Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Menagih Cilok



Happy reading 😘😘😘


Mirza mulai menyampaikan tausiyah dengan pembawaannya yang khas, santai dan mampu memikat semua orang yang mendengarnya.


Setiap rangkaian kata yang ia tuturkan terdengar jelas dan tidak membosankan, sehingga semua orang yang berada di ruangan itu merasa tertarik dan betah berlama-lama mendengar tausiyah yang disampaikan olehnya.


Di saat Mirza tengah menyampaikan tausiyah, Najwa masih setia dalam tangisnya. Ia ditemani oleh Cantika yang sedari tadi berusaha membesarkan hati dan menenangkan jiwanya.


Air bening kian mengalir deras dari kedua sudut netra tatkala Najwa teringat masa yang telah lalu. Masa di saat dirinya dan Mirza menyatukan cinta mereka dengan pernikahan siri.


Najwa dan Mirza terpaksa menikah siri sebab pada waktu itu Mirza harus segera berangkat ke Kairo untuk menunaikan amanah dari abahnya. Sementara ia sendiri tidak tenang jika meninggalkan Najwa tanpa mengikatnya dengan tautan cinta yang halal.


Dua hari sebelum terbang ke Kairo, Mirza menikahi Najwa secara siri dengan meminta persetujuan dari orang tuanya dan orang tua Najwa.


Mirza berjanji, setelah kembali dari Kairo, ia akan segera meresmikan pernikahan mereka, sehingga status pernikahan mereka berdua sah di mata agama dan negara.


Selama terpisah jarak dan waktu, Mirza dan Najwa saling menjaga kesetiaan.


Mirza fokus menunaikan amanah dari sang abah untuk menyelamatkan perusahaan tempe milik keluarganya yang hampir bangkrut karena kecurangan salah seorang karyawan yang semula dipercaya untuk mengelola perusahaan tersebut. Sementara Najwa fokus dengan study-nya di bangku kuliah. Meski demikian mereka selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan berbagi keluh kesah melalui virtual.


Setelah lulus kuliah, Najwa bekerja sebagai seorang guru di Yayasan Nusa Bangsa.


Meski banyak pemuda yang berniat untuk merebut hatinya, Najwa tetap teguh menjaga hati dan kesetiaan untuk satu cinta. Bertahun-tahun ia rela didera perasaan rindu. Bertahun-tahun pula ia berusaha untuk sabar menanti kekasih yang dicintainya kembali ke dalam dekapan.


Sayang, hati dan kesetiaan yang dijaga seolah sia-sia. Najwa terpaksa mengakhiri hubungannya dengan Mirza karena penyakit yang ia derita.


Najwa mengidap penyakit kista sehingga ia teramat takut jika tidak bisa memberikan Mirza keturunan.


Setelah memantapkan hati, Najwa meminta Mirza untuk mengakhiri hubungan mereka. Mirza pun bergegas kembali ke Indonesia. Ia menolak permintaan Najwa dan ingin segera meresmikan pernikahan mereka.


Namun Najwa terjebak dalam pemikiran dan ketakutannya. Ia tetap bersikukuh untuk mengakhiri hubungan mereka.


Percekcokan pun selalu menghiasi hari-hari mereka. Mirza bertekad untuk menerima dan mempertahankan Najwa dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Sedangkan Najwa, ia tetap dalam pendiriannya--berpisah dengan Mirza.


Dengan berat hati, Mirza mengabulkan permintaan Najwa. Mengakhiri hubungan mereka dan melepas wanita yang dicintainya itu.


Setelah hubungan mereka berakhir, Mirza dan Najwa merasa tersiksa oleh rasa yang masih merajai kalbu. Rasa yang terlanjur terpatri di dalam hati dan tak akan pernah mati.


Bertahun-tahun, sepasang Adam dan Hawa itu berjuang melawan buncahan rasa dan kerinduan yang senantiasa memeluk erat.


Dan kini, mereka dipertemukan kembali atas kehendak Sang Maha Kasih melalui perantara Andrea dan Cantika.


Andrea dan Cantika berharap, setelah pertemuan malam ini, Mirza dan Najwa berkeinginan untuk kembali. Merajut asa dan mimpi indah bersama dalam tautan cinta yang halal.


"Kak Naj, Kakak boleh saja menangis, tapi menangisnya jangan terus menerus seperti ini! Apa Kak Naj tidak takut jika air mata Kakak menjadi kering?" Cantika tanpa lelah merayu Najwa agar berhenti menangis. Namun Najwa masih saja enggan menghentikan tangisnya.


"Kak, kalau Kak Naj tidak mau berhenti menangis, aku panggilkan Ustaz Mirza dan meminta beliau untuk kembali menikahi Kak Naj." Ancaman yang dilontarkan oleh Cantika sukses membuat Najwa berhenti menangis.


"Jangan! Jangan memanggilnya, Dek!" pinta Najwa sembari menyeka air mata yang membasahi wajahnya dengan jemari tangan, lalu ia beranjak dari posisi duduk.


"Baiklah, aku tidak akan memanggil Ustaz Mirza, Kak. Asal Kakak jangan menangis lagi." Cantika membalas ucapan Najwa diiringi sebaris senyum.


"Oya, acaranya sudah selesai belum, Dek?" Najwa bertanya pada Cantika sambil membenahi jilbabnya yang tampak berantakan.


"Sudah, Kak. Tadi, Abah dan Ummi menghampiri kita sebentar, kemudian pamit untuk kembali ke hotel karena mereka berdua lelah dan ingin segera beristirahat. Abah dan Ummi berpesan supaya Kak Naj menyusul mereka ke hotel. Namun karena sudah larut malam, lebih baik Kak Naj menginap di rumah kami saja."


"Kakak tidak bisa menginap di rumah kalian. Kakak akan menyusul Abah dan Ummi saja, Dek."


"Tapi, Kak --"


"Tidak baik jika Kakak menginap di rumah ini, karena Kakak bisa mengganggu ritual kalian. Jadi, Kakak harus segera menyusul Abah dan Ummi ke hotel."


"Baiklah, Kak. Jika Kak Naj memang ingin menyusul Abah dan Ummi, aku tidak bisa memaksa Kak Naj untuk menginap di rumah kami. Aku akan meminta Mas Andrea untuk mengantar Kak Naj ke hotel."


"Tidak usah, Dek! Kasihan Andrea. Pasti suamimu itu sudah sangat lelah dan tentunya ingin segera beristirahat. Lagi pula, Kakak bisa memesan taxi online."


"Tapi Kak --"


"Sstttt, tidak ada kata tapi. Ayo antar Kakak ke depan!" Najwa memangkas ucapan Cantika dan menggamit lengan adik kesayangannya itu.


Keduanya berjalan beriringan menuju teras rumah yang sudah tampak sepi dan hanya tersisa meja serta kursi tamu yang sudah disusun rapi.


Najwa lantas mengambil gawainya yang ia simpan di dalam tas dan memesan taxi online. Tanpa menunggu lama taxi yang dipesan oleh Najwa pun tiba.


Setelah mengucap salam dan cupka-cupki dengan Cantika, Najwa masuk ke dalam taxi dan memposisikan tubuhnya di jok bagian belakang.


Selepas taxi yang membawa Najwa berlalu pergi, Cantika masuk ke dalam rumah. Kemudian ia menutup pintu dan menguncinya.


Cantika mengedar pandangan ke seluruh ruang, hingga pandangan netranya terbentur pada sosok laki-laki yang tengah berjalan menghampiri. Dan laki-laki itu adalah Andrea, suami berondong-nya.


"Yang, di mana Kak Naj?" tanya Andrea.


"Kak Naj sudah pergi, Mas."


"Pergi ke mana, Yang?"


"Pergi ke hotel. Menyusul Abah dan Ummi."


"Kak Naj diantar siapa, Yang? Ustaz Mirza?"


"Ya bukanlah, Mas. Ustaz Mirza 'kan sudah pulang. Tadi Kak Naj memesan taxi online --"


"Owh, begonoh. Yuk kita ke kamar, Yang! Udah capek nih. Aku mau memeluk guling hidup, trus berlayar ke pulau kasur."


"Yuk, Mas. Kalau aku ingin segera merebahkan tubuh dan melupakan keinginan untuk menikmati cilok kembar hari ini."


Ucapan Cantika sukses menyentil Andrea. Sontak Andrea menepuk jidat dan merutuki dirinya di dalam hati karena terlupa dengan janjinya tadi siang, akan memberi cilok kembar untuk Cantika.


"Ya Allah, aku sampai lupa, Yang. Maaf ya."


"Kamu memang pelupa, Mas." Cantika mencebikkan bibir dan melepas gamitan tangannya. Kemudian mengayun langkah--meninggalkan Andrea.


Andrea tidak tinggal diam. Ia bergegas mengejar Cantika.


HUP


Dengan sekali hentakan Andrea mengangkat tubuh mungil Cantika dan menggendongnya ala bridal style, hingga membuat Cantika terkejut.


"Mas!" Cantika memekik dan refleks melingkarkan tangannya di leher Andrea.


"Jangan ngambek, Yang! Aku bakal memberimu cilok kembar malam ini." Andrea menarik kedua sudut bibirnya dan melabuhkan kecupan singkat di bibir ranum Cantika.


Cantika hanya melongo. Otak cerdasnya masih belum mampu memahami ucapan Andrea yang bermakna ambigu.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terkasih yang masih setia mengawal kisah cinta Andrea dan Cantika--'Muridku, Imamku'. 😘🙏