MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETUJUH PULUH TIGA


"Assalamualaikum..."


Ali pulang pukul tujuh dua puluh lima menit. Rumah kontrakan sepi, tak terlihat batang hidung Laila istrinya.


Ia celingak-celinguk, menengok kamar kemudian ke dapur.


Pandangannya menyapu meja kecil yang ada di pojok ruangan tamu. Tampak dua piring dengan bungkusan nasi Padang yang masih rapi dalam ikat karet.


"Kemana Laila? Apa pergi ke warung, ya?"


Ia membuka kopiah serta melipat sarung juga. Kemudian memasukkan kembali di lemari pakaian plastik milik Laila.


Ali kembali melongok ke kamar. Ia mengira Laila mungkin ketiduran di atas kasur dan tak terlihat olehnya ketika memeriksa tadi.


Ali tergagap.


Bungkusan pemberian eyang Toro sudah terbuka. Dan isinya ternyata... sebuah cermin kecil namun terlihat jelas aura mistisnya dari kusen jendela kamar.


"La_laila!!!"


Seketika Ia tersadar, kalau Laila lah yang membuka dan...


Ali melesat mengambil cermin yang tergeletak di lantai.


Matanya melotot, jantungnya berdegup kencang.


Laila hilang! Laila seperti... tersedot portal galaksi kehidupan lewat cermin ajaib.


"Ya Allah!!!" seru Ali lemas lunglai.


Ali panik.


Ia mengetuk-ngetuk permukaan cermin dengan keras. Makin lama makin besar tenaga dalam yang keluar karena emosional yang tak terbendung.


Tiba-tiba...


Jeleggerrr...


Prelek prelekkk


Kilat dan petir saling sambar menyambar. Bersahutan. Tak lama kemudian air dari langit bagaikan ditumpahkan dari ember raksasa dunia. Hujan lebat seketika tercurah.


Hawa dingin menyesap. Namun pelipis Ali basah oleh keringat.


"Laila!... Laila!!! Ya Allah... cobaan apa lagi ini, ya Allah?!"


Ali menangis. Terisak pilu meratap disela-sela suara hujan yang besar dan petir yang menggelar.


Hingga tiba-tiba terdengar suara tawa perempuan cekikikan dari belakang ruangan kontrakan.


Membuat merinding bulu kuduk Ali.


"Hihihihiii hihihihiii..."


"Bangs++saat!!! Ini bukan novel horor, ******!!!" teriak Ali takut namun lebih dominan kesal.


Braakkkk


Dilemparnya cermin itu hingga membentur dinding tembok.


Tapi ternyata cermin itu tetap utuh meskipun Ali melempar dengan kekuatan penuh amarah. Diluar ekspektasi. Seharusnya cermin itu hancur berkeping-keping. Minimal, pecah kacanya menjadi potongan-potongan kecil. Nyatanya, tidak.


Ciut nyali Ali serta kembali kesadaran.


Bego!!! Gimana kalo seandainya si Laila ga bisa balik lagi ke dunia ini karena kecerobohan gue lempar tu cermin tanpa pikir panjang? Ya Tuhan!!!


Ali bergegas, kembali memungut cermin yang Ia lempar barusan.


Ali bersyukur, hujan begitu lebat dan suara teriakannya barusan tersamar dengan suara hujan.


Ia mengucapkan kalimat istighfar untuk menyadarkan diri sendiri.


Memohon kepada Sang Pencipta agar Laila dalam keadaan baik dan bisa kembali keluar portal.


Ali sadar, ini adalah kecerobohan dirinya yang menaruh bungkusan pemberian Eyang Toro sembarangan di atas nakas meja kamar mereka. Akhirnya, Laila yang membuka dan jadi korban masuk cermin ajaib.


Kepanikan yang sempat membuat Ali limpung, kini perlahan kembali tenang.


"Laila bukan perempuan bodoh. Laila pasti bisa mengatasi semua situasi yang Ia temui di kehidupan lain."


Ali berusaha mengubah fikiran negatifnya menjadi positif.


Eyang!!! Eyang Toro!!! Kumohon..., bantuannya, Eyang! Aku tidak bisa mengatasi permasalahan ini! Laila masuk pintu portal cermin ajaib. Tolong Ali, Eyang! Tolong bantu Laila kembali ke dunia ini dengan teleportasinya.


Ali berusaha memfokuskan fikiran. Mencoba bersinergi memberi signal telepati kepada Toro yang entah ada dimana.


Ali pesimis.


Panggilan batinnya tidak mendapatkan respon. Bahkan suasana seolah suram dengan situasi hujan deras petir menggelegar.


Ali kembali ingat nasehat Toro.


Ayat kursi kembali menjadi andalannya.


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."


Lagi dan lagi.


Terus dan terus.


Ali mendawamkan ayat kursi dari suara pelan hingga terdengar jelas dan lantang.


Di kehidupan Laila yang Ia datangi,


Sring


Sring


Sringggg


Laila terbelalak tak percaya.


Ia sedang duduk di kursi sofa rumahnya. Duduk manis dengan kaki diangkat sebelah ke atas mejanya.


Tangan kirinya memegang ponsel iPhone yang tiga tahun lalu adalah barang kesayangannya.


"Hahh??? Ponsel kesayanganku!!!" pekiknya senang sekaligus terheran-heran.


Tak tok tak tok


Suara hak high heels di lantai rumahnya terdengar begitu jelas.


Kacamata hitamnya disangga di atas kepala.


"Mama?!?" pekik Laila lagi. Kali ini Ia benar-benar bagaikan mimpi.


Laila bangkit dan berlari menuju Mamanya setelah menaruh ponsel di atas meja.


"Mama!?!"


Gadis itu memeluk wanita yang melahirkannya dua puluh tahun yang lalu.


Namun reaksi Mamanya tidak seperti khayalan Laila.


Mia, sang Mama justru menepis pelukan Laila dan dengan spontan justru merapikan pakaiannya yang takut sekali kusut.


"Mama??"


"Apa sih? Kan sudah Mama transfer, sesuai keinginan kamu. Apa lagi?"


Laila menelan ludahnya.


"Transfer apa?" tanyanya bingung sambil mengingat-ingat kejadian apa yang dia alami kemarin-kemarin dengan Mia, sang Mama.


"Uang lah! Kamu bilang, mau hang out sama teman-teman ke Bali. Mama udah transfer dua puluh lima juta ke rekening kamu. Cukup kan? Udah, ga bisa minta lagi. Mama juga ada arisan di Surabaya, bareng para sultini crazy rich di sana. Malu kalo uang yang Mama bawa kurang. Kamu gak mau Mama dipermalukan mereka, khan?"


Laila tertegun. Ia diam dengan memori ingatan menerawang.


Teringat kembali masa-masa keluarganya yang hidup ala-ala kaum jetset padahal mereka termasuk kategori OKB alias Orang Kaya Baru.


Papanya menduduki jabatan empuk dengan kursi basah yang membuatnya sangat mudah mendapatkan cuan. Tentu saja cuan halal dari tilep sana tilep sini. Korupsi dan memanipulasi data keuangan dengan pembengkakan layaknya para pejabat korup.


"Mama!!!"


Mia terkejut mendengar Laila berteriak keras.


"Apa lagi, Sayang? Sudah, Mama mau berangkat. Mama hanya akan pergi tiga hari saja. Kamu jangan main di luar rumah lewat tengah malam! Oke?"


Laila menelan ludah.


Belum sempat Mamanya keluar rumah, Kakak laki-lakinya masuk rumah dengan wajah merah. Kondisi beler, mabuk karena pil ekstasi.


Ardi bersenandung dengan nada yang tak Laila mengerti. Tangannya sesekali mengepak, melambai bergoyang-goyang memperlihatkan kalau dirinya di ambang batas kebahagiaan karena pengaruh pil setan.


"Mau kemana, Mam?" tanyanya sebelum Mia mendengus kesal karena mendapati putra keduanya mabuk berat, tapi tidak bau alkohol.


Mia hanya mengibaskan tangan kanannya. Kesal tapi terburu oleh waktu karena terdengar suara klakson mobil berkali-kali seolah sedang memanggilnya agar segera cepat keluar.


Ardi terkekeh. Berjalan gontai menaiki anak tangga, menuju lantai dua ke arah kamarnya. Ia ingin tidur. Tak peduli pada Mia.


"Mama masih tetap berangkat, padahal mas Ardi kondisi seperti itu?" sindir Laila melihat kelakuan namanya yang seolah tak peduli keadaan putra-putrinya.


"Mama berangkat, La! Jangan lupa, kamu ga boleh dugem setiap malam selama Mama pergi!"


Laila terpana. Diam terpaku dan membatu.


Ia seperti ditarik mundur ke kehidupan mereka dua tahun yang lalu.


Seketika kecemasan menggumpal di dada, naik ke otaknya dan Laila langsung berlari mengejar Mia yang baru saja menutup pintu mobil Forza Diana, sahabat sosialitanya.


"Tunggu!!!" teriak Laila dengan kekuatan penuh sambil menarik pintu mobil yang ada Mia.


"Ada apa, Laila?! Nanti, kita diskusikan setelah kepulangan Mama. Oke?"


Mia terkejut. Laila menarik tangannya hingga keluar mobil. Bahkan sebelah sepatu berhak tingginya copot satu, seperti Cinderella.


"Tante Diana! Silahkan pergi!" kata Laila segera setelah menutup keras pintu mobil sahabat Mamanya itu.


"Laila! Apa sih? Kamu berani banget buat Mama begini? Ga sopan! Awas, awas!!!" sentak Mia kesal.


Namun Laila jauh lebih kuat dan sigap.


Putri bungsunya itu menarik tangan Mamanya dengan kencang hingga tubuh mungil Mia terbawa masuk ke dalam rumah.


Brukk


Laila membanting pintu rumah.


Mia bingung setengah mati.


"Kamu juga mabuk seperti Kakakmu itu? Hahh???... Narkoba juga? Minum apa kamu? Hahh???"


Plakk


Kini Laila bahkan makin berani menampar pipi Mia yang terbelalak tak percaya.


Pipi kiri Mia merah. Bahkan kaca mata hitam yang bertengger di atas kepala terlempar ke lantai akibat tamparan Laila yang tak pernah Ia dapatkan.


"Sadarlah Mama! Kelakuan Mama ini justru yang jadi pemicu keluarga kita hancur dua tahun kemudian!!! Dan sadarlah, sebelum Aku benar-benar jual keperawananku demi untuk kehidupan kalian di masa depan!!!"


Plakk


Mia balas menampar Laila.


"Anak sinting!!!" makinya kalap tanpa peduli lagi dengan dandanannya yang casual ala-ala emak gaul yang hedonis.


Laila sampai terpelanting dengan rambut acak-acakan karena tamparan Mia yang keras.


"Mama, istighfar! Ayo kita kembali ke jalan yang benar! Jangan seperti ini! Please, Ma! Kita sedang di ambang kehancuran! Sebelum itu terjadi, mungkin kita bisa kembali kehidupan kita yang sederhana tapi bahagia dahulu, Ma! Bahkan ketika mas Ardi, mas Radit dan Mas Kenzo masih jadi anak baik-baik. Bisakah kita mengubah ini semua kembali ke keadaan semula?"


"Kamu mabuk apa? Ganja? Kecubung??? Pergaulan mana yang saat ini kamu ikuti? Hahh???"


Mia mengguncang-guncangkan bahu Laila. Bahkan sampai Laila jadi pusing kepala. Hingga tiba-tiba..., Ia hilang kesadaran. Jatuh pingsan, dan...


"Laila! Laila!!! Laila, istriku!"


"A_pa???"


Laila tersadar dengan fikiran masih zetleg.


Ali mengguncang-guncangkan tubuhnya sembari mengusap air ke wajah Laila yang terlihat pucat pasi dengan tubuh menggigil.


"A_Ali!!!"


Ali tertegun. Laila memeluknya dengan erat sampai nafasnya sedikit sesak.


"Alhamdulillah..., syukurlah!" Ali lega. Laila ada di dalam kamar mandi dengan tubuh basah kuyup kedinginan.


Ali mendapatinya ketika Ia hendak buang air kecil. Dan ternyata Laila tergeletak di lantai kamar mandi. Dalam kondisi pingsan.


BERSAMBUNG