MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KELIMA PULUH ENAM


Ini adalah hari ketiga kepergian Firman.


Ali bertahan di kediaman keluarga Firman. Turut serta mendoakan almarhum sahabatnya itu agar tenang di alam baka, dengan mengikuti tahlilannya setiap malam.


Hari keempat, suasana jauh lebih tenang karena saudara dan kerabat mendiang Firman satu persatu mulai pamit pergi.


Laila dan keluarganya juga pamit hendak melanjutkan perjalanan mereka yang akan pindah domisili keluar kota.


"Pa, Ma... Laila nanti belakangan pulangnya. Laila mau mengobrol dulu dengan Ali di rumahnya!"


Orang tua Laila mengangguk, Ali mencium tangan kanan mereka satu persatu.


"Li, Aku ikut kamu!"


Ali tak bisa menolak permintaan Laila.


"Tapi Aku jalan kaki, La!"


"Tidak apa-apa."


Rumah mereka bertiga memang tidak terlalu jauh. Masih bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki saja.


Laila tinggal di perumahan paling besar di depan jalan raya.


Sementara Firman di pemukiman padat penduduk di bagian tengah.


Ali sendiri, tinggal di paling ujung rumah kontrakan yang dekat dengan aliran sungai yang jika hujan lebat kadang banjir menerjang.


Rumah kontrakan Ali juga tidak jauh dari Tempat Pembuangan Akhir sampah yang menjadi polemik akhir-akhir ini.


"Li..."


Ali menyodorkan segelas cup air mineral yang masih tertutup rapat segelannya. Satu sedotan tak lupa Ia taruh di atasnya.


Mereka sudah sampai di rumah kontrakan Ali.


"Minumlah dulu!"


Laila menurut. Diseruputnya air putih itu untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


Ali menghela nafasnya beberapa kali.


"Li... Nikahi Aku."


Sontak Ali terkesiap.


Ujaran Laila membuat Ali hampir tersedak air ludah sendiri.


"A_pa???"


"Aku, bisa tetap tinggal di Jakarta asalkan ada yang menjadi penanggung jawab yaitu suami."


Laila menundukkan kepalanya.


Ali bingung. Ia seperti merasakan dunia berhenti berputar sesaat.


"La... Pernikahan itu bukanlah permainan. Jangan asal ambil keputusan."


"Ini justru pemikiranku yang paling serius, Ali!"


"Kamu beneran mau nikah sama Aku? Aku?!? Apa kamu gak salah ambil langkah?"


Terlihat Laila seperti merasa nafasnya sangat berat terhimpit beban di hati.


"Ini jalan terbaik."


"Tapi Aku bukan lelaki terbaik. Aku, pengangguran yang kerjanya masih serabutan bahkan kadang kalau kepepet berakhir juga jadi pemulung. Tidakkah kamu pikirkan itu, Laila? Sementara kamu sendiri, seorang anak gadis dari keluarga kaya raya. Putri kesayangan keluarga yang hanya anak perempuan satu-satunya. Ketiga kakak laki-lakimu pasti tidak akan semudah itu memberikan izin. Apalagi Papa Mama kamu."


"Keluarga kami, sedang tidak baik-baik saja, Li!"


Ali menelan ludah.


Ia gugup sekali ketika Laila tiba-tiba mengajaknya menikah.


Meskipun dahulu Ia sangat mencintai Laila, tapi untuk berjalan sejauh itu disaat sekarang ini rasanya itu adalah impian gila baginya.


"Papa..., dimutasi ke luar pulau Jawa karena terbukti melakukan korupsi. Ada opsi, pilih dipecat secara tidak hormat dan masuk penjara atau dimutasi asalkan mengembalikan uang korupsi yang Papa ambil. Papa memilih opsi kedua. Demi nama baik keluarga dan kami terpaksa menjual semua aset termasuk rumah agar bisa tetap bekerja dan kasus ditutup rapat pihak perusahaan."


Ali tertegun.


Ternyata permasalahan keluarga Laila jauh lebih buruk dari perkiraannya.


Laila mulai terisak. Lelehan air matanya membuat Ali melemah.


"Kakak-kakakmu? Orangtuamu?"


"Mereka memberiku kebebasan. Asalkan ada yang bertanggung jawab dengan kehidupanku selanjutnya, Aku bisa bebas dari mereka. Setidaknya, beban hidup mereka berkurang satu. Itu pemikiranku."


"Ketiga kakak laki-lakimu? Mereka bagaimana?"


"Mereka akan ikut pindah ke Lombok. Mereka juga malu karena desas-desus masalah Papa juga berimbas pada pergaulan dan pekerjaan mereka. Semuanya ingin memulai hidup baru. Sama seperti Aku, Li!"


Ali mengusap raut wajahnya.


Berdiam diri dengan kepala mumet seperti gulungan kabel yang tumpang tindih.


"Aku sendiri, tidak punya apa-apa. Bahkan untuk makan hari ini pun. Sepeser uang tak ada di kantong, La! Maaf..., bukan maksudku menolak dirimu. Bukan! Tapi menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak cuma ucapkan ijab kabul, sah dan kita hidup bahagia bersama selamanya. Tidak seperti itu."


"Aku tahu. Aku juga sudah memikirkan konsekuensinya."


"Lalu?"


"Kita menikah secara sederhana. Cukup di kantor urusan agama yang paling penting sah menurut agama dan negara. Setelah itu, kita bisa sama-sama cari kerja. Cari kontrakan tempat tinggal yang lebih baik. Kita benar-benar memulai hidup baru."


Ali melongo mendengar perkataan Laila yang sesantui itu.


Andaikan saja ucapan itu dilakukan sebelum Ali melewati system Galaksi Kehidupan, mungkin ceritanya akan lain lagi.


Ali pasti akan langsung mengiyakan perkataan Laila. Langsung setuju dengan pikiran mesum yang menyeruak karena akan memiliki Laila.


Tapi sekarang,... semuanya jadi berbeda.


Perasaan Ali, jalan fikiran Ali. Semua berubah. Tak lagi sama.


Bahkan mungkin kadar cintanya pada Laila, memudar seiring waktu karena galaksi kehidupan yang telah Ia lewati berkali-kali.


"Bukankah... dulu kamu dan Firman pernah bertengkar karena memperebutkan Aku?"


Ali seperti tertohok.


Betul, La! Tapi itu dulu. Itu dulu, Laila. Sekarang..., Aku justru bingung menghadapi tawaranmu ini.


"Boleh Aku minta waktu sampai esok hari?"


Laila terkejut. Ia seperti kecewa karena auranya berubah suram dan sinar matanya perlahan meredup.


Namun anggukan kepalanya masih terlihat tegas pertanda Ia masih memiliki harapan yang cukup besar.


"Aku akan menerima dirimu apa adanya, Ali! Aku akan menunggu keputusanmu besok pagi pukul enam. Terima kasih... mau memikirkan masalahku yang ikut membuatmu pusing tujuh keliling. Aku pamit. Assalamualaikum..."


"Tunggu, Laila. Kuantar sampai jalan dengan naik sepeda!"


Ali mengambil sepeda bututnya yang ada disamping rumah.


Menepuk-nepuk jok belakangnya agar debu yang menempel lenyap dan Laila bisa duduk nyaman di sana.


"Pikirkan juga olehmu Laila. Inilah Aku. Semiskin ini diriku. Setidaknya jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari jika kita memang ditakdirkan bersama."


Ali menekankan lagi pengertiannya pada Laila.


Gadis itu hanya diam seribu bahasa. Membuat Ali kian resah memikirkan kedepannya.


Ali menggowes sepedanya. Membonceng Laila yang duduk manis di jok belakang tanpa suara.


Hanya detak jantung mereka yang saling berkejaran. Debarannya bahkan sampai terdengar jelas di telinga masing-masing.


Ali seperti ingin berpacu dengan waktu. Menurunkan tubuh Laila yang sintal di tepi jalan raya, seberang perumahan elit rumah keluarganya yang sebentar lagi hanya akan jadi kenangan.


Laila turun.


Netranya menatap lekat wajah Ali. Tersirat harapan besar di riak matanya yang berwarna hitam pekat.


Ali terkesiap.


Laila berjalan setelah lambaikan tangan dengan lemas.


Mereka berpisah tanpa kata.


Hanya sesekali ekor mata keduanya saling bertautan meskipun jarak kian merenggang.


BERSAMBUNG