
Happy reading 😘😘😘
Andrea bersikukuh untuk keluar dari yayasan, meski Airlangga dan Vay terus membujuknya untuk tetap melanjutkan study di yayasan hingga ia lulus SMA.
Cantika tidak tinggal diam. Ia pun turut berusaha membujuk Andrea agar suaminya itu mau melanjutkan study di yayasan--SMA Nusa Bangsa dengan mengajaknya berbincang di Kafe K & R.
"Mas, kamu harus tetap melanjutkan study di yayasan. Sayang kalau kamu keluar, karena tinggal beberapa bulan lagi kamu lulus," tutur Cantika sembari menatap lekat manik mata Andrea. Ia berharap, Andrea akan luluh dan mengurungkan keputusannya untuk keluar dari yayasan.
"Yang, meski aku keluar dari yayasan, aku masih bisa melanjutkan study. Homescholling atau pindah ke sekolah lain."
"Aku tahu, Mas. Tapi aku ingin, kamu menuruti permintaan Ayah dan Bunda. Jangan membuat kedua orang tuamu itu kecewa!"
Andrea dirundung dilema. Tetap teguh dengan keputusannya, atau menuruti permintaan kedua orang tuanya dan Cantika.
"Mas, aku mohon! Turuti permintaan Ayah dan Bunda!" Cantika kembali memperdengarkan suara lembutnya tanpa mengalihkan tatap.
Sesaat Andrea bergeming. Terlihat dari raut wajahnya bahwa ia tengah berpikir.
"Mas --"
"Baiklah, aku nggak akan keluar dari yayasan," sahutnya diikuti hembusan nafas berat.
Senyum terbit menghiasi wajah Cantika kala mendengar ucapan Andrea.
Seketika ia pun melafazkan kalimat syukur karena Andrea bersedia menuruti permintaannya.
"Terima kasih, Mas," ucap Cantika diiringi sebaris senyum yang masih setia membingkai wajah cantiknya.
"Iya, Yang. Tapi aku ingin imbalan darimu."
"Imbalan? Imbalan apa, Mas?" Cantika bertanya heran diikuti kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alisnya.
"Nanti malam, layani aku di atas ranjang!" bisik Andrea seraya menjawab tanya.
"Ishhh, dasar suami o-mes. Imbalannya selalu minta nga-nu." Cantika membalas ucapan Andrea dengan melirihkan suara agar tak terdengar oleh para pengunjung yang lain.
"Emmm ... kalau aku nggak keluar dari yayasan, Sayang tetap bekerja sebagai guru vokal di sana?"
Cantika menggeleng kepala dan mengusap lembut wajah Andrea. "Aku tetap keluar dari yayasan Mas, karena aku ingin bekerja di rumah dengan mendirikan tempat les."
"Nggak usah bekerja! Insya Allah, aku masih bisa menafkahi kamu dengan gajiku sebagai manaj --" Andrea urung melanjutkan ucapannya dan merutuki dirinya sendiri di dalam hati karena hampir keceplosan bicara.
"Manaj apa, Mas? Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Nanti aku jawab setelah kita berada di rumah."
"Jangan membuatku penasaran, Mas!"
"Aku nggak bermaksud membuat Sayang penasaran."
"Terus --"
"Aku hanya ingin Sayang bersabar. Tunggu sampai kita berada di rumah!"
"Baiklah. Tapi kita makan dulu ya, Yang?"
"Aku mau nya sekarang, Mas. Lagi pula, makanan yang kita pesan belum datang."
"Hmmm, baiklah Ratuku. Hamba akan mengatakannya sekarang," ucap Andrea seiring usapan lembut yang ia labuhkan di pucuk kepala Cantika.
"Sebenarnya, aku bukan hanya seorang driver GO--Success, tapi --"
"Tapi apa, Mas?"
"Aku manajer di perusahaan Go--Succes, perusahaan yang dibangun dan dimiliki oleh Pak Rangga."
Cantika terkesiap kala mendengar pengakuan yang dituturkan oleh Andrea. Ia sungguh tidak menyangka, suami brondongnya ternyata bekerja sebagai seorang manajer di perusahaan GO--Success, salah satu perusahaan terbesar di kota ini.
"Mas, kamu tidak bercanda 'kan?"
"Ya, aku nggak bercanda, Yang. Awalnya aku memang bekerja sebagai seorang driver, tapi entah karena kinerjaku bagus atau karena alasan lainnya, Pak Rangga mengangkat-ku sebagai seorang manajer. Beliau mengijinkan-ku bekerja dari rumah. Tapi aku diwajibkan datang ke perusahaan jika beliau mengadakan rapat atau perusahaan GO--Success kedatangan tamu penting," terang Andrea.
"Lalu, bagaimana kamu bisa mengatur waktu antara sekolah dan bekerja sebagai seorang manajer, Mas?" Cantika kembali bertanya. Ia teramat penasaran, bagaimana suaminya itu bisa membagi waktu antara sekolah dan pekerjaannya sebagai seorang manajer.
"Setiap pagi hingga siang aku mengikuti pelajaran di sekolah. Di jam istirahat atau di jam kosong, aku meluangkan waktu untuk mengecek laporan yang dikirim oleh asistenku. Jika di jam istirahat aku nggak sempat mengecek laporan, aku mengeceknya setelah jam pelajaran usai atau setelah tiba di rumah."
"Tapi setelah kita menikah, kenapa aku tidak pernah melihat Mas Andrea bekerja?"
Andrea terkekeh dan menoel hidung mancung Cantika. "Itu karena, aku terlalu pandai mencuri waktu dan Sayang nggak pernah mengecek kedua barang kesayanganku, handphone dan laptop."
"Cerdas kamu, Mas --"
Ucapan Cantika terpangkas kala terdengar suara bariton yang teramat familier dan sukses mengalihkan atensi.
Sontak, Andrea dan Cantika menoleh ke arah si pemilik suara yang tengah berdiri tepat di belakang mereka.
Speechless
Cantika terkesiap (sangat terkejut) dan tak mampu mengucap sepatah kata pun tatkala mendapati si pemilik suara yang tidak asing dan pernah bertahta di hatinya.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksana-lah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku' 😘🙏