MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETUJUH PULUH DELAPAN


Ali menatap balik Yadi yang duduk di motor yang di parkir di teras rumah.


Ia tersadar dan segera menghampiri Yadi, tak peduli pada Keti yang mulai luruh air matanya.


"Yadi! Kau pasti biang keladinya!" ucap Ali dengan suara bergetar. Kini ia berhadapan dekat dengan Yadi yang hanya diam.


"Kak Ali!"


Keti setengah berlari, hendak melerai. Gadis imut itu khawatir terjadi keributan antara dua pemuda yang selalu saja bertikai di beberapa kehidupan.



"Kalau kau merasa jagoan, mari kita tanding one by one. Siapa yang kalah, dia harus sportif dan tak lagi jadi perusuh di kehidupan manapun!" tantang Ali kesal.



Yadi yang masih memakai masker slayer penutup hanya diam menatap tajam dua bola mata Ali.


"Jangan, please jangan buat keributan di wilayah ini! Kumohon, Kakak dan Mas tidak berbuat onar!" pinta Keti dengan suara bergetar ketakutan.


Seketika Ali tersadar, wajah Keti pucat pias dengan bibir biru menggigil.


"Keti!"


"Non Keti?!"


Kedua pemuda yang sepertinya beda sekitar dua-tiga tahun itu serempak menyebut nama Keti.


Gubrak.


Keti jatuh pingsan.


Seketika suasana yang terjadi dilanda kepanikan. Apalagi setelah Yadi berseru kalau Keti mengidap penyakit jantung bawaan sejak dalam kandungan.


Sontak Ali dan Yadi jadi bekerja sama membawa Keti ke rumah sakit yayasan khusus penderita jantung nasional.


Malam itu, pukul delapan lebih waktu Indonesia bagian barat. Ali merangkul tubuh mungil Keti yang duduk diapit Yadi sebagai pengendaranya dan Ali duduk di jok paling belakang.


"Kebut sedikit, Yadi!!" bentak Ali mengeraskan suara.


"Takut ada polisi!"


"Bisa bilang keadaan darurat!!"


Yadi mendengus. Perintah Ali membuat harga dirinya tercabik. Namun keadaan membuat Yadi harus diam dan menuruti keinginan Ali yang juga jadi keinginan hatinya karena khawatir dengan keadaan Keti.


Hampir setengah jam berjibaku di jalanan Ibukota yang masih padat merayap karena masih jam pulang kerja bagi karyawan lembur dan jauh domisilinya. Akhirnya mereka tiba di rumah sakit nasional Harapan Kita.


Yadi sudah bekerja di kediaman Keti hampir setahun lamanya. Otomatis Ia tahu kalau putri dari majikannya itu sering bolak-balik periksakan jantungnya yang sering bermasalah. Bahkan Yadi sudah hafal betul tanggal Keti kontrol jantungnya ke Dokter Afandy.


"Suster, pasien jantung spesialis dokter Afandy!"


Suster jaga langsung sigap menarik brankar khusus pasien dan menyuruh Ali yang menggendong Keti untuk meletakkannya di situ.


Mereka segera mendorong kereta brankar menuju ruang ICCU darurat.


Ali dan Yadi termangu, Suster melarang keduanya ikut masuk ke dalam.


Yadi langsung ingat pada kedua majikannya yang tak lain adalah orang tua kandung Keti.


Ia menelpon tuannya.


"Hallo, maaf Tuan, Non Keti baru saja masuk ruang ICCU rumah sakit Harapan Kita. Iya. Iya. Saya sendiri di sini. Iya. Oh, masih belum ada kabar apa-apa, Tuan. Saya masih menunggu kabar dari dokter Affandy. Iya. Baiklah. Iya, Tuan!"


Klik'.


Sambungan telepon itu berhenti.


Yadi menghela nafasnya.


Memegang kepala dengan kedua belah tangannya. Lalu duduk dengan hati cemas di bangku tunggu yang tersedia di bangsal.


"Maaf..., aku tidak tahu kalau Keti yang sekarang adalah gadis muda pengidap jantung bawaan."


Permintaan maaf Ali tidak merubah keadaan. Keti masih dalam kondisi pingsan, belum siuman.


"Aku... akhirnya berhasil pada pencarianku. Tapi belum mencapai final karena cukup sulit mendekati gadis manis ini."


"Jawablah dengan jujur. Kamu pasti mencintai Keti, bukan?"


Ali mendengus lalu menyeringai.


"Laki-laki bodoh yang tidak jatuh cinta pada Katrina. Kurasa kau pun ada hati sejak pertama jumpa. Jujur, iya kan!?"


"Iya."


Ali menjawabnya dengan cepat.


Keti adalah cinta keduanya setelah Laila.


Tapi dengan Keti, semua berjalan terasa indah. Lancar jaya tanpa hambatan karena Ali yang sudah memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk memulainya.


Apalagi, clue-clue tampak bertebaran memberi kode kalau mereka memang berjodoh di setiap kehidupan.


Justru bersama Laila, Ali makin ciut nyali karena Laila lebih terlihat akrab dengan laki-laki lain.


Sungguh hidup penuh misteri.


Siapa sangka justru Laila lah yang pertama kali merasakan keperjakaan Ali secara nyata dan...


"Laila! Aku sedang menunggu Laila!" pekik Ali teringat akan istrinya yang hilang masuk ke dalam cermin ajaib.


Yadi seketika menatap Ali tajam.


"Yad, Yadi! Tolong Aku! Laila masuk ke dalam cermin ajaib yang Eyang Toro berikan padaku!"


"Laila belum kembali?"


"Belum!"


Seketika dua raut wajah pria manis itu terlihat tegang.


"Bagaimana kita menarik Laila keluar dari kehidupan yang sedang dijalaninya di lain kehidupan?"


"Aku, juga kurang faham itu."


"Pasti ada cara untuk kita bisa masuk ke kehidupan yang kita inginkan dengan sistem galaksi kehidupan. Iya kan? Kamu jauh lebih senior dibandingkan Aku, Yadi! Kamu seorang ilmuwan murid Eyang Toro, kan!?!"


"Kamu tahu?"


"Tentu saja, gurumu yang memberitahukan Aku sebulan yang lalu. Eyang Toro menceritakan semuanya. Semuanya termasuk hubungan persahabatan beliau dengan Embah Kandut."


"Embah Kandut! Ya, benar! Mbah Kandut jawabannya!"


"Tunggu! Kita mau kemana, Yadi?"


Ali menghentakkan pegangan tangan Yadi yang menariknya hendak keluar ruangan tunggu ICCU tempat Keti dirawat.


"Aku tahu tempat Mbah Kandut!"


"Hahh? Bukannya Mbah Kandut sudah mati?"


"Beliau masih hidup! Aku pernah bertamu ke tempat prakteknya!"


"Praktek?"


"Praktek spiritual!"


"Mbah Kandut membuka usaha spiritual? Bukannya dia itu Profesor? Ilmuwan? Kenapa...,"


"Begitulah manusia. Selalu tak pernah puas dengan pencapaian yang didapat. Ayo!"


"Keti?!?"


"Aku sudah menelepon Papanya. Kau sendiri sedang bingung karena Laila menghilang, bukan?"


Ali mengangguk gamang.


"Ayo!"


Keduanya berjalan cepat menuju parkiran rumah sakit.


Tanpa banyak bicara, Yadi menyalakan mesin motornya dan membonceng Ali melesat membelah jalanan Ibukota di pukul setengah sepuluh malam.


Keti..., maaf! Aku terpaksa meninggalkan dirimu. Aku harus menarik kembali Laila. Aku... memilih mencari Laila ketimbang menunggumu siuman dari pingsan. Karena Laila adalah istriku. Perempuan yang telah menikah denganku tanpa banyak permintaan apalagi mahar yang besar. Kumohon, mengertilah aku.


Cekiiiitttt...


Ali terkesiap. Tiba-tiba saja Yadi mengerem laju motornya mendadak.


"Ada apa?"


"Eyang Toro!"


Ali menoleh ke depan.


Seseorang terlihat begitu silau terpancarkan cahaya lampu depan motor Yadi yang terang benderang.


"Eyang Toro?!?"


BERSAMBUNG