
Mimpi Laila benar-benar membuatnya lemas, lesu, lunglai.
Dalam mimpi, Ali seperti memiliki seekor kucing kesayangan. Bahkan kucing itu selalu Ali peluk dalam pangkuan. Meskipun ada Laila yang duduk bergelendot mesra menyandar di tubuh tegapnya. Namun Ali terlihat lebih memperhatikan kucing hitam yang menurut Laila justru angker menyeramkan.
Bangun tidur, Laila langsung menanyakan apakah Ali suka kucing hitam. Mumpung Ia masih ingat dan lehernya terasa kram karena dalam mimpi seringkali menoleh ke arah Ali dan si Hitam yang menyebalkan.
Ini adalah hari pertama Ali bekerja.
Harusnya Laila sigap membantu suaminya untuk pergi ke tempat baru Ali mengais rezeki mencari nafkah. Namun Laila justru berfokus pada mimpinya. Dan terkejut mendengar jawaban Ali tentang kucing.
"Aku pernah memiliki kucing warna hitam. Matanya berwarna hijau kebiru-biruan. Cantik sekali. Misterius tapi mempesona. Andaikan si Hitam kembali lagi dan masih hidup, Aku akan menjaganya sepenuh hati. Bakalan kupelihara terus bahkan sampai kumati."
Deg.
Seketika mood Laila anjlok.
Ia jadi kurang semangat mengantarkan Ali berangkat sampai teras rumah kontrakan.
Senyumnya tipis dengan tatapan mata sayu.
Ali mengecup kening Laila.
Sarapan se-cup popmie menjadi andalan di pagi ini dengan meminta air panas pada pemilik kontrakan yang tinggal di sebelah.
Mereka memang belum memiliki peralatan dapur seperti kompor, panci, penggorengan serta perintilannya yang lain.
Sebelumnya Sang Mama menawarkan, tapi Laila tolak karena Ia tak berpikir panjang ke depan.
Akhirnya perabotan rumah tangga keluarga Laila dibagikan kepada para tetangga sisanya setelah dijual yang nilainya berharga untuk tambahan ongkos pindah ke Lombok.
Ali pamit kerja. Tinggal Laila yang berdiri mematung termangu.
Kucing hitam, jadi pikiran.
Hingga Laila tersadar kalau mimpi adalah bunga tidur. Hanya mitos dan tidak ada artinya juga. Apalagi itu hanya seekor kucing. Bukan perempuan yang datang ingin mengambil Ali dari genggamannya.
Laila akhirnya mulai menepis pikiran buruknya. Ia berniat mencuci pakaian Ali karena sudah beberapa hari menumpuk belum sempat dicuci.
Sebagai seorang istri, Laila merasa berkewajiban melakukan semua tugas istri seperti mencuci, mengurus rumah, bahkan suatu saat nanti memasak untuk Ali jika mereka telah mendapatkan uang dan membeli kompor serta peralatan dapur.
Di tempat pekerjaan, Ali merasa cukup nyaman karena Boss percetakan yang adalah kerabat Keti memperlakukannya dengan baik.
Dua jam ia diajak berkeliling percetakan. Lalu diberikan pengajaran tata cara bekerja di percetakan. Mulai dari hal-hal kecil, pemilihan bahan kertas untuk dicetak menjadi kartu nama, surat undangan sampai buku nota dan lain sebagainya yang berhubungan dengan cetak mencetak. Sampai cara menyeting pemasangannya di mesin pencetak dan juga pemotongan agar pesanan konsumen terselesaikan dengan baik hingga dikemas rapi untuk diangkut pemesan.
Ali senang, pekerjaannya lumayan bisa Ia pelajari pelan-pelan.
Hingga tanpa terasa, hari itu berhasil Ali lalui tanpa beban berarti.
Sang atasan memberinya wejangan, agar Ali tidak sungkan bertanya jikalau ada yang kurang dipahami.
Semua berkat Keti. Pastinya.
Keti adalah pemilik dari perusahaan kecil percetakan ini.
Papanya adalah pendiri perusahaan CV Purnama Abadi yang bergerak di bidang jasa percetakan dan sablon.
Sementara Keti adalah putri tunggal mereka. Keti yang merekomendasikan Ali pada Koh Aling. Dia menitipkan karyawan baru pada teman Chinese Papanya yang menjadi pengurus percetakan itu.
Keti adalah seorang anak tunggal pebisnis Chinese mualaf yang menikah dengan perempuan pribumi.
Katrina Wijaya. Terlahir 16 tahun lalu dengan menderita penyakit jantung bawaan. Yang divonis dokter kemungkinan besar usianya tidak akan bertahan lama. Bahkan sempat diprediksi tidak akan merasakan indahnya usia sweet seventeen.
Ternyata dokter juga manusia biasa. Bisa salah memprediksi takdir umur manusia lain.
Karena takdir itu sejatinya rahasia Illahi.
Misteri yang tak akan pernah terpecahkan bahkan oleh seorang cenayang yang konon katanya terkenal sakti mandraguna.
Itu semua sejak Katrina memiliki kemampuan bertelepati dengan kehidupan Ali. Setiap kali Ia tidur, kehidupannya... seolah tersambung selalu dengan Ali Akbar. Pemuda yang menolongnya membonceng dengan sepeda ketika hari MOS sekolah menengah atas nya dimulai.
Sejak saat itu, Keti seolah mendapatkan petunjuk kalau Ia dan Ali adalah takdir.
Kemungkinan besar mereka adalah titisan dari pasangan suami istri di masa lalu. Entah, apakah mereka adalah manusia purba yang berteleportasi dari satu waktu ke waktu yang lain.
Yang jelas, Keti bisa melihat dirinya di berbagai waktu bersama Ali. Dan dirinya tetap Keti, meskipun terlihat pernah menjadi seekor kucing berwarna hitam.
Sejak itu, Keti selalu mencoba mencari keberadaan Ali Akbar.
Hingga Ia mengetahui, kalau Ali Akbar adalah teman SD dari sepupunya dari keluarga Mama yang bernama Anwar.
Dengan mencari cara, Keti akhirnya memiliki kesempatan bertemu Ali di acara reuni SD yang mereka adakan rutin setiap tahun.
Pertemuan kembali terjadi.
Bahkan kini Ali Akbar terlihat begitu antusias dan ekspresif bertemu Keti. Gayung bersambut. Sejak itu Keti ingin terus berada disekitar Ali.
Tapi satu hal yang Keti sedihkan. Gadis lain juga terlihat seperti cicak yang menempel di dinding. Merapat terus pada Ali. Ternyata gadis itu adalah sahabatnya sedari kecil. Laila Purnama namanya.
Gadis itu bukan takdir Ali. Bukan jodoh Ali.
Tapi di kehidupan kali ini, justru dirinya mendapati Laila berhasil menikah dengan Ali. Seperti kilat. Tiba-tiba saja dan tak bisa Keti cegah saking cepatnya.
Keti menangis semalaman. Jantungnya kolaps. Ia sampai harus dirawat di ruang inap IGD karena nyaris mati untuk yang kedua kali.
Kini dirinya tidak ingin terlarut dalam kesedihan.
Tuhan selalu menyatukannya dengan Ali di berbagai kesempatan kehidupan.
Keti mulai bangkit dan meyakini kalau Ia memang akan selalu bersama Ali. Entah di kehidupan yang bagaimana. Dan kehidupan yang mana. Ali selalu bisa Ia temui.
Seperti kali ini.
Meskipun dirinya yang sekarang berusia begitu muda. Enam belas tahun dan masih sekolah SMA. Tapi Keti yakin, Ali akan selalu bersamanya.
Ali lah jodohnya.
.......
Hari demi hari, semua menjalani perannya masing-masing.
Keti yang seorang pelajar, Laila menjadi Ibu rumah tangga, dan Ali sendiri yang kini seorang pria beristri yang harus semangat kerja mencari nafkah.
Satu kebahagiaan yang Ali rasa. Surga dunia yang bisa Ia alami seiring dengan perkembangan jiwanya yang kian dewasa.
Laila, hampir setiap malam menjadi bidadari surga yang memabukkan bagi Ali.
Meskipun terkadang mimpi menyetubuhi Keti masih seringkali hadir karena dalam mimpi, Keti lah istrinya.
Keti sendiri terus memantau Ali dan Laila dari kejauhan. Hatinya sakit sekali, tetapi berusaha menerima takdirnya kali ini.
Misteri yang tak bisa Ali serta Keti pecahkan sampai saat ini. Misteri Illahi.
Bahkan Ia sampai harus menyembunyikan cermin ajaib yang Eyang Toro berikan padanya tempo hari dan sempat dibuka Laila hingga istrinya itu tanpa sadar telah masuk portal kehidupan lain.
Laila berteleportasi namun akhirnya berhasil Ali tarik karena khawatir Laila tidak sadar dan akhirnya terus berada di kehidupan yang Ia masuki.
Tanpa terasa, sebulan telah berlalu.
Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Serapat-rapatnya Ali menyimpan bangkai, pasti tercium juga.
Ini bukan soal bangkai.
Tapi ini adalah soal cermin ajaib yang Ali sembunyikan di belakang lemari pakaian plastik Laila.
Semula Ali tidak mengira kalau Laila akan mengubah posisi lemari yang ada di pojokan ruang tengah rumah kontrakan yang kecil itu.
Tapi ternyata, Laila mulai merasa kebosanan dan ingin mengubah suasana rumah dengan mengganti posisi semua perabot yang ada.
"I_ini?!?"
Seketika bola mata Laila membulat kaget tak percaya.
Cermin ajaib ada ditangannya kini.
Jantungnya berdegup kencang. Dadanya sampai turun naik saking kaget dan takut dengan semua kemungkinan.
Laila menaruh cermin ajaib itu sembarang dan bergegas ke luar untuk menarik nafas dalam-dalam.
Laila berusaha menenangkan dirinya yang tak karuan.
Apakah waktu itu Aku tidak bermimpi? Waktu itu, aku membuka bungkusan yang dibawa Ali dan isinya adalah cermin unik itu! Lalu, tiba-tiba...
Laila menelan ludah.
Ia mencubit tangannya sendiri.
Sakit! Pertanda ini bukan mimpi!
Setelah hatinya sedikit tenang, Laila kembali masuk kamar.
Jantungnya kembali deg degan. Sedangkan tangannya meraih lagi cermin ajaib.
Laila menatap cermin itu. Terpantul wajah cantiknya membuat Laila terpesona pada dirinya sendiri.
Betapa kagetnya Laila, tiba-tiba pantulan cermin itu berputar-putar membentuk lingkaran yang semakin lama semakin membuat pusing kepalanya dan...
Swiiing swiiing swiiing...
Laila kembali tersedot masuk cermin ajaib.
BERSAMBUNG