Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Cerita Nofia



Happy reading 😘😘😘


Malam itu Nofia datang sendiri ke rumah Jaenal untuk menghadiri acara ulang tahunnya. Sesampainya di rumah Jaenal, Nofia diperkenalkan oleh Jaenal pada kedua orang tuanya. Jaenal mengatakan bahwa Nofia adalah kekasihnya.


Sebenarnya Nofia ingin sekali menyangkal ucapan Jaenal. Namun entah mengapa bibir Nofia terasa sulit untuk berucap.


Nofia tidak tega mengatakan bahwa dia bukan kekasih Jaenal pada ayah dan bunda Jaenal. Nofia takut mengecewakan kedua paruh baya itu dan tidak ingin merusak kebahagiaan yang tengah tercipta.


Setelah acara ulang tahun Jaenal usai, ayah dan bunda Jaenal meminta putra semata wayang mereka itu untuk mengantar Nofia sampai ke rumah.


Jaenal pun menuruti permintaan kedua orang tuanya meski Nofia sempat menolak. Bagi Jaenal, permintaan ayah dan bundanya merupakan kesempatan emas untuk mendapatkan hati bidadari hatinya.


Selama berada di perjalanan, Nofia memejamkan sepasang netra indahnya dan menyandarkan kepalanya pada headrest. Jaenal meyakini gadis yang teramat dicintainya itu tengah terlelap.


Ketika melewati jalanan yang teramat sepi, Jaenal menepikan mobilnya dan mematikan mesin kendaraan besinya itu.


Sesaat, ditatapnya bibir ranum Nofia yang teramat indah, lalu diusapnya dengan jemari tangan.


Jaenal tak mampu menahan hasra* untuk mencicipi bibir ranum Nofia. Ia pun lantas memberanikan diri untuk mencuri kecupan.


Nofia yang tengah terlelap tidak merespon kecupan pertama yang dilabuhkan oleh Jaenal. Begitu pun kecupan yang kedua.


Namun di saat Jaenal melabuhkan kecupan yang ketiga, Nofia meresponnya.


Dengan mata yang masih terpejam, Nofia melingkarkan tangannya di leher Jaenal, lalu membalas kecupan yang dilabuhkan oleh lelaki itu, sehingga bibir mereka saling berpagut.


Jaenal teramat girang saat Nofia membalas kecupan. Ia pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan oleh Sang Penulis Skenario kisah ini kepadanya.


Jaenal lantas memperdalam ciu-man dengan mendorong tengkuk Nofia dan mengabadikan momen indah itu dengan kamera ponselnya.


Selama enam puluh detik bibir Jaenal dan Nofia saling berpagut. Keduanya tampak menikmati pertukaran saliva yang membuat candu.


Detik berikutnya, sepasang netra indah Nofia terbuka perlahan. Ia terkesiap saat tersadar bahwa yang menciumnya bukan aktor korea Jeon Jungkook, melainkan Jeon Nal bin Jae.


Rupanya saat Jaenal melabuhkan kecupan di bibirnya, Nofia tengah bermimpi beradegan mesra dengan Jeon Jungkook. Keduanya saling memagutkan bibir di bawah naungan sinar Sang Dewi Malam dan ditemani keindahan bunga sakura.


Sontak, Nofia melepas pagutan bibir mereka dan mendorong tubuh Jaenal hingga punggung Jaenal membentur pintu mobil.


"Kau --" Nofia mengepalkan tangan dan melayangkan tatapan nyalang. Ia teramat marah pada Jaenal yang telah lancang mencuri kecupan, sehingga bibirnya terno-da.


Nofia tidak hanya marah pada Jaenal. Namun ia juga marah pada dirinya sendiri dan teramat malu, sebab ia membalas kecupan yang dilabuhkan oleh Jaenal dan menikmati pertukaran saliva yang mereka lakukan, meski dalam keadaan tidak sadar dan tengah terbuai mimpi indah bersama Jeon Jungkook.


"Fi, aku --"


"Aku membencimu, Jae. Sangat membencimu. Kau tega meno-dai kesucian bibirku." Nofia memangkas ucapan Jaenal. Ia terisak dan memukul-mukul dada Jaenal--lelaki yang saat ini teramat dibencinya.


"Fi, maafin aku. Aku khilaf." Jaenal merengkuh tubuh Nofia, lalu membawanya ke dalam pelukan.


"Aku benci kamu, Jae. Aku benci," lirih Nofia sembari membenamkan wajahnya di dada bidang Jaenal.


"Fi, tenangkan dirimu! Jangan benci aku! Aku benar-benar khilaf. Aku tidak bisa menahan diri saat melihat bibir ranum-mu," bisik Jaenal sambil mengeratkan pelukan. Ia berusaha menenangkan Nofia dengan melabuhkan kecupan di pucuk kepalanya.


Bukannya merasa tenang, Nofia malah semakin mengeraskan tangisnya dan kembali mendorong tubuh Jaenal.


"Buka pintunya dan turunkan aku di sini!" pinta Nofia dengan meninggikan intonasi suara.


"Tapi, Fi --"


"Buka pintunya dan turunkan aku di sini! Atau aku terpaksa memecah kaca mobilmu dengan tanganku, lalu keluar dari jendela?"


"Fi, dengarkan aku! Aku akan mengantarmu sampai rumah. Aku nggak bakal menurunkan kamu di tempat sesepi ini, karena di sini rawan kejahatan. Aku nggak ingin kamu diganggu oleh lelaki kurang ajar yang mungkin akan meno-daimu," tutur Jaenal dengan melirihkan suara seraya membujuk Nofia.


"Hah, kaulah lelaki kurang ajar yang telah lancang meno-daiku. Meno-dai bibirku. Kau merusak kesucianku, Jae! Buka pintunya sekarang! Cepat buka! Aku nggak sudi berdekatan dengan lelaki lucnut sepertimu."


Jaenal menghela nafas panjang. Ia terpaksa membuka pintu dan membiarkan Nofia turun dari mobilnya.


Setelah turun dari mobil, Nofia menyuruh Jaenal untuk pergi meninggalkannya.


Dengan berat hati, Jaenal kembali melajukan mobilnya dan meninggalkan Nofia.


Entah kebetulan atau kehendak Sang Penulis Skenario, Juno melintas di jalan itu dan mendapati Nofia tengah menangis.


Ia pun bergegas menepikan kuda besinya, lalu berjalan menghampiri Nofia.


"Fi, kenapa lu ada di mari? Kenapa lu nangis? Apa yang udah terjadi ama lu?" Juno menghujani Nofia dengan kalimat tanya seiring tangannya mencengkram lembut bahu Nofia.


"Jun, a-aku ... a-aku terno-da."


"Apa? Lu terno-da?"


"Iya, Jun. Aku terno-da."


"Brengse*! Siapa yang udah meno-dai lu? Siapa yang udah ngerusak kesucian lu? Jawab, Fi! Biar gue cincang burung parkitnya." Juno teramat murka.


Saat itu, Juno ingin sekali meluapkan kemurkaannya dengan menghukum orang yang telah meno-dai Nofia.


Seusai bercerita pada Andrea dan Juno, Nofia terisak dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia teramat marah sekaligus malu kala teringat kejadian semalam--saat Jaenal meno-dai bibirnya.


"Emang bener-bener brengse* tuch si Jaelangkung. Tapi dia udah nerima balasannya, Fi. Jadi lu kaga usah sedih lagi! Lain kali, lu mesti hati-hati sama Jaenal! Biar kaga dimodusin lagi ama ntu orang," tutur Andrea sembari menepuk pelan bahu Nofia.


Nofia menanggapi ucapan Andrea dengan mengangguk pelan. Lalu ia mengusap wajahnya yang basah dengan jemari tangan.


"Fi, gue ama Juno balek ke yayasan dulu ya. Gue mo jemput Cantika, terus nganter doi ke rumah sakit."


"Bu Cantika sakit apa, Prab?"


"Cantika kaga sakit. Bini gue ntu hamil."


"Apa, Bu Cantika hamil?"


"Yo'i."


Wajah Nofia yang semula sendu, kini terhias binar bahagia saat Andrea mengatakan bahwa istrinya tengah hamil. Sebagai seorang sahabat, Nofia turut berbahagia.


"Selamat ya, Prab. Nggak nyangka, bocah sepertimu sebentar lagi bakal mempunyai bocil," ucap Nofia diiringi sebaris senyum.


"Makasih, Fi."


"Iya, Prab. Dah sana, buruan kembali ke yayasan!"


"Ogeh. Mendingan lu buruan masuk ke rumah, Fi! Jangan buka pintu kalo yang ngetok pintu rumah lu si Jaelangkung!"


"Iya, Prab."


Setelah mengucap salam, Andrea dan Juno menunggangi kuda besi mereka masing-masing, lalu melajukannya.


Selepas kedua sahabatnya pergi, Nofia segera masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu.


Nofia berharap, Jaenal tidak kembali lagi ke rumahnya, karena saat ini ia tengah berada di rumah seorang diri. Nofia takut, Jaenal akan kembali berbuat nekat. Bahkan mungkin semakin nekat. Bukan hanya meno-dai bibirnya. Namun meno-dai bagian tubuhnya yang lain.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


UP nya pelan-pelan ya, Kak. Karena authornya bukan hanya fokus di dunia halu. Namun juga di RL. 🙏


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksana-lah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan


Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku' 😘🙏