Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Rencana Ke Depan



Happy reading 😘😘😘


Setelah menunaikan ibadah sholat subuh, Andrea dan Cantika membaur dengan Hafidz, Khabibah, Najwa, dan Asih yang sudah menunggu mereka sedari tadi di ruang makan untuk sarapan bersama.


Ritual sarapan dimulai dengan melafazkan doa. Mereka menikmati rezeki yang diberikan oleh Sang Maha Kasih tanpa berbincang, sehingga suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.


Setengah jam telah berlalu. Hidangan yang tersaji di atas meja tandas tak bersisa.


Seusai sarapan, Hafidz meminta waktu pada Andrea dan Cantika untuk berbincang di taman. Andrea dan Cantika pun menyanggupi dengan senang hati.


Hafidz, Khabibah, Andrea, dan Cantika lantas membawa langkah mereka menuju taman. Sementara Najwa membantu Asih mencuci piring dan peralatan dapur lainnnya.


"Neng Najwa --" Asih mengalihkan atensi Najwa yang tengah asyik menata piring dengan menoel lengan wanita itu.


"Ada apa, Bi?" Najwa menoleh ke arah Asih dan sejenak menghentikan aktivitasnya menata piring.


"Anu, Neng. Mas Andrea meskipun masih bocah, tapi tenaganya kuat ya. Dari semalam sampai pagi minta jatah terus. Untung Neng Cantika-nya bisa mengimbangi. Kalau tidak, mungkin Neng Cantika bisa pingsan karena kelelahan," celoteh Asih seraya menjawab tanya dan membuat Najwa menggeleng-geleng kepala.


"Dari mana Bi Asih bisa tahu, Andrea minta jatah terus dari semalam? Saya curiga, jangan-jangan Bi Asih mengintip mereka," tukas Najwa dan disanggah oleh Asih.


"Bi Asih tidak mengintip, Neng. Cuma semalam, Bi Asih mendengar teriakan Neng Cantika. Sepertinya Neng Cantika kesakitan banget. Tapi lama-lama teriakan Neng Cantika berubah menjadi nada-nada merdu --"


"Saya heran, bagaimana Bi Asih bisa mendengar teriakan Cantika, sementara kamar Bi Asih berada di bawah." Najwa memangkas ucapan Asih.


"Eng, itu karena Bi Asih tidak sengaja mendengarnya. Kebetulan Bi Asih lewat di depan kamar Neng Cantika setelah mengantar surat dari Nyai Dosen untuk Ummi Khabibah di kamar beliau."


"Kebetulan lewat atau sengaja menguping, Bi?"


Asih tersenyum nyengir sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Eng, anu. Karena mendengar teriakan Neng Cantika, jiwa kepo Bi Asih meronta-ronta, Neng. Bibi penasaran banget, pingin tahu apa yang terjadi sama Neng Cantika. Tapi sayangnya Bi Asih tidak bisa mengintip dan cuma bisa menguping. Eh malah Bi Asih dibuat gigit jari. Malamnya mendengar teriakan dan nada-nada merdu, paginya nunggu balasan salam tapi lama tidak dibales-bales. Bi Asih yakin, subuh tadi Mas Andrea dan Neng Cantika melanjutkan ritual semalam. Penganten baru memang seperti itu ya, Neng? Maunya ngadon terus. Bikin para jomblo nganan dan pingin segera nikah."


"Sudah gibahnya, Bi! Nanti pekerjaan kita tidak selesai-selesai. Sebentar lagi saya harus berangkat menemui Ustaz Syams dan para santri di pondok."


"Wahhh, Ustaz yang gantengnya se Indonesia raya itu, Neng? Yang sering nongol di TV? Temannya Ustaz Mirza, mantan suami Neng Najwa?"


Najwa mengangguk pelan dan tersenyum tipis. "Iya, Bi," jawabnya singkat.


"Kalau saya jadi Neng Najwa, saya bakal move on dari Ustaz Mirza dan membuka hati untuk Ustaz Syams. Ustaz Syams itu nggak kalah ganteng loh sama Ustadz Mirza, Neng."


"Sayangnya, saya galmove, Bi. Gagal move on dari Ustaz Mirza. Tidak mudah bagi saya untuk berpindah ke lain hati. Biarlah saya mempertaruhkan cinta di atas takdir. Jika memang Ustaz Mirza bukan jodoh saya, saya tidak berkeinginan untuk menikah lagi."


"Bi Asih jadi sedih setiap Neng Najwa bilang tidak berkeinginan untuk menikah lagi."


"Bukan hanya Bi Asih, saya pun sebenarnya juga sedih, Bi. Hati saya sudah terlanjur tertaut pada Ustaz Mirza. Saya terjerat cinta yang sulit untuk saya rengkuh," ucap Najwa dengan suaranya yang terdengar lirih disertai raut wajah sendu dan membuat netra Asih terbingkai embun.


"Sabar dan tabah ya, Neng! Yang kuat!" Asih mengulurkan tangan dan membawa Najwa ke dalam pelukan. Najwa pun membalas pelukan Asih.


Kedua wanita berbeda generasi itu berpeluk diiringi isak tangis.


Kita tinggalkan Asih dan Najwa yang sedang berpeluk. Lantas mengintip Hafiz, Khabibah, Andrea, dan Cantika yang tengah berbincang di taman.


"Nak Andrea, sebenarnya ada yang ingin Abah dan Ummi bicarakan dengan kalian berdua." Hafidz membuka perbincangan.


"Begini, Nak Andrea dan putri abah--Cantika. Sebenarnya Abah dan Ummi ingin mengetahui rencana kalian ke depan. Maksud Abah, kalian ingin tinggal di mana? Lantas bagaimana Nak Andrea akan menafkahi putri Abah dan Ummi, sementara Nak Andrea masih SMA dan mungkin belum mempunyai pekerjaan? Terus terang, Abah dan Ummi sungguh tidak keberatan seandainya Nak Andrea dan Cantika ingin tinggal di rumah ini bersama kami. Bahkan kami malah teramat senang," tutur Hafidz.


Andrea dan Cantika saling melempar tatap. Keduanya terlupa untuk berbincang mengenai rencana mereka ke depannya. Tentang di mana mereka akan tinggal dan bagaimana Andrea akan memberi nafkah lahir pada Cantika.


Suasana sejenak hening. Hanya terdengar helaan nafas diiringi hembusan sang bayu dan suara merdu burung-burung yang bertengger di ranting pohon.


"Abah dan Ummi tidak perlu khawatir. Saya sudah menyiapkan rumah kontrakan untuk tempat tinggal kami. Meski saya masih SMA, saya sudah memiliki pekerjaan tetap. Insya Allah saya sanggup menafkahi Cantika," ucap Andrea memecah hening.


Hafidz mengulas senyum dan kembali membuka suara. "Sebagai orang tua Cantika, bolehkah kami mengetahui pekerjaan Nak Andrea?"


"Tentu saja boleh, Bah."


"Lantas, apa pekerjaan Nak Andrea saat ini?"


"Saya hanya bekerja sebagai seorang kurir dan driver GO-Success, Bah. Jika liburan sekolah tiba, terkadang saya juga bekerja sebagai buruh bangunan." Andrea menjawab dengan mantap dan tanpa ragu. Ia tidak ragu sedikit pun membeberkan pekerjaannya. Ia juga tidak malu sebab pekerjaan yang digelutinya adalah pekerjaan yang halal.


Hafidz, Khabibah, dan Cantika terkesiap. Mereka sungguh tidak menyangka, putra bungsu dari seorang pengusaha kaya raya dan pemilik yayasan ternama, tidak malu bekerja sebagai seorang kurir, driver ojek online, ataupun sebagai buruh bangunan. Bahkan menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh ayahnya sendiri--menggantikan posisi Dafa sebagai seorang CEO.


Tetaplah rendah hati walau keadaan di sekitarmu mengizinkan untuk bertinggi hati. Sebab rendah hati akan membuatmu naik tanpa perlu bicara dan tanpa perlu membuktikan apapun.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan


Terima kasih teruntuk Kakak-kakak yang telah memberikan gift dan dukungan untuk author. Semoga kebaikan Kakak-kakak terkasih, mendapat balasan berupa keberkahan dan rezeki yang berlipat dari Allah SWT, aamiin allohumma aamin. 😇🙏


Sambil menunggu UP selanjutnya, yuk mampir ke karya author yang berjudul 'Istri Comel Pilihan Abi'. Kakak-kakak juga bisa mendengar audio book-nya yang dibawakan oleh sahabat author, Na_Sari.



Sinobsis:


Abimana terpaksa menelan kenyataan pahit kala takdir cinta tak memihak padanya. Alya, sang kekasih yang kini menjadi milik sahabat dekatnya hanya akan menjadi kenangan bagi seorang Abimana. Kasih tak sampai, ya itulah kata yang tepat untuk pemuda tampan bermata teduh.


Abimana berusaha bangkit dari kedukaan karena pupusnya cinta pertama, dengan keikhlasan menerima takdir cinta yang telah tergores dalam lembaran kitab-Nya.


Ayunda Kirana, sahabat Abimana yang memiliki karakter unik, ternyata mampu memberikan rasa nyaman pada pria bermata teduh itu. Mereka pun berusaha untuk saling menautkan hati, dalam ikatan cinta yang halal.


Akankah cinta mereka berdua berakhir bahagia?? Ikuti kisahnya .... ❤❤❤