MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEEMPAT PULUH


"Kenapa kalian seperti menjauh dan mengucilkan Aku, Man, La?" tanya Ali pada kedua sahabatnya itu.


"Tidak perlu kau tanya lagi! Dimana kamu ketika kami sedang susah? Dimana kamu ketika Bapak ibuku tiada karena virus Corona dua tahun yang lalu? Kau sibuk dengan anak orang kaya itu! Menjadi kacungnya kemana pun dia pergi!"


Wajah Ali seketika membeku.


"Bapak Ibumu tiada karena covid???"


Brakkk


Ali mundur selangkah, ketika Firman berdiri dan menatapnya tajam.


"Ya Allah!!! Itu kedua orang tuaku!!! Ibu Bapakku yang telah meninggal karena covid! Bukankah kalian sendiri yang menghiburku bahkan selalu setia mendampingiku yang kini hidup sebatang kara???"


Laila terbelalak. Kini Laila juga ikut bingung namun tampak senyuman segaris terlihat seperti kecewa.


"Firman?!? Benarkah ucapanmu tentang Ayah Ibumu??? Bu_bukankah yang meninggal karena covid itu adalah Bapak Ibuku??? Ya Allah..., ada apa ini???"


Ali seolah hendak tumbang. Tapi dia bisa menyeimbangkan diri dan hanya duduk berjongkok sambil mengusap raut wajahnya sambil berdecak berkali-kali.


"Ali!?"


Anton menatapnya keheranan.


"Tolong... antarkan Aku pulang, Ton! Please..."


Anton memapah tangan Ali.


Entah bagaimana bisa Ia sepenurut itu mengikuti perintah Ali.


Mungkinkah karena pertemanan mereka yang sudah bergeser ke arah persahabatan, dan Firman serta Laila seolah tersingkirkan?


Atau mungkinkah pribadi Ali yang berubah menjadi tengil karena merasa berhasil menaklukkan Anton yang diketahui sisi kelamnya itu?


Ali tidak tahu.


Ali tidak dapat menerka.


Hatinya carut-marut, jiwanya seolah melayang mengingat ucapan Firman.


Apakah... cerita hidupku berubah lagi dan lagi seiring Aku masuk cermin ajaib dan kembali ke masa lalu tempo hari??? Mengubah apa yang sudah terjadi menjadi tidak terjadi? Bukankah itu baik dan menjadi kebaikan untukku serta semua orang???


"Tunggu! Apakah adik bungsunya Firman yang bernama Rudi meninggal dunia?!?" tanya Ali pada Anton ditengah perjalanan.


"Hahh? Apaan sih Lo, Li? Jelas-jelas yang meninggal itu Bapak Ibunya di Firman. Kena covid. Adiknya Firman ada tiga, Teguh 15 tahun, Melati 12 tahun, Rudi 9 tahun. Mereka diasuh oleh istri pertamanya Bapaknya Firman sekarang. Kan Lo sendiri yang cerita ke gue?!? Masa' Lo lupa, Li?"


Deg.


Jadi selama ini, gue-lah yang udah jadi orang jahat?!? Gue berteman dengan dengan Anton karena mengetahui sisi kelam kehidupan Anton dan Anton juga merapat gue kayak gini?!? Dan gue... berubah kepribadian jadi ember bocor kah, sampe cerita-cerita kisah hidup Firman yang gue ketahui kalau Ibunya adalah istri muda bapaknya? Ya Allah Gusti... Kenapa sifat gue jadi gini? Kenapa??? Pantesan aja Firman dan Laila benci gue!!!


Ali semakin terkesima melihat sebuah rumah sederhana yang katanya Anton adalah rumah orang tua Ali.


"I_ini rumah siapa?" tanya Ali tergagap.


"Lha? Li? Lo kenapa sih?"


Mata Ali terkesiap. Seorang perempuan cantik meskipun sudah paruh baya menatapnya dengan senyuman khas yang sangat Ali rindukan.


"Ibuuu...!!!"


Seketika Ali berlari memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya 19 tahun yang lalu itu.


"Oala?! Ada apa ini? Tumben-tumbenan kamu meluk-meluk Ibu, Nang?!"


Ali tak ingin melepaskan pelukannya yang teramat nyata.


Air matanya mengalir deras sampai basah baju belakang Ibunya yang terheran-heran.


"Tadi berantem lagi sama si Firman."


Ali mengangkat wajahnya dari bahu Ibunya.


Mengusap air mata dan menciumi pipi kiri dan kanan Ibu seraya berkata, "Maafin Ali, Bu! Maaf...atas semua kenakalan Ali selama ini! Hik hiks..."


Ibunya mengusap sisa air mata Ali yang masih menggenang.


"Sudah mau dua puluh tahun, kenapa makin cengeng? Hehehe... Mirip anak TK yang ribut sama temannya. Sudahlah. Ikhlaskan Laila memilih Firman, Nak! Biarpun kamu suka Laila, toh cinta tidak bisa dipaksa. Laila lebih cinta Firman dan kamu harus terima."


"Ibu tahu mereka sudah berpacaran?"


"La kan kamu yang bilang kemarin?!?"


Ali menghela nafas pendek. Sungguh dirinya tidak bisa berkata apa-apa. Sampai...


"Assalamualaikum...!"


Agus Kurniawan, Bapaknya Ali pulang dari pekerjaannya sebagai pengepul sampah daur ulang.


Ali melesat, melakukan hal yang sama seperti tadi. Ia memeluk tubuh Bapaknya yang berkeringat dan bau terik matahari.


"Paakk!!!"


Tentu saja Agus bingung. Ia hanya mendorong tubuh putra semata wayangnya itu sambil berkata dengan sedikit meradang.


"Buat ulah apa lagi?"


Buat ulah apa lagi??? Berarti selama ini gue udah buat ulah banyak??? Setau gue, seumur hidup gue selama sembilan belas tahun, gue ga pernah buat ulah yang bikin bokap nyokap gue kesal tingkat tinggi. Paling banter ya karena agak pemalas dan seringkali lambat setiap disuruh ke warung karena ogah dengerin orang-orang ghibah Keluarga gue pas gue selesai belanja. Itu aja!?!


"Apa Ali suka buat ulah?" tanya Ali tak terima.


"Kemaren kamu pulang jam berapa? Kalian dari mana? Trek-trekan lagi?"


Kali ini mata Agus menatap Anton juga.


"Nak Anton, Ali bukan anak orang kaya seperti Nak Anton! Jangan biarkan dia menjadi penunggang kuda besi dan ikut balapan liar di jalanan tengah malam buta. Untuk apa? Untuk setor nyawa pada Tuhan? Hahh?!?"


Ali termenung.


Kini Ia mulai melihat benang merah.


Ternyata benar dirinya yang dulu minder dan sulit bergaul sejak berteman dengan Anton berubah sikap serta sifat seolah terbawa arus yang kurang baik.


Anton memang kaum borju, tapi tidak dengan dirinya.


Dia hanya berteman dekat dengan Firman dan Laila saja. Tapi mengapa jadi bersahabat dengan Anton juga?


Kalaupun iya mereka jadi sangat akrab, mengapa sifat Ali juga harus berubah jadi agak mirip Anton yang memang memiliki pergaulan luar dan bebas diluaran.


Itu karena Anton ingin menghilangkan kepenatan serta stres hidupnya yang selalu ditekan Keluarganya yang memiliki latar pendidikan dan otak luar biasa.


Tapi mengapa Ali harus ikutan gaya Anton yang jelas-jelas sampai kapanpun tidak bisa Ia tiru karena mereka memang berlatar belakang keluarga yang berbeda.


Ali mengajak Anton masuk kamarnya.


"Ton! Apa iya semalam gue trek-trekan?!?" tanya Ali dengan agak hati-hati.


"Kan Lo yang mau! Lo bilang Lo bakalan ngasih Laila uang sepuluh juta buat bantu dia masuk kuliah tahun ini. Supaya Laila mutusin Firman dan pacaran sama Lo!"


Hahh?!? Ya Allah... ternyata sejauh ini sifat gue setelah merubah takdir lewat cermin ajaib! Apakah system Galaksi Kehidupan itu justru merubah hal yang baik menjadi buruk? Bukankah system diciptakan justru untuk merubah kesedihan menjadi kebahagiaan? Dan bukankah gue merubah keadaan yang seharusnya menyakitkan menjadi tidak jadi, itu adalah perbuatan baik? Gimana ini system Galaksi Kehidupan??? Berarti ini adalah PR gue buat ngerubah hidup gue ke arah yang lebih baik, bukan justru sebaliknya bukan?


BERSAMBUNG