
Happy reading 😘😘😘
Nasari terkesiap kala mendengar percakapan Andrea dan Akbar mengenai Dafa. Sebagai seorang kakak, ia sangat terpukul.
Nasari tidak pernah menyangka, adik yang teramat ia sayang ternyata mengidap penyakit AI-DS dan penyebabnya adalah karena Dafa sering berganti pasangan tidur.
Selama ini Nasari mengira adiknya itu seorang introvert. Dafa yang cenderung pendiam dan suka menyendiri, ternyata gemar mengunjungi tempat hiburan dan berpesta dengan para wanita panggi-lan tanpa sepengetahuan keluarganya.
Dengan tertatih, Nasari berusaha membawa langkahnya menuju balkon, menghampiri Akbar dan Andrea yang masih berbincang di sana.
"Bi, A-bi," ucap Nasari seraya memanggil suaminya.
Akbar dan Andrea sontak merotasikan kepala saat mendengar suara Nasari. Kedua Adam itu sangat terkejut kala mendapati Nasari berdiri di belakang mereka dengan wajah yang tampak pucat.
"Ummi --" Akbar bergegas merengkuh tubuh Nasari yang hampir saja limbung. Lalu ia memapah dan memandu istrinya untuk duduk di sofa.
"Mi, kenapa Ummi ke sini? Seharusnya Ummi menunggu Abi dan Andrea di taman bersama keluarga kita yang lain," tutur Akbar dengan merendahkan suara. Ia lantas mendaratkan bobot tubuhnya di samping Nasari.
"Bi, tadi ada pesan dan telepon dari Mita. Dia ingin bicara dengan Abi. Ummi berinisiatif menyusul Abi untuk menyampaikan pesan yang dikirim oleh Mita. Tapi ketika Ummi sampai di depan pintu, Ummi mendengar percakapan Abi dan Andrea mengenai Dafa --" Pita suara Nasari tercekat tatkala ia menyebut nama Dafa. Terbayang olehnya keadaan Dafa saat ini yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Astaghfirullah, Abi lupa, Mi. Tadi handphone Abi, Abi titipin di tas Ummi ya?"
"Iya, Bi," jawab Nasari disertai anggukan lemah.
"Bi, jelaskan pada Ummi, apa yang sebenarnya terjadi pada Dafa! Tadi Ummi mendengar, Dafa mengidap penyakit AI-DS. Jujur, Ummi nggak percaya jika Dafa mengidap penyakit itu. Ummi juga nggak percaya jika gaya hidup Dafa teramat bebas."
Akbar menghela nafas panjang, lalu menggenggam erat tangan Nasari dan menatap lekat wajah cantik kekasih halalnya itu.
"Mi, Dafa memang mengidap penyakit AI-DS. Gaya hidupnya pun sangat bebas. Tiga hari yang lalu, Abi bertemu dengan Dokter Erland dan Mita. Mereka memberitahu Abi bahwa Dafa mengidap penyakit AI-DS. Kemungkinan terbesar, Dafa mengidap penyakit itu karena sering berganti pasangan." Akbar menjeda sejenak ucapannya dan kembali menghela nafas.
"Awalnya, Abi nggak percaya. Tetapi setelah Dokter Erland dan Mita menunjukkan bukti, Abi nggak bisa untuk tidak mempercayainya. Kebetulan, Dokter Erland yang memeriksa Dafa. Jadi, Dokter Erland sangat tahu jika Dafa mengidap penyakit AI-DS dan beliau diminta oleh Dafa untuk merahasiakannya. Namun setelah Dokter Erland tahu bahwa Dafa akan menikahi Cantika, Dokter Erland terpaksa memberi tahu penyakit yang diidap oleh Dafa pada Mita. Sebagai seorang sahabat, Mita tidak rela jika Cantika dinikahi oleh Dafa. Ia sungguh tidak ingin jika sahabat baiknya tertular penyakit AI-DS. Oleh karena itu, Mita berusaha keras untuk menggagalkan pernikahan Dafa dan Cantika. Satu bulan sebelum hari pernikahan Cantika tiba, Mita dan Dokter Erland membuntuti Dafa ke manapun dia pergi tanpa sepengetahuan Dafa dan anak buahnya. Mita dan Dokter Erland merekam aktivitas Dafa di sebuah tempat hiburan malam. Mereka juga mengorek informasi mengenai Dafa dari beberapa karyawan yang bekerja di tempat hiburan itu. Dari informasi yang mereka dapatkan, ternyata Dafa sering berpesta di sana dan membayar wanita panggi-lan untuk memuaskan naf-sunya. Setelah cukup mengumpulkan bukti-bukti, Mita memberanikan diri untuk mengancam Dafa. Jika Dafa tidak mau menggagalkan pernikahannya dengan Cantika, maka Mita akan memberi tahu Cantika dan keluarganya bahwa Dafa mengidap penyakit AI-DS. Ia juga akan menunjukkan foto-foto mesra Dafa saat berpesta dengan para wanita panggilan," terang Akbar panjang lebar.
Nasari menekan dadanya yang terasa nyeri kala mendengar rangkaian kata yang diucapkan oleh Akbar.
"Astaghfirullah, Dafa --" ucapnya lirih diiringi tetesan embun yang jatuh dari telaga bening.
"Kenapa, Mita nggak memberitahu penyakit yang diidap oleh Dafa pada Cantika atau keluarga kita sebelum hari pernikahan Dafa dan Cantika tiba, Bi? Kenapa dia malah menggagalkan pernikahan Cantika dan Dafa dengan caranya sendiri?" sambung Nasari sembari menyeka wajahnya yang basah dengan jemari tangan.
"Mi, Mita tidak sampai hati memberitahu penyakit yang diidap oleh Dafa pada Cantika ataupun keluarga kita, terutama pada ayah dan bunda. Mita juga tidak sampai hati membuat Dafa merasa malu jika penyakitnya diketahui oleh banyak orang. Seharusnya kita berterima kasih pada Mita karena ia telah menggagalkan pernikahan Dafa dan Cantika meski dengan caranya sendiri. Abi nggak bisa membayangkan, bagaimana hancurnya hidup Cantika jika ia jadi menikah dengan Dafa."
"Abi benar. Semestinya kita berterima kasih pada Mita. Karena Mita, Cantika bisa terselamatkan dan menikah dengan sosok lelaki yang tepat."
"Iya, Mi. Alhamdulillah. Kita juga harus berterima kasih pada Allah. Karena Dia yang menjadikan Mita sebagai perantara untuk menyelamatkan Cantika."
"Ya udah sana! Sekalian nitip Alwi dan Ali ya, Dek!" sahut Nasari.
"Ogeh, Kak. Oya Kak, kalo Kakak ama Bang Akbar mo bikin adonan, bikin aja di kamar gue! Kaga usah segan! Gue pastiin kaga ada yang ganggu, termasuk Ali dan Alwi."
"Kakak lagi nggak mood bikin adonan, Dek. Kakak kepikiran Dafa."
"Kak, jangan terlalu mikirin Bang Dafa! Mikirin boleh, asal jangan over mikirnya! Jangan ampe Kakak malah jatuh sakit gegara berlebihan mikir Bang Dafa! "
"Iya, Dek." Nasari mengerjapkan netra dan mengulas senyum tipis.
"Bang, nitip Kakak gue, ya!" pinta Andrea pada Akbar sebelum ia memutar tumit.
"Siap 86, Komandan," balas Akbar disertai sebaris senyum.
Andrea lantas mengayun langkah, meninggalkan Akbar dan Nasari untuk kembali berbaur dengan Cantika dan keluarganya.
Selepas Andrea berlalu, Akbar dan Nasari kembali berbincang.
Nasari bercerita pada Akbar mengenai masa kecil Dafa yang sering sakit-sakitan.
Dafa sering mengalami demam dan terkadang sampai kejang. Dafa juga pernah menderita penyakit DB atau Demam Berdarah, hingga keadaannya sempat kritis.
Sejak Dafa mengalami masa-masa kritis, Vay dan Airlangga terlalu mengkhawatirkan putranya itu. Sampai-sampai, mereka menitipkan si kecil Andrea pada Ijah agar bisa fokus menjaga dan melimpahkan kasih sayang berlebih pada Dafa, dengan harapan supaya Dafa terhindar dari segala penyakit.
Vay dan Airlangga terlupa jika Andrea pun membutuhkan kasih sayang yang berlebih dari mereka, sama seperti Dafa.
Karena sejak kecil dititipkan pada Ijah, Andrea terbiasa hidup mandiri dan tidak bergantung pada kedua orang tuanya. Ia juga tidak berkeinginan sedikit pun untuk menggantikan posisi Dafa.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏