MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEENAM PULUH TIGA


Ali meringis merasakan cubitan tangan Laila dipinggangnya.


"Aaagggh, sakit, La!!" pekik Ali menahan teriakannya.


"Makanya, jangan tebar pesona padahal dah jadi miswa!" timpal Laila tanpa tedeng aling-aling, tanpa malu-malu kucing.


Ali terkekeh mengetahui kecemburuan Laila yang mulai terkuak.


"Cemburu ya liat gue manis sama si Keti!"


Laila kembali mencecar pinggang Ali dengan dua capitan jarinya yang multifungsi.


"Awww, sakit! Ish, Emaknya waktu hamil ngidam kepiting pasti!" seru Ali membuat Laila kian suka menggelitik pinggang suaminya yang terus berkelakar.


Sungguh malam yang indah bagi Ali.


Ada Laila yang kini berjalan disampingnya menjadi teman hidup.


Namun di balik semua itu, ada sepasang mata indah yang intens terus mengawasi keintiman Ali dan Laila.


"Ali..., Mengapa semua jadi begini?! Mengapa kamu melupakan kedekatan yang terjalin antara kita? Apa artinya ciuman itu? Apa kamu sudah lupakan cerita cinta diantara kita di atas loteng ruang perpustakaan Eyang Toro? Kamu memintaku untuk jadi istrimu. Bukan dengan dia kau berumah tangga. Tapi dengan aku, Ali. Bibub-mu!"


Hati kecil Keti meradang.


Terkenang kembali potongan-potongan obrolan indah diantara mereka yang masih sangat jelas Keti simpan di memori ingatan.


Saat itu,...


"Lihat itu!"


"Waah, itu lebih besar dari galaksi Bima Sakti!" seru Keti dengan suara indah.


"Bukan, Sayang! Yang paling besar bukan itu. Itu galaksi Andromeda. Konon kabarnya milyaran tahun nanti Andromeda akan menabrak Bima Sakti dan akan membentuk galaksi besar berbentuk elips. Wallahu!"


"Uhuk uhuk uhukk..."


Keti terbatuk-batuk mendengar kata 'sayang' yang Ali lontarkan kala itu.


"Mungkinkah Bima Sakti dan Andromeda menikah?" tanya Keti ngasal.


"Mungkin. Semua bisa terjadi, kalau Allah Berkehendak, Keti. Seperti kita. Mungkin saja sepuluh tahun kemudian kita adalah pasangan suami istri yang dikaruniai anak yang soleh soleha. Hehehe..."


Keti lalu menunduk dan tersipu malu.


Wajah Ali tak kalah merah, bagaikan kepiting yang direbus saat itu.


Ali terlihat mulai berani menunjukkan giginya memperlihatkan keseriusannya untuk mendekati Keti.


"Tapi Aku anak haram."


Keti berkata sesuatu yang membuat Ali geram.


"Tidak ada anak haram. Yang diharamkan itu adalah perbuatan orang yang jahat."


"Aku anak musuh Eyangmu,"


"Memangnya kenapa? Apa kamu juga membenci Eyangku dan bermaksud jahat padaku?"


Keti menatap Ali.


Ali terpana melihat pendaran cahaya di bola mata Keti yang hijau kebiru-biruan.


"Keti. Galaksi-galaksi disana sangatlah indah. Tapi binaran matamu jauh lebih indah dipandanganku. Tolong, tetaplah menatapku seperti itu. Aku... aku ingin selalu bersamamu."


Hati kecil Keti sedih sekali. Sangat sedih bila mengingat itu.


Takdirnya telah terikat dengan Ali Akbar keturunan Eyang Toro.


Di kehidupan yang lalu, Ali bahkan telah menikahinya sampai dirinya diketahui tengah berbadan dua.


Keti juga mengetahui kisah itu.


Tapi karena sistem Galaksi Kehidupan yang mereka gunakan, tiba-tiba kehidupan berubah menjadi seperti sekarang ini.


Ternyata, kini Ali menikahi Laila. Bukan dirinya.


Setetes air mata mengaliri pipi kiri Keti.


Ia yang kini bereinkarnasi menjadi gadis belia yang masih sekolah SMA, masih dengan jelas mengingat semua kenangan bersama Ali.


Dirinya yang di kehidupan lalu bisa berubah wujud menjadi seekor kucing, bahkan sampai mati tertabrak mobil yang dikendarai Firman, kekasih Laila di lain kehidupan. Dimana konon katanya kucing memiliki sembilan nyawa.


Meskipun dirinya telah mati terlindas ban mobil, namun ternyata Keti masih bisa menghirup udara segar kehidupan di dunia nyata.


Itu adalah Kehendak Yang Maha Kuasa.


Dan kini, ... entahlah. Walaupun Keti meyakini dalam agama Islam tidak ada reinkarnasi. Tapi secara gamblang pernah Ia dengar kata titisan. Dan titisan lebih sering digunakan orang muslim untuk menyebut seseorang yang berbeda masuk dan hidup rohnya kedalam orang yang berwajah sama persis dengan orang yang telah tiada itu. Wallahu a'lam bishowaf.


"Kak Ali! Di sana ada rumah kontrakan yang kosong dan disewakan pemiliknya!"


Keti ingin sekali membantu meringankan beban Ali dengan memberinya kabar berita.


Ia berteriak mengingat ada rumah dengan tulisan 'dikontrakkan' di depan pintunya. Bahkan lengkap dengan nomor ponsel yang bisa dihubungi.


Ali dan Laila saling berpandangan.


"Kita lihat dulu, La?" tanya Ali minta pendapat Laila.


Wajah masam Laila tidak Ali hiraukan.


Baginya saat ini adalah rumah kontrakan, agar bisa secepatnya pindah dari rumah kontrakan yang akan digusur besok pagi.


Ali tidak ingin Ia dan Laila terlunta-lunta.


Setidaknya ada tempat baru bagi mereka tinggal. Tidak seperti sekarang ini, berjalan kesana kemari tanpa arah tujuan. Sesekali menanyakan kepada orang-orang disekitar apakah ada kamar atau rumah kecil yang dikotrakkan. Ibarat mencari jarum kecil di tumpukan jerami. Susah sekali.


Ditambah lagi waktu yang mepet dan singkat untuk mereka segera pindah.


"Rumahnya dekat dengan rumah kamu, ya?" tanya Laila dengan ketus pada Keti yang sedari tadi menatap mereka menunggu reaksi.


Keti menggeleng cepat.


"Rumah saya di jalan Menteng, Kak! Itu dekat rumah teman saya. Beneran ada tulisan dikontrakkan."


Ali mengangguk setuju.


"Dengan senang hati."


"Bisa gak kalau minta alamat sama nomor teleponnya saja? Biar kami cari sendiri?!"


Ali menyenggol tangan Laila. Ia memberi kode agar Laila mengkondisikan kecemburuannya yang membabi-buta. Karena semua itu bisa menyusahkan nantinya.


"Antar saja kami ke sana. Terima kasih sebelumnya, Ket, karena udah bantu kami!" ujar Ali sopan.


Keti tersenyum tipis. Ia mengangguk dan mengambil jalan lebih dahulu. Melangkah dengan cepat tanpa banyak kata dan pertanyaan.


Ternyata memang tidak begitu jauh tempat mereka bertemu barusan.


Sebuah rumah kecil, di depan pintunya tertulis kalimat "Rumah Ini Dikontrakkan. Hubungi No. 0869 0057 00xx"


Ali menghela nafas lega.


"Terima kasih, Keti!"


"Sama-sama. Keti permisi, Kak!"


Laila lega, Keti pergi setelah mereka berada di depan rumah yang Dikontrakkan itu tanpa harus berlama-lama.


Ternyata pemilik kontrakan itu tinggal disebelahnya dan langsung mendatangi Ali Laila setelah Ali mengontaknya.


"Mau ngontrak, Bang?" tanyanya ramah.


"Iya. Berapa perbulannya, Mas?"


"Satu juta. Kamar satu, ruang tengah, ruang tamu, dapur dan toilet. Token listrik beli sendiri. PAM ditagih terpisah iurannya setiap awal bulan."


Ali dan Laila saling lempar pandangan.


"Boleh lihat dulu dalamnya?" tanya Laila.


"Boleh. Oiya, betewe kalian ini... adik kakak atau,"


"Kami suami istri. Ada surat akta nikah koq, meskipun buku nikahnya belum ada."


Pria paruh baya yang berumur sekitar 40 tahunan itu menatap Ali dan Laila bergantian.


"Masih muda sekali kelihatannya!"


"Kami baru dua puluh tahun. Hehehe..."


"Hm. Hehehe... Married by accident kah?"


"O no no no. Istri saya tidak sedang hamil!"


Laila bukannya marah malah mengakak mendengar Ali belingsatan dituduh menikah karena kecelakaan oleh si pemilik rumah yang akan mereka kontrak.


"Kami menikah, khawatir berzina. Daripada berbuat mesum dan dilaknat Tuhan, apa salahnya menikah siri dulu. Iya kan? Mas ganteng bisa gak kalau kontrakannya diturunkan jadi delapan ratus ribu perbulan? Kami cuma punya uang segitu. Kalau di ACC, kami ambil rumah ini dan langsung pindah malam ini juga. Gimana?"


Laila langsung ambil peranan bernegosiasi.


Dan berhasil. Si pemilik mengiyakan dengan syarat,


"Bayarnya harus tepat waktu ya setiap bulannya? Telat satu hari kena denda lima puluh ribu rupiah. Oke?"


"Setuju."


Ali tersenyum senang. Laila pandai menawar.


Uang dua ratus ribu mereka tersisa aman untuk beberapa hari kedepan.


Malam itu juga, keduanya kembali ke rumah kontrakan lama Ali. Membenahi barang-barang yang hendak mereka bawa ke kontrakan yang baru.


Hingga akhirnya ada perdebatan Ali dan Laila yang bersitegang karena satu barang. Yakni lemari pakaian butut milik Ali yang ada cermin ajaibnya.


"Dibawa!"


"Jangan! Buat apa? Toh lemari itu udah butut juga!"


"Harus kubawa!"


"Enggak boleh!"


"Itu harta berhargaku, Laila!"


"Apanya yang berharga, Ali?!?"


"Ya ampun..., hanya lemari, La! Tapi bisa buat tempat pakaian kita!"


"Pakaian yang mana? Kita masing-masing udah pak di kardus dan ransel juga! Lemari butut ini cuma bakalan bikin sempit kontrakan baru kita! Setelah kita dapat kerjaan, kita bisa patungan beli lemari baru!"


Berdebat dengan perempuan? Tentu saja perempuan lah pemenangnya.


Ali kalah dan mengalah.


Ia sejujurnya khawatir kalau cermin ajaib itu nantinya dimiliki seseorang yang tidak baik. Karena cermin itu benar-benar ajaib.


Tapi Ali juga tidak ingin mengatakan kebenaran itu pada Laila.


"Apa bagusnya lemari pakaian itu? Dibawa pun hanya akan menyusahkan kita nantinya. Engselnya juga sudah rapuh. Kayunya juga rusak bagian kakinya hingga timpang sebelah. Mana ada orang yang mau mengambilnya? Paling-paling dihancurkan oleh orang yang akan menggusur rumah ini, Ali!" kata Laila panjang lebar menjelaskan pada Ali yang bersikukuh khawatir lemari pakaiannya diambil orang.


Laila tertawa keras. Ali seperti sedang mempertahankan lemari kuno ratusan juta rupiah. Padahal...


Laila tidak tahu, Ali begitu karena ada cermin ajaib yang menempel di pintu lemari pakaiannya.


Kenapa aku harus berdebat dengan Laila yang tidak tahu apa-apa. Laila juga tidak salah karena lemari ini memang lemari usang yang sudah rusak disana sini.


Akhirnya, Ali menutupi lemari kacanya dengan selembar plastik banner agar tidak terlihat orang lain.


Akhirnya Ia bisa tenang dari Sistem Galaksi Kehidupan yang selama ini memporak-porandakan kehidupannya yang selalu berubah-ubah setiap kali Ia masuk ke dalam cermin.


Walaupun sempat bingung dan tak tahu harus diapakan lemari pakaian yang ada cermin ajaibnya, akhirnya Ali berpasrah dan berharap kehidupannya kedepan jauh lebih berkah. Terlebih setelah kini dirinya menikah dengan Laila, cinta pertamanya yang luar biasa.


Ali ingin hidup tenang dan damai. Tenteram, loh jinawi, penuh berkah serta berlimpah kebahagiaan.


Hanya itu yang Ia inginkan.


BERSAMBUNG