MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEENAM PULUH DUA


Ali tercekat.


Koper bapaknya tidak ada.


Berarti tidak ada surat wasiat apalagi sertifikat rumah warisan yang besar di desa terpencil kota Wonogiri.


"La, tolong bantu aku! Cariin kotak koper warna silver!"


Laila menurut. Ia membongkar semua yang anda di dalam rumah kontrakan. Berharap bisa menemukan apa yang sedang Ali cari.


Tapi ternyata nihil.


Keduanya sama-sama tidak menemukan apa yang dicari.


"Taruhnya dimana?" tanya Laila.


"Waktu itu ada di atas lemari. Tapi sekarang enggak ada."


"Apa ada yang ambil?"


"Koper butut. Sudah rusak juga, La! Tapi ada berkas penting di dalamnya!"


"Apa? Dokumen kamu?"


"Bukan. Punya almarhum Bapak. Sertifikat rumah di desa Kandut Wonogiri!"


Laila termangu.


"Itu rumah keluarga kamu?"


"Waktu itu sih iya. Entahlah. Apa masih ada ya rumah itu?"


"Tunggu,...! Kita, kita akan pindah ke luar kota gitu? Pindah ke Wonogiri kalau dapat sertifikatnya?"


Ali tertegun. Teringat tujuan Laila yang ingin menikah dengannya. Yaitu agar bisa tetap tinggal di Ibukota.


Bagaimana mungkin kita pindah ke desa terpencil itu berdua? Bukankah Laila justru mengajakku nikah adalah agar bisa tetap tinggal di Jakarta? Lalu ..., kalau kita pindah ke desa Kandut, pupus sudah harapan Laila!


Atau, mungkinkah koper itu tidak ada karena jalan cerita hidupku kembali berubah? Atau mungkinkah rumah besar di desa Kandut itu aslinya tidak ada? Lalu kalau ada, dimana koper butut milik bapak? Kenapa tidak ada? Apakah... Aku harus masuk ke cermin ajaib yang ingin sekali Aku tinggalkan begitu saja di rumah kontrakan yang akan digusur ini?


Ali menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal.


"Li..."


Laila kembali menyebut separuh namanya. Seperti ingin mendapatkan kepastian tentang tempat tinggal mereka selanjutnya.


"Hhh... Sepertinya kita akan tetap ada di Ibukota. Seperti rencana awal, La!"


Wajah Laila kembali cerah.


Lega Ia mendengar ucapan Ali Akbar.


"Berarti sekarang kita cari rumah kontrakan. Takutnya besok terlalu dadakan. Habis magrib kita keluar."


Laila mengangguk. Ia percaya pada Ali. Dulu, dibandingkan Firman, sebenarnya Laila lebih suka Ali. Dari segi wajah dan tubuh, Firman unggul. Ali dulu kurus kering dan dekil kurang bisa mengurus diri.


Entah mengapa, akhir-akhir ini Ali terlihat sangat berubah wajah dan tubuhnya. Sangat berbeda dari Ali yang dulu. Sampai-sampai Laila bingung dan jadi ikutan mikir jangan-jangan Ali yang ini berbeda orang.


Seperti berita yang sempat bikin Laila bingung tentang berubahnya Virzha Idol yang konon kabarnya berganti orang. Wallahu.


Ali, sempat menghilang sebulan setelah kelulusan. Laila dan Firman bahkan mencari-cari Ali namun tak pernah bertemu.


Setiap hari setiap malam Firman dan Laila menyambangi rumah kontrakannya yang kini diisi sendirian sejak Bapak Ibunya meninggal dunia kena covid 19 di tahun 2020.


Ada yang bilang kalau Ali sedang cari kerjaan. Tapi ada yang bilang juga, Ali selalu pulang tengah malam.


Firman sampai menunggu Ali pulang sampai pukul sepuluh malam di depan rumah kontrakannya. Namun tetap tak bertemu.


Itu semua berjalan hampir sebulan lamanya. Hingga akhirnya ponsel Ali kembali bisa dihubungi dan mereka kembali dekat berhubungan satu sama lain.


Sejak saat itu, Ali terus berubah menjadi lebih gagah. Bahkan kulit gelapnya sering jadi ledekan orang yang menjuluki kulitnya melewati waktu Maghrib yang gelap menjelang malam, kini berubah kuning langsat.


Laila terkejut melihat perubahan Ali yang drastis.


Bahkan pembawaan Ali juga berubah. Sifat, karakteristik serta pengucapannya, menjadi jauh lebih tertata dan dewasa. Ali seperti orang yang bertata krama tinggi.


Mereka yang dahulu lebih suka berbincang dalam bahasa gaul yang santai dengan panggilan Elo gue itu berubah jadi Aku kamu dengan sendirinya.


Lambat laun, Ali terlihat seperti orang yang berbeda. Hingga Firman sampai mengungkapkan keminderannya bergaul dengan Ali kini. Sampai akhirnya Laila menerima pernyataan cinta Firman dan mereka berpacaran diam-diam tanpa cerita ke Ali.


Itu karena persahabatan mereka yang memang sedikit merenggang karena perubahan Ali.


Laila mengekor Ali.


Tapi Ali justru mundurkan langkahnya agar bisa sejajar dengan Laila. Merona merah wajah Laila.


Azan Maghrib telah lewat. Seiring Ali yang melaksanakan ibadah di masjid rumah tinggalkan Laila sendirian di rumah kontrakan selama beberapa belas menit.


Ketika Ali sholat berjamaah di masjid, Laila mencoba mencari koper yang kata Ali milik almarhum Bapaknya Ali yang berisi sertifikat rumah warisan.


Tapi, tetap tidak Ia temukan meskipun mengobrak-abrik kamar orang tua Ali dan seluruh isi dari semua ruangan.


Akhirnya, Laila lelah dan lebih tertarik dengan ponsel Ali yang tergeletak di atas meja belajarnya.


Terkesiap Ia mendapati chattan Ali dengan gadis SMA yang disinyalir adalah pacarnya Anwar.


Mendidih darahnya, terbakar api cemburu.


Tanpa pikir panjang lagi, Laila menchat Keti.


...Jangan pernah chat Ali lagi. Coz Ali kini sudah beristri. Dan istrinya itu adalah Laila Purnama. Tolong dimengerti....


Lega hati Laila.


Setidaknya gadis SMA itu tahu kalau Ali tidak jomblo seperti perkiraannya.


Ali adalah suaminya.


Penanggung jawabnya selama Laila ada di kota Jakarta, seorang diri sebatang kara pula.


Laila berharap gadis muda itu tahu batasan dan tidak bergerak seperti seorang pelakor.


Ali pulang dari masjid.


Mereka merapikan barang-barang yang hendak dibawa pindahan sebelum mendapatkan rumah kontrakan baru. Setelah itu bergegas pergi tanpa lupa kunci pintu.


"Aku gak nemuin kopernya Li. Kamar Bapak Ibu juga sudah kuperiksa. Tapi enggak ada."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Yuk, sebelum hari makin malam, kita cari rumah kontrakan!"


Cari dimana? Batin Laila bergumam sendirian.


Ada hati yang pesimis. Terlebih hanya dengan uang masing-masing lima ratus ribu di tangan. Akankah dapat rumah kontrakan nyaman dengan harga segitu di Ibukota yang diberi gelar kota terkejam melebihi kejamnya Ibu tiri.


"Bismillah. Yakinlah, Allah akan menuntun kita."


Laila merasa sejuk hatinya. Siraman rohani yang Ali ucapkan mampu meringankan beban resah dijiwanya.


Senyum Laila mengembang, hatinya menghangat.


"Lapar ga'?" tanya Ali langsung dijawab "Iya."


Tentu saja perutnya lapar. Laila makan siang bersama keluarga dengan nasi Padang yang dibungkus dan di makan di rumahnya yang kini telah jadi rumah orang.


Hutang memang membagongkan.


Korupsi itu menyesatkan.


Ini adalah hasil yang keluarganya tuai karena langkah salah yang Papanya ambil. Bukan karena dirinya yang membawa kesialan.


Laila kembali sedih mengingat ramalan dukun sinting itu.


Sungguh membuat ambruk pondasi keimanannya. Apalagi setelah Firman tiada, dan dia merasa sebatang kara.


Untung ada Ali. Meskipun dengan niat memanfaatkan kepolosan Ali dengan desakannya menikah, akhirnya Ali manut menurut.


Laila lega. Ada seseorang yang kini berdiri disampingnya meskipun hidupnya dalam keterpurukan.


Tanpa sadar, Laila meraih jemari Ali. Menggenggamnya erat agar tidak terlepas karena dirinya benar-benar butuh Ali.


"Kak Ali? Kak Laila? Mau kemana?"


Seketika wajah Laila pucat pasi. Gadis SMA yang barusan ia chat via ponsel Ali berdiri dihadapan mereka.


"Keti! Kami lagi cari kontrakan. Kamu sendiri, lagi ngapain sendirian di sini?" tukas Ali membuat hati Laila sedih.


Cih! Dia perhatian banget sama gadis ini, tapi cuek padaku!


Laila menggenggam erat tangan Ali.


"Keti lagi beli seblak. O iya, selamat ya atas pernikahan kalian!"


Ali termangu kebingungan. Keti memberinya ucapan selamat menikah padahal tak seorangpun yang Ia berikan kabar selain Baba Ibram tadi sore.


"Terima kasih."


Terlihat wajah Keti yang sendu. Namun berusaha ditutupi dengan senyuman manisnya.


"Rumah kamu dimana?" tanya Ali dengan ramah. Namun Laila menghentakkan kakinya. Ali langsung tersadar.


"Ah, maaf... kami permisi dulu!" sela Laila membuat Ali tersenyum dalam hati.


Inikah ramalan Embah Kandut tempo hari? Hehehe...


"Kamu... punya kharisma yang cukup besar di masa depan. Hidupmu akan baik dan mencapai keemasan setelah tiga tahun mendatang. Ada dua perempuan yang setia berdiri di kanan dan kirimu. Tapi hati-hati, kalau kau tidak bisa adil, maka habislah kau dilumat perempuan-perempuan itu. Hahaha... hahaha...!"


Ali merasa jumawa.


Akhirnya, setelah bertahun-tahun hidupku hampa tanpa cinta. Akhirnya..., setelah selama ini kurasa jiwa sepi merana berkawan air mata. Akhirnya....


Laila menempel erat menggandeng tangan Ali. Membiarkan ekor mata Keti yang tak berkedip menatap mereka berjalan menjauh.


Ya Allah ya Tuhanku, apakah ini kisah hidupku selanjutnya? Apakah kembali berubah jika terjadi sesuatu lagi lewat cermin ajaib? Apakah Aku harus menghancurkan cermin ajaib itu sebelum mengganti kisahku berikutnya?


Ali sibuk dengan jalan fikirannya yang semrawut.


Hingga baru Ia sadari, kalau dada kenyalnya Laila terasa begitu nyata di pangkal lengannya.


Uffh...


BERSAMBUNG