MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KELIMA PULUH DUA


Ali terkesiap.


Dirinya kini sedang berdiri di halaman sekolah dasarnya.


Seperti de javu, hari ini adalah hari yang pernah Ia lewati. Membuat jantungnya berdegup kencang dengan langkah kaki perlahan memasuki ruangan aula sekolah tempat acara reuni.


"Yassalam...! Tujuh tahun kita ga ketemu, gue kira hidup Lo bakalan berubah, Li! Minimal tampilan visual Lo lah, enakan dikit! Ck ck ck...! Kaga berubah-berubah! Yang ada kondisi Lo makin memprihatinkan! Kesian banget sih hidup Lo, Li! Masih aja betah jadi orang susah!"


Ali menelan ludahnya.


Kalimat yang sama yang keluar dari bibir seorang Anton Darmawan, teman sekaligus pembenci setianya yang selalu membully Ali disetiap kesempatan meskipun mereka sudah tak lagi sebagai teman sekelas.


Ali tersenyum.


Kali ini hatinya jauh lebih rileks dan tenang.


Ditepuknya bahu Anton sambil mengucapkan kalimat,


"Senangnya bisa ketemu Lo lagi dalam kondisi seperti ini, Ton!"


Tentu saja Anton mendelik kesal. Ali menepuk pundaknya seolah mereka adalah teman akrab.


"Cih! Pede' banget Lo, nyapa en nepuk pundak gue!? Cari mati Lo?"


"Apa kabarnya Profesor? Kakak-kakak, masih bersikap menyebalkan engga'?" kata Ali mendekatkan bibirnya ke daun telinga Anton.


Terlihat wajah Anton pucat pasi.


"Elo?!?..."


"Enjoy, bro! Lo juga keren dengan kehebatan melukis. Kenapa Lo ga ambil kuliah di bidang seni lukis? Atau buka galeri dan tunjukin semua kemampuan Lo sama bokap nyokap dan saudara-saudara Lo. Gue..., siap bantu kalo Lo berkenan!" bisik Ali lagi.


Anton diam mematung.


Entah yang ada dalam fikirannya, yang pasti Ali kini dengan kepercayaan diri melangkah meninggalkan Anton yang membeku mendengar ucapan Ali.


"Ali? Ali Akbar? Beneran ini Elo, Li?"


Ali tersenyum dengan mata mengerjap pelan.


Puk.


Dia memukul bahu Ali. Lembut dan tidak sakit. Tetapi jantungnya justru berdesir akibat tingkah sang gadis yang menggemaskan itu.


Dia lah Laila Purnama, sahabatnya yang cantik dan baik hati.


Ali tersenyum mengangguk pada Laila.


"Untuk pertama kalinya gue datang di acara reuni. Keren kan, gue? Hehehe..." kata Ali membuat Laila tersenyum lebar.


Tanpa Ali sangka, Laila mengacungkan dua jempolnya lalu menggandeng pangkal lengan Ali.


"Si Firman ga bisa hadir, Li!" kata Laila dengan suara kecewa.


"Iya. Dia tadi japri gue!"


Belasan mata teman-teman mereka tertuju pada Ali dan Laila yang berjalan berdampingan.


Dengan senyuman tipis Ali melambaikan tangannya dan say hello pada semua yang ada di dalam ruangan.


Mata Ali terperanjat ketika tertumpu pada sosok gadis berkacamata nan imut duduk dipojokan sendirian.


Ia memicingkan matanya. Menggosok beberapa kali lalu berjalan cepat menuju kursi gadis imut itu.


"Keti? Keti!?!" serunya setelah yakin kalau gadis imut itu adalah Keti.


Ali membuka memori ingatan tentang masa sekolah dasarnya dahulu.


Keti bukan teman SD gue! Ini anak jauh lebih muda dari gue! Dan kayaknya, usia si Keti yang ini kayak baru tujuh belas tahunan!


"Ali! Awas Lo ganggu pacar gue!"


Ali menoleh ke arah suara yang berseru.


"Anwar?!?"


Anwar tersenyum dengan kedua tangan membawa dua gelas minuman.


"Keti pacar Lo, War? Beneran?" tanya Ali.


"Lo kenal pacar gue dimana?" Anwar balik tanya.


"Jadi Lo beneran Keti? Keti, kamu ingat Aku kan?"


Ali mendesak agar gadis imut berkacamata itu mengakui kedekatan mereka.


Tapi..., Keti justru terlihat bingung. Netranya kadang menatap wajah Anwar, lalu beralih menatap Ali.


"War..."


Ali menatap Keti sedih.


"Maaf..., mungkin Aku salah orang ya?"


"Eng_Engga', Kak. Kita memang pernah ketemu tahun lalu. Waktu itu, saya masih kelas sepuluh dan lagi ospek. Kesiangan bangun dan ketinggalan bis jemputan sekolah. Kakak yang waktu itu bantu Saya antar ke sekolah naik sepeda."


Bola mata Ali membulat.


Ya. Betul!!! Itu sebabnya kenapa Dimata gue, wajah Keti seperti pernah kenal. Berasa familiar!


"Keti?"


"Nama Saya Katrina. Panggilan Keti. Anehnya, saat itu kita sama-sama ga kenalan dan ga tau nama masing-masing. Terima kasih banyak waktu itu. Saya jadi gak kesiangan dan gak kena hukuman karena terlambat masuk sekolah."


Ali tersenyum lalu menoleh ke arah Anwar.


"Maaf, War...!"


"Ali! Ayo!" Laila datang menghampiri dan menarik tangan Ali.


"Hei...! Kalian..., pacaran?" tanya Anwar penasaran.


"Lebih dari pacaran! Hihihi..." jawaban Laila membuat Ali sedikit tersanjung.


Akhirnya... Laila mau ngakuin juga persahabatan kita yang selama ini tak diketahui teman-teman.


"Padahal Lo pacarannya sama Firman, kan?" gumam Ali membuat Laila menutup bibirnya.


"Ali?!?"


"Gue tahu, Laila! Jangan sok pura-pura kaget padahal..."


"Lo tahu dari mana? Firman cerita sama Lo ya, Li?" Laila Purnama menarik Ali ke tempat duduk yang agak jauh dari teman-teman sekolah dasar mereka yang lain.


"Enggak. Mana mau anak itu cerita sama gue tentang hubungan kalian yang diam-diam!"


"Maaf. Gue yang minta supaya Firman menjaga rahasia hubungan kami."


"Meskipun itu sama gue? Yang jelas-jelas sahabat kalian?" tutur Ali.


"Maaf..."


"Mungkin bagi kalian gue ini lebih mirip benalu yang menyebalkan. Tanaman belukar yang menyusahkan dan diam-diam akan kalian tinggal."


"Maksud Lo?"


"Lo lusa pindah ke Lombok. Ya kan?"


Laila menutup mulutnya. Terkejut sekali karena Ali mengetahui keadaan dirinya.


"Koq Lo tahu, Li? Firman aja belum gue kasih tahu!"


"Kenapa pindah ke Lombok? Kuliah di Lombok?"


Laila menundukkan kepalanya.


"Ayah lagi ada masalah di kantornya. Ayah kena mutasi. Gue..., bingung juga."


"Orang tua adalah segalanya. Ucapan orang tua, wajib kita ikuti, La!"


"Sebenarnya, Ayah Ibu menyerahkan keputusan ditanganku. Tapi Aku bingung. Tinggal di sini juga butuh biaya hidup yang besar. Ikut orang tua, lingkungan baru, suasana dan pertemanan yang baru..., Aku bukan orang yang mudah bergaul, Li!"


"Intinya jaga diri, Lai! Jangan bergaul dengan sembarangan orang yang buat kamu berubah kepribadian. Karena..., Aku sayang kamu. Dan gak mau kamu jadi berubah negatif karena pergaulan yang salah."


Laila menunduk. Ia memilin jari jemarinya dengan wajah sedih.


"Kita masih muda. Masih banyak kesempatan dan juga jalan menuju kesuksesan. Tapi..., memilih pergaulan untuk masa depan kita juga penting. Jangan sampai terperosok jauh dan jadi penyesalan akhirnya."


"Kenapa Lo sekarang kata-katanya mirip bapak-bapak sih Li?" celetuk Laila membuat Ali tertawa menyeringai.


"Gue udah bolak-balik ngerasain hidup berkali-kali, La! Hehehe..."


Laila menatap wajah Ali.


"Sebenarnya, cowok yang gue suka itu adalah... Elo, Li! Bukan Firman!"


Ali terkesiap.


"Ma_maaf, Kak...! Boleh saya minta nomor ponselnya?"


Ali dan Laila menoleh berbarengan. Keti berdiri didepan meja mereka dengan wajah malu-malu kucing.


Keti!


BERSAMBUNG