MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEDELAPAN PULUH SATU


Dengan bantuan google map, Ali akhirnya sampai juga di kediaman Keti dan langsung disambut Tuan Putri pemilik rumah yang masih terlihat pucat karena baru sembuh dari sakitnya. Keti duduk di kursi roda tanpa selimut tebal.


"Kakak!"


"Keti! Kenapa menunggu di luar? Aku cukup disambut si Yadi saja, supirmu itu. Tak perlu kamu ikutan berdiri di depan pintu gerbang seperti ini!"


Ali membuka jaket parasutnya, lalu tanpa pikir panjang menaruhnya dibahu Keti. Mata Keti tampak berkaca-kaca.


"Ayo, masuk!" sela Yadi seraya mendorong kursi roda Keti.


Keti merapikan jaket milik Ali hingga seluruh bahunya jadi hangat tertutupi.


Rumah Keti tinggi besar. Sepintas Ali teringat rumah warisannya dari Eyang Toro di kampung Kandut di kehidupan yang lalu.


Rindu jua ia pada masa itu.


Ali terkesiap. Sesosok tubuh perempuan ringkih berdiri di pintu rumah.


"Simbah Marsinah?!?"


Semuanya diam. Marsinah hanya tersenyum tipis sembari mengangguk hormat.


Ali merasakan kepalanya pusing.


Entah mengapa, ia seperti terus berada dalam lingkungan orang-orang yang juga ada di kehidupan terdahulu. Cuma kali ini dengan peran yang berbeda. Sungguh membuat Ali linglung juga.


Tetapi orang-orang yang selalu ada di setiap kehidupannya seperti Keti, Yadi, Eyang Toro, Mbah Kandut bahkan Simbah Marsinah pun bisa mengetahui peran mereka di kehidupan yang lain yang pernah mereka lewati. Sehingga mereka saling kenal satu sama lain.


Ali dipersilahkan duduk oleh Keti.


Simbah Marsinah masuk kedalam. Beberapa saat kemudian kembali keluar dengan membawa nampan berisi minuman di tangan.


Jalannya sudah lebih tegak meskipun tertatih-tatih.


"Terima kasih banyak, Mbah Uti!" ucap Ali seraya mengambil nampan dari tangan Marsinah yang kembali masuk ke dapur.


"Kak..., maaf... Aku, memanggilmu."


"Aku senang, Keti sudah jauh lebih baik. Jangan terlalu banyak fikiran. Keti harus jauh lebih tenang agar kembali sehat."


"Mas Yadi,"


"Iya, Non!"


Yadi mengambil bungkusan plastik hitam yang membuat Ali penasaran akan isinya.


Yadi menyerahkan bungkusan itu pada Keti.


"Ini..., adalah tiga buku yang tidak kumengerti isinya. Hanya lembaran putih tulang yang kosong tapi tebal. Bahkan sampulnya pun polos tanpa judul tulisan. Apakah Kakak tahu ini apa?"


Yadi dan Ali serempak bertatapan.


Tiga buku sistem galaksi kehidupan!


Keduanya seolah saling berseru dalam hati.


Jadi selama ini Katrina lah yang memegang ketiganya. Kupikir buku itu bercerai berai, tercecer seperti di kehidupan yang lalu-lalu. Ternyata...


Yadi yang memang mencurigai ada salah satu buku yang dipegang Keti menarik nafas lega. Pencariannya tidak sia-sia.


Keti membuka bungkusan plastik hitam itu.


Yadi dan Ali melihat cahaya putih yang berkilauan membuat keduanya menarik nafas dalam-dalam.


Hanya orang-orang yang diberi kelebihan indera saja yang bisa melihat cahaya putih itu. Yaitu, Yadi dan Ali Akbar.


Yadi bahkan melesat cepat mendekati Keti. Sementara Ali berdoa, berharap buku itu Keti serahkan kepada dirinya, bukan kepada Yadi.


Sringggg


Sriiinggg


Sriiinggg


Tiba-tiba cahaya kuning dari luar melesat seperti kilat namun tanpa suara.


Prakkk


Suara benda jatuh tepat dihadapan ketiganya yang masih terdiam tanpa suara.


"Cermin ajaib?!?" sontak keduanya kembali berseru kompak.


Cermin ajaib yang selama ini tersimpan di rumah kontrakan Ali seperti memiliki kaki dan berjalan ke rumah Keti.


Jeleggerrr...


Tiba-tiba kilat menyambar tanpa ada hujan.


Prelekkk prelekkk jeleggeeerrrrr...


Kini kilatan dan petir saling bersahutan di angkasa raya yang perlahan menyelimut awan gelap.


Seoookkk seoookkk seoookkk


Hujan turun dari langit dengan derasnya. Seperti tercurah begitu saja, ditumpahkan Sang Empunya Kehidupan.


Lengkap sudah. Hujan lebat diiringi sambaran kilat dan petir yang menakutkan.


Yadi langsung menarik ketiga buku sistem galaksi kehidupan yang selama ini Ia cari dari tangan Keti. Ia adalah murid Eyang Toro yang sangat berambisi memiliki buku sistem galaksi kehidupan yang bisa membuatnya menjadi ras terkuat dimuka bumi bahkan konon katanya lebih kuat dari malaikat dan raja iblis. Karena manusia yang diberi kelebihan itu adalah manusia bergelar Kesatria Piningit.


Jeleggerrr...


Perelekkk prakkk krak


Duarrr...


Seperti kilat yang menyambar pohon besar di luar rumah. Suaranya mengagetkan semua termasuk Simbah Marsinah dan beberapa orang pelayan rumah Keti turut keluar ketakutan melihat Yadi yang berubah tinggi besar seperti Rahwana.


Mereka semua berkerumun mendekati anak majikan mereka yang juga menggigil ketakutan di atas kursi roda.


"Jangan ambil buku-buku itu, Yadi!"


"Akulah pemilik buku sistem galaksi kehidupan ini yang selanjutnya! Aku, murid Eyang Toro yang juga akan mampu merubah dunia yang carut marut ini menjadi lebih baik. Dunia Indonesia yang sedang sakit, sekarat dengan para penghuninya yang membawa wabah bibit penyakit kehancuran. Akulah Satria Piningit yang ada dalam buku yang ditulis Embah Kandut ratusan tahun lalu."


"Bukan kau orangnya! Bukan, Yadi!"


"Hahh?!?"


Ali tertegun mendengar suara Yadi yang berubah menggelegar.


"Kau hanyalah anak kemarin sore! Aku, sudah lahir puluhan tahun yang lalu! Akulah Satria Piningit yang siap untuk Tuhan keluarkan segera! Terimalah nasib dan takdirmu, Ali Akbar!"


Jeleggerrr...


Ali teringat pertarungannya dengan Yadi di kehidupan yang lalu. Dimana Ia bisa mengambil kilatan petir hingga menjadi senjata pamungkasnya melawan Yadi.


Ya Allah ya Karim ya Rohman ya Rohim. Engkau-lah Sang Pencipta Yang Maha Segalanya. Kumohon keajaiban-Mu ya Allah agar bisa membebaskan kemungkaran yang kemungkinan besar akan terjadi jika sampai buku sistem galaksi kehidupan dan cermin ajaib jatuh ke tangan orang yang salah. Kumohon karomah-Mu ya Allah! Karena Aku yakin, Satria Piningit masih sedang Kau persiapkan untuk menjadi Ratu Adil memimpin dunia ini. Terutama negeri Indonesia ku tercinta ini. Kumohon kebaikan-Mu ya Allah!


Ali keluar rumah.


Berdiri tegak di halaman rumah Keti yang luar dengan tubuh tersiram air hujan yang masih deras.


"Yadi! Mari kita tuntaskan kembali pertarungan ini! Kalau kau kalah, Kau harus legowo menerima kekalahanmu. Kau bukanlah Satria Piningit karena era itu masih sangatlah jauh! Masih butuh berpuluh-puluh tahun lagi bahkan kuharap ratusan tahun lagi untuk Allah Ta'ala mengeluarkan Satria Piningit. Karena jikalau manusia terbaik itu keluar di kehidupan ini, dunia tak akan lama lagi kiamat. Dan terlambat bagi kita untuk bertobat!"


"Hahaha..., ternyata, kau ini manusia penakut! Kau pecundang yang gagal menaklukkan dunia dan tak ingin kiamat datang! Begitu rupanya! Hahaha hahaha..."


"Ya, Aku takut akan datangnya hari kiamat. Karena aku belum punya bekal untuk ku di akhirat kelak. Aku takut hidup di akhirat dengan penyesalan sepanjang hayat. Meratapi kebodohanku karena tidak bisa memanfaatkan umur dengan berbuat kebaikan selama di dunia. Aku memang takut itu! Amalanku masih sangat sedikit. Pahala yang kukutip bahkan belum ada seujung kuku pun. Aku takut mati. Aku takut hidup di dunia sia-sia. Tidakkah kau pun menyadari itu?"


"Itu sudah jadi garis takdir para makhluk yang hidup di dunia, bodoh! Bahwa dunia akan hancur, kiamat dan kembali kepada Sang Kholiq."


"Betul. Aku pun percaya akan adanya hari kiamat. Tapi berharap tidak secepat ini dengan hadirnya Satria Piningit!"


"Anak-anak manusia sudah berwatak iblis, berjiwa binatang. Sudah saatnya Aku datang dan merubah kehidupan. Memperbaiki akhlak mereka yang sudah rusak moralitasnya. Menyadarkan mereka bahwa dunia ini hanya sementara dan akan hancur dalam waktu dekat. Itu adalah tugas yang mulia, Ali. Aku ingin merubah dunia sebelum hancur, tentu saja dengan sistem galaksi kehidupan."


"Tapi kau bukanlah Satria Piningit! Bukan kau orangnya!"


"Hahaha hahaha... Iri hati tanda tak mampu! Kau ternyata tertarik juga ingin memiliki sistem galaksi kehidupan dan menjadi Satria Piningit? Iya? Dan sekarang kau ingin menantang ku kembali bertarung? Hahaha... anak pintar dan berotak licik! Hahaha... Tapi baiklah, kali ini tantangan mu pun Aku terima. Walau di kehidupan yang lalu kau menang karena guruku memihakmu, tapi kali ini... Jangan berfikir Kau akan menang lagi!"


Srekkk


Yadi kini berdiri dihadapan Ali.


Tubuh mereka saling berhadapan dengan tatapan mata fokus saling memandang.


"Tunggu!!! Tunggu!!!"


Keduanya termangu menatap Keti yang berlari menuju arena pertempuran.


"Keti, kembalilah! Kamu baru sembuh, masuklah ke dalam rumah!" pekik Ali spontanitas.


"Kalian memang pasangan Romeo dan Juliet sejati. Hahaha... Meskipun sistem galaksi kehidupan menggempur kalian dan memisahkan terus hubungan percintaan kalian yang menggantung terkatung-katung, tapi ternyata perasaan kalian masih tetap sama. Meskipun sistem memberikan kau perempuan lain untuk kau cicipi, Keti masih lah tetap yang nomor satu. Hebatnya kau Ali!"


Plakk


Yadi terkesiap.


Lima bayangan jari jemari Keti membekas di pipi kirinya.


Keti menampar Yadi.


"Hati-hati berbicara! Mulutmu harimaumu! Itu adalah nasib dan takdir kami. Bukan karena sistem galaksi kehidupan. Bukan karena permainan para manusia jenius yang tidak punya otak hingga ingin menyamai Tuhan! Sistem-sistem itu menyesatkan! Bahkan sampai kau kini berasa jadi Satria Piningit, padahal kau adalah keturunan demit!"


"Bravo, Keti-ku Sayang!" (prok prok prokk. Ali bertepuk tangan girang)


"Kalian memang pasangan sundal! Pantas saja Tuhan memasangkan kalian terus-terusan!" sumpah serapah Yadi mengkesal mendapati Keti jauh lebih berani memihak Ali Akbar.


"Jangan banyak omong, ayo kita fighting! Keti, kembali ke dalam!" pekik Ali siap dengan kuda-kuda.


Keti berlari menjauh dari arena seraya berseru, "Semangat, Suamiku!"


Plak plak plakk


Bug bag bug.


Gedubak, prak


Syutt


Syutt syuutt...


Pertarungan tak dapat dihindarkan lagi.


Keduanya saling serang dengan kemampuan mereka masing-masing membela diri hanya dengan tangan kosong.


Pertarungan yang cukup seru karena kali ini murni one by one.


Sepertinya ini akan berlangsung cukup lama karena keduanya memiliki kekuatan yang seimbang. Hingga tiba-tiba,


Srekkk...


Yadi mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.


Senjata samurai gaib.


Ali terkesiap, ia menelan ludah karena tidak memiliki senjata apapun saat ini.


Ali harus fokus, agar tidak sampai terkena sabetan samurai gaib milik Yadi yang ternyata memang sudah dipersiapkan pemuda yang usianya terlihat lebih tua beberapa tahun itu padahal ternyata sangat sangat jauh beda umurnya.


Ya Allah ya Tuhanku... tolong Aku! Jangan sampai kitab Sistem Galaksi Kehidupan dan cermin ajaib itu jatuh ke tangan Yadi! Kumohon bantuan-Mu ya Allah!


Jeleggerrr...


Satu kilatan besar dari langit mengarah melesat ke arah Ali dan Ali melompat mengambil kilat petir itu seperti pertarungan di kehidupan yang lain.


Tapi ternyata,


Jeleggeeerrrrr... duarrr


Tubuh Ali terpental terkena ledakan petir yang dahsyat itu. Tubuh Ali menghitam, gosong dengan asap putih tebal mengepul menyelimuti tubuhnya yang menggelepar di atas halaman rumah Keti.


"Aliii!!!"


Keti berlari menghambur menghampiri Ali yang terkena sambaran petir besar.


"Aliiiiiii!!! Please, jangan mati! Jangan tinggalkan aku!!!"


BERSAMBUNG