MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETUJUH PULUH SEMBILAN


"Istrimu sedang dalam kondisi pingsan setelah kecelakaan lalu lintas, Ali!"


"Eyang?!? Lalu, bagaimana Saya bisa menarik Laila kembali ke kehidupan ini?"


"Semua tinggal berpasrah pada Illahi Robbi. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menunggu mukjizat Allah Ta'ala."


"Tapi bagaimana mungkin? Bagaimana bisa Saya hanya diam menunggu sedangkan Laila entah kapan bisa kembali. Apakah dia akan kembali? Ataukah tetap dengan kehidupannya yang lalu? Saya tidak bisa hanya diam dan menunggu, Eyang!"


"Kalau kamu berani, masuklah kedalam cermin ajaib. Temukan istrimu dan bawa dia kembali. Tapi pintu portal itu jumlahnya sangat banyak sekali. Jumlahnya cukup mencengangkan yaitu 40 kuintiliun atau 40.000.000.000.000.000.000 lubang hitam. Jumlah tersebut kira-kira merupakan 1 persen dari semua materi di alam semesta yang dapat diamati. Bisakah kamu menemukan black hole galaksi kehidupan yang sedang dilewati istrimu itu? Ada kemungkinan kalian bertemu, tapi mengingat jumlah black hole yang ada... Aku pesimis kalian akan bertemu kecuali takdir yang menyatukan."


Ali tercengang. Yadi terdiam.


Ucapan Eyang Toro benar.


Seandainya Ali masuk ke dalam cermin ajaib, tidak berarti Ia akan langsung masuk bertemu dengan Laila.


Entah di kehidupan yang mana kini Laila berada.


Dan pintu portal teleportasi mana yang membawanya ke kehidupan Laila.


Rasanya itu sangatlah tidak mungkin.


"Lalu?!? Bisakah Mbah Kandut menemukan Laila dan Ali bawa balik kesini?"


Toro terkekeh.


"Begitulah manusia! Tak pernah bisa menerima kenyataan. Bahkan otaknya dipakai untuk melakukan segala cara demi untuk yang mereka inginkan!"


Ali dan Yadi saling pandang.


Toro menggelengkan kepalanya sambil berdecak geram.


"Sudahi semua itu, Ali! Kupikir kamu adalah manusia yang rendah hati dan berpasrah diri pada ketetapan Illahi. Ternyata, kamu juga manusia yang ambisius dan penuh dengan keinginan tinggi!"


"Eyang..., maafkan Aku jika mengecewakanmu. Maaf beribu-ribu maaf, tapi Aku tidak bisa membiarkan Laila ikutan masuk sistem galaksi kehidupan yang justru kalian miliki dan menarikku serta dalam ke-hal yang masuk akal ini. Aku, harus bertanggung jawab terhadap istriku. Tanggung jawabku bukan hanya pada Tuhanku saja, tapi kepada kedua orang tuanya juga. Aku wajib mencari Istriku, Eyang! Laila istriku! Dia masuk kedalam cermin ajaib karena keteledoran Aku dan juga Eyang yang dengan mudahnya memberikan beban kesalahan kalian di masa lalu kepada diriku yang tidak tahu apa-apa."


Deg.


Ucapan Ali membuat Toro terkesima dan melamun.


Tak sangka bocah yang baru beberapa bulan itu berusia dua puluh tahun bisa berkata sedewasa itu padanya.


Toro merasakan dadanya sakit seperti digodam palu.


"Aku, hanyalah anak laki-laki yang beranjak dewasa! Aku bukan mahasiswa, muridmu seperti Yadi yang memang sangat tertarik dengan sains dan haus ilmu pengetahuan metafisika. Aku..., hanyalah pemuda yang memiliki hati rapuh serta jiwa yang lemah. Selalu dibully karena keadaan yang menyedihkan. Itulah Aku. Sampai kalian tiba-tiba menyamarkan identitasku. Menjadi seperti orang yang bisa berubah sifat juga karakter layaknya wayang yang kalian mainkan. Semula kupikir Eyang Toro benar adalah kakekku. Aku yang bahagia luar biasa, memiliki bebet keturunan yang bukan kaleng-kaleng. Ternyata, semua itu hanyalah tipuan belaka. Apakah seperti ini kehidupan yang nyata? Kalian, para ilmuwan hebat berotak jenius dengan seenaknya mengubah ketentuan Sang Pencipta dengan mengutak-atik rumus dunia, hingga dengan hebatnya mampu menciptakan sebuah sistem galaksi kehidupan dengan media cermin ajaib, huh... sungguh hebatnya!" (Prok prok prokk, Ali bertepuk tangan)


Yadi dan Toro kini saling berpandangan.


"Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin sombong dan semakin ingin terus dan terus mengulik dunia. Padahal Tuhan sendiri mengingatkan kita untuk selalu sabar dalam menjalani hidup."


"Eyang...! Pertama kali Aku mengenalmu, aku sangat respek karena kamu Eyang selalu mengajakku untuk selalu ingat Tuhan. Eyang memberiku banyak pelajaran dalam hidup. Eyang benar-benar seperti Eyangku sendiri yang tak pernah kutahu karena kata almarhum Bapak, Eyang dan Utiku sudah lama tiada. Eyang selalu mengingatkan Aku untuk jangan tinggalkan sholat. Aku mengagumi sekaligus menghormati Eyang setinggi langit. Tapi sekarang..., aku tidak tahu lagi, mana orang yang harus kupercayai diantara kalian! Eyang, Mbah Kandut atau kau, Yadi!? Semuanya memiliki topeng!"


"Dunia ini, panggung sandiwara, Ali! Semua manusia berubah seiring waktu berjalan mengikuti alur serta pilihan hidupnya. Kau, Aku, Yadi dan semua orang... bermetamorfosis. Semua hidup dan berkembang. Jadi baik, kemudian memilih jahat, atau kembali lagi ke jalan yang benar. Semua adalah jalan cerita yang dipilih diri manusia itu sendiri, Ali!"


Ali diambang kebingungan.


Otak Ali seketika buyar, fikirannya melayang tak tentu arah. Emosi jiwanya yang tertahan menjadi pecah tetesan air mata dan peluh di wajah lelahnya.


"Eyang... tapi Aku punya kewajiban mencari istriku untuk saat ini. Hik hiks hiks..."


Ali mengusap raut wajah dan menarik keras rambutnya.


Tangisnya pecah tanpa ada yang bisa memberinya pencerahan.


Ali berjongkok.


Yadi menghela nafas dan...


"Kau akhirnya mengakui kalau Aku lebih unggul darimu bukan, Tor?"


Seketika ketiga pria beda generasi itu menoleh ke arah datangnya suara.


"Kandut!!!"


"Kau... masih ingin bertemu denganku?" tanya Kandut dengan langkah yang terseret. Sepertinya satu kakinya sudah tidak bisa berfungsi dengan normal lagi. Entah kenapa.


"Kau..., kau yang datang menemu kami!" cetus Toro dengan bibir mencucut.


Kedua orang tua itu seperti bocah yang sedang berselisih paham dan saling menyindir satu sama yang lain.


"Bagaimana...kabar Suminah?"


Kandut tertawa.


"Kau masih rindukan istriku, Toro? Padahal rambutnya telah memutih dan kulit mulusnya pun keriput kini. Masih sering memimpikan bercinta dengan istriku, Suminah? Hahaha... Cinta memang gila! Hahaha... ampun deh ah! Torooo, Toro! Hahaha..."


Tawa Kandut menggema.


Tubuhnya sampai berguncang saking kuatnya Kandut tertawa kencang.


Toro hanya diam. Bibirnya mencucut dan matanya mendelik kesal.


Ali tertegun. Bingung dan tak mengerti mengapa cerita kedua orang tua yang selalu jadi musuh bebuyutan di setiap kehidupan itu berbeda kini.


"Haish!!! Hei, para Kakek Tua! Bisakah kalian memberikan Aku penjelasan, bagaimana bisa Aku terseret dalam kehidupan kalian ini?" seru Ali mulai hilang respek dan hilang hormat hingga menjadi tidak sopan pada para sepuh itu.


"Hahaha... Hahaha..."


"Hahaha..., kasihan kau Ali!"


"Hhh... Ali, mari ikut Aku!"


Yadi menghela nafas. Tangannya menarik tangan Ali dan keduanya melesat pergi dengan motor setelah Yadi memberikan salam hormat kepada kedua guru besarnya itu.


"Ke_kemana kita?"


"Masjid! Tempat terbaik untuk orang putus asa seperti dirimu, dan juga diriku!"


Ali terdiam. Tak berani berdebat meskipun ucapan Yadi membuatnya kurang setuju.


Masjid memang tempat terbaik. Tapi masjid bukanlah tempat orang putus asa. Bukan.


Ali terpesona. Masjid kubah emas. Begitu megah indah terkena cahaya rembulan yang bersinar penuh karena saat ini adalah masa bulan purnama.


Pukul sebelas malam lewat.


Tentu saja masjid sepi.


Mereka melangkah menuju tempat wudhu.


Tuhanku Yang Maha Agung, angkatlah keresahan kami, jiwa-jiwa yang sepi. Berilah kami hidayah, untuk selalu tetap di jalan-Mu yang suci.


Bersambung