
Happy reading 😘😘😘
"Siapa mereka? Maksud saya, siapa sahabat Anda dan calon istrinya itu?"
"Mereka --" Pinka menggantung ucapannya dan menunjuk dua orang yang tengah berdiri di ambang pintu dengan gerakan dagunya. Refleks Dafa pun menoleh ke objek yang ditunjuk oleh Pinka.
"Dokter Erland, Mita," ucap Dafa diiringi lengkungan bibir. Ia lantas berjalan menghampiri Erland dan Mita, diikuti oleh Pinka yang berjalan di belakangnya.
"Dokter Erland --"
"Dafa." Erland menerbitkan senyum dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Dafa. Begitu juga Dafa, ia pun mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan Erland.
Kedua pria muda itu saling berjabat tangan dan berpeluk singkat.
Sama seperti Erland dan Dafa, Mita dan Pinka pun saling berpeluk singkat diiringi senyuman yang terlukis indah di wajah cantik mereka.
"Saya nggak menyangka, dunia halu ini teramat sempit, Dok. Ternyata sahabat Dokter Pinka adalah Anda, Dokter Erland," ujar Dafa seraya melontarkan candaan.
"Menurut saya, bukan dunia halunya yang teramat sempit. Akan tetapi penulis kisah kita yang kurang kreatif." Erland mengimbangi candaan Dafa diikuti tawa mereka yang mengudara.
"Dok, meski penulis kisah kita kurang kreatif, nyatanya salah satu novel hasil karyanya dilirik oleh tukang pla-giat. Itu pun yang dia ketahui. Entah novel acak kadulnya yang lain. Beruntung ada pembaca yang gercep memberi tahu bahwa salah satu novelnya dipla-giat di apk F, kalau tidak ... bisa-bisa yang famous malah si tukang plagi-atnya, bukan dia."
"Walaupun famous, seseorang yang memiliki kebiasaan mempla-giat karya orang lain, kefamousan-nya nggak bakal bertahan lama dan uang yang dihasilkan nggak akan berkah. Bahkan bisa membuat perut mereka buncit seperti orang yang terkena penyakit busung lapar."
"Benar sekali, Dok. Apalagi jika yang dipla-giat adalah novel yang diilhami dari kisah nyata ataupun terinsipirasi dari tokoh di dunia nyata, si tukang pla-giat bakal diserang oleh para tokohnya. Bahkan mungkin disan-tet online." Dafa dan Erland kembali mengudarakan tawa, hingga mengalihkan atensi semua orang yang berada di ruangan itu.
"Mas, stop tertawanya! Kamu dan Dafa sadar nggak sih kalau kalian menjadi pusat perhatian?" Mita berbisik sembari mencubit pelan perut Erland.
Sontak Erland menghentikan tawa dan menutup mulutnya dengan telapak tangan, diikuti oleh Dafa yang juga menghentikan tawa.
Erland dan Dafa saling melempar tatap. Keduanya mengulum bibir untuk menahan tawa yang hampir terlepas tatkala menyadari pandangan netra semua orang tertuju pada mereka berdua.
"Mas, ayo kita temui Andrea dan Cantika!" Mita kembali berbisik dan menarik pelan lengan Erland.
"Iya, Yang. Kita ajak juga Dokter Pinka dan Dafa?" Erland membalas ucapan Mita dengan melirihkan suara, sehingga terdengar samar oleh Pinka dan Dafa yang masih berdiri di hadapan.
"Nggak usah, Mas. Biarkan Dokter Pinka dan Dafa berinteraksi. Mereka butuh waktu untuk berbincang berdua."
"Baiklah, Yang." Erland menyetujui perkataan Mita. Kemudian mereka pamit dari hadapan Dafa dan Pinka, lalu berjalan menghampiri kedua tuan rumah yang tengah berbincang serius dengan Airlangga.
Entah, apa yang tengah mereka bertiga perbincangkan ....
Ketiga orang itu seketika menoleh ke arah Mita dan Erland, lalu membalas salam yang terlisan.
"Andrea, Tika, Ayah akan menunggu keputusan kalian hingga besok siang. Ayah berharap, kalian berdua bersedia untuk menerima amanah dari Ayah," pinta Airlangga pada putra dan menantunya diikuti tepukan yang berlabuh di bahu Andrea.
Airlangga lantas menjabat tangan Erland dan menyapa Mita. Kemudian ia pamit untuk berbaur dengan Vay yang tengah berbincang dengan besan mereka--Hafidz dan Khabibah.
"Andrea, Cantika, selamat ya. Kami turut berbahagia," ucap Mita selepas Airlangga berlalu dari hadapan mereka.
Direngkuhnya tubuh Cantika, lalu dibawanya ke dalam pelukan.
"Terima kasih, Mit." Cantika menarik kedua sudut bibirnya dan mengangkat tangannya yang semula menjuntai untuk membalas pelukan Mita.
Sepasang sahabat itu saling berpeluk diiringi titik-titik embun yang lolos begitu saja dari telaga bening.
Sama seperti Mita, Erland pun mengucapkan selamat untuk kedua insan yang tengah berbahagia, Andrea dan Cantika. Kemudian ia menjabat tangan Andrea dan memberi pelukan singkat.
"Sehat-sehat ya, Tik! Jaga calon buah hati kalian baik-baik! Jangan melakukan pekerjaan yang terlalu berat! Terutama pekerjaan rumah tangga. Kalau perlu, minta Andrea untuk mencari pembantu supaya pekerjaanmu menjadi ringan," tutur Mita sambil mengurai pelukan, lalu mengusap wajah Cantika yang basah dengan jemari tangannya.
Cantika mengulas senyum dan berganti mengusap wajah Mita yang basah.
"Mit, aku tidak pernah melakukan pekerjaan yang terlalu berat, terutama pekerjaan rumah tangga karena Mas Andrea selalu membantuku. Meski masih berondong, Mas Andrea seorang suami yang teramat pengertian. Allah Maha Baik. Dia menggariskan takdir cinta yang terindah menurut versi-Nya dan menyentuhkan bahagia di hidupku setelah mengujiku dengan dua cinta yang membuat hamba-Nya ini hampir kehilangan harap."
"Subhanallah. Maha Suci Allah. Jujur, aku merinding mendengarnya, Tik. Segala ujian yang diberikan oleh Allah, pasti ada hikmah dan hadiah yang tengah dipersiapkan oleh-Nya."
"Iya, Mit. Semoga kita menjadi hamba yang selalu berbaik sangka dan bersyukur pada-Nya."
"Aamiin ya Allah --"
Obrolan Cantika dan Mita terpangkas kala terdengar suara Najwa--menyebut nama seseorang. Kedua wanita itu lantas mengalihkan pandangan netra mereka ke arah objek yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Masya Allah, Ustaz Mirza --" lirih Cantika diiringi senyum yang terkembang.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku'. 😘🙏