MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEENAM PULUH LIMA


Bagai dicucuk hidung, Ali menurut seperti kerbau yang dituntun Laila.


Harum aroma tubuh Laila bercampur dengan parfum yang dipakai membuat Ali kembali meremang.


Fikirannya masih teringat tubuh langsing Keti yang mulus dengan b+lu-b+lu halus di area tengkuknya yang indah mempesona, membuat mata Ali sontak memandangi bagian belakang kepala istri sirinya itu.


Rambut Laila juga panjang. Namun sedikit berombak ikal dan lebih tebal. Tidak seperti Keti, yang berambut lurus agak tipis hingga sesekali terlihat leher jenjangnya jika badannya bergoyang.


Ali menurunkan pandangan.


Tapi ternyata malah semakin salah sasaran.


Matanya tertuju pada pinggang Laila, lalu tertumpu di bagian pan+++ yang penuh daging plus lemak tak jenuh. Sangat menggoda.


Bok++g Laila ke kanan dan ke kiri, semakin membuat Ali belingsatan menahan nafas.


"Haish!!!"


"Kenapa?"


"Eng_enggak."


Ali menghela nafas. Laila menengok ke belakang. Matanya menatap tajam Ali yang gelagapan.


Njiiirrr! Ini ujian! Tahan, tahan, Ali! Tahan jangan bangun lagi! Uppss...


Kontrakan mereka ukurannya kecil. Tapi disekat-sekat si pemilik sehingga semakin kecil.


Bahkan kamar mereka hanyalah berukuran 2x3 meter saja. Hanya pas satu lembar kasur nomor dua yang Laila bawa dari rumahnya yang dijual. Ini adalah kasur kamar Laila di rumah lama.


Rumah kontrakan mereka dipenuhi perabot rumah tangga yang awalnya milik keluarga Laila. Semuanya bagus dan barang mahal, sehingga sekilas pasangan pengantin baru itu terlihat seperti pasangan orang yang beruang banyak. Padahal tidak.


Ali menahan nafas, Laila berhenti hingga tubuh mereka nyaris merapat dan bersentuhan saking sempitnya.


Wangi shampoo Pantene yang menusuk penciuman Ali. Seketika ada yang berdiri, walaupun masih terlihat malu-malu dan ditahan si empunya.


Grep


Yassalam...Laaa! Rambut Lo ngibas kena wajah gue!


Ali memejamkan matanya. Kelilipan.


"Maaf, Maaf! Maaf, Ali!"


Laila mengusap lembut wajah Ali yang agak pedas terasa.


"Kamu naiklah dulu! Kamarnya sempit, kita gak bisa berdiri begini," ujar Ali dengan suara pelan.


"Hah? Apa?"


Ya ampun, Neng! Tempat se-uplek begini pun masih juga gak kedengaran. Hiks... Sungguh juniorku tersiksa, Laila!


"Aku mimpi buruk, Li! Takut!"


"Rumahnya kecil kamarnya juga kecil, La! Masih takut juga?"


"Bohlamnya terlalu kecil wattnya! Aku gak biasa tidur dengan lampu temaram begini. Takut dan juga bikin sakit kepala malahan."


Ali tersenyum tanpa kata.


Bibir Laila yang seksi membuatnya gemas ingin merujak seperti dalam mimpi.


Merah padam wajah Ali tersadar akan sikapnya yang seperti pria mesum.


"Tidurlah. Sudah malam. Jangan lupa doa!"


Laila melirik Ali yang perlahan merebahkan tubuhnya di samping dengan badan agak sorong memunggungi.


"Jangan tidur gitu, Ali!" sentak Laila membuat Ali terlentang.


"Harus gini tidurnya?" tanyanya jengah.


"Aku takut, makanya bangunin kamu! Kalo kamu tidurnya gitu, sama juga bohong!" sungut Laila membuat Ali mendengus dengan senyuman tipis.


"Ish, malah gitu responnya!" Laila semakin kesal namun justru terlihat imut di mata Ali.


"Yassalam... Aku harus gimana dong? Harus terus tidur dengan posisi terlentang gini? Engap tau!"


"Ya paling enggak jangan ngebelakangin Aku! Gimana kalo ternyata pas kamu balik badan, tiba-tiba... itu bukan kamu. Tapi... makhluk, hiiii!!!"


Laila menarik tubuh Ali hingga mereka bersentuhan erat satu sama lain.


Nafas Laila bahkan bisa Ali dengar dengan sangat jelasnya.


Tadi mimpi, namun ini kenyataan.


Ali merasakan dua gunung kembar Laila yang ukurannya diatas rata-rata menempel di dada. Merah padam Ali.


"Ali!"


"Hm?"


"Apa aku ini tidak menarik dimatamu?"


"Hahh???" Ali terkejut lalu diam membisu.


Kamu sangat menarik, Laila! Teramat sangat. Lelaki bodoh dan aneh jika tidak tertarik denganmu yang cantik manis serta seksi. Tubuhmu begitu menggoda. Suaramu menggemaskan apalagi ketika sedang merajuk di tengah malam begini. Sungguh memancing syahw+t ingin bercinta. Haish, astaghfirullah, Ali!


Ali menghafal ayat kursi di dalam hati.


Namun hatinya justru susah konek dengan otak dan juga nafsunya yang sedang meninggi. Hingga ayat kursinya berkali-kali gagal didawamkan dengan sempurna sampai akhir.


Seperti lupa pada hafalannya, Ali berdecak.


Sayangnya respon Ali justru membuat Laila salah faham.


Kini Laila marah sampai membalikkan badan memunggungi Ali.


"Huaaa!!! Ali! Jangan nakut-nakutin!!!"


Laila kembali balik badan. Bahkan kini tubuhnya merapat lekat ke badan Ali.


Ali tertawa melihat kelakuan Laila yang baru pertama kali ini ia lihat.


Selama ini, Laila yang Ali kenal adalah perempuan yang cantik dan menyenangkan. Terlihat dewasa, bijaksana juga bisa menyeimbangkan emosinya. Seperti seorang lady warrior. Pemberani dan jago bela diri.


Ternyata, Laila Purnama juga seorang gadis penakut.


"Ali!"


"Hm, apalagi?"


"Mau pipis!"


"Ya Allah gustiii... Terus, minta antar juga gitu?!"


Laila tersipu. Ia mengangguk cepat.


"Ayo, buruan!"


"Rumah kontrakan kita kecil, La! Tapi kamu segitu penakutnya! Hehehe...!"


Ali seperti sedang mengikuti ujian nasional yang cukup berat.


Laila benar-benar penakut hingga pipis pun pintu kamar mandinya tak berani dikunci. Bahkan membukanya sedikit agar bisa mengintip Ali yang berdiri di balik pintu.


"Please, jangan tinggalin ya, Li!"


"Cih! Hehehe..."


Ali menepuk dahinya. Terkekeh membuat Laila jadi malu hati.


Inilah salah satu kekhawatiran Mamanya meninggalkan putri bungsunya tinggal sendirian di ibukota. Karena mereka tahu seberapa penakutnya Laila.


"Li?!"


"Hm?"


"Li...! Kamu pasti makin illfeel ya sama Aku?"


"Enggak, La! Wajar sih, perempuan penakut. Cuma Aku shock aja liat kamu ternyata seperti ini. Hehehe..."


"Kenapa?"


"Dimataku kamu itu imut. Manis cantik dan menarik sekali. Cerdas, rangking kelas waktu SD. Pemberani dan suka debat. Ternyata aslinya, hehehe... penakut!"


"Ish!"


Puk.


Laila menepuk bahu Ali namun,


Sreekk.


Kakinya terpeleset lap pel yang agak basah hingga keduanya nyaris jatuh terpelanting dan saling tarik hingga,


Breekkk.


"Uppss, Alii!!!"


Tanpa sadar Ali menarik daster tipis Laila yang ternyata kainnya sudah rapuh.


Belahan dada Laila terlihat sangat jelas bahkan isinya sampai tumpah-tumpah dari wadahnya.


Ukuran pa++da++ Laila memang bisa dikatakan extra size, hingga ukuran cup 36 B masih terlihat kekecilan.


Daster Laila bagian atasnya robek besar karena tarikan tangan Ali yang tanpa sengaja.


Keduanya memekik kaget dan menunduk melengos satu sama lain dengan wajah merah bak udang rebus.


Tapi tak lama kemudian Laila tertawa kecil, diikuti oleh Ali yang mentertawakan kebodohan dirinya sendiri. Hingga Ali bergerak sigap mengambil handuk yang ada di hanger dan membalut tubuh Laila yang sintal.


"Makasih, suamiku!"


"Uhuk uhukk uhhukk..."


Ali terbatuk. Ucapan Laila membuat jantungnya kolaps dan,


"Jangan pancing-pancing, dong!" gumam Ali membuat Laila pura-pura polos.


"Kenapa? Kan kamu memang suami Aku!"


"Beneran?"


"Lah? Itu aktanya nikahnya ada! Oiya, besok kita harus fotokopi yang banyak. Buat jaga-jaga kalau ada razia!"


Ali mengangguk dengan wajah tersipu malu.


"Istri ya? Aku... suamimu. Kamu, istriku. Apakah ini nyata?" goda Ali penasaran pada respon Laila.


"Tentu saja. Aku wajib memberiku kebahagiaan. Kamu juga wajib memberikan kesenangan."


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Ya Allah, kuatkanlah iman dan iminku ini.


Bersambung