MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETUJUH PULUH EMPAT


"Hik hiks hiks... Aliii! Aku mimpi seram! Hik hiks hiks..."


"Tidak apa-apa, Sayang! Tidak apa-apa. Itu hanya mimpi. Tenanglah. Ada aku, ada suamimu disini! Cup cup cup. Tenang, ya?"


Ali terus memberikan Laila pukpuk agar istrinya itu kembali tenang.


Ali memberikan Laila segelas air mineral yang sudah dibuka segel plastik penutupnya.


Gleg gleg gleg.


Laila meneguknya bahkan sampai habis tak bersisa.


"Ayo, ganti pakaianmu dulu, La. Basah semua. Takut masuk angin nanti."


Ali membantu Laila membuka kancing baju tidur one set istrinya.


Jakunnya turun naik.


Ia belum terbiasa melihat keindahan surga dunia yang halal untuk dinikmatinya.


Matanya sesekali berkedip. Ali bahkan sempat menahan nafas. Terlebih ketika matanya tertumpu pada dua gundukan padat milik Laila yang memacu adrenalinnya kembali mengingat masa-masa pergulatan yang panas.


Laila terlihat pasrah ketika Ali melucuti satu persatu pakaian dalamnya.


"Dalemannya juga basah. Ganti juga, ya?" ujar Ali dengan suara bergetar.


Hujan di luar masih begitu deras, meskipun petir dan kilatnya perlahan menghilang dan suasana tak lagi mencekam seperti tadi.


Laila mengangguk.


Ia membuka pengait branya hingga...


Merona merah wajah Ali yang tertunduk malu.


Laila masih shock, hingga diam tak menggoda Ali dengan kata-kata seperti biasa.


Ali juga masih terjaga kewarasannya untuk tidak dulu bermain-main laksana bayi yang ingin minum susu.


Ali mempercepat gerakannya memakaikan Laila baju lain yang kering.


Ia menghela nafas lega.


Laila kini sudah berganti pakaian.


"Makan, yuk? Kami gemetaran. Pasti belum makan. Iya khan?" tebak Ali membuat Laila mengangguk menyadari kalau gemetarnya diakibatkan karena kelaparan.


Ali menuntun istrinya berjalan ke luar kamar.


"Kepalaku sakit," ujar Laila pelan seraya mengusap kepala bagian atasnya. Ali tersedak air ludah sendiri.


"Ma_maaf. Tadi pas aku gendong kamu keluar dari kamar mandi, kepalamu kejedot tembok karena gang dapur yang sempit dan aku kesusahan gendong sendirian."


"Makasih, ya? Kamu sudah bantuin Aku, Li!"


"Sst... Aku kan suamimu. Kita ini, pasangan suami istri. Harus saling membantu dan menjaga satu sama lain. Aku minta maaf, Aku meninggalkanmu cukup lama untuk beribadah di masjid. Aku ingin istiqomah rajin sholat lima waktu mulai dari sekarang."


Laila menggelayut di lengan Ali. Dadanya menempel kenyal membuat Ali menelan ludahnya kembali.


"Makan dulu. Kamu kelaparan sampe pingsan, barusan."


"Bi_bisa jadi. Sampai Aku seolah hidup kembali di masa hidup enak dahulu."


Ali terkesiap. Dadanya bergemuruh. Bersyukur dalam hati karena sudah mengamankan cermin ajaib yang barusan membawa Laila memasuki alam kehidupan di dunia yang lain.


Ali menyuapi Laila.


Ia lapar juga. Tapi Laila lebih membutuhkan bantuannya.


"Kamu juga makan."


Tanpa sadar Laila menangis. Air matanya jatuh tak bisa berhenti.


"Cup cup cup. Sudah, sudah. Jangan nangis terus. Malu dilihat orang, nanti. Disangkanya Aku lakukan KDRT. Jangan nangis, Yang!"


"Hik hiks hiks... Terima kasih, sudah jadikan Aku istrimu, Ali!"


"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu. Kamu mau nikah sama Aku yang miskin dan tidak punya apa-apa ini. Bahkan Aku tidak bisa memberimu mahar seperti mempelai pria pada umumnya."


Laila mengusap pipi Ali dengan lembut.


"Jangan tinggalkan Aku, ya?"


Ali mengangguk. Senyumnya mengembang. Jemarinya kembali menyodorkan sendok berisi nasi Padang murah meriah seharga sepuluh ribu seporsi.


"Kamu juga makan, suamiku!"


"Iya, istriku!"


Ali tersenyum malu.


Dulu Ia geli sekali mendengar pasangan alay yang mesra-mesraan diluar batas. Andaikan punya keberanian, ingin sekali Ia berteriak dan mengatakan, "Hei bro! Ini dunia bukan milik klean berdua. Jangan anggap kami ngontrak, ga ada hak. Plis deh, jaga perasaan kami kaum jomblo ngenes ini! Ck! Mesra-mesraan ayang-ayangan bikin gatal telinga!"


Seperti pasangan alay yang bucin parah panggilan Suamiku - Istriku. Tapi kini justru Ali menjadi pelakunya langsung.


"Kenapa, Yang?" tanya Laila melihat Ali mesem-mesem sendiri.


"Hehehe...! Ga apa-apa, Yang!"


"Ya udah, nasiku sudah habis. Sekarang kamu makan, ya? Gantian Aku yang suapin."


"Ga usah. Kamu masih lemas karena baru sadar dari pingsan. Mendingan kamu tiduran sini di pangkuanku. Aku makan sambil usap-usap punggung kamu."


"Baru saja makan, emang boleh langsung tiduran?" tanya Laila dengan senyum lebar.


"Kali ini pengecualian. Hari-hari biasa, ya ga boleh kayak gitu. Namanya pemalesan itu. Hehehe..."


Laila tertawa kecil.


Ia menggelosorkan tubuhnya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Ali.


Ada gelenjar aneh yang membuat hati keduanya menghangat meskipun ada yang terbangun di tengah-tengah mereka.


Keinginan untuk bercinta. Ali berusaha menekan hasrat. Karena dihadapannya ada sepiring nasi yang harus Ia hormati.


Ali makan dengan lahap dan cepat.


Perutnya yang lapar perlahan menjadi kenyang.


Sementara Laila tertidur lelap di atas pangkuannya yang perlahan mulai nyaman dan tak lagi bergejolak seperti di awal.


Tangan Ali mengusap lembut rambut panjang Laila.


"Laila..., semoga rumah tangga kita tetap bahagia seperti ini. Meskipun keadaannya tidak sesuai harapanmu, bahagia lahir batin, makmur sentosa, sejahtera." Tutur Ali dengan sepenuh hati.


Ada rasa sedih namun juga bahagia. Akhirnya Ia bisa memiliki seorang pendamping, bukan sekedar pacar tapi istri. Yang sepertinya akan setia sampai akhir nanti.


Karena setiap kali berkata, Laila selalu mengatakan hal yang sama. Meminta Ali agar tidak meninggalkan dirinya.


Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, Laila! Laki-laki tolol andai Aku sampai melakukan itu. Menikahi gadis secantik dan seseksi kamu tanpa modal kecuali modal tongkat sakti ini, zaman sekarang rasanya itu mustahil. Kalaupun Aku juga sering memikirkan Keti, tapi itu karena Aku selalu memiliki keterkaitan di setiap kehidupan yang pernah kulewati setiap masuk lorong portal sistem galaksi Kehidupan maupun lewat cermin ajaib. Sungguh bukan karena otak mesumku dan keinginan birahiku yang binal.


Ali menghela nafas.


Air teh yang telah dingin menjadi penutup makan malamnya yang nikmat karena ada Laila.


Harapannya, semoga kehidupan rumah tangga mereka adem ayem tanpa ada masalah yang datang mengguncang.


BERSAMBUNG