
Happy reading 😘😘😘
"Ndre, kita harus bicara!"
Suara bariton yang diperdengarkan oleh Akbar sukses memecah kaca lamun, sehingga membuat Andrea seketika tersadar dari lamunan.
"Bang Akbar --" ucap Andrea dengan menengadahkan wajah, lalu membawa tubuhnya berdiri tegak.
"Ada yang ingin Abang bicarakan denganmu. Lebih baik, kita bicara di dalam, Ndre!"
Andrea mengangguk pelan dan membalas ucapan Akbar. "Ogeh, Bang. Tapi, gimana ama Cantika?"
"Nggak usah khawatir! Cantika pasti baik-baik saja di sini. Toh istri tercintamu itu bersama dua wanita yang jago gelut. Nggak mungkin dia diculik oleh Rahwana," kelakar Akbar--menyakinkan Andrea.
"Ogeh --"
Andrea lantas berjalan menghampiri Cantika yang tengah berbincang dengan Najwa dan Nasari, diikuti oleh Akbar, Ijah, dan Ali yang berjalan di belakangnya.
"Yang, aku tinggal dulu ya," pamit Andrea diiringi kecupan singkat yang ia labuhkan di pucuk kepala Cantika.
"Mas Andrea mau ke mana?" tanya Cantika seraya menanggapi ucapan Andrea.
"Aku mau ke dalam sebentar, Yang. Bang Akbar bilang, ada yang ingin beliau bicarakan denganku."
"Baiklah, Mas. Tapi jangan lama-lama ya!"
Andrea menerbitkan senyum dan mengusap lembut kepala Cantika yang terbalut hijab berwarna biru muda. "Iya, Yang. Aku cuma sebentar. Aku nggak mungkin lama, karena aku nggak bisa sedetik pun berada jauh dari-mu."
"Uhuk, bucin amat kamu, Dek," timpal Nasari seraya mencibir Andrea--adik bungsunya.
"Gue akui, Kak. Gue emang udah bucin banget. Gue cinta berat ama Cantika, kek Kakak yang cinta berat ama Bang Akbar," balas Andrea.
"Woah. Jadi, udah move on nich dari sang mantan?"
"Ya jelas udah lah, Kak. Cantika berhasil bikin gue move on. Gue harap, gue juga berhasil bikin Cantika move on," ujar Andrea sembari melirik bidadari hatinya--Cantika Maharani.
Kata-kata yang dilontarkan oleh Andrea sukses menohok ulu hati Cantika. Ia hanya bisa terdiam tanpa berkeinginan untuk menyahut ucapan suami brondongnya.
Sampai detik ini, kehadiran Andrea di hidup Cantika belum sepenuhnya berhasil membuat wanita berparas cantik itu move on dari Dafa.
Ya, meski Dafa telah pergi dengan meninggalkan sayatan luka. Namun rasa yang pernah ada masih tersisa setitik di hati Cantika.
"Yang, nitip anak-anak ya! Abi tinggal sebentar," ucap Akbar sembari menyerahkan Ali dan Alwi pada Nasari.
"Iya, Bi. Jangan lama-lama ya! Ummi nggak sanggup jika terlalu lama jauh dari Abi."
"Beuh, lu nyindir gue, Kak?" tukas Andrea yang merasa tersindir dengan ucapan Nasari.
"Sudah gaharu cendana pula kau ini. Sudah tahu, masih saja bertanya."
"Gue cuma mastiin, Kak. Gue yakin, kenyataannya Kakak emang bucin akut ama Bang Akbar."
"Ya, kakak akui. Kakak memang bucin banget sama Bang Akbar. Kakak nggak bisa menafikan pesonanya."
"Uluh-uluh, kalian sweet banget. Kapan ya saya bisa seperti kalian?" Najwa yang sedari tadi hanya diam dan menjadi pendengar setia kini turut bersuara.
"Insya Allah sebentar lagi, Kak. Semoga penantian Kakak akan segera terjawab." Cantika menyahut ucapan Najwa seiring senyuman manis yang terbit menghiasi wajah cantiknya.
"Aamiin ya Allah. Semoga ya, Dek."
"Iya, Kak. Aamiin ya Robb," balas Cantika.
"Ya sudah, kami tinggal dulu ya. Assalamualaikum para bidadari dunia," ucap Akbar menginterupsi.
Akbar dan Andrea lantas mengayun langkah--meninggalkan taman. Keduanya berjalan beriringan menuju balkon yang berada di lantai dua.
"Bang, sebenernya apa yang mo Abang bicarain ama gue? Apa mungkin tentang Bang Dafa?" Andrea menghujani Akbar dengan kalimat tanya begitu mereka sampai di balkon.
"Ya, Abang memang ingin membicarakan tentang Dafa." Akbar menjawab pertanyaan Andrea diikuti helaan nafas panjang.
"Seperti yang dikatakan oleh Ali. Tadi, Dafa datang menyambangi rumah ini," imbuhnya.
"Sebenernya, apa yang dimau Bang Dafa? Dia kabur sebelum akad dan tega gagalin pernikahannya ama Cantika. Terus sekarang, dia datang kembali --"
"Dafa menginginkan Cantika, Ndre. Dia menggagalkan pernikahannya dengan Cantika karena ancaman dari Mita," terang Akbar seraya memangkas ucapan Andrea.
"Jujur gue heran, Bang. Kenapa Bu Mita mengancam Bang Dafa? Apa alasannya?"
"Karena Mita tahu, abangmu itu mengidap penyakit AI-DS."
Andrea terkesiap tatkala mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Akbar. Ia sungguh tidak percaya jika Dafa mengidap penyakit AI-DS.
"Apa? Kaga mungkin Bang Dafa mengidap penyakit AI-DS. Mungkin, Bu Mita cuma mo menfitnah Bang Dafa. Biar Bang Dafa ama Cantika gagal nikah. Terus, dia bisa ngedeketin Bang Dafa," tukas Andrea berapi-api.
"Mita sama sekali tidak berniat untuk menfitnah Dafa. Lagi pula, apa untungnya bagi Mita jika dia menfitnah kakakmu itu? Mita sudah mempunyai tunangan dan tunangannya itu adalah Dokter Erland, sahabat Abang. Sebagai seorang sahabat, Mita sangat menyayangi Cantika. Ia tidak ingin Cantika tertular penyakit AI-DS jika sahabatnya itu menikah dengan Dafa. Tanpa kita ketahui, Mita berusaha mencari cara untuk menyelamatkan Cantika dari Dafa. Mita terpaksa mengancam Dafa supaya Dafa mau menggagalkan pernikahannya dengan Cantika." Akbar menjeda sejenak ucapannya dan melempar pandangan netra ke hamparan langit yang mulai diselimuti awan hitam.
"Ndre, jaga Cantika dan pertahankan dia! Cantika berhak bahagia, begitu juga kamu. Kelak jika Dafa kembali, jangan biarkan dia merebut Cantika!" tutur Akbar seraya menyambung ucapannya.
Andrea tertunduk lemah. Ia menyesal karena sempat berpikiran negatif terhadap Mita dan melontarkan kalimat tuduhan yang ia tujukan pada wanita yang telah menyelamatkan istrinya itu.
"Iya, Bang. Gue bakal menjaga dan mertahanin Cantika. Gue kaga bakal biarin Bang Dafa merebut Cantika," ucapnya kemudian.
Akbar menerbitkan senyum dan menepuk bahu Andrea. "Semangat, Ndre! Abang selalu siap menjadi perisai bagi kalian jika Dafa berbuat nekat."
"Makasih, Bang."
"Hmmm ...."
"Bang, gue penasaran. Gimana cara Bu Mita mengancam Bang Dafa?"
"Ya, dengan cara menunjukkan foto-foto Dafa saat ia sedang asyik berpesta bersama para wanita pang-gilan di tempat hiburan malam. Abangmu itu kelihatannya saja pendiam. Tapi ternyata, hobi berpesta dan bergonta-ganti teman tidur. Abang heran, kenapa kita bisa kecolongan. Ayah dan bunda pasti syok jika mereka mengetahui gaya hidup Dafa yang teramat bebas. Mereka juga pasti bertambah syok jika mengetahui penyakit yang diidap oleh Dafa."
"Gue aja syok banget, Bang. Apalagi ayah ama bunda."
"Untuk saat ini, jangan beri tahu penyakit Dafa pada ayah dan bunda! Abang khawatir, ayah dan bunda akan jatuh sakit jika mereka mengetahuinya."
"Iya, Bang. Gue bakal tutup mulut. Gue kaga mau ayah dan bunda jatuh sakit gara-gara mereka tau penyakit Bang Dafa."
Tanpa Akbar dan Andrea sadari, seseorang tengah mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu.
"Ya Allah, Dafa --" lirih orang itu sembari bersandar pada dinding untuk menopang tubuhnya yang hampir luruh ke lantai.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏