
Aku, akan menikahi Laila Minggu ini?
Tring tring tring
Nada dering di handphone Ali yang berada di saku celana membuat dirinya terkesiap.
Laila nelpon!
"Hallo, Laila!?"
...[Ali kamu dimana? Kenapa belum juga datang? Ish! Aku nunggu kamu dari tadi di sini! Kamu kenapa? Anak-anak lagi alasannya? Apa sebaiknya aku saja yang datangi rumah kamu? Apa Keti sudah angkat kaki dari rumah itu?]...
Deg deg deg
Deg deg deg
Deg deg deg
Rindunya pada Laila terbayar lunas mendengar suaranya yang merdu merayu.
Tapi hatinya tersudat perih, Laila berkata hal yang melukai perasaan Ali.
Anak-anak lagi alasannya? Keti sudah angkat kaki? Bagaimana mungkin Laila bisa berkata sekejam itu sedangkan Keti adalah Istriku yang sudah memberikanku dua anak lucu-lucu. Ya Tuhan... Ternyata cinta terlarang benar-benar membutakan.
"Baiklah, aku tunggu kamu di sini!"
Hanya satu kalimat itu yang Ali ucapkan sebagai jawaban.
Untuk bertemu diluar rumah dengan Laila, Ali tak tahu jalan.
Ia juga belum siap untuk melihat dunia luar di tahun 2034. Tahun yang justru sebelas tahun kemudian di tahun sekarang yang sedang Ali jalankan seharusnya.
"Pak..."
"Kamu kembali saja ke kamar, Mbak. Jaga Kiano dan Alya. Saya... akan menunggu Laila datang ke rumah ini."
Lala mengangguk sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Ali menghela napas sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Inikah rumahku? Istanaku bersama Keti yang menikah lebih dari lima tahun ini? Lalu... bukankah di kehidupan nyata Aku menikah lebih dahulu dengan Laila? Kenapa kini ternyata Keti yang pertama? Apakah sebenarnya inikah kehidupan ku yang sebenarnya?
Ali memukul-mukul kepalanya.
Suara motor yang berhenti, tepat di depan rumah.
"Itu pasti Laila!" seru Ali sembari beranjak menuju ruang tamu dan...
Betapa terkejutnya Ia melihat Laila yang sekarang berdiri di depan pintu.
Laila masih cantik dan seksi seperti dahulu. Tapi kini... dengan kondisi yang mencengangkan.
"Ali..."
Laila masuk ke dalam rumah. Memeluk tubuh Ali yang termangu diam dengan erat.
"Laila..."
Seperti terbayar dahaga kerinduannya yang bagaikan berpuluh-puluh purnama tidak bertemu Laila.
Ali menghembuskan nafasnya agak lega, karena melihat seraut wajah yang menghilang beberapa waktu itu.
"Perutmu..." ujar Ali sembari menunjuk ke arah perut Laila yang menggembung besar.
"Kenapa? Masih ingin mengelak bertanggung jawab dengan menikahiku?"
Deg.
Bagaikan dihajar palu besar. Dada Ali sakit terasa.
"Itu..., anakku?"
"Berapa kali kubilang, dan berapa kali kau mengakuinya. Lalu haruskah Aku menjalani ujian ini sendirian hanya karena kamu telah menikah dengan Keti?"
"Laila..."
Ali bingung. Ali kelimpungan.
Dua wanita cantik. Keduanya berebut ingin memilikinya seutuhnya.
Ada rasa bangga, tapi kemudian menghilang berganti rasa penyesalan yang dalam mengingat betapa akan beratnya tanggung jawabnya di kemudian hari. Dua anak dari Keti, dan satu anak yang akan Laila lahirkan.
Tuhan! Apakah ini takdirku?
Ali menelan salivanya.
Sungguh hebatnya Tuhan memberinya kesempatan menikmati indahnya dunia fana. Yang padahal jelas-jelas hanya fatamorgana saja. Hanya kenikmatan sesaat yang berganti menjadi kesedihan berkepanjangan.
Apakah ini takdirku? Apakah ini ramalan yang pernah Mbah Kandut ucapkan dahulu di stand rumah ramalannya di pasar malam?
Ali menghela nafas lagi.
Mata Laila mendelik kesal padanya.
"Anak kita di prediksi berjenis kelamin laki-laki. Bukankah itu yang kamu pernah impikan dahulu? Memiliki anak pertama laki-laki agar bisa menjaga adik-adiknya kelak jika besar nanti. Kamu pernah berkhayal tentang itu di atas rumah pohon ketika kita masih remaja dahulu."
Ali termangu.
Seketika dirinya rindu rumah pohon yang almarhum Bapaknya buat di masa kecil dulu.
"Keti kemana?" tanya Laila setelah cukup lama terdiam menunggu respon Ali yang dingin membatu.
"Keti pergi, tinggalkan aku dan anak-anak. Dan, surat itu."
Ali menunjukkan selembar kertas yang tergeletak di atas meja ruang tengah.
Laila dengan santai berjalan menuju meja dan meraih kertas berisi tulisan tangan Keti.
"Keti mundur dari arena hubungan segitiga ini."
Ali tidak menjawab ucapan Laila.
Fikirannya masih kalut karena Keti pergi.
"Ali! Ali!!"
"Ya?"
Ali tersentak kaget.
Laila menghampirinya. Laila kembali memeluk Ali sambil menghela nafas panjang.
"Akhirnya. Akhirnya kita akan bersama. Tuhan ternyata sudah memberikan kita clue sedari kecil dulu kalau kita ini adalah pasangan jodoh."
Ali lagi-lagi diam tak bergeming.
Satu sisi dia bahagia karena akan bersama Laila. Tapi sisi lainnya bersedih karena Keti memutuskan untuk pergi.
Sungguh manusia serakah dirinya, Ali menyadari betul akan keburukan hatinya yang menginginkan kedua perempuan itu berdiri tegak terus disampingnya.
Inikah nasehat Mbah Kandut dulu yang menyuruhku untuk adil kepada dua perempuan ini? Yaitu, agar mereka tidak menghancurkan hidupku seperti ini? Bagaimana caranya aku agar bisa mengapit tangan keduanya supaya bisa berjalan terus beriringan?
Tahun 2034? Sekarang Aku hidup di tahun 2034. Berarti ini adalah kesempatanku untuk merubah takdir garis hidupku. Agar aku bisa bersanding dengan Keti dan juga Laila. Agar keduanya bisa sama-sama berdiri tegak disampingku. Aku harus bisa meluluhkan Keti untuk kembali lagi. Dan memberikan pengertian kepada Laila karena akan jadi yang kedua.
"Laila,"
"Iya, Ali?"
"Bisakah kamu bersabar sampai melahirkan dan selesai masa nifas?"
"Maksudmu?"
"Bukankah menikah disaat sedang mengandung itu dilarang agama? Bukankah itu katanya haram dilakukan?"
Plakk
Ali terkejut.
Sebelah pipinya panas kena tamparan Laila.
"Bilang saja kalau kau mau lari dari tanggungjawab!"
"Bukan begitu, Laila. Bukan! Tapi Aku masih terikat pernikahan dengan Keti! Kumohon dengarkan dulu perkataanku sampai selesai! Kandunganmu juga sudah begitu besar. Seperti tinggal menunggu minggu untuk melahirkan!"
"Kamu ingin kita menikah setelah anak kita lahir? Jahatnya! Hik hik hiks... Kamu tidak fikirkan bagaimana nanti perasaan anak kita jika sudah besar nanti? Bagaimana dia menilai kita orang tuanya yang menikah justru di tanggal yang sesudah tanggal lahirnya?"
Ali tertegun. Tersadar akan ucapan Laila yang ada benarnya.
"Tapi Aku harus menyelesaikan dahulu pernikahanku dengan Keti, Laila! Aku harus menyusul Keti ke Surabaya. Kita harus menyelesaikan masalah ini dahulu sebelum ijab kabul. Setidaknya, Aku ingin Keti memberiku izin untuk menikah lagi denganmu karena suatu keadaan."
"Karena Aku hamil duluan? Begitu maksudmu? Kamu dulu meniduri aku dengan alasan mencintaiku sejak dari masih sekolah dasar! Kamu dulu mengejar-ngejar Aku, bilang susah melupakanku meskipun sudah menikahi perempuan blasteran Cina Surabaya itu. Dan kau bilang kau menikahi Keti dengan alasan pernikahan bisnis. Cintamu satu hanya untukku! Semuanya bulshiiit!!!"
Pranggg...
Laila memukul televisi layar datar yang ada di meja ruang tengah rumah Ali.
TV itu jatuh pecah berhamburan menjadi serpihan di atas lantai.
"Laila! Tahan emosimu!"
"Aku sudah muak bermanis-manis menunggu itikad baikmu, Ali!"
"Ini rumahku dengan Keti! Kumohon jaga attitude-mu!"
"Kau minta aku jaga attitude? Lalu kau? Mana attitudemu yang katanya pria gentle yang akan bertanggung jawab sepenuhnya pada diriku!" jerit Laila membuat Ali gundah.
"Papa..."
Alya putri Ali dan Keti berdiri di pintu kamar yang terbuka.
"Alya..."
"Papa,... Alya mau ke Mama." Kata Alya dengan suara imutnya.
"Mama, Mama! Bisa gak kamu masuk kamar dan jangan ganggu Papamu dulu karena masih ada urusan sama Tante Laila?" hardik Laila pada Alya dengan kesal.
"Laila! Jangan hardik anakku!!!" Kini Ali yang berteriak lantang.
Ali memangku Alya dengan penuh perhatian.
"Sayang,... Alya masuk ke dalam dulu ya sama Bibi Lala. Nanti kita susul Mama ke Surabaya. Papa janji, Papa akan membawamu menemui Mama."
"Janji?"
"Ya, Sayang. Masuk dulu ya temui bibi?"
Ali menurunkan Alya dan menyuruhnya masuk. Ia segera menutup pintu rapat-rapat.
"Laila! Belum jadi Ibu sambung Alya saja kamu sudah berani membentak Alya! Bagaimana kalau kau sudah jadi Istriku nanti?!"
"Itu karena,... karena..."
Laki-laki harus tegas! Tidak bisa membiarkan keadaan ini berlarut-larut. Dan aku juga tidak terima anakku dimaki-maki Laila apalagi Alya baru berumur empat tahun. Haish...! Ternyata hidup serumit ini! Berumah tangga itu harus bisa jaga komitmen. Beginilah jadinya jika Aku terlalu nafsu lupakan komitmen dan terbawa suasana membagi hati. Kupikir memiliki dua cinta itu akan bahagia sampai akhir, ternyata... tidak sama sekali. Bebanku berat sekali.
Ali menatap tajam wajah Laila yang menunduk, merasa bersalah.
Perempuan ternyata hanya mulutnya saja yang sangar. Tapi hatinya kecil dan bisa menciut juga jika laki-laki punya sima' dan taji. Hm... Akhirnya, aku tahu kelemahan perempuan!
"Maaf,... aku..., aku tadi lepas kendali, Ali!"
"Sekali lagi kamu memaki Alya di depanku, tiada ampun lagi."
"Bagaimana kalau Keti yang memarahi anak kita nanti?"
Yassalam... Perempuan itu sifatnya benar-benar seperti ular. Berbisa, juga licin pandai berkelit! Gerutu Ali dalam hati.
"Aduuuhhh, perutku sakiiit! Aduuuhhh..."
"Hahh? Kenapa Laila? Perutnya kenapa? Sakit? Mau melahirkan? Memangnya sudah berapa bulan?"
Ali berteriak panik bukan kepalang.
Begitulah hidup. Semua harus difikirkan matang-matang sebelum melakukan sesuatu dan tentukan pilihan.
BERSAMBUNG