MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETIGA PULUH LIMA


Apakah ini terjadi karena beberapa kali Aku merubah jalan cerita yang sudah digariskan hingga berimbas pada jalan hidupku di masa mendatang? Aku pernah merubah keadaan dimana teman SMP ku pindah sekolah bahkan pindah kota karena kasus perundungan. Lalu, adiknya Firman, bahkan bisa hidup terus setelah Aku masuk di kehidupan dimana Ia harusnya meninggal dunia karena terjatuh dari salah satu wahana taman hiburan. Terakhir, kisah Anton Darmawan yang ternyata memiliki sisi kelam dalam keluarga. Lalu... Apakah, Firman mati muda karena pertukaran nyawa yang harus dibayar karena Aku berusaha menyelamatkan adiknya? Lantas bagaimana bisa Aku melenyapkan nyawa Firman padahal dia-lah sahabat yang paling berjasa dalam hidupku selama ini? Untuk Laila, meskipun kini Ia sudah bisa melupakan Firman dan memulai hidup baru dengan Anton, tapi mendapatkan nasib buruk mengalami kecelakaan lalu lintas bersama Firman pastinya membuat Laila jadi begitu trauma dan langsung down ketika nama Firman Aku sebut. Hhh...


Ali masih terus memikirkan semua kemungkinan yang terjadi dalam hidupnya kini.


Ia sempat tertegun, melihat sebuah rumah minimalis dua lantai. Ukuran kecil memang. Tak sampai seratus meter persegi. Tapi kata Keti ini adalah rumah yang dibangun Ali tiga tahun yang lalu. Tepatnya setelah bisnis usaha jual beli besi-besi tuanya semakin sukses dan mencapai puncak.


Ternyata di umur kedua puluh tiga, Ali yang selalu tekun melanjutkan usaha Bapaknya sebagai pemulung mulai merambah menjadi pengepul sampah daur ulang atas suntikan dana dari Anton Darmawan.


Hidupnya memang berubah.


Berubah menjadi lebih baik di masa depan.


Tetapi, Ia juga memiliki perasaan bersalah yang teramat besar karena tidak bisa membuat Firman hidup bahagia.


Teringat masa-masa kecil mereka dulu.


Firman yang sudah memberikan sinyal kalau Ia menyukai Laila meskipun kemungkinan Ali pun tak kalah suka tapi tidak berani menampakkannya.


Ternyata, ternyata mereka sempat berpacaran juga.


Ada kebahagiaan juga yang Firman terima meskipun akhirnya Ia harus menghadap Sang Maha Kuasa lebih dulu meninggalkan Ali terutama Laila. Firman sempat berpacaran dengan Laila.


"Berapa tahun mereka berpacaran, Ket?"


"Kat Ket Kat Ket! Ish! Kenapa sih kamu ini? Biasanya panggil Aku Bibub. Sekarang Ket! Ada apa sih, Li? Kenapa jadi seperti ini?"


Ali menelan ludah.


Keti terlihat sangat berang dengan wajah datar namun mimik menyeramkan.


"Maaf, Bib_Bibub!" ujar Ali terbata-bata.


Panggilan sayang mereka terdengar menggemaskan. Tentu saja merona merah jambu wajah Ali karena tersadar kini Ia adalah seorang suami dari perempuan cantik yang sedang hamil enam bulan itu.


"Tolong, Pup!"


"Hahh?!?"


Dari pink, wajah Ali berubah menjadi merah padam.


Keti membuka resleting belakang dress-nya sambil memberikan sebotol hand and body lotion.


"Tolong,..."


Keti memunggungi Ali seolah minta sesuatu.


"A_apa?" tanya Ali dengan suara tercekik.


"Seperti biasa, kulitku semenjak hamil jadi sangat sensitif. Cepat kering juga gampang kemerahan kayak iritasi."


Ali menelan air liurnya.


Ia gugup dan grogi. Sampai menjatuhkan botol lotionnya hingga menggelinding ke kolong ranjang.


"Aku ganti sarung deh ya, ehh bentar. Pup, tolong bukain pengait br4 nya, dong!"


Lemas lutut Ali menahan libidonya yang langsung meninggi drastis.


"Mm mm gi_gini?"


Tangan gemetar sampai berkeringat. Dadanya bergemuruh, jantungnya juga cenat-cenut.


Duhh, Mak! Ngapain sih Ket, bikin gue deg-deg ser?!? Haish, ini dosa ga sih? Tapi, tapi kita kan udah sah suami istri. Ini bukan jinah ding harusnya. Hilih! Njiiirrr!!! Gue baru mau 20 tahun aslinya. Tapi sekarang disuruh ngerasain jadi calon bapak. Aduuhh, sumpah ini adegan bikin gue sutris parah! O my God! Duhh...


Ali berjongkok. Ia mengambil lotion yang barusan jatuh dan kembali berdiri.


"Yassalam!' ujarnya spontanitas.


Keti tersenyum lebar sambil iseng menggodanya dengan memainkan kain sarung turun naik hingga sebagian dadanya terbuka dan menyilaukan mata Ali.


"Nanti masuk angin! Dasar bandel!" sungut Ali berusaha merapikan kembali sarung yang dipakai Keti.


Mata Ali terkesiap.


Tangan Keti menuntun jemari Ali untuk memegang perut buncitnya yang terdeteksi seorang calon manusia sedang bersemayam dalam rahimnya.


"Masya Allah!"


Ali seperti bermimpi. Sungguh tak percaya dengan rabaannya yang tepat diatas perut dimana sesosok janin sedang bergerak lincah kekanan dan kekiri. Benar-benar seperti sedang menggocek bola.


Matanya bertatapan langsung dengan Keti. Seketika Ia tersadar, Keti masih belum mencopot kontak lensanya.


"Keti,... kalau mau tidur lensanya buka dulu, Neng! Bahaya, tau!"


Pluk.


Ali kaget. Keti malah memukul bahunya dengan keras.


"Pipup! Iiih nyebelin banget hari ini! Aku gak pernah bisa pake lensa kontak! Padahal kepengen banget! Malah diledekin kayak gitu. Rese' banget sih?!"


"Hah? Memang ini bola mata warna asli? Bukannya bola mata kamu itu hijau kebiru-biruan ya?"


"Pipup??? Ali Akbar bin Bapak Agus??? Kamu gak lagi mabok kecubung kan?!?"


"Hyaaa!!! Hari ini Aku beneran linglung!!! Sumpah, pusing banget Aku!"


"Kamu lagi pusing mikirin apa? Biaya lahiran anak kita? Semua sudah tercover dengan baik kan? Tabungannya kurasa sudah lebih dari cukup. Masa' uang dua puluh lima juta buat lahiran normal masih kurang. Takut kurang kalau ada apa-apa? Kan Aku punya uang simpanan lain. Tenang aja. Insha Allah cukup koq!"


Uang sebanyak itu? Aku punya? Wuaaa... ternyata Aku bisa keren juga!


"Tunggu! Aku bisa punya uang sebanyak itu apa hasil dari jual rumah warisan di kampung almarhum Bapakku ya?"


"Astaghfirullah! Pipup!!! Bapakmu masih ada kamu bilang almarhum?!? Kamu kenapa sih? Kamu kemasukan jin iprit mana??? Kyaaa! Astaghfirullahal'adziiim... Jangan, jangan-jangan kamu bukan suamiku!?!"


Keti terlihat panik.


Ia mulai tersadar kalau Ali yang dinikahinya bukan Ali yang kini tengah duduk di pinggir ranjang tidur.


Ali yang ini terlihat culun dan polos.


Berbeda dengan Ali suaminya yang gragas yang pasti akan langsung mengajaknya bermain ketika Keti menggodanya dengan sarung tadi.


"Kamu, kamu siapa???" tanya Keti ketakutan.


"Aku Ali, Keti! Ali Akbar! Sumpah demi Allah!"


"Bu_bukan!"


"Ini Aku Ali Akbar!"


"Tanggal lahir, bulan dan tahun kamu berapa?"


"Sepuluh Agustus dua ribu tiga. Tentu saja Aku tahu!"


"Kalau Aku?"


"Hahh? Kamu?!?"


Waduh! Sumpah gue gak tau hari dan tanggal lahir si Keti berapa! Ini pertanyaan paling susah.


"Jawab!!!"


"Lupa. Maaf, Sayang!"


"Lupa??? Kamu bilang lupa??? Bagaimana bisa kamu lupa, padahal justru kamu yang selalu ingat tanggal-tanggal bersejarah dalam hidup kita. Tanggal pernikahan kita, berapa?"


Semaput wajah Ali pucat pias seketika.


Mana gue tahu, Ket, kapan kita nikah!?! Hiks, pertanyaannya makin kesini makin kesana!


BERSAMBUNG