MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETUJUH PULUH DUA


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam."


Laila menyambut Ali dengan wajah sumringah.


Azan Maghrib baru selesai berkumandang, sang suami baru saja pulang.


Ali menghela napasnya. Senyum tipis seraya menyodorkan plastik kresek hitam berisi pisang tanduk yang tadi Eyang Toro berikan padanya.


Hari yang melelahkan.


Apalagi setelah menyadari kalau dirinya masih terus harus bersinggungan dengan Toro, Yadi, Kandut serta Keti.


Sungguh dunia ini penuh misteri.


Ali menelan ludahnya. Ia teringat ucapannya barusan pada Keti, gadis muda yang masih enam belas tahun itu.


Keti selalu jadi pahlawan baginya.


Bahkan di beberapa kehidupan yang pernah Ali lewati.


"Keti, maaf ya. Aku meminta kamu untuk merahasiakan kalau tempat kerjaku ini adalah perusahaan orang tuamu pada Laila. Kumohon, ya?"


"Tenang saja, Kak. Hehehe... Akan kuusahakan untuk merahasiakannya. Pasti Kak Laila akan marah besar kalau tahu Aku lagi yang merekomendasikan tempat kerja Kak Ali saat ini. Tapi kalau ada kerjaan yang lebih baik lagi dengan gaji yang lebih besar, sebaiknya ambil kesempatan itu. Aku cuma tidak ingin, Kakak Ali kesusahan hidupnya."


Ya ampun, bocil ini! Kenapa dia bijaksana sekali? Dia bilang, tidak ingin melihatku kesusahan hidupnya. Sweetnya! Padahal setiap saat, setiap kali bertemu, aku seolah sedang memanfaatkan dirinya saja. Sejak dulu. Hampir di semua kehidupan yang telah kujalani.


Ali merona. Mengingat pada ramalan Embah Kandut jauh sebelum dirinya mengenal Toro, Keti, Kandut dan Yadi.


Kandut yang membuka stand ramalan di pasar malam dekat lapangan banteng meramalnya cukup mengagetkan.


"Kamu... punya kharisma yang cukup besar di masa depan. Hidupmu akan baik dan mencapai keemasan setelah tiga tahun mendatang. Ada dua perempuan yang setia berdiri di kanan dan kirimu. Tapi hati-hati, kalau kau tidak bisa adil, maka habislah kau dilumat perempuan-perempuan itu. Hahaha... hahaha...!"


Apakah...Laila dan Keti adalah dua perempuan itu? Apakah mereka akan setia berdiri di kanan dan kiriku di masa depan?


Ali terkesima, Laila memeluknya erat hingga nafasnya tersendat.


Hari yang melelahkan. Namun disambut hangat oleh seorang perempuan yang berstatus istri, rasanya ternyata seperti ini. Hati Ali menghangat seketika.


"Hhh..., capek ya? Bisa-bisanya pulang beli pisang gede-gede begini. Hihihi...! Bikin pikiranku traveling, tau!" gurau Laila membuat Ali ikutan tertawa.


Ia baru sadar, pisang tanduk memiliki ukuran yang lebih besar dari pisang-pisang pada umumnya. Tentu saja bisa jadi candaan mesum yang menghebohkan kaum wanita.


Ali tak berani bilang kalau itu ada pemberian Toro, ex kakeknya di kehidupan Ali terdahulu pada Laila.


Kalaupun dijelaskan sejelas-jelasnya, Laila pasti tidak akan mengerti. Kehidupannya silih berganti. Berubah-ubah situasi, yang bahkan membuat Ali sendiri seperti orang gila.


"Mandi dulu. Aku akan siapkan makan malam, Sayang!"


"Hm? Makan malam?" tanya Ali penasaran.


"Hehehe... Makan nasi Padang paket sepuluh ribuan."


Ali tersenyum lebar.


"Ada kabar gembira, La!" katanya membuat netra Laila merebak bercahaya.


"Apa? Apa???"


"Aku, dapat kerjaan!"


"Huaaa! Yeeaa, suamiku keren banget!"


Ali tersipu dipuji Laila.


Dengan gemas tangan yang yang nakal menjawil dagu Laila lalu turun ke buah dadanya dengan jantung berdebar.


"Hei, nakal ya?! Hihihi... Sana mandi! Ish, bau acem! Hehehe..."


Ali terkekeh. Tak menyangka jika kini dia bisa berlaku tidak sopan pada Laila yang dahulu sangat Ia puja dan tak berani berlaku sembrono bahkan hanya untuk menyentuh jemari lentiknya saja. Ali tidak pernah berani.


Namun kini...


Pikiran Ali berkelana pada hubungan badan semalam. Lupa sampai berapa babak mereka bercinta. Sampai lupa mandi junub dan kesiangan bangun subuhan.


Bahkan pukul enam mereka kembali Serangan fajar. Sungguh hidup yang membuat Ali bagaikan seorang Raja yang dimanja Ratunya.


Ali mandi.


Kini Ia tak ingin lewatkan maghribnya.


Ditariknya sarung panjang dan kopeah hitam milik Ali dan bergegas keluar kamar hendak ke masjid terdekat.


"Mau kemana?"


Laila terkejut melihat penampilan Ali yang sudah rapi klimis.


"Maghrib berjamaah dulu ya?" ujarnya.


Dengan tangan jahilnya, Ali kembali menjawil dagu Laila. Tapi tidak iseng ke area sensitif seperti tadi.


Cup.


Kecupan manis mendarat di kening Laila yang tersipu malu.


Laila yang mendapatkan perintah seperti itu, seketika termangu menatap dua piring nasi Padang yang sudah ia buka bungkusnya.


Perutnya lapar menahan perih sedari pagi.


Laila belum makan sejak sarapan bersama Ali tadi pagi. Hanya baru nasi uduk dan segelas teh manis hangat saja yang masuk ke perutnya. Setelah itu, minum dua gelas mineral yang Ia beli di warung depan gang kontrakan.


"Hhh... Dasar deh, beneran gak peka!" gumam Laila agak kesal.


Apa dia sudah makan diluar barusan? Sama siapa? Temannya kah yang traktir? Soalnya Ali gak punya uang selain dua puluh ribu yang kuberikan untuk ongkos perjalanan pulang pergi cari kerjaan. Hhh...


Laila menyantap makanannya, sendirian.


Padahal tadi sore ia sudah mengkhayalkan makan berdua suami. Walaupun menu murah seharga sepuluh ribu rupiah satu porsinya, tapi rasanya pasti akan nikmat luar biasa karena di makan bersama pasangan tercinta.


Laila terlalu kesenangan memikirkan khayalnya barusan.


Kenyataannya, tak seindah khayalan karena Ia hanya makan sendirian dan Ali justru pergi ke masjid untuk sholat Maghrib dan Isya sekalian.


Laila menatap lesu ayam bakar yang jadi lauknya.


Nasi yang murah untuk ukuran rumah makan di Jakarta, dan seperti ekspektasinya, rasanya memang berbeda dengan rasa ayam bakar yang harganya jauh lebih mahal pastinya.


Laila menyudahi makannya yang tak habis dan masih tersisa banyak. Makannya kurang selera.


Akhirnya Laila memilih masuk ke kamar dan berniat rebahan.


Tiba-tiba matanya melihat satu bungkus plastik hitam yang teronggok memancing rasa penasaran.


Ia segera memeriksa bungkusan yang Ali bawa satunya lagi di atas nakas kecil samping kasurnya.


"Apa ini?"


Laila membuka bungkus kertas sampul buku yang berwarna coklat itu.



"Cermin?"


Sebuah cermin jadul yang berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 20 cm x 30 cm dengan ukiran dan list baja di setiap pinggirannya.


Bagus, meskipun sederhana.


Laila termangu menatap cermin yang Ia yakini bukalah cermin baru.


"Apa Ali beli ini di lapak tukang loak? Koq bisa-bisanya dia beli cermin padahal gak punya uang? Apa ... dia jalan kaki pulang pergi cari kerjaan?"


Laila bingung menerka apa yang terjadi sebenarnya pada Ali siang tadi.


Sementara Ali di masjid masih mengikuti kajian sambil menunggu waktu isya tiba.


Ia yang notabenenya adalah warga pindahan, orang baru di lingkungan itu, tidak kesulitan untuk bergaul dan berbaur bersama beberapa jamaah kajian yang mayoritas usia dewasa di atas tiga puluh tahunan.


"Kamu sudah nikah di usia dua puluh tahun?"


"Iya, Mas. Hehehe..."


"Keren. Anak muda sekarang berani-berani ambil keputusan. Aku dulu putuskan nikah usia udah mau 28 tahun. Itupun merasa sudah cukup kuat finalsial, baru berani memulai."


"Hehehe...! Modal nekad, Mas! Hanya khawatir nafsu lebih gede. Bisa gelap mata, khilaf jadinya zinah. Untungnya keluarga pasangan juga menerima keadaan saya yang cuma bisa nikahin siri dulu, baru berfikir nikah resmi setelah kerja mapan dan punya tabungan. Hehehe... sembrono ya mas!?"


"Lumayan keren lah. Hehehe..."


Ali senang, meskipun dirinya masih lumayan muda, mereka semua menerima Ali di lingkungan baru. Menyupport agar tetap fight menjalani kehidupan. Terlebih kehidupan berumah tangga yang kata mereka semakin kesini semakin menyeramkan.


Ali dan para pria dewasa itu tertawa. Mulai membahas kalau hidup berumah tangga butuh mental yang kuat. Ada banyak cobaan dan godaan di era sekarang ini. Semua serba berat termasuk menata ekonomi agar kian baik untuk menghidupi anak istri.


Azan Isya sudah masuk waktunya.


Beberapa jamaah mempersilahkan Ali untuk unjuk kebolehan mengumandangkan azan. Tentu saja Ali gugup keringatan.


"Duh mas Baihaqi, jangan saya. Selain suara saya tidak enak di dengar, saya juga gak percaya diri. Takutnya salah karena gugup. Maaf, saya jadi makmum sejati aja deh!"


"Anak muda harus berani tampil untuk hal yang positif. Aku awal-awal juga nervous. Grogi sampai suara rasanya kayak orang kecekik. Tapi, semakin sering azan, Alhamdulillah semakin merasa lebih baik. Dicoba aja dulu, Li!"


Ali yang terdesak, ditambah dukungan semangat dari beberapa orang jamaah yang jadi teman barunya pun terpaksa mengikuti.


Toh aku baru kenal mereka ini. Ga apa kali ya coba azan Isya. Kalau suaraku jelek, mereka pasti gak akan menyuruhku lagi di lain waktu.


Ali bangkit dengan mengumpulkan semua keberaniannya.


Dengan membaca kalimat basmalah dalam hati, Ali bersiap mengumandangkan azan di depan mik masjid.


"Allahu Akbar Allaaahu Akbarr..."


Sring


Sring


Sring


Laila terkejut sekali. Cermin yang Ia pegang tiba-tiba memantulkan cahaya. Dan...


BERSAMBUNG