, lantas beralih pada Andrea dan Cantika yang tengah duduk sembari bercengkrama di dalam mobil yang dikendarai oleh Anggit.


Andrea merangkul bahu Cantika dan berulang kali melabuhkan kecupan di pucuk kepala kekasih halalnya itu. Sementara Cantika, ia membenamkan wajahnya di dada bidang Andrea dan melingkarkan tangannya di tubuh sang suami.


Jangan ditanya, apa yang tengah dirasakan oleh Anggit saat menyaksikan keromantisan sepasang kekasih halal itu dari balik kaca spion.


Anggit hanya bisa menghela nafas dan melafazkan istighfar di dalam hati. Sungguh, ia ingin sekali seperti Andrea. Bercengkrama dengan sang kekasih, menumpahkan kerinduan dengan saling berpeluk.


Tobat soto babat. Nasib kaum LDR bener-bener ngenes banget!!! gumamnya yang hanya terlisan di dalam hati.


🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan


Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏