Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Mengapa Sesakit Ini?



Happy reading 😘😘😘


Selama setengah jam, Andrea dengan setia menemani Cantika yang tengah diperiksa oleh Khanza--salah seorang dokter obgyn yang terkenal di kota ini sekaligus istri pemilik perusahaan Go-Success, Rangga Aditya Fairuz.


Khanza menyarankan agar Andrea dan Cantika menunda untuk berhubungan badan terlebih dahulu, sebab usia kehamilan Cantika saat ini merupakan trimester awal kehamilan, di mana janin dan plasenta masih berkembang.


Namun jika Andrea dan Cantika tetap ingin berhubungan badan, Khanza menuturkan bahwa itu tidak masalah selama mereka melakukannya dengan posisi yang aman, sehingga tidak beresiko ataupun menyakiti bunda yang sedang hamil muda dan janin yang dikandung.


"Dok, tolong jelaskan pada kami posisi yang aman tersebut," pinta Andrea seraya menyela ucapan Khanza. Ia sungguh ingin tahu, posisi yang aman untuk berhubungan badan ataupun melakukan penyatuan cinta tanpa menyakiti Cantika dan calon buah hati mereka.


Khanza mengulas senyum. Kemudian ia menjelaskan pada Andrea dan Cantika mengenai posisi yang aman untuk berhubungan badan bagi wanita yang tengah hamil muda.


"Posisi yang aman bagi seorang wanita yang sedang hamil muda dua diantaranya adalah Side By Side dan Side Saddle. Side By Side adalah posisi yang memungkinkan Bunda dan suami berbaring di atas ranjang dengan saling memandang. Berhubungan badan dengan posisi ini dapat menambah keinti-man dan perasaan cinta. Pene-tras* yang bisa dilakukan tidak terlalu dalam, sehingga Bunda tidak perlu khawatir janin akan terganggu. Selain itu, posisi side by side membuat Bunda yang sedang hamil muda tidak memerlukan energi berlebihan saat melakukan hubungan in-tim." Khanza menjeda sejenak ucapannya, lalu menatap Andrea dan Cantika secara bergantian.


Ketika tatapannya tertuju pada Andrea, ingin rasanya ia mengudarakan tawa. Sebab suami Cantika itu masih terlihat sangat bocah. Terbayang olehnya jika Andrea menggendong dan merawat seorang bayi, pasti akan terlihat lucu dan menggelikan.


"Ehem." Khanza berdehem dan mengalihkan fokusnya dari Andrea.


"Posisi yang kedua adalah posisi Side Saddle. Jika Bunda dan suami ingin berhubungan badan dengan posisi ini, pastikan Bunda berbaring dan rileks, biarkan suami yang akan melakukan semua pekerjaan. Bebaskan suami Bunda untuk merang-san* sumber asi dan bagian tubuh Bunda yang paling sensitif. Dengan posisi seperti ini, pene-tras* yang bisa dilakukan juga tidak terlalu dalam," lanjutnya diiringi sebaris senyum.


"Jadi itu tadi dua posisi yang aman untuk berhubungan badan ataupun melakukan penyatuan cinta tanpa menyakiti Bunda yang tengah hamil muda dan janin yang dikandung. Mungkin, ada yang ingin ditanyakan lagi?"


"Ada, Dok," sahut Andrea seraya menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Khanza.


"Apa yang ingin Anda tanyakan, Pak Andrea?"


Andrea berusaha menahan tawa dengan mengulum bibir saat Khanza--dokter obgyn sekaligus istri pemilik perusahaan tempat ia bekerja memanggilnya 'Pak Andrea'. Padahal setiap kali bertemu di luar rumah sakit, Khanza selalu memanggilnya 'Otong'.


"Dok, apa yang dimaksud dengan penetra-s*?" tanya Andrea kemudian.


"Mas, kamu benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud penetra-s*?" Cantika berbisik dan menyikut pelan perut Andrea. Ia teramat malu pada Khanza saat Andrea bertanya tentang sesuatu yang menurutnya tabu.


"Iya, Yang. Aku benar-benar nggak tau."


"Ehem." Khanza sengaja berdehem untuk mengalihkan atensi Andrea dan Cantika, sehingga sepasang suami istri yang tengah saling berbisik itu kembali memperhatikan dirinya.


"Yang dimaksud dengan penetra-s* adalah memasukan senjata pamungkas pria ke dalam lubang kenikmatan milik wanita," terang Khanza seraya menjelaskan arti dari kata 'penetra-s*' pada Andrea dan Cantika tanpa terlupa mengiringinya dengan senyuman.


"Mungkin ada lagi yang ingin ditanyakan?"


"Tidak, Dok. Kami sudah sangat faham." Cantika buru-buru menyahut kalimat tanya yang dilontarkan oleh Khanza agar Andrea tidak kembali bertanya.


Setelah menerima resep dari Khanza, Cantika mengucap kata terima kasih yang ia tujukan pada Khanza seiring tangannya terulur untuk menjabat tangan dokter berparas cantik itu. Khanza pun menyambut uluran tangan Cantika dan membalas ucapan terima kasih yang dilisankan oleh Cantika.


"Pak Andrea, selalu jaga dan motivasi istri Anda selama masa kehamilan! Hindari pikiran yang membuat Bunda Cantika stres!" tutur Khanza.


"Iya, Dok. Saya akan selalu menjaga dan memotivasi istri saya." Andrea membalas ucapan Khanza, lantas membawa tubuhnya berdiri diikuti oleh Cantika dan Khanza.


Seusai mengucap salam, Andrea dan Cantika berlalu dari hadapan Khanza. Keduanya mengayun langkah--menapaki lorong rumah sakit dengan saling menautkan tangan dan berbincang.


"Yang, aku sudah tidak sabar untuk memberitahu Ayah dan Bunda. Pasti mereka berdua akan sangat bahagia jika mengetahui kehamilanmu."


"Iya, Mas. Aku juga sudah tidak sabar untuk memberitahu Abah, Ummi, dan Kak Najwa," sahut Cantika.


Di saat mereka tengah asyik berbincang, atensi Andrea teralihkan oleh getaran gawai yang ia simpan di dalam saku celana.


Andrea bergegas mengambil gawainya dan membaca nama yang tertera di layar benda pipih itu. Rupanya ada panggilan telepon dari Dafa.


"Telepon dari siapa, Mas?" tanya Cantika. Ia heran, kenapa Andrea tidak langsung menerima panggilan telepon tersebut.


"Dari Bang Dafa, Yang. Aku boleh menerimanya?"


Cantika mengulas senyum dan mengerjapkan netra. "Tentu saja boleh, Mas. Terimalah!"


"Makasih, Yang."


"Hehem."


Andrea lantas menggeser layar gawai dan menerima panggilan telepon dari Dafa.


"Hallo, assalamualaikum, Bang --"


"Wa'alaikumsalam, Ndre. Gimana, kamu sudah menemukan Cantika?"


"Alhamdulillah sudah dari tadi, Bang."


"Alhamdulillah ya Allah. Kenapa nggak langsung ngabari Abang? Dari tadi Abang telepon juga nggak diangkat."


"Maaf, Bang."


"Maaf, maaf. Kamu tahu nggak sih, Ayah, Bunda, Kak Sari, Mita, dan semua rekan Cantika sangat khawatir. Mereka mengira Cantika sengaja menghilang karena --" Dafa menggantung ucapannya.


"Karena apa, Bang?"


"Karena Cantika nggak ingin bertemu dengan Abang," lirih Dafa.


"Kaga, Bang. Abang juga kaga usah berpikiran kaya' gitu! Tadi, Cantika cuma ke mushola. Doi kaga ada niat menghilang."


"Syukurlah, Ndre. Sampaikan permintaan maaf Abang pada Cantika --"


"Ogeh, Bang. Nanti malem, gue mo ngadain tasyakuran di rumah. Lu dateng ya, Bang!"


"Tasyakuran?"


"Iya, Bang. Alhamdulillah, Cantika hamil. Makanya, gue mo ngadain tasyakuran sekalian ngasih tau kabar bahagia ini ke keluarga kita."


Deg ....


Aliran Darah Dafa seolah terhenti saat ia mendengar perkataan Andrea mengenai kehamilan Cantika. Segumpal daging yang bersemayam di dalam dadanya terasa sangat nyeri bagai dihujam ribuan anak panah.


Meski Dafa sudah berusaha merelakan Cantika untuk Andrea, tetapi hatinya yang masih menyimpan setitik rasa cinta terasa berat untuk menerima kenyataan.


Allah, mengapa sesakit ini? Dafa meluruhkan tubuh dan menekan dadanya. Ia berharap, sakit yang ia rasa saat ini segera terhempas.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Alhamdulillah, atas doa dan dukungan dari kakak-kakak pembaca serta bantuan dari editor NT dan para sahabat, novel plagiat yang ada di apk F sudah dihapus.


Mohon doanya, semoga Allah memberi keridhoan dan kemudahan sehingga saya bisa melanjutkan kisah 'Muridku, Imamku' sampai benar-benar end.


Terima kasih dan banyak cinta untuk kakak-kakak terkasih 😘🙏