
Happy reading πππ
Di saat Andrea dan Cantika tengah melantunkan lagu, seseorang menatap mereka dengan tatapan hampa dari balik kaca jendela. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan hawa nafsu, sehingga ia harus rela kehilangan Cantika--wanita saleha yang ingin dijadikannya sebagai pendamping hidup.
Namun sepersekian detik kemudian, orang itu menarik salah satu sudut bibirnya. Ia meyakini, kelak Cantika akan kembali padanya.
Ya, orang itu adalah Dafa. Mantan calon imam Cantika yang kabur di saat akad dan menggagalkan pernikahannya dengan hanya mengirim pesan singkat.
"Ehem." Suara deheman dan tepukan yang berlabuh di bahu mengalihkan atensi. Refleks, Dafa menoleh dan merotasikan manik matanya dengan sempurna.
"Bang Akbar --" ucapnya sedikit tertahan. Dafa sangat terkejut dengan kedatangan Akbar yang tiba-tiba.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Akbar melipat kedua tangan di depan dada dan menatap lekat wajah Dafa--adik iparnya.
"Sa-saya --"
"Dari pada terus-menerus bersembunyi, lebih baik kamu berbaur dengan keluarga kita di taman! Temui Cantika dan minta maaflah pada-nya!"
"Saya belum siap, Bang. Saya akan menemui Cantika dan meminta maaf padanya, jika tubuh saya kembali bugar."
"Terserah kamu, Fa. Tapi ingat, jangan pernah berpikir untuk merebut Cantika dari Andrea! Jangan merusak rumah tangga adikmu sendiri! Andrea sudah banyak berkorban untukmu. Hargai pengorbanannya dan biarkan adikmu itu bahagia!" tutur Akbar seraya menasehati Dafa.
"Saya nggak janji, Bang. Jika takdir cinta kelak berpihak pada saya dan Cantika, apa mau dikata? Andrea harus bersiap dari sekarang."
"Saya yakin, takdir cinta tidak akan berpihak pada orang yang egois dan berkelakuan buruk sepertimu. Cantika berhak bahagia. Sudah sepatutnya ia bersanding dengan seorang imam yang mencintainya karena ketulusan seperti Andrea, bukan karena hawa nafsu ataupun ambisi." Akbar menjeda sejenak ucapannya dan menepuk bahu Dafa.
"Fa, yang seharusnya bersiap dari sekarang bukanlah Andrea, tetapi kamu! Relakan Cantika hidup bahagia bersama Andrea! Bukalah lembaran baru dengan memperbaiki diri! Kembalilah ke Jerman dan berobatlah di sana!"
Dafa tersenyum smirk dan mengibaskan tangan Akbar dari bahunya. "Saya memang akan kembali ke Jerman, Bang. Tapi setelah tubuh saya benar-benar bugar, saya akan menemui Cantika dan memperjuangkan cinta kami. Saya akan merubah takdir cinta agar berpihak pada saya dan Cantika. Saya yakin, bahkan teramat yakin ... hati Cantika masih milik saya," tukas Dafa dengan kepercayaan diri tingkat dewa.
"Dasar manusia egois!" Akbar mengepalkan tangan dan berusaha mengendalikan emosi karena di ruangan itu bukan hanya ada dirinya dan Dafa. Namun ada Ijah dan kedua buah hatinya, Ali dan Alwi.
"Saya menyesal, kenapa waktu itu terpengaruh oleh ancaman Mita sehingga dengan bodohnya menggagalkan pernikahan kami. Seharusnya saya tetap menikahi Cantika tanpa memedulikan resiko ataupun ancaman dari siapa pun. Toh setelah kami menikah, Cantika akan terjerat dan tidak bisa melepas ikatan yang tertaut erat."
"Kau --" Akbar mengangkat tangannya ke udara dan bersiap melayangkan tamparan ke wajah Dafa. Namun ia urung melakukannya dan mengusir Dafa agar segera pergi dari tempat itu.
"Pergi! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapan kami!"
"Saya memang akan pergi, Bang. Tapi ingat, kelak saya akan kembali untuk menjemput Cantika. Dan jika saat itu tiba, saya pastikan Bang Akbar tidak bakal bisa mencegah saya." Dafa kembali tersenyum smirk dan berlalu pergi.
Selepas Dafa pergi, Akbar meraup udara dalam-dalam dan sejenak memejamkan netra, menghempas amarah yang merajai jiwa.
"Abi, kenapa Abi dan Om Dafa bertengkar?" Ali melontarkan tanya dan menarik ujung kemeja yang dikenakan oleh Akbar.
Akbar mengulas senyum dan mengacak pelan rambut putra sulungnya itu. "Abi dan Om Dafa tidak bertengkar, Sayang. Tadi, kami hanya berbincang biasa."
"Tapi, kenapa Abi kelihatan marah banget sama Om Dafa? Om Dafa nakal ya, Bi?"
"Ya, Om Dafa memang agak nakal, Sayang. Jadi, Abi bermaksud menasehatinya."
"Berarti sama seperti Ali, Bi?"
"Beda, Sayang. Lebih baik, kita ke taman sekarang yuk! Pasti, ummi, Om Andrea, dan yang lain sudah menunggu kita." Akbar mengalihkan pembicaraan.
"Hayuk, Bi. Ali sudah tidak sabar ingin bertemu Om Andrea."
"Ali kangen ya sama Om Andrea?"
"Iya, Bi. Kangen banget."
"Baiklah, gas kita ke taman!"
Akbar menggamit tangan Ali lalu mengayun langkah, diikuti oleh Ijah. Wanita paruh baya itu berjalan di belakang Akbar dan Ali sambil menggendong Alwi.
Sesampainya di taman, Ali melepas gamitan tangan sang abi. Kemudian ia berlari menghampiri Andrea sembari berteriak.
Andrea bergegas membawa tubuhnya beranjak dari posisi duduk kala mendengar teriakan Ali. Lalu ia merentangkan tangan dan tersenyum--menyambut Ali yang bersiap menghambur ke pelukannya.
"Om Andrea, Ali kangen," ucap Ali setelah ia berada dalam pelukan Andrea.
"Om juga kangen, Sayang." Andrea membalas ucapan Ali dan menghujani pucuk kepala bocah berusia empat tahun itu dengan kecupan.
"Om, tadi Om Dafa datang --"
"Om, Dafa?" Andrea mengurai pelukan dan menatap lekat manik mata Ali seraya mencari kebenaran yang tersirat.
"Iya, Om. Om Dafa tadi datang, terus pergi lagi. Kata Abi, Om Dafa nakal. Jadi, Abi menasehatinya."
Andrea bergeming. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak tenang tatkala mendengar tentang Dafa.
Bang Dafa sudah kembali. Mungkinkah dia akan meminta Cantika dariku? Jika iya, apa yang harus aku lakukan, Ya Robb? Andrea bermonolog di dalam hati dan menekan dadanya yang terasa nyeri.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Hai Kakak-kakak ter love. Di bab ini author ingin memperkenalkan novel cetak author Ayunda Kirana yang berjudul 'Takdir Cinta Si Janda Desa'.
Jika berkeinginan untuk meminang novel cetak tersebut, Kakak-kakak bisa memesannya via sho-pee. Oya, novel tersebut juga sudah tersedia dalam bentuk e-book.
Yuks, dipinang sekarang. Supaya author Ayunda Kirana termotivasi dan lebih semangat untuk terus berkarya ππ
Takdir Cinta Si Janda Desa
By Ayunda Kirana
Sinopsis:
Nayara Andriana, seorang gadis desa berparas manis, anggun, santun, dan lugu.
Di usianya yang masih sangat belia, Naya terpaksa menikah dengan Satyaβpria yang ia kenal melalui jejaring media sosial.
Bukan kebahagiaan ataupun sakinah, mawadah, warahmah yang ia rengkuh setelah menikah dengan Satya. Namun kesengsaraan dan penderitaan.
Demi menikahi seorang wanita yang diyakininya bisa memberi keturunan keluarga Wijaya untuk ditumbalkan pada sesembahan mereka, Satya tega membuang Naya.
Siapa sangka, setelah dibuang oleh Satya, Naya bertemu dengan seorang pria berparas rupawan dan bergelimang harta.
Akankah pria berparas rupawan itu imam pengganti untuk Nayaβsi janda desa?
Akankah takdir cinta berpihak pada mereka dan kebahagiaan akan menyentuh?
Naya pasrah dan berserah. Ia meyakini, Illahi akan menyentuhkan bahagia di hidupnya.
ππππ
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. π
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar π
tabok β€ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang β
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih Kakak-kakak terkasih ππ