
Happy reading 😘😘😘
Di saat Andrea dan Juno tengah asyik bermonolog di dalam hati, Nofia berteriak sambil melompat ke atas meja.
Rupanya, Nofia dihampiri oleh seekor kodok hijau yang tiba-tiba muncul bersamaan dengan kedatangan seseorang.
"Fia --" teriak orang itu yang tak lain adalah Jaenal seiring tangannya merengkuh tubuh Nofia yang hampir limbung.
Nofia kembali berteriak dan refleks melingkarkan tangannya di leher Jaenal.
Suasana sejenak hening, hanya terdengar deru nafas diiringi degup jantung yang terdengar bertalu-talu saat sepasang jendela hati Nofia dan Jaenal saling bertaut.
"Ehem." Deheman Andrea memecah hening dan menyadarkan kedua insan dari mode terpaku.
"Turunin aku!" pinta Nofia pada Jaenal--lelaki yang telah meno-dai kesucian bibirnya.
Jaenal pun menuruti permintaan Nofia. Dengan sangat hati-hati ia menurunkan Nofia tanpa memutus pandangan netranya dari wajah cantik sang bidadari hati, sehingga membuat Nofia gugup setengah mati.
"Fi, maafin aku!" Jaenal meraih tangan Nofia dan membawanya ke dalam genggaman.
Seketika Nofia memalingkan wajah dan mengibaskan tangan Jaenal, hingga genggaman tangan Jaenal terlepas. "Pergi! Aku nggak mau melihatmu lagi."
"Aku nggak akan pergi sebelum kamu memaafkan aku, Fi --"
"Asal kamu tau, sampai kapan pun aku nggak bakal maafin kamu. Kamu sudah lancang meno-dai bibirku, Jae. Kamu sudah merusak kesucian yang selama ini aku jaga dan hanya ingin aku persembahkan untuk suamiku kelak."
"Maaf, Fi. Aku benar-benar khilaf. Kalau kamu nggak mau memberi maaf, aku akan menebus kesalahanku itu dengan menjadikan kamu istriku."
"Hah, menjadikanku istrimu? Jangan mimpi! Aku nggak sudi menjadi istrimu."
"Aku akan berjuang untuk meluluhkan hatimu, sampai kamu sudi menjadi istriku, Fi. Aku ingin menjadi lelaki yang berhak mengecup bibirmu dan mendekapmu erat."
"Berjuanglah sampai rambutmu memutih semua dan hatimu lelah menanti! Aku yakin, kamu nggak bakal bisa meluluhkan hatiku, apalagi menjadikanku istrimu," ujar Nofia dengan kepercayaan diri tingkat Dewi seraya membalas ucapan Jaenal. Ia terlupa pada Sang Penulis Skenario Kehidupan yang bisa saja menghendakinya berjodoh dengan Jaenal.
"Fi, gue haus. Ada air kaga?" Andrea menginterupsi, sehingga percakapan antara Nofia dan Jaenal terpangkas.
"Ada, bentar aku ambilin, Prab."
"Yo'i. Jangan lama-lama! Ada yang mo gue omongin ama lu berdua," balas Andrea sembari mendaratkan bobot tubuhnya di kursi kayu yang berada di teras rumah Nofia.
"Lu berdua? Maksudmu, aku sama siapa?" Nofia bertanya heran diikuti tautan kedua pangkal alisnya.
"Lu ama laki lu, Jaenal."
"Heh, asal kamu tau ya, Prab! Jaenal bukan cowo-ku. Emoh aku punya cowo yang suka nyo-sor kaya' dia."
"Fi, semua laki itu demen banget nyo-sor --"
"Termasuk kamu," sahut Nofia--memangkas ucapan Andrea.
"Yap. Gue akui. Gue juga demen nyo-sor. Tapi gue cuma demen nyo-sor Cantika, bukan yang laen."
"Belum halal tapi sudah berani mencuri kesempatan dalam kesempitan," sambungnya dengan meninggikan intonasi suara seraya meluapkan emosi yang memenuhi ruang kalbu.
"Jujur, gue penasaran banget. Gimana ceritanya Jaenal bisa nyosor lu, Fi?" Andrea melontarkan tanya dan memasang raut wajah serius. Ia benar-benar ingin tahu, bagaimana Jaenal bisa mencuri ci-uman pertama di bibir Nofia.
"Nanti aku ceritain, Prab. Bentar, aku buatin minum dulu."
"Ogeh."
Nofia lantas masuk ke dalam rumah, lalu berjalan menuju dapur untuk membuat minuman.
Sebenarnya Jaenal berkeinginan untuk menyusul Nofia. Namun ia urungkan karena di tempat itu ada Andrea dan Juno, yang mungkin saja bersiap menghajarnya jika ia nekat menyusul Nofia masuk ke dalam rumah.
Tidak lebih dari lima menit, Nofia kembali dengan membawa nampan berisi empat cangkir lemon tea. Kemudian ia menaruh nampan yang dibawanya itu di atas meja dan mempersilahkan ketiga tamunya untuk meminum lemon tea buatannya.
"Jae, cangkirmu yang ini!" ujar Nofia bernada ketus sembari menunjuk cangkir berwarna putih dengan gerakan dagunya.
"Makasih, Fi." Tanpa ragu, Jaenal mengambil cangkir berwarna putih yang ditunjuk oleh Nofia, lalu meneguk lemon tea buatan bidadari hatinya itu.
"Gue ama Juno yang mana, Fi?" tanya Andrea.
"Buat kalian, cangkir yang berwarna krem," jawab Nofia dengan nada suaranya yang terdengar lembut diiringi senyuman yang teramat manis.
Andrea dan Juno lantas mengambil cangkir berwarna krem, lalu meneguk lemon tea buatan Nofia--sahabat mereka.
Nofia ternganga saat mendapati Jaenal menandaskan lemon tea yang sengaja diberinya garam. Ia tidak menyangka, Jaenal bakal menandaskan minuman itu tanpa memperlihatkan ekspresi yang ia harapkan.
"Eng, enak nggak lemon tea-nya, Jae?" Nofia bertanya pada Jaenal dengan melirihkan suara sambil menggigit bibir bawahnya.
"Enak. Enak banget. Lebih tepatnya, segar. Rasa minuman ini menandakan si pembuatnya ingin segera ka-win," jawab Jaenal disertai sebaris senyum yang menambah nilai kegantengannya.
Nofia bergeming dan sejenak terpaku. Ditatapnya wajah Jaenal tanpa berkedip.
Meski Nofia teramat membenci Jaenal. Namun ia tidak bisa menafikan kegantengan seorang Jaenal yang teramat memesona.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksana lah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih dan love-love sekebon 😘🙏