
Happy reading 😘😘😘
"Arya --" ucap Andrea saat pandangan netranya membentur sosok yang ia yakini sebagai Arya, salah satu siswa SMA Nusa Bangsa yang menaruh hati pada Afri.
Hanya saja, penampilan Arya teramat sangat berbeda.
Arya yang biasanya terlihat culun, saat ini tampak bergaya tanpa kaca mata yang selalu setia menghiasi wajahnya.
"Gue yakin, dia pasti Arya." Andrea bermonolog dengan melirihkan suaranya. Namun terdengar oleh Cantika, sehingga wanita berparas cantik itu terdorong untuk segera membuka sepasang kelopak netranya.
"Mas --" lirih Cantika.
"Ada apa, Yang? Kamu sudah bangun?" Andrea memiringkan wajahnya ke arah Cantika dan menerbitkan seutas senyum.
"Tadi aku mendengar, kamu menyebut nama Arya. Arya adik kelasmu atau Arya siapa yang kamu maksud, Mas?"
"Arya adik kelasku, Yang. Sekaligus murid kamu."
"Memangnya, ada apa dengan Arya, Mas?" Cantika bertanya heran dan mengangkat kepalanya yang semula bersandar di bahu Andrea.
"Tadi, aku melihat Arya berdiri di seberang jalan, Yang. Arya tampil beda. Dia yang biasanya berpenampilan seperti orang culun, sekarang terlihat bergaya tanpa kaca mata. Aku yakin, Afri bakal klepek-klepek kalau dia melihat penampilan Arya yang sekarang."
"Aku jadi penasaran dengan penampilan Arya, Mas. Ayo kita temui dia!"
"Nggak usah, Yang! Lagian, buat apa nemuin dia?"
"Aku 'kan sudah bilang, Mas. Kalau aku penasaran dengan penampilan Arya."
"Nggak usah penasaran, Yang! Lagian, wajah Arya tep sama aja. Nggak ganteng. Cuma bedanya si Arya nggak pake' kaca mata dan tompelnya ilang."
"Kalau tidak ganteng, kenapa Mas Andrea yakin si Afri bakal klepek-klepek jika dia melihat penampilan Arya yang sekarang."
"Ya, karena --"
"Buruan yuk, kita temui Arya, Mas! Aku benar-benar penasaran."
"Tapi, Yang."
"Please, Mas! Anggap saja, ini permintaan calon bayi kita. Mas Andrea tidak ingin 'kan jika anak kita kelak suka ngiler?" Cantika merengek sembari mengusap perutnya yang masih terlihat datar.
"Yang, besok aja ya. Tiba-tiba perutku mual lagi. Rasanya pengin muntah."
"Kenapa Mas Andrea mual lagi?"
"Entahlah, Yang. Mungkin aroma parfum mobilnya harus diganti dengan parfum beraroma jeruk."
"Tapi 'kan tadi Mas Andrea terlihat baik-baik saja --"
"Tadi, aku masih bisa menahan aroma yang menguar di dalam mobil, Yang. Tapi kalau sekarang, aku udah nggak bisa. Perutku bener-bener mual dan rasanya pengin muntah."
"Ya sudah, kita mampir di restoran dulu, Mas. Mas Andrea bisa muntah di toilet restoran. Sekalian kita sarapan. Tadi pagi, Mas Andrea 'kan cuma sarapan roti karena terburu-buru mengantar bunda dan yang lain ke bandara."
"Iya, Yang," balas Andrea.
Andrea lantas meminta Anggit untuk membawa mereka ke restoran terdekat yang berada di seberang jalan dan Anggit pun segera menunaikan permintaan sang majikan.
Sesampainya di depan restoran, Anggit mematikan mesin mobil. Ia bergegas keluar dari dalam mobil, lalu membuka pintu untuk Andrea dan Cantika.
"Bang, lu juga ikut masuk!" titah Andrea pada Anggit, setelah ia dan Cantika keluar dari dalam mobil.
"Saya masih kenyang, Tuan. Saya menunggu di dalam mobil saja." Anggit menolak dengan tutur katanya yang terdengar halus dan sopan.
"Ck, gue udah bilang berulang kali. Kaga usah panggil gue 'Tuan'. Gue risih dengernya, Bang. Panggil aja gue Andrea atau Ata!"
"Tapi, Tuan --"
"Kaga ada kata tapi, Bang! Lu udah gue anggap kaya' Abang gue sendiri. Jadi, kaga usah segan manggil gue Andrea atau Ata!"
"Apa yang dikatakan oleh suami saya benar, Mas. Mas Anggit sudah seperti saudara bagi kami. Jadi, tidak usah memanggil Mas Andrea dengan sebutan 'Tuan'!" Cantika turut bersuara.
"Tuan, saya hanyalah seorang sopir yang bekerja pada keluarga Tuan Airlangga. Jadi, tidak pantas jika saya memanggil Tuan Andrea dengan hanya menyebut nama," ucap Anggit tanpa meninggalkan sikap sopan.
"Lu berubah, Bang. Bang Anggit yang gue kenal biasanya ceplas ceplos. Tapi setelah Bang Anggit bertemu ama ibunda Abang dua minggu yang lalu, Bang Anggit terkesan kaku dan bukan jadi diri Abang sendiri. Gue kaga suka kalo lu terlalu ngrendahin diri lu sendiri. Rendah hati boleh, tapi jangan rendah diri, Bang," tutur Andrea sambil menepuk pelan bahu Anggit.
Andrea lantas menggamit lengan Cantika dan membawa istri tercintanya itu masuk ke dalam restoran.
Sementara Anggit, ia kembali terdiam dan berdiri mematung. Anggit terlupa jika mobil pajero hitam milik tuannya masih berdiri gagah di depan restoran, sehingga mengganggu pengunjung restoran lainnya.
"Bang, mobilnya jangan di parkir di sini! Tapi di sonoh!" ujar salah seorang pengunjung seraya menegur Anggit.
Anggit tersentak saat mendengar suara yang sangat tidak asing baginya. Refleks ia pun menoleh ke belakang dan mencari asal suara.
"Imah --" ucap Anggit disertai netra yang terbingkai kaca-kaca. Ia sungguh tidak menyangka, Sang Penulis Skenario akan mempertemukannya dengan Imah di restoran itu.
"Bang Anggit --" lirih Imah. Sama seperti Anggit, netra Imah pun terbingkai kaca-kaca.
"Kamu benar Imah 'kan?"
Imah mengangguk pelan dan menarik kedua sudut bibirnya. "Iya, Bang. Aku Imah."
Anggit mengembangkan senyuman kala mendengar jawaban yang dilisankan oleh Imah. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh Imah dan memeluknya erat untuk melepas kerinduan yang telah lama mendekap.
"Mah, bagaimana ceritanya kamu bisa berada di sini?"
"Panjang ceritanya, Bang. Tapi intinya, aku yang sekarang bukanlah Imah yang dulu. Imah yang tidak memiliki banyak harta. Berkat kesabaranku merawat majikan yang sudah sepuh, aku diberi hadiah berupa warisan oleh beliau sebelum majikanku itu meninggal dunia."
"Syukurlah, aku turut senang, Mah. Tapi --"
"Tapi apa, Bang?"
"Itu artinya, sekarang kita berbeda. Aku masih tetap orang miskin, sementara kamu orang berada," ucap Anggit bernada sendu.
"Halah, nggak ada yang berbeda, Bang. Orang tuaku tetap merestui kamu sebagai calon menantu mereka. Dan aku juga hanya ingin kamu yang menjadi imamku."
Kata-kata yang mengalir deras dari bibir Imah bagaikan oase di padang gersang yang mampu menyejukkan kalbu dan menyentuhkan rasa bahagia di hati Anggit.
Di dalam benak, Anggit melafazkan rasa syukur kepada Sang Maha Cinta yang telah menganugerahinya seorang kekasih sebaik dan setulus Imah.
Tanpa Anggit dan Imah sadari, salah seorang pegawai restoran ber-name tag 'Andika' tengah berjalan ke arah mereka dengan langkah lebar.
"Mas, Mbak, jangan berdiri di tengah jalan!" ujar Andika setibanya di hadapan Anggit dan Imah.
Sepasang Adam dan Hawa itu terperangah ketika mendengar suara bariton Andika yang sukses mengalihkan atensi mereka berdua.
"Jika Mas dan Mbak ingin berkencan, lebih baik di dalam saja! Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun putra pemilik restoran. Jadi, semua pengunjung restoran dipersilahkan untuk menikmati makanan dan minuman sepuasnya secara geratis." Andika menyambung ucapannya dengan merendahkan intonasi suara diiringi senyuman ramah.
"Beneran gratis, Bang?" tanya Imah pada Andika.
"Iya, Mbak. Silahkan masuk ke dalam bersama pacarnya! Tetapi jangan lupa, segera pindahkan mobil Mbak dan Mas ke tempat parkir, karena sebentar lagi Tuan Arya--putra pemilik restoran ini dan teman-temannya akan tiba!"
"Baik, Bang." Anggit menyahut ucapan Andika, lalu bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
"Mah, tunggu sebentar ya! Abang pindahkan dulu mobilnya," pinta Anggit.
"Iya, Bang. Imah tunggu di sini."
Anggit lantas melajukan mobil pajero hitam milik tuannya dengan pelan dan memindahkannya ke tempat parkir.
Dan benar yang dikatakan oleh Andika, Arya--putra pemilik restoran tiba bersama teman-temannya setelah Anggit memindahkan mobil ke tempat parkir, kemudian disusul oleh Afri yang datang bersama Shelly dan Raymon--ketua Geng Kurawa.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak terkasih yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku' 😘🙏