
"Hingga suatu ketika, Kandut berhasil memecahkan satu teori, tentang misteri Galaksi Kehidupan dan lubang portal yang Ia temukan tanpa memberitahukan Aku setelah itu. Ia..., bergerak sendiri. Bahkan melesat pesat sampai para profesor senior meng-elu-elukan dia kala itu. Menimbulkan rasa iri di hati ini."
Deg.
Jadi, siapa yang jahat kini!? Eyang Toro atau Mbah Kandut? Ya Tuhan... ternyata hidup ini tidak bisa diprediksi.
Ali termangu.
"Sedari kecil bersama, bersahabat dan besar bersama. Dalam suka maupun duka, hingga makan dan minum pun kami seringkali sepiring dan segelas berdua. Melakukan hal-hal besar maupun kecil bersama. Tertawa, menangis,... tapi ketika Ia sukses, Aku merasa diriku ditinggalkan tanpa perasaan. Sumbangsihku pada semua proyek seolah zero di matanya. Dan dia kini tersenyum puas sendirian. Menerima pujian demi pujian tanpa pernah sekalipun menyebutkan namaku sebagai partner penelitian. Sakit hatiku, Ali!"
Bisa dipahami. Betapa sedihnya hati Eyang Toro! Hidup ini memang keras. Bahkan sahabat bisa berubah seperti bangsat.
Ali teringat masa-masa Ia menjalani kehidupan di galaksi kehidupan bersama Firman. Ia, ditusuk dari belakang oleh Firman dan Laila yang berhubungan tanpa pemberitahuan. Rasanya... benar-benar menyakitkan. Tapi ternyata, entah ini karma atau apa. Di kehidupannya kali ini justru Ali lah yang berhasil mendapatkan Laila. Sedangkan Firman...
Seketika Ali tersadar.
Apa yang ia sakitkan belum tentu yang terburuk bagi hidupnya.
Apa yang Ia sukai tak selamanya baik untuk kehidupan masa depannya.
Semua ini adalah jalan kehidupan.
Baik buruknya seseorang, tidak bisa dicap untuk selamanya. Karena orang baik, tak selamanya baik. Orang jahat, bisa berubah suatu saat.
Bahkan duta kejujuran pun punya sisi buruk hingga terpeleset terbuka topeng kejujurannya dikarenakan bisa menilai orang tidak jujur hanya lewat dari satu kejadian saja.
Hati orang tidak bisa ditebak. Tidak dapat diukur kedalamannya. Masalah ketulusan, cinta dan kasih sayang, semua bisa berubah seiring masa.
Grepp.
Ali terkejut, Toro memberinya sebuah bungkusan.
"Peganglah! Aku... titip ini untukmu, Ali!"
"A_apa ini, Eyang?"
"Ini adalah implementasi dari Sistem Galaksi Kehidupan. Ini adalah jalan kamu untuk melakukan perubahan."
Deg.
Perubahan? Seperti apa? Merubah sesuatu yang sudah terjadi menjadi tidak terjadi lagi? Membetulkan hal yang tidak benar menjadi benar di mata manusia, padahal justru Tuhan punya rencana?
Grepp
Ali memberikan kembali benda yang terbungkus itu. Ia sudah cukup merasakan kepedihan mengikuti jalur portal cermin ajaib yang pernah ada bersamanya dalam beberapa kehidupan.
"Mengapa Tuhan menciptakanmu terlahir di dunia?"
Ali tergagap mendapati pertanyaan seperti ini dari Toro.
"Tentu saja agar bisa memahami kehidupan!"
"Betul. Namun yang terpenting adalah agar kamu bisa memilah jalan mana yang baik dan mana yang buruk yang seharusnya kamu tempuh. Sebagai pelajaran hidup dan peningkatan kualitas hidup hingga akhirnya kau melewati fase hidup di dunia dengan satu cap 'berhasil' atau 'gagal'."
Ali tertegun.
Apakah setiap kita manusia boleh mencap seseorang berhasil atau gagal hidup di dunia? Bukankah bisa jadi di dunia dia terlihat gagal padahal justru kegagalannya di dunia membuat dirinya berhasil di akhirat? Haish... pusing kepalaku!
"Ali, terimalah benda ini. Aku lebih percaya kepadamu daripada muridku sendiri yang bernama Yadi."
"Yadi? Yadi itu murid Eyang? Bukankah dia adalah cucu Mbah Kandut, rivalnya Eyang?"
Toro menyeringai.
"Yadi muridku. Ia sangat berambisi menguasai dunia. Impiannya menjadi ilmuwan termuda hampir berhasil, tapi sampai beberapa kehidupan pun, Tuhan tidak menghendakinya. Kecuali... Tuhan yang akhirnya mengijabah karena kegigihannya berusaha. Dan ada satu anak perempuan, yang memiliki ketiga buku seri Sistem Galaksi Kehidupan. Dialah kini yang menjadikan tonggak keberhasilan Yadi menjadi penguasa Bumi jika benar-benar berhasil memegang ketiga buku tersebut. Yadi, bisa saja menjadi orang baik. Tapi kemungkinan besar, bisa juga bahkan menjadi lebih jahat. Semua pilihan ada di tanganmu, Ali! Rubahlah dunia! Tetap jaga keseimbangannya agar tidak cepat kiamat. Kurasa, kamu mengerti maksudku!"
Toro kembali menaruh bungkusan yang ditolak Ali. Ia berdiri dengan tubuh tuanya yang ringkih. Mengambil gala kayunya dan mulai menata tali temali keranjang anyaman bambunya untuk kembali ditanggung.
"Ini, untukmu dan istrimu!" ujar Toro sambil memberikan sesisir pisang tanduk kepada Ali.
Ali terkesiap.
"Eyang tahu, Aku sudah menikah?"
Toro tersenyum.
"Sendi lututmu bunyinya berbeda. Hehehe..."
"Hahh?"
Sontak Toro tertawa.
"Kebanyakan begituan, dengkulmu kopong nanti! Tetap siapkan amunisi, tapi atur ritme serta waktu. Hahaha...! Sudahlah, Aku sudah tua bangka tapi bercanda layaknya anak muda. Tak apa, karena sudah halal. Tapi kau jadi lupakan kewajiban mensyukuri nikmatmu menghadap Sang Pencipta."
Ali tertohok.
Memang betul. Subuhnya terlewat tanpa rasa bersalah karena terhalang nikmat dunia.
Lekukan tubuhnya yang molek, membuat darah muda Ali yang baru pertama kali menyentuh kulit lawan jenis tanpa batasan, apalagi dengan status halal yang kini mereka dapatkan, hubungan itu selalu bikin nagih.
"Aku permisi, Ali. Jaga dirimu baik-baik. Tetaplah jadi anak baik! Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Ali masih tertegun memikirkan kesalahan yang Ia perbuat tanpa disadari.
Seketika pula Ali teringat,
"Eyang, tunggu! Dimana Eyang tinggal? Kemana Aku bisa menemui,..."
Ali menoleh kiri dan kanan.
Berdebar kencang jantungnya.
Toro tidak terlihat di area manapun sapuan matanya.
Ali membalikkan tubuhnya cepat.
Memfokuskan pandangannya mencari sosok Toro yang tadi berjalan ringkih.
Tidak mungkin! Bagaimana mungkin Eyang Toro menghilang secepat ini?
Ali setengah berlari mencari ke sana kemari.
"Pak, apa lihat kakek-kakek tua penjual pisang?" tanyanya pada seorang pejalan kaki yang melintas di dekatnya.
Bapak pejalan kaki itu menggeleng, tanda tidak tahu.
Ali kembali menyusuri trotoar dengan mata mencari-cari.
Toro benar-benar menghilang dari pandangan Ali.
Ya Allah ya Karim! Apakah..., Aku berhalusinasi tadi? Apakah Eyang Toro adalah makhluk tak kasat mata?
Merinding bulu kuduk Ali.
Tapi matanya tersentak menatap bungkusan yang ada di tangan kiri dan seplastik pisang tanduk di tangan kanan bersama map CV curriculum vitae miliknya.
Ini bukan halusinasi! Ini..., masih ada di tanganku!
Ali menelan air ludahnya. Merasa seperti ada beban berat yang kembali harus Ia pikul.
"Aku percaya padamu, Ali Akbar!"
"Eyang!!! Eyang Toro!!! Dimana kah Eyang berada???" teriak Ali membuat beberapa orang yang ada di sekitarnya menoleh kebingungan.
Ali agak frustasi.
Suara Toro menghilang juga meskipun dirinya berteriak-teriak memanggil.
Ali duduk di pinggir trotoar jalan.
Lelah, letih. Tapi tak tahu harus apa lagi.
Sampai,...
"Kak Ali!?!"
Ali mendongak.
Seraut wajah teduh yang Ia kenal, seakan mampu mengobati hatinya yang rapuh.
"Keti?!?"
"Kak Ali sedang apa? Habis cari kerjaan?"
Ali menelan salivanya. Seketika malu hati mendengar pertanyaan Keti yang lugu dan polos.
"Apa..., Kak Ali mau kerja di percetakan Papa Keti?"
Ali kembali terkejut.
Keti benar-benar spek bidadari.
"Mau!"
Tentu saja Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini. Mencari kerjaan untuk menghasilkan uang, itu tujuan hidupnya kini.
"Itu, di seberang sana, Kak... ada ruko percetakan milik keluarga Keti. Gajinya kecil, tapi... untuk batu loncatan sepertinya bisa diandalkan."
Tidak apa-apa, Keti! Aku mau, aku mau!
BERSAMBUNG