MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEENAM PULUH SEMBILAN


Setelah terjadi drama rumah tangga yang lumayan menegangkan, Ali keluar rumah dengan menenteng map biru di ketiak.


Tujuannya, tentu saja ingin mencari pekerjaan.


Berharap ada perusahaan yang sudi mempekerjakan dirinya. Pekerjaan apapun itu, sesuai dengan ijazah SMA yang Ia punya.


Laila sendiri saat ini Ali suruh diam di rumah.


Seminggu ini, Ali akan berjuang sendirian sedangkan Laila fokus sebagai ibu rumah tangga dulu saja.


Laila sudah memutuskan berhenti kerja di cafetaria ketika siang, dan jadi waitres night club di V night club malam harinya.


Semua Ia lakukan demi untuk mendapatkan cuan untuk makan Keluarganya kala itu.


Papanya sedang di masa kehancuran.


Meskipun sang Papa bekerja, tetapi gajinya habis untuk membayar hutang piutang kepada perusahaan karena sudah tertangkap basah korupsi milyaran rupiah.


Ali sendiri berusaha menerima Laila dengan segala tindakannya. Laila sudah jujur pada Ali, semua Ia lakukan dengan keterpaksaan. Walau Laila tidak menceritakan semuanya secara detil, Ali bisa mengerti dan meminta Laila untuk tinggalkan semua masa lalu yang suram.


Sama seperti dirinya, yang ingin sekali menjelang masa depan bahagia. Tinggalkan semua kesakitan, kepahitan dan kesakit-hatian di masa lalu.


Jembatan Semanggi menjadi tempat peristirahatan yang Ali pilih untuk berkeluh kesah dalam hati.



Seharian menyusuri jalanan pusat Ibukota yang iconic itu hanyalah peluh dan kekecewaan yang menggumpal dalam hati.


Gedung-gedung tinggi pencakar langit, berdiri angkuh dan dingin tanpa perasaan. Tak ada lowongan pekerjaan. Begitulah para penghuninya yang meskipun hanya sebagai kacung penjaga gerbang perusahaan, namun arogansinya melebihi satpol PP yang sedang bertugas mengobrak-abrik pedagang kaki lima nakal.


Hhh...


Ali berdiri di bawah pohon akasia di tepi jalan.


Betisnya pegal, kakinya gemetar.


Dari pukul sembilan pagi hingga sore hari menjelang, dia berjalan menyusuri area alur simpang Semanggi. Dari ujung barat ke ujung timur, dari selatan memutar ke utara. Hasilnya tetap nihil. Hanya dua rumah ibadah yang menerimanya meskipun dengan tatapan miris sang marbot penguasa masjid, namun membiarkannya sholat Dzuhur dan Ashar yang dipenuhi doa-doa pengharapan agar diterima kerja di salah satu perusahaan.


Namun sepertinya Tuhan masih ingin menguji Ali.


Senja tenggelam, jalanan Semanggi semakin padat merayap bahkan kadang tersendat.


Ali melipir menapaki trotoar.


Tertunduk lesu dengan kemeja putih tulang yang basah keringat dibagian belakang dan sekitar ketiak.


Tiiiinn


Nyaris Ia melonjak saking kagetnya mendengar suara klakson mobil yang keras sekali.


Seorang kakek tua bertopi pandan menyebrang jalan dengan langkah terhuyung karena memikul dua anyaman bambu yang berisi buah pisang dagangan.


Kejamnya Ibukota!


Ali mencoba bergerak dengan kearifan lokalnya ingin menolong sesama.


"Kek, nyebrangnya di JPO! Bahaya nyebrang begitu! Ente emangnye ude mo log in ke alam lain?!" hardik seorang kernet bis dari balik pintu bus yang berjalan melenggang.


"Terima kasih, Anak Muda!"


"Sama-sama, Kek! Hati-hati di jalan,...Ke_k?!?"


Sontak kedua bola Ali membulat besar.


"Eyang Toro!!!" serunya setelah tersadar kalau kakek tua yang Ia tolong itu adalah Eyangnya di kehidupan yang lain.


Keduanya menepi di pinggir trotoar. Berjongkok di bawah pohon rindang, sama-sama menghela nafas panjang dan berfikir dengan keruwetan masing-masing.


"Eyang..., Ali sungguh tidak faham dengan semua ini!" kata Ali kemudian. Ia mencoba mencari jalan keluar dari kerudetan hidupnya yang membingungkan.


"Maaf..., Aku telah membuat hidupmu jadi seperti sekarang ini."


Ali menoleh ke arah Toro. Bingung bukan kepalang.


"Dunia ini, panggung sandiwara. Orang baik, tak selamanya baik. Orang jahat, bisa jadi baik jika bertobat dan ingin insyaf."


Ali termangu. Ucapan Toro membuatnya mengangguk pelan.


Seperti Laila, terkadang sikapnya berubah. Kadang baik, tak jarang membingungkan.


Ali menghela nafas. Sesaat fikirannya melayang ke rumah kontrakan mereka.


Apa yang sedang Laila lakukan saat ini di rumah, ya? Tanyanya dalam hati.


"Ali..."


"Ya, Eyang?"


"Sejujurnya, kamu bukanlah cucuku. Bukan darah ku yang mengalir di tubuhmu. Ini semua, karena sistem Galaksi Kehidupan."


"A_pa???"


Ali terkesiap.


Darahnya berdesir, jantungnya berdebar. Toro membuat seluruh persendian tubuh Ali lemas seketika.


"Aku melihatmu menangis di tengah hujan deras beberapa waktu lalu. Aku, yang juga sedang mengalami fase hidup yang sedang tidak baik-baik saja ingin sekali membantu dengan cara memanfaatkan kesengsaraanmu."


"Ma_ksudnya?"


Ali bingung.


Toro mulai bercerita. Panjang lebar dan dengan kisah yang mengejutkan.


"Aku dan Kandut adalah dua sahabat lama. Sama seperti dirimu dengan Firman. Itu karena kami adalah tetanggaan. Kehidupan kami high class bahkan kami ini adalah dua ilmuwan yang suka sekali melakukan percobaan-percobaan membuka tabir pelajaran, apapun itu. Karena kami satu sekolah, satu kampus dan belajar menempuh pendidikan sarjana, magister sampai doktor bersama-sama. Hingga lupa, kalau usia kami sudah tak lagi muda karena haus terus akan pendidikan dan pengetahuan."


Ali terpana. Sungguh cerita baru yang tidak masuk akal.


"Hingga tiba-tiba,..."


BERSAMBUNG