MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEEMPAT PULUH EMPAT


Yadi dan para sesepuh diikuti warga penduduk yang pro Embah Kandut masuk berbondong-bondong ke dalam rumah besar Eyang Toro.


Rumah yang tadinya hanya temaram oleh cahaya tiga lilin kecil, kini mendadak terang benderang oleh obor-obor yang dibawa mereka masuk ke dalam.


Yadi terdiam.


Rumah yang beberapa tahun setiap kali Ia datangi tampak menyeramkan dan dipenuhi onggokan kain putih itu, kini terlihat rapi layaknya rumah hunian.


"Apakah ada barang keramat disini?" tanya Ali pada Yadi.


Yadi meminta sesuatu kepada sesepuh kepercayaannya.


Ternyata, sebuah guci dari gerabah yang disinyalir berisi air jampi-jampi.


Seorang laki-laki paruh baya menebarkan butiran garam kasar ke seluruh ruangan sehingga terdengar sesekali garam berjatuhan menyentuh lantai dan perabot rumah tangga.


Garam memang dipercaya sebagai media pengusir hantu di beberapa negara sejak jaman dahulu.


Wallahu.


Tapi banyak orang percaya kekuatan elektromagnetik yang dikeluarkan dari senyawa garam mendatangkan gelombang listrik yang bisa mengusir hantu.


Dan konon katanya, garam adalah mediasi yang paling efektif mengangkat energi negatif yang ada dalam ruangan.


Yadi mengibas-ngibaskan tangannya yang terlebih dahulu dibasahi air dari kendi.


Ali tidak bisa melarang karena seorang sesepuh menjaganya ketat agar tidak berdiri terlalu dekat dengan Yadi dan sesepuh yang menebar garam.


Kini beberapa orang terlihat lebih beringas. Mereka mengobrak-abrik perabotan rumah dan membuka lemari yang ada satu persatu.


Yadi dan sesepuh yang sepertinya paling disegani itu terus bergerak menyisir satu persatu kamar.


Darah Ali berdesir kencang. Takut juga Ia jika sampai cermin ajaib itu berhasil mereka ketemukan.


Tapi Ali teringat telepati fikirannya dengan Eyangnya yang entah ada di dimensi dunia mana tapi terasa jelas terdengar.


Biarkanlah mereka masuk! Mereka banyak, sedangkan kau sendirian! Aku akan memanipulasi penglihatan mereka. Cermin ajaib untuk sementara waktu bisa kusamarkan keberadaannya. Ali,... setelah mereka pergi dari rumah itu, lekaslah kau pergi ke arah barat! Berjalanlah lurus dan jangan berhenti sampai kau melihat sebuah rumah yang dibangun dengan tumpukan batu kali yang ada cerobong asap mengepul. Datangi rumah itu! Datangi malam ini juga! Ini adalah kesempatanmu untuk membantuku, Ali!


Ali menengok ke jendela kaca.


Semoga saja aku bisa mengejar waktu untuk pergi ke arah barat! Tempat seseorang yang harus kutemui di rumah batu bercerobong asap.


Yadi dan para sesepuh berhasil mendapatkan beberapa keris kecil berbentuk kujang dari dalam kamar.


Mereka berhasil membawanya meskipun tanpa izin.


Tapi Ali bersyukur, Yadi tidak sampai mengetahui ruang baca rahasia yang ada di loteng rumah besar ini. Dan mereka tidak bisa melihat potongan papan yang berderet di atas dinding karena malam hari. Warna papan memang tersamarkan oleh warna dinding sehingga jika dilihat sepintas saja, tidak akan ada yang curiga kalau ada loteng kayu lagi di lantai dua.


Karena ada yang lebih berharga lagi menurut Ali Akbar daripada sebuah cermin ajaib. Yaitu sebuah buku yang berisi petunjuk-petunjuk tentang system Galaksi Kehidupan yang selama ini mereka cari-cari.


Juga tempat Keti bersemedi jika sedang berubah wujud menjadi manusia.


Keti...! Apakah benar Keti sudah meninggal dunia seperti yang Yadi katakan barusan? Apa iya Keti sudah tiada karena Aku yang turut membawanya lubang masuk time traveler hingga Keti tertabrak mobil yang dikendarai Firman? Apa..., apa Aku bisa kembali ke masa itu dan membiarkan Firman-Laila mengalami kecelakaan sehingga Keti selamat? Bisakah Aku mengaturnya?


Ali menghela nafas berkali-kali. Membuat Yadi curiga kepadanya.


"Tunggu! Raut wajahmu menampakkan kecemasan! Pasti ada yang sedang kau sembunyikan!"


"A_apa?"


"Cermin ajaib! Kau pasti sudah tahu keberadaannya, bukan? Tidak mungkin kau tidak tahu karena kau bisa melihat wujud Keti dan sempat bersama beberapa kali!"


Ali menatap Yadi dengan tatapan tajam.


"Carilah sendiri jika kau percaya kalau cermin itu ada di sini!" jawabnya dengan suara lantang.


"Aku melihatmu menghela nafas berkali-kali!"


"Aku memikirkan Keti. Apa benar dia sudah tidak ada di dunia ini!?!"


"Kau yang melenyapkannya!"


"Bagaimana mungkin?"


"Kau menghilangkan nyawanya. Aku meskipun tidak tahu, tapi firasatku tidak pernah salah!" sela Yadi yang membuat Ali harus lebih waspada.


Ternyata bocah ini punya indera keenam juga! Decak Ali dalam hati.


"Keti tidak ada disini dan juga dunia portal yang lain. Dia lenyap."


Ali terkesiap.


Ada sebongkah besar penyesalan yang mengganjal di hati. Ternyata, Keti benar-benar telah tiada karena time traveler yang Ia jalani tempo hari.


Ali ingin segera menuntaskan semua misteri yang tak terpecahkan ini. Ingin menemui seseorang yang Eyangnya katakan di arah barat. Ingin menanyakan bagaimana caranya agar Ia bisa memilih waktu yang tepat untuk time traveler ke waktu yang Ia inginkan, yaitu waktu ketika Keti tertabrak mobil Firman.


Yadi menarik kerah kemeja Ali.


"Kau! Kaulah pemegang cermin ajaib itu! Karena hanya kau yang bisa melakukan perjalanan waktu mengubah garis nasib dan takdirmu! Iya kan???"


Ali sedikit bergidik.


Netra Yadi seperti menyalakan kobaran api yang besar.


"Ayo kita tanding. Hidup dan mati. Taruhannya adalah cermin ajaib. Dimana kau simpan cermin itu atau Aku dan warga akan menghakimimu tanpa ampun!"


"Kalau kalian membunuhku, seumur hidup kalian tidak akan pernah bisa menemukan cermin ajaib itu!" kata Ali yang memiliki kartu.


"Kalau kau tidak memberitahukan keberadaan cermin ajaib itu, Keti juga tidak akan terselamatkan! Jasadnya ada di tanganku! Dan Aku juga sudah tahu silsilah keturunan Keti. Siapa itu Keti!" ujarnya membuat Ali terperangah.


"Apa???"


Tentu saja Ali tidak bisa percaya ucapan Yadi.


"Dimana Keti?"


"Ada di tempatku! Aku bisa melakukan ritual untuk meminta nyawanya kembali ke roh dengan doa-doa ajian jampi-jampi yang kami lakukan seperti saat Mbah Kandut yang sudah terkubur berhari-hari hingga bisa hidup lagi!"


Bulu kuduk Ali meremang. Benar-benar ilmu hitam yang meresahkan.


Bagaimana bisa orang mati dibuat hidup lagi dengan menarik rohnya kembali ke jasad.


Ali sangat ngeri membayangkan Keti yang akan jadi mayat hidup seperti Mbah Kandut yang konon katanya telah hidup kembali tapi terjebak di portal lain bersama Eyang Toro.


"Aku ingin melihat jasad Keti sebagai bukti kalau ucapanmu benar adanya!"


"Baiklah!"


Keduanya mengangguk tanda sepakat.


Kini Ali yang mengikuti langkah Yadi. Berjalan ke luar rumah dan menyusuri jalanan aspal yang mulus di malam kelam menuju kediaman Yadi yang belum pernah Ali ketahui.


Ali mengekor Yadi yang berjalan paling depan. Dengan iringan lautan manusia di belakang mereka.


Ia lumayan agak takut karena dirinya hanya sendirian, sedangkan Yadi memiliki banyak pengikut.


Apakah mereka semua adalah manusia? Ataukah... bercampur dengan makhluk astral karena ini adalah malam satu suro? Bukankah malam satu suro adalah malam terbaik para lelembut yang berkeinginan untuk masuk alam dunia menemui para kerabatnya yang masih hidup?


Ali sesekali menoleh ke belakang.


Ternyata fikirannya tidak salah.


Ada orang-orang yang berwajah pucat dan berkelakuan dingin tanpa berkedip dengan tatapan kosong ke depan.


Apakah mereka... para hantu dedemit? Roh-roh halus yang turut serta masuk kedalam iringan pengikut Embah Kandut yang diprakarsai Yadi?


Suara burung-burung hantu seperti berada di sekitar makin membuat bulu kuduk berdiri.


Ali mulai menyadari satu hal.


Sepertinya orang-orang yang ikut mereka pun dalam kondisi yang tidak normal, alias dibawah hipnotis Yadi yang dan sesepuh kampung yang adalah anak buah Mbah Kandut.


"Kamu punya ilmu penyirap rupanya!" gumam Ali membuat Yadi menyeringai lebar.


"Kau tidak sebodoh yang kuperkirakan ternyata! Hehehe... baguslah! Aku tidak akan merasa bersalah jika akhirnya nanti melenyapkanmu dari muka bumi ini di pertarungan!"


"Pertarungan? Pertarungan yang tak pernah usai? Untuk apa? Untuk sesuatu hal yang bukanlah urusan kita tetapi urusan yang Maha Kuasa!"


"Hahaha..., sepertinya kau sangat takut untuk berhadapan denganku!" sindir Yadi dengan kaki terus melangkah.


"Jangan salah faham. Aku tidak pernah bertanding untuk hal-hal yang tidak penting!" elak Ali tidak terima diremehkan Yadi.


"Berarti Eyangmu itu bukan hal penting bagimu?"


Kini Ali hanya bisa menelan saliva.


Yadi men-skak mat dirinya hingga terdiam tak lagi bersuara. Hanya langkah-langkah kaki yang terdengar menyakitkan telinga Ali.


Pemuda yang akan 20 tahun itu mendongakkan kepalanya.


Langit gelap tanpa bintang. Namun bulan penuh bersinar terang. Sesekali sembunyi perlahan dibalik awan.


Ali hanya bisa mengaji dalam hati.


Surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas adalah andalannya, karena ada kekuatan Allah Ta'ala yang selalu setia membantu dirinya.


BERSAMBUNG